Khanza

Khanza
End


__ADS_3

Hari pun telah berganti, di pagi itu baik Khanza dan anaknya sudah bersiap menyambut kedatangan keluarganya ke rumah yang dia tempati sekarang.


Khanza duduk bersama bayi di pangkuannya di sebuah bangku di bawah pohon yang besar, yang menghadap langsung pada sinar matahari, mencari kehangatan untuk tubuhnya dan bayinya, dari hawa dingin yang masih menyelimuti daerah itu.


Khanza tinggal di sebuah daerah di dekat pegunungan, dengan udara yang cukup dingin dan sejuk. Di sekitarnya terdapat banyak perkebunan. Rumah itu jauh dari segala hiruk pikuk keraimaian kota.


Rumahnya tampak tenang, dan di sekitarnya hanya terdapat beberapa rumah saja disana, itu pun juga jauh dari rumah Khanza. Disana Khanza hanya tinggal bersama dengan satu orang pelayan yang sudah di tugaskan Hanafi untuk menemaninya, juga dengan bayi Khanza yang baru saja terlahir 2 minggu yang lalu.


Tak lama setelahnya 2 mobil melaju masuk di pelataran rumah Khanza. Rupanya mobil itu membawa Insha, Hanafi dan seluruh anak-anaknya.


Insha, Hanafi, Adam dan Zakki dalam satu mobil yang sama. Sementara Hafsah dan Zoya di mobil satunya lagi. Hafsah dan Zoya kini juga telah menempati rumah mereka sendiri. Rumah yang telah di renovasi sebelumnya. Sementara Adam dan Zakki juga telah selesai dengan study mereka. Kini mereka kembali tinggal di rumah mewah Insha.


"Apa kabar sayang..."


sapa Insha pada Khanza.


"Waah kau lucu sekali nak....sini-sini aku ingin menggendongnya..."


kata Insha saat melihat wajah dari anak Khanza, dan langsung meraihnya dalam gendongannya.


"Aku baik ibu....ibu sendiri bagaimana.."


tersenyum dan menyerahkan bayinya pada Insha. Insha pun tak menjawab pertanyaan Khanza karna dia sekarang fokus menatapi anak Khanza yang berada dalam gendongannya.


"Hay kak...bagaimana kabarmu...apa kau sudah membaik setelah proses melahirkan itu..."


kata Adam yang mendekati Khanza dan memeluknya.


"Aku baik ...Adam...sangat baik..."


jawab Khanza sambil tersenyum bahagia dan membalas pelukan Adam.


"Hey...mana-mana keponakanku...aku ingin melihat bagaimana wajahnya.."


Sementara Zakki datang dengan hebohnya langsung melihat ke arah bayi Khanza yang sudah di gendong oleh Insha.


"Hay sayang....bagaimana kabarmu...apa tempat ini nyaman untukmu..."


kata Hanafi mendekati Khanza.


"Aku baik ayah...dan tempat ini sangat-sangat nyaman untukku...terimakasih ayah..."


kata Khanza sambil tersenyum bahagia pada Hanafi.


"Hay kak...apa kabar..."


kata Zoya dan Hafsah secara bersamaan.


"Hay...aku baik...apa kabar juga kalian....waah...Zoya kau..."

__ADS_1


jawab ramah Khanza, dan dia pun terkejut ketika melihat perut Zoya yang sudah mulai berbeda.


"Hehe iya kak...ayah dan ibu akan segera memiliki cucu lagi..."


Kata Zoya sambil mengelus perutnya lembut.


"Ya....kalian akan menjadi seorang ibu dalam waktu yang hampir bersamaan bukan...hanya jarak beberapa bulan..."


kata Hafsah dengan semangatnya.


"Ya kau benar Hafsah...selamat ya atas kehamilanmu...."


kata Khanza sambil memeluk Zoya.


"Terimakasih kak...oh ya kak Khanza...katakan padaku...bagaimana rasanya melahirkan...apa sangat sakit..."


"Sayang sudah aku katakan ...jangan bertanya tentang hal itu...itu hanya akan membuatmu semakin takut nanti..."


teriak Hafsah yang sudah menjauh.


Baik Khanza dan Zoya sama sekali tak mendengarkan perkataan Hafsah. Mereka banyak berbincang sampai memasuki rumah Khanza.


Seluruh yang ada disana pun memakan jamuan yang sudah di siapkan oleh pelayan Khanza. Mereka semua bahagia atas kelahiran anak Khanza. Sebagai cucu pertama dari keluarga Hanafi, meski dia terlahir tanpa seorang ayah yang ada di kehidupannya. Tian sendiri sudah di hukum mati sebelum anaknya terlahir ke dunia.


