
Sebelum membaca budayakan vote & comment ya, karena itu semua bisa jadi bentuk semangat untuk penulis☺, Happy Reading!❤
------------------------------------
"Emang deh! Anak murid ibu mah beda dari yang lain! Salut ibu!" Puji Bu Maryam kepada kami.
"Ah ibu bisa aja! Terbang ntar saya nih bu!" Jawab Dino yang lagi, lagi, dan lagi mengundang tawa kami.
-------------------------
Bel istirahat berbunyi, membuat seluruh siswa dan siswi sekolah ini keluar kelas, mulai dari kantin, perpustakaan, lapangan, bahkan ada yang tetap berdiam diri didalam kelas.
Tak berbeda dengan apa yang aku lakukan dengan dina saat ini, kami tengah merundingkan ingin kemana saat jam istirahat seperti ini.
"Za ke kantin yu?!" Ajaknya.
"Ngapain?" Tanyaku.
"Makanlah! Mau ngapain emangnya? Buang air?!" Jawabnya seraya tertawa kecil.
"Tapi aku maunya ke perpustakaan" Ucapku.
"Belum makan juga kamu Za, ke kantin aja sana!" Khalid yang ternyata masih di dalam kelas ikut menyambar pembicaraan kami.
"Ayo kantin! Bareng gw juga!" Tambah Alif.
"Ayo!" Dina dengan semangat menjawab dan langsung menarik tanganku.
"Eh tunggu! Itu mereka ngapain? Ribut ya? Samperin dulu!" Ucapku ketika melihat siswa dan siswi tengah berdebat didekat pintu.
"Pokoknya gamau tau ya fat! Pulang bareng aku!" Ucap Ali.
"Ih! Kamu mah maksa li! Aku kan bisa naik kendaraan umum" Jawab Fatimah.
"Nanti kalo kamu kenapa-kenapa kan aku yang dimarahin sama umi!" Katanya tak mau kalah.
"Eh ada apa si? Mending ikut kita ke kantin yu!" Ujar Alif.
"Udah ya fat! Dengerin kata Aku!Jangan keras kepala!" Sambung Ali setelah terjeda oleh omongan Alif.
"Tapi kan tadi berangkat udah bareng Li, bisa naik Ojek online juga kok nanti," Ucap Fatimah.
"Kamu berangkat sama ku, ya pulang harus sama aku juga lah," Jawab Ali.
"Udah debatnya nanti lagi, mending ke kantin yu! Keburu waktu istirahat abis nanti!" Dina membuka suara.
"Yaudah aku mau ikut kalian, males aku deket-deket sama Ali," Jawabnya seraya menarik tanganku dan Dina keluar kelas.
🌸
"Kenapa sih? Kok bisa ribut sampe segitunya?" Tanyaku ketika kami sudah duduk di salah satu meja yang berada di kantin.
"Dia ngajak pulang bareng aku, aku maunya pulang naik angkutan umum atau ojek online padahal, tapi dia maksa gara-gara takut aku kenapa-kenapa" Cerita Fatimah.
"Ya dia bener dong, kamu itu gak boleh pulang sendirian, bahaya anak perempuan" Tanggap dina.
"Bisa kali kita pulang bareng!" Ucapnya.
"InsyaAllah ya!" Jawabku dan dina tak kalah antusias.
"Hari ini kalian pulang sama siapa? Bareng yu!" Ajak Fatimah.
"Boleh, aku gatau nih pula-" Ucapanku terhenti karena mendengar deheman seseorang, Deheman seseorang itu juga yang membuat kami menghentikan pembicaraan.
"Ngapain ngikutin?" Tanya Fatimah ketus.
"Aku? Daritadi ngikutin mereka berdua lah," Jawabnya tak kalah ketus seraya melirik kearah Khalid dan Alif.
"Numpang duduk ya, gak ada kursi lagi," Ucap Alif yang sudah paham akan terjadi perdebatan kembali diantara dua makhluk itu.
"Noh dipojok ada!" Usir Dina secara halus.
"Gak mau ah, tadi baru masuk kantin aja diteriakin ama kaka kelas ama ade kelas dimintain foto," Jawab Alif.
"Lah ngapa emang?" Tanya Dina.
"Biasa orang ganteng," Celetuk Ali.
