
Zidan dan Khanza masuk ke dalam rumah mewah milik Zidan.
Disana sudah terisi oleh segala perabot lengkap nan mewah, di dalamnya juga sangat bersih dan terawat. Karna Zidan memang sudah memperkerjakan beberapa pelayan untuk menempati dan merawat rumah tersebut sebelum dia sendiri yang tinggal disana setelah menikah nanti dengan Khanza.
Rumah yang Zidan beli sangat besar dan luas, segala fasilitasnya juga sangat lengkap. Halaman yang sangat luas, garasi yang muat untuk beberapa mobil, juga kolam renang pribadi ada juga di dalamnya.
Zidan mengajak Khanza berkeliling rumah tersebut, untuk mengetahui setiap ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah itu.
Khanza sendiri sangat menyukai segala desainnya yang terlihat klasik dan mewah.
Dia juga di perkenalkan kepada para pelayannya sebagai calon nyonya di rumah tersebut.
"Menurutmu apa kamar ini bagus....ini adalah kamar kita nanti...atau kau menyukai warna lain mungkin...aku akan menggantinya sesuai keinginanmu...katakan..."
Kata Zidan yang berada di dalam sebuah kamar bersama Khanza, sambil terus memegang erat tangan Khanza.
"Atau kau mau kamar ini di cat yang lain nak...katakanlah..."
imbuh Zidan lagi yang sekarang sudah berlutut dan fokus melihat perut Khanza.
"Ini sudah sangat bagus dan terlihat elegan Zidan...aku sangat menyukainya..."
kata Khanza sambil tersenyum manis pada Zidan.
"Emmm...benarkah...kalau begitu akan aku biarkan seperti ini kalau kau menyukainya..."
kata Zidan yang sudah berdiri dan mengelus puncak kepala Khanza.
Mereka pun terus mengelilingi berbagai ruangan yang ada, dan Zidan terus saja bertanya pada Khanza bagian mana ruangan yang tidak dia sukai desainnya, maka Zidan dengan segera akan menggantinya, sesuai dengan keinginan Khanza.
Tapi Khanza masih tetap sama, dia menyukai berbagai desain dan detail dari setiap ruangan yang ada, dan dia tak mau Zidan mengganti apa pun disana. Rumah itu sudah terlihat elegan dan mewah dengan warna dominan putih.
Khanza dan Zidan pun makan bersama , dengan makanan yang sudah di hidangkan oleh para pelayan disana.
Sementara di lain tempat, Insha yang beberapa jam lalu mendapat pesan singkat dari Hanafi, bahwa dia dalam perjalanan pulang, setelah menyelesaikan perjalanan bisnisnya di berbagai kota.
Insha segera menelpon Hanafi untuk langsung menuju ke tempat Insha sekarang berada.
"Sayang..kau dimana...sudah sampai mana..."
tanya Insha tergesa dalam telponnya, karna Insha takut Hanafi sudah berada di rumah.
"Masih di jalan sayang...mungkin setengah jam lagi sampai rumah...ada apa..."
__ADS_1
Tanya Hanafi santai sambil mengemudikan mobilnya.
"Kemarilah...aku berada di kafe di sebelah rumah sakit jaya husada...ada hal yang ingin aku bicarakan..."
"Ayolah sayang...aku sangat lelah sekali hari ini...tidak bisakah kita berbicara di rumah saja...di dalam kamar sambil beristirahat.."
kata Hanafi berusaha mengelak, karna memang beberapa hari ini, dia terus saja berkeliling ke berbagi kota menemui banyak kliennya, menyelesaikan berbagai kerjasamanya.
"Tidak sayang...ada seorang yang akan kau temui...aku mohon datanglah kemari aku akan menunggumu..."
"hmm..baiklah..aku akan segera kesana.."
Dan Hanafi akhirnya mengalah dan memilih untuk menemui Insha di tempat yang sudah di tunjjukkan.
Waktu terus bergulir, malam itu Khanza sudah berada di rumah. Setelah tadi menyelesaikan makan bersama dengan Zidan di rumah mewahnya, Khanza di antar pulang untuk segera beristirahat. Karna seharian dia beraktifitas dengan cukup padat.
