Khanza

Khanza
Kejujuran


__ADS_3

"Aku mohon Khanza....berhentilah berperilaku memalukan lagi...ayah sudah merasa sangat malu dengan segala tingkahmu ini...."


kata Hanafi juga berdiri menatap Khanza dengan amarah.


"Menikahlah dengan Zidan...lalu segera pergi dari rumah ini....aku tak mau melihat wajahmu lagi di rumah ini...."


kata Insha lagi dengan nada dingin.


Hafsah yang mendengar kata dari Insha, merasa sedikit kecewa, pasalnya sedikit banyak dia sudah berharap Khanza benar- benar menepati janjinya untuk memperbaiki semua kekacauan ini. Dan Hafsah bisa mendapatkan cintanya lagi, mendapatkan kehidupan bahagia bersama Zoya dan menikah dengannya.


Tapi mendengar kalimat penegasan dari Insha, harapan Hafsah menciut. Dia kini hanya berharap pada Khanza agar dia dapat benar-benar menepati janjinya.


"Maafkan aku...sekali lagi maafkan aku..."


Khanza dengan mata yang berkaca-kaca segera beranjak dari ruang makan. Berjalan cepat menuju ke arah ruang tamu.


"Khanza...tunggu..."


kata Hanafi berteriak pada Khanza.


"Khanza berhenti di tempatmu...atau aku..."


Teriakan Insha berhenti saat melihat tubuh Khanza sudah menghilang di balik dinding.


Hanafi segera menyusul Khanza dengan memundurkan kursi di belakangnya hingga membuatnya terjatuh, menciptakan suara yang sangat keras, menggagetkan seluruh yang ada di ruang makan.


Insha juga dengan reflek segera menyusul Khanza dengan berlari kecil, tangannya menyenggol gelas berisi air mineralnya. membuatnya terjatuh dan pecah bersamaan dengan suara kursi yang di jatuhkan Hanafi.


Zakki, Adam dan Hafsah benar-benar hanya di buat terdiam menyaksikan adegan di depan mereka. Yaitu kemarahan kedua orangtuanya yang sama sekali tak pernah mereka lihat sepanjang kehidupan mereka.


Mereka bertiga saling tatap, lalu segera menyusul pergi ke ruang tamu, melihat apa yang terjadi lagi disana.


Sementara Khanza yang sudah sampai lebih dulu di depan keluarga Abimana menundukkan kepalanya dalam sambil berkata.


"Maaf telah mengganggu hari-hari kalian...dan saya ucapkan terimakasih karna telah menyempatkan datang di rumah ini memenuhi undangan dari orangtua saya.."


kata Khanza tak menatap siapa pun.


"Tenang saja Khanza...duduklah juga disini bersama kami..."


kata Amira santai, sambil menepuk sofa di sebelahnya berharap Khanza duduk disana. Amira sudah mulai mengakui kehadiran Khanza, dia sudah bisa menerima Khanza dengan baik sebagai calon ibu dari cucunya.


"Memangnya apa yang akan di bicarakan orangtuamu...apakah ada yang penting sampai kami harus datang kesini..."


kata Abimana menimpali.

__ADS_1


" Bukan orangtua saya...tapi saya sendiri sebenarnya yang mengundang kalian datang kesini..."


kata Khanza lagi.


"Ada apa Khanza memangnya...apa ini penting sekali..."


kata Zidan menatap Khanza dengan penuh kebingungan.


Zoya sendiri tak mengatakan apapun, dia hanya melihat dan mendengarkan Khanza dengan seksama enggan berkomentar apapun.


"Saya ingin membatalkan pernikahan saya dengan Zidan....agar Zoya dan Hafsah bisa bersama lagi seperti dulu..."


kata Khanza mengatakan dengan yakin menatap keempat orang yang ada di depannya.


Bersamaan dengan itu Hanafi dan Insha sudah ada di ruangan yang sama, keduanya semakin di buat emosi dan malu dengan tingkah laku Khanza.


"Apa yang kau katakan Khanza...pernikahan kita tinggal 2 hari lagi...ada apa ...kenapa kau tiba-tiba membatalkannya.."


kata Zidan berdiri dan menetap Khanza semakin bingung.