"Kayak gatau kita aja, apalagi sekarang nambah personil baru si Khalid yang kata kakel sama dekel Subhanallah gantengnya," Ucap Alif.
"Terus kalian mau diajak foto?" Tanyaku.
"Enggak lah! Bukan muhrim! Mending nanti kita foto berdua dipelaminan," Jawab Khalid dengan nada menggoda.
"Aduh meleleh," Ucap Dina heboh yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Alif.
"Sa ae Lid," Ucap Ali.
"Dih, apaandah?" Ucapku.
"Udah mau mesen apaan? Keburu bel, biar sekalian gw pesenin," Ucap Alif.
"Udah gw aja Lif," Ucap Ali.
"Nasi goreng bae ama air mineral," Jawab Dina.
"Gw pesen dulu ya," Jawab Ali seraya berlari kecil ke stand nasi goreng.
"Kuda-kuda apa yang menyenangkan?" Ucap Alif membuka suara.
"Kuda apaan dih? Mana ada kuda yang menyenangkan!" Timpal Dina menanggapi perkataan Alif.
"Kuda-patkan restu dari kedua orang tuamu," Ucap alif sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lah apaansi receh banget," Tawa Dina sambil memegang pipinya yang terasa memanas.
__ADS_1
"Din din, receh-receh gitu juga kamu blushing," Ucapku sambil tertawa kecil.
"Dih nggak, apaansih za," Jawabnya mengelak.
Fatimah yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum geli atas kelakuan mereka.
Selang beberapa menit kemudian Ali datang sambil memegang plastik berisi air mineral diikuti pak Taufik dibelakangnya yang memegang nampan berisi nasi goreng.
"Makasih ya pak," Ucap khalid ketika pak Taufik sudah selesai meletakkan nasi goreng diatas meja mereka.
"Iya den sama-sama," Jawab pak Taufik seraya tersenyum.
"Jadi berapa pak?" Tanya Alif.
"Udah dibayar den, sama den Ali tadi," Jawab pak Taufik.
"Eh udah dibayar ama lu Li? Jadi berapa?" Tanya Khalid.
"Yaelah santuyy aja si, kaya ama siapa aja," Jawab Ali.
"Iyaudah, makasih Li!" Ucap khalid berterimakasih.
"Ouh yaudah pak, ini buat bapak," Ucap Alif seraya mengulurkan uang sebesar 20.000 dari saku celananya.
"Eh nggak usah den, tadi mah kan udah dibayar," Tolak pak Taufik secara halus.
"Gapapa pak, ambil aja, kita kan nggak boleh menolak rezeki," Paksa Khalid.
"Iyaudah den, terimakasih ya, bapak pamit balik lagi ya lagi rame tuh kasian istri bapak sendirian, Assalamu'alaikum," Pamit pak Taufik.
"Wa'alaikumsalam pak," Jawab kami.
Setelah itu kami berdoa sebelum dan makan dalam keadaan hening.
"Pulang gimana ini Din?" Tanya Alif ke Dina setelah selesai makan.
"Ya gimana ya, tadi dianterin sih," Jawab Dina tak kalah bingung.
"Udahlah, naik angkutan umum aja ya," Tanya Alif meminta persetujuan Dina.
"Aku bareng ya!" Ucapku.
"Aku juga! Males loh bareng dia," Ucap Fatimah sambil melirik kearah Ali.
"Mending gausah ada yang naik angkutan umum," Ucap Khalid.
"Terus naek apaan Lid? Taksi online? Lu yang bayarin ya," Ucap Alif bercanda.
"Kan Ali bawa mobil Lif," Ucap Khalid.
"Eh iyaiya! Makasih Fatimah udah ngingetin! Li balik bareng ya! Gw nebeng wkwk," Jawab Alif.
"Yaudah muat ko mobil gw, nah Fatimah masih mau gak bareng juga?" Tanya Ali dengan nada mengejek.
Fatimah yang mendengar pertanyaan itu hanya memutar bola matanya sebal.
"Iyaudah iya, aku ikut kamu Li," Ucapnya final.
"Khanza jangan ikut mobil Ali ya," Ucap Khalid.
"Eh, kenapa Lid?" Tanyaku bingung.
