
Dan hari-hari pun berlalu begitu saja. Tetap dengan Khanza yang selalu menghindar bertemu maupun berbicara dengan Hanafi dan Insha.
Khanza bahkan tak pernah lagi makan bersama dengan mereka, dia lebih memilih makan sendiri di kamarnya, dengan alasan dia yang mual jika makan di meja makan. Itu hanya alasannya saja yang menghindari bertemu dengan kedua orangtuanya.
Persiapan pernikahan pun sudah rampung, tinggal menunggu hari dimana pesta meriah itu di gelar. Segalanya telah siap, meski pihak keluarga Hanafi dan Insha tak menyelenggarakan pesta, tapi mereka juga menyiapkan berbagai persiapan dari keluarganya untuk ikut serta dalam resepsi di hotel bintang 5 yang akan di gelar.
Hari ini tepat 4 hari sebelum pesta pernikahan itu di gelar. Malam itu Khanza baru saja selesai bertelepon dengan Zidan, sekedar membahas tentang pesta pernikahan, dan berbasa-basi sebelum mereka berdua tertidur.
Ponsel pun dia letakkan di meja di samping tempat tidur. Khanza seperti biasanya akan tertidur dengan memeluk sebuah buku diary yang selalu di bawanya kemana pun beberapa bulan belakangan ini.
Buku itu adalah buku yang paling dia jaga dan selalu dia lihat setiap hari, selalu ada di pelukannya setiap dia tertidur.
Malam itu Khanza mencari keberadaan buku diarynya di bawah bantal, tempat terakhir dia menaruhnya sebelum dia mandi tadi sore.
Di carinya di bawah kedua bantalnya, di bawah sprei dan seluruh tempat tidur, tapi dia sama sekali tak menemukannya.
"Kemana buku itu....aku tadi menaruhnya disini..."
kata Khanza lirih sambil melihat lagi di bawah bantalnya.
Wajahnya pun mulai panik, dia mencari di seluruh sudut kamarnya, sampai di kamar mandi pun dia mencarinya, siapa tau dia lupa menaruhnya dan tertinggal disana.
Seluruh bagian kamarnya telah dia geledah, tapi sama sekali dia tak menemukan buku yang dia cari.
Khanza mulai terlihat sedih, kesal serta marah yang bercampur menjadi satu.
"Siapa pelayan yang sudah membersihkan kamar ku tadi sore....dia pasti tau dimana buku itu berada..."
kata Khanza lagi sudah beranjak ingin pergi ke kamar para pelayan .
Dengan segera dia berteriak di lorong kamar-kamar para pelayan berjejer. Suaranya jelas langsung membuat para pelayan yang sudah berada santai di atas tempat tidur mereka terkesiap.
Mereka semua keluar dari kamarnya dan salah seorang pemimpin para pelayan itu segera saja bertanya pada Khanza, perihal apa yang membuatnya malam-malam berada disana dengan keadaan semarah itu.
"Maaf nona Khanza...ada apa...sampai nona berada disini selarut ini...apa ada yang nona butuhkan..."
kata seorang pemimpin para pelayan.
"Siapa yang membersihkan kamarku tadi sore.."
kata Khanza dengan wajah kesalnya.
"Saya nona...ada apa..."
__ADS_1
kata salah seorang pelayan yang sudah maju mendekati Khanza, berkata dengan bibir bergetar.
"Dimana buku yang aku taruh di bawah bantalku...katakan..."
kata Khanza lagi dengan sinisnya.
Pelayan itu hanya terdiam tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap Khanza.
"Aku bertanya kepadamu...kenapa kau diam saja...jawab..."
kata Khanza lagi semakin kesal, dia sudah maju mendekati pelayan itu dan memegang kedua bahunya erat.
"Cepat katakan dimana buku itu berada atau kau akan aku pecat dari sini..."
kata Khanza dengan nada amarahnya.