"Sebenarnya ada apa lagi ini tuan Hanafi...kenapa Khanza tiba-tiba ingin membatalkan pernikahannya dengan Zidan yang akan di gelar sebentar lagi....kami bahkan sudah menyiapkan segalanya...undangan juga sudah di sebar...tak mungkin kami akan membatalkannya...ini benar-benar tak bisa di batalkan....katakan ada apa sebenarnya..."


kata Abimana juga berdiri karna terkejut mendengar penuturan Khanza.


"Jelaskan pada kami...ada apa ini nyonya Insha..."


mereka berempat makin di buat kebingungan lagi saat melihat ketiga pria yang berjalan juga ke arah mereka. Zoya seketika berdiri karna melihat Hafsah berada di antara mereka.


"Hafsah..."


katanya lirih sambil terus memandang Hafsah. Pandangan mereka berdua bertemu, pandangan saling merindukan yang sangat dalam. Tak dapat berbuat apapun keduanya segera tertunduk, mencoba menghentikan rasa pahit yang kembali terasa saat teringat kehidupan mereka kini.


Baik Insha dan Hanafi tak menjawab apapun pertanyaan dari pihak Abimana, bingung ingin menjawab dan berkata apa lagi. Karna mereka sudah sangat malu dengan tingkah Khanza.


"Katakan padaku Khanza ada apa ini sebenarnya...."


kata Zidan yang tak sabar karna semuanya terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan darinya.


"Maafkan aku...aku tak bisa menikah denganmu Zidan...."


kata Khanza terisak sambil menundukkan kepalanya.


"Iya...katakan alasan apa yang membuatmu membatalkan ini semua..."


"Anak yang aku kandung bukanlah anakmu Zidan..."

__ADS_1


kata Khanza lagi dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh seluruh orang yang ada di ruangan tersebut.


"Apaa...apa maksudmu..."


kata Zidan lagi dengan menatap semakin bingung.


"Anak ini bukanlah anakmu Zidan...aku membohongimu...malam itu bukan kau yang telah melakukan itu padaku...maafkan aku...dan aku tak bisa meneruskan semua ini...."


"Jadi kau telah menjebakku selama ini...aku bahkan telah benar-benar percaya bahwa dia anakku...dan kau baru jujur sekarang...ketika pernikahan kita sudah di depan mata.."


"Maafkan aku Zidan...ku benar-benar menyesal..."


"Penyesalanmu tiada arti lagi Khanza...aku bahkan sudah mulai menaruh perasaanku padamu...menerima kau sebagai calon ibu dari anakku...tapi ternyata semua ini hanya sandiwara...kau benar-benar wanita hina..."


kata Zidan tak malu lagi menghardik Khanza meskipun berada di depan orangtuanya.


Zidan pun tanpa berkata lagi, langsung meninggalkan ruangan itu dan berlalu keluar dengan amarah yang sudah membara.


"Apa kau sebelumnya sudah mengerti jika anak yang kau kandung bukanlah anak dari Zidan.."


kini Zoya yang bertanya.


Khanza tak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya sambil terisak.


"Lalu kenapa kau membuat rumit di kehidupan kami....apa salah kami padamu..."


Zoya berkata dengan amarah pada Khanza.


"Sungguh maafkan aku Zoya...kini kalian...kau dan juga Hafsah bisa hidup bahagia lagi...maafkan aku telah membuat semua kekacauan ini...."


"Dengan mudahnya kau meminta maaf pada kami...apa kau tak memikirkan perasaan adikku yang sudah sangat berharap dia menjadi seorang ayah sebentar lagi...dia sangat bahagia dan dia juga mulai mencintaimu...aku tau itu...aku melihatnya...dan kau menghancurkan perasaannya begitu saja..."


Zoya menatap Khanza dengan pandangan yang teramat kesal.


"Lalu bagaimana ini tuan Hanafi...saya benar- benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi...."


kata Abimana mulai di liputi amarah juga.


"Semua persiapan pesta sudah selesai....kami hanya tinggal menunggu hari dan melaksanakannya....tapi apa ini...kami tak bisa membatalkan pesta ini..."


kata Amira menatap Insha meminta pertanggung jawaban.


"Hafsah dan Zoya lah yang akan menikah dan menggantikan aku dan Zidan dalam pesta itu..."


kata Khanza sambil menatap tegas pada Amira dengan deraian airmata.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2