"Ikut aku, aku bawa mobil, ada yang mau dikasih tau, sama ada yang mau ketemu juga," Jawabnya.
"Ouh yaudah," Ucapku seraya tersenyum kecil.
"Balik ke kelas yu, sebentar lagi masuk kayaknya!" Ajak Fatimah seraya melirik arloji yang berada di tangan kirinya.
"Yu, kalian mau bareng atau nanti aja?" Tanya dina sambil berdiri dan merapihkan rok yang dipakainya.
"Udah mau bel, bareng lah ke kelasnya," Alif ikut berdiri dan merapihkan rambut dan peci yang dikenakannya.
Tak lama kemudian terdengar bisik-bisik para siswi yang masih berada di kantin.
"Duh ganteng banget"
"Calon imam"
"Aaa cool banget sih"
"Tebar pesona mulu," Cibir Dina yang mendengar bisikan para siswi tadi.
"Udah yu balik kelas," Ucap Ali berdiri dan menarik lengan Alif dan Khalid yang sudah berdiri.
🌸
AUTHOR POV
"Assalamu'alaikum" Ucap mereka ketika masuk kedalam kelas.
"Wa'alaikumsalam" Jawab siswa-siswi yang sudah ada didalam kelas.
"Eh Lif, Lid, tadi dicariin Bu Maryam, tapi lu berduanya nggak ada, terus lu berdua disuruh samperin Bu Maryam ke kantor," Kata Iqbal.
"Ouh, yaudah makasih Bal, gw sama Alif ke kantor dulu" Jawab Khalid dan langsung menarik tangan Alif.
"Ditarik-tarik mulu gw daritadi Ya Allah, udah kek kambing mau dipotong," Ucap Alif mendramatisir.
"Yamaap," Ucap Khalid tertawa kecil.
Selang 15 menit kemudian Khalid dan Alif kembali ke kelas membawa berkas ditangannya.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh,Boleh minta perhatiannya sebentar?" Tanya Khalid.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab siswa-siswi yang berada didalam kelas.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh, Lid, lu nggak boleh minta perhatian ke semua, bolehnya minta perhatian ke Khanza aja," Jawab Alif dengan suara cukup kencang sambil tertawa.
"Eh?Kenapa?" Khanza yang tidak tau apa-apa terkejut ketika namanya disebut, pasalnya sehabis menjawab salam, ia langsung membuka Novel yang dibawanya dari rumah itu.
"Nggak Za, gausah dengerin Alif" Ucap Khalid mengelak.
"Ada apa Lid?" Tanya Al To the point.
"Gini, gw disuruh Rapihin struktur kelas, jadi disini langsung aja ya, ada yang mau ngajuin diri nggak?" Jawab Khalid.
"Nggak bakal ada yang mau Lid, mending tunjuk aja," Saran Sarah.
"Yaudah gw tunjuk ya nih, yang jadi sekretaris siapa nih yang cocok Lif?" Tanya Khalid meminta Pendapat kepada Alif.
"Hm gimana kalau Khanza sama Dina, mereka tulisannya rapih soalnya," Jawab Alif.
"Yang namanya bersangkutan gimana? Keberatan nggak?" Tanya Khalid.
"InsyaAllah aku nggak keberatan kok," Jawab Khanza.
"Hmm gimana ya, gw takut nggak bisa bertanggungjawab Lid," Ungkap Dina.
"InsyaAllah bisa Na, ada Khanza ini, kamu nggak sendiri kok," Ucap Alif meyakinkan.
"Yaudah, InsyaAllah aku nggak keberatan kok," Ucap Dina.
"Boleh pinjem Pulpen sama minta kertas selembar?" Tanya Khalid.
"Nih," Putri -siswi yang duduk dibangku paling depan- menyodorkan selembar kertas dan pulpen kepada Khalid.
"Makasih," Ucap Khalid dan menuliskan nama Khanza dan Dina. Ralat. Nama-nama yang akan menjadi pengurus kelas nanti.
"Ehm, aku boleh ngajuin diri jadi Bendahara kelas nggak?" Tanya Fatimah ragu-ragu.
"Wah, akhirnya ada yang ngajuin diri juga, boleh kok boleh," Jawab Khalid.
"Ada yang mau ngajuin diri lagi jadi bendahara 2?" Tanya Alif.