Malam itu Telpon Khanza berdering, Dia segera saja melihat ponsel dan ternyata Hafsah yang menelponnya. Setelah sekian lama akhirnya Hafsah menghubungi Khanza lagi. Terakhir kali Hafsah menghubungi Khanza adalah waktu dia berlibur dengan Zoya di pulau X, tentu sebelum mengetahui semua kebenaran yang kini menghancurkan hidupnya.
Khanza pun mengangkat telpon itu.
"Hallo....Hafsah..."
"Hallo...aku bukan kak Hafsah kak..aku Zakki..."
"Oh Zakki kenapa kau memakai ponsel Hafsah...kemana ponselmu.."
Khanza sendiri sudah mengetahui dari informasi para pelayan bahwa selepas di perbolehkan pulang dari rumah sakit, Hafsah langsung berangkat menuju negara B, untuk mengunjungi Adam dan Zakki.
"Tak usah basa-basi kak...aku tau apa yang sudah terjadi selama tak ada kami disana..."
Mendengar penuturan Zakki, Khanza tak kaget sama sekali karna dia sudah mengetahui pasti Hafsah yang telah bercerita semuanya pada mereka.
"Memang apa yang kau ketahui..."
jawab ringan Khanza.
"Yang aku tau kau telah menghancurkan hidup kak Hafsah dengan merebut posisinya sebagai menantu keluarga Abimana kan..."
jawab Zakki dengan nada sinisnya.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu semua kak...kau panutan kami...kau selalu menjadi contoh yang baik untuk kami...tapi sekarang bahkan kau melakukan hal yang sangat memalukan seperti ini..."
"Kau sungguh bukan kak Khanza yang kami kenal dulu...ada apa dengan dirimu kak..."
__ADS_1
"Kau tau bagaimana keadaan kak Hafsah sekarang...dia sering sekali melamun...sulit untuk di ajak bicara...dia sering menangis...sangat sulit untuk makan...dia lebih suka diam...kau sungguh telah merubah kak Hafsah dengan sangat drastis kak...kau membuatnya menderita dengan hidupnya sekarang...."
"Tidakkah kau memikirkan itu...bahkan aku tebak...kau tak akan memikirkan itu...karna kau pasti sangat bahagia dengan pernikahanmu yang akan di gelar sebentar lagi kan....kau bahagia di atas penderitaan kak Hafsah...tidakkah kau berfikir tentang fakta itu sama sekali...."
"Aku malu...aku sungguh malu mempunyai kakak sepertimu..."
cercaan Zakki terdengar panjang lebar tanpa ada jeda.
"Jaga bicaramu padaku...aku memang bukan kakakmu..aku bukan kakak kandungmu..."
jawab Khanza tak kalah sinis karna mulai tersulut emosi.
"Apa...apa maksud kakak..."
kata Zakki sedikit bernada penasaran.
"Ya...aku bukan kakak kandungmu..aku bukan anak dari ibu Insha..."
"Apa maksud kakak..aku tak mengerti..."
"Apa mengertimu..kau memang masih anak kemarin sore yang belum mengerti apa-apa..."
"Hey...jelaskan padaku kak...apa maksudmu..."
kata Zidan lagi semakin penasaran.
"Hei..apa yang kau lakukan...sudah ku bilang jangan menghubungi kak Khanza lagi...kau ini sulit sekali di bilangi...apa kau masih belum mengerti tentang yang terjadi pada kak Hafsah sekarang karna siapa..."
kata Adam yang terdengar sayup-sayup di sebrang sana.
"Aku tau..makanya aku ingin bertanya pada kak Khanza kenapa dia melakukan semua ini pada kak Hafsah..."
"Dasar kau bodoh...."
"Hei kembalikan ponselnya...aku belum selesai bicara..."
teriak Zakki yang mulai terdengar menjauh.
Dan telpon pun terputus begitu saja, rupanya Adam merebut ponsel dari Zakki dan mematikan sambungan telponnya.
Sementara Khanza hanya menghela nafas panjang, merasa kesal dengan berbagai hinaan yang baru saja di dapatnya dari Zakki.
Bersambung...
__ADS_1