Lagi-lagi pelayan itu tak menjawab apapun dia hanya terdiam tanpa sepatah katapun.
Tiba-tiba sebuah suara yang dingin terdengar dari arah belakang Khanza.
"Tidak ada yang akan di pecat dari rumahku...aku yang berwenang disini...ini rumahku..semua milikku..dan segala keputusan ada di tanganku...."
Insha berkata dengan dinginnya untuk pertama kali, bahkan para pelayan maupun Khanza sama sekali tak pernah mendengar nada suara Insha yang seperti itu. Selama ini Insha terkenal mempunyai kepribadian yang lembut, penyayang dan selalu baik kepada siapapun.
Khanza hanya memandang Insha dengan heran, terkejut karna nada suara dingin yang baru saja dia dengar dari seorang ibu yang selalu tersenyum kepadanya. Sekarang berubah menjadi sosok yang arogan dan dingin.
"I..ibu...."
Kata Khanza dengan nada terbata, terkaget dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Semua pelayan masuk ke dalam kamar masing-masing...."
kata Insha lagi dengan tegas dan dingin, menatap ke setiap mata pelayan yang memandangnya.
"Tapi ibu....aku belum selesai dengan urusanku..."
kata Khanza memandang Insha, lalu sedetik kemudian memandang ke arah pelayan yang masih di pegang erat oleh tangannya.
"Kau diam disini....sebelum kau menjawab dimana buku yang ku cari.."
kata Khanza kepada pelayan yang sedang di cengkramnya.
"Apa ini buku yang kau cari..."
__ADS_1
kata Insha sambil memperlihatkan buku diary di tangannya.
Seketika Khanza menoleh dan terbelalak melihat buku yang dia cari berada di tangan Insha.
"Ibu..kenapa itu bisa ada di tangan ibu..."
Tak menghiraukan perkataan Khanza, Insha menyuruh sang pelayan yang masih berada di depan Khanza untuk pergi.
"Kau...masuk ke dalam kamarmu sekarang..."
"Hei...tunggu aku belum selesai denganmu...jangan-jangan kau yang memberikan buku itu pada ibu Insha kan....berhenti melangkah atau aku sendiri yang akan mengantarmu pulang hari ini juga..."
kata Khanza dengan nada marah kepada pelayan itu yang mulai meninggalkannya.
Pelayan itu menghentikan langkahnya, takut akan ancaman Khanza.
Tapi Insha segera berkata lagi.
"Tentu kau tau siapa pemilik dan majikan di rumah ini...masuk dan kunci kamarmu..."
kata Insha lagi dingin menatap pelayan itu, dengan segera pelayan itu masuk dan mengunci kamarnya.
"Ibu..kembalikan buku itu...itu milikku..."
kata Khanza kesal dan mendekati Insha.
Insha tak menghiraukan Khanza, dia semakin berjalan menjauh dan malah menelpon seseorang.
"Datang ke rumahku sekarang juga.."
kata Insha, lalu segera menutup telponnya.
" Ibu.....kau tak memiliki hak apapun pada buku itu...kembalikan padaku..."
Mendengar Khanza yang membentaknya, Insha pun segera berhenti dan menatap Khanza.
" Apa buku ini dasar dari segala balas dendamu ini...apa buku hina ini yang membuatmu melakukan hal gila yang merusak banyak kehidupan seperti sekarang..."
Insha melemparkan begitu saja buku yang di pegangnya kepada Khanza dan tepat mengenai wajahnya.
"Hanya dengan membaca semua curahan hati ibumu..kau menjadi seperti ini....tanpa mengetahui segala kenyataan didalamnya....kehidupan kelam yang harus aku jalani karna sikap nya....sakit yang aku rasakan karna perbuatannya.... Apa kau fikir segala apa yang kau lakukan ini benar....katakaan...aku ingin mendengar semua ini dari mu...."
Kata Insha dengan menebarkan aura dingin dan wajah penuh amarahnya pada Khanza.
__ADS_1
Bersambung...