Sontak beberapa orang menggelengkan kepala, tanda tak mau.
"Aku mau deh!" Jawab Sarah antusias.
"Oke, sekretaris udah, bendahara udah, tinggal sie keamanan, kebersihan, kedisiplinan, sama kerohanian," Ucap Khalid sambil membaca berkas yang dibawanya itu.
"Gw sama Iqbal keamanan deh," Ucap Ali mengajukan diri.
"Gw sama Al kedisiplinan, ye gak Al?" Kata Dino yang hanya dibalas deheman oleh Al.
"Kalo gitu gw sama Putri mau deh jadi kebersihan," Ujar Rania.
"Oke berarti tinggal kerohanian nih ya," Kata Khalid.
"Kerohanian? Gimana kalau Ahmad sama Abiya aja?" Saran Alif.
"Oke, Ahmad sama Abiya aja, yang bersangkutan keberatan nggak nih?" Tanya Khalid.
"InsyaAllah nggak," Jawab keduanya berbarengan.
"Ciee," Sorak siswa-siswi kelas XI IPA 2.
"Eh, apasi!" Ujar Abiya malu dan menenggelamkan kepalanya ke kedua tangannya yang dilipat diatas meja.
"Udah-udah, jadi semua udah clear nih ya, sekretaris Hana eh, maksudnyaKhanza & Dina, Bendahara Fatimah & Sarah, Sie keamanan Ali & Iqbal, Sie Kedisiplinan Al & Dino, Sie Kebersihan Rania & Putri, dan yang terakhir Sie Kerohanian Ahmad & Abiya" Papar Khalid.
"Lif, catetin nih nama-namanya, minta bantuan sekretaris atau nggak," Sambung Khalid menyodorkan berkas dan kertas selembar yang dipegang olehnya.
"Nggak ah, lu aja, kerjain sama Khanza sana wkwk!" Jawab Alif.
"Yaelah lu," Kata Khalid sebal lalu melangkahkan kaki menuju mejanya.
"Za, sini!" Panggil Khalid ke Khanza.
"Eh, kenapa?" Tanya Khanza mengarahkan kepala ke sampingnya menghadap Khalid.
"Sini, bantuin tulis ini, duduk dibangku samping aku," Jawab Khalid memperlihatkan berkas yang dipegangnya.
"Emm, iya" Cicit Khanza, malu karena tak biasa duduk dengan yang bukan mahramnya.
Sebelum duduk Khanza menggeser kursi yang berada disamping Khalid, memperjauh sedikit jaraknya dengan Khalid.
"Ini tolong dicatet ya, kan tulisan kamu Rapih, Nanti aku yang bacain nama-namanya sama jabatannya," Kata Khalid meminta tolong.
Khanza menurut, ia menuliskan nama-nama pengurus kelas di berkas yang dibawa Khalid, sambil mendengarkan nama-nama dan jabatan yang dibaca Khalid.
"Makasih untuk perhatiannya, makasih juga buat yang udah bersedia, dan udah mengajukan diri jadi pengurus kelas, semoga kalian dapat bertanggungjawab atas tugas yang diberikan nanti, kurang lebihnya mohon maaf, Wassalamu'alaikum warohmatulohi wabarokatuh" Ucap Alif yang masih berdiri didepan meja guru.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarokatuh" Jawab siswa-siswi.
Dengan santai Alif melangkahkan kaki menuju meja Dina, dan duduk disampingnya.
"Ngapain? Sana-sana!" Usir Dina.
"Nggak boleh gitu, nggak ada kursi kosong lagi, tempat gw didudukin Khanza tuh" Kata Alif menunjuk Khanza yang masih menulis di kursi yang biasa didudukinya.
"Yaudah, geser dikit, bukan mahram" Pasrah Dina.
Alif menurut 'daripada gw diamuk terus jadi duduk dilantai, mending nurut dah' batinnya.
"Lid!" Panggil Alif Khalid.
"Hm?" Tanya Khalid berdehem.
"Yaelah, yaelah, lu kerjain juga," Ledek Alif.
"Tanggungjawab Lif," Jawab Khalid singkat.
__ADS_1
"Tanggung jawab apa mau modus?" Ejek Alif sambil menaik-turunkan kedua alisnya.