" Sayang ....ikutlah bersama kami kembali ke rumah...rumah pasti akan ramai dengan hadirnya seorang bayi di dalamnya....kami sungguh kesepian..."


Kata Insha yang mengajak Khanza kembali tinggal bersamanya.


"Ya kau benar....udara disini sangat bersih dan nyaman....tapi kau sendiri disini sayang....apa kau tak merasa kesepian..."


"Aku tak sendiri ibu...ada seorang pelayan yang menemaniku...juga ada dia yang selalu menemaniku dengan suara tangisannya....maafkan aku ibu...tapi aku sungguh sudah nyaman berada disini..."


kata Khanza dengan menunduk meminta maaf.


"Sudahlah sayang...jangan paksa Khanza...kita kan juga bisa sering-sering berkunjung kesini...bahkan kau juga bisa tinggal disini untuk beberapa hari kan...jika kau merindukan cucumu ini....biarkan mereka tinggal di tempat yang sejuk ini....lagi pula udara disini juga baik untuk kesehatan bayi Khanza bukan..."


bujuk Hanafi yang sudah mengerti bahwa Khanza memang tak ingin tinggal bersama lagi dengan mereka, karna dirinya yang merasa tak pantas tinggal di rumah Insha lagi.


"Hemm...baiklah....aku akan kesini lagi minggu depan untuk menginap beberapa hari...setelah menyelesaikan pekerjaan ku....bolehkan sayang..."


kata Insha memandang Hanafi dan Khanza bergantian.


"Tentu saja sayang...apapun yang kau inginkan..."


jawab Hanafi dengan tersenyum lebar.


Sementara Khanza hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan tersenyum manis.


Dan mulai saat itu seluruh anggota keluarga Hanafi dan Insha hidup dengan tenang dan damai lagi. Tak ada yang bertengar atau berselisih satu sama lain.

__ADS_1


Hafsah dan Zoya pun juga hidup dengan bahagia bersama di rumah baru mereka, menikmati masa-masa kehamilan Zoya yang penuh dengan kemanjaan.


Zoya sering mengidam sebuah makanan yang aneh-aneh, yang membuat Hafsah cukup kewalahan.


Sementara Zidan juga di kabarkan telah melamar seorang gadis cantik teman masa kuliahnya dia dulu. Dan mereka di kabarkan akan segera menikah dalam waktu dekat.


Hari itu baik Insha, Hanafi dan seluruh anggota keluarganya membawakan banyak oleh-oleh untuk Khanza. Juga membawakan beberapa hadiah untuk bayi mungilnya.Insha bahkan juga sudah merajut baju bayi kecil untuk anak Khanza dengan tangannya sendiri, juga membawakan beberapa baju hangat untuk mereka karna Insha tau udara di rumah Khanza yang cukup dingin.


Sore itu pun mereka memutuskan untuk pulang, mereka tak mau pulang terlalu larut, karna jalanan menuju desa Khanza yang belum di lengkapi dengan penerangan yang layak.


Mereka takut tersesat karna jalanan yang banyak di dominasi oleh hutan dan jurang yang cukup membahayakan pengendara.


Insha pun berjalan menuju mobilnya, dia memandang lagi rumah yang ada di hadapannya yang terdapat Khanza dan bayi mungilnya tepat di depan rumahnya.


Mungkin Tuhan memang telah menuliskan semua takdirnya...tak ku sangka ternyata semua keinginanmu itu terwujud oleh anakmu sendiri...kau menginginkan tinggal di sebuah rumah yang jauh dari segala keramaian....dengan udara yang sejuk dan dekat dengan sebuah perkebunan...kau juga yang telah memilih rumah ini...menempatkan pohon besar di depannya dengan segala penataan yang kau inginkan....dia terlahir dari rahimmu...dan tentu memiliki banyak kesamaan denganmu.....


Salma...aku bahkan seperti melihat bayanganmu dalam diri Khanza...seluruh tubuh dan wajah yang hampir sama persis sekarang terlihat di depanku... sama-sama menggendong bayi cantik dalam pelukan...tapi tentu aku melihatnya dengan perasaan yang berbeda...sekarang aku sangat bersuka cita atas kelahiran bayi itu...karna dia cucuku...dan tentu juga cucumu...


batin Insha dalam hatinya sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada Khanza.


Lalu Insha pun memasuki mobilnya dan pergi dari rumah Khanza. Meninggalkan Khanza disana tinggal bersama bayinya, menempati rumah yang pernah di janjikan Hanafi dulu untuk Salma..


.


.


.


.


.


.


.


.Tamat


.


.


.


.


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia membawa novel "Khanza"...


jangan lupa untuk memberikan author vote, hadiah, like, coment dan favoritnya...

__ADS_1


agar author makin bersemangat untuk berkarya lagi...


Salam manis dari author...semoga sehat selalu....


__ADS_2