
Hari ini Hafsah sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Karna keadaannya yang sudah membaik dan sehat kembali. Badannya memang masih lemas, mungkin karna efek terbaring beberapa hari di rumah sakit.
Kini Hafsah terlihat lebih tegar dari sebelumnya, dia sudah tidak terlihat sering menangisi Zoya. Bahkan dia kini sudah bersikap seperti biasanya, sekedar bercanda dengan Insha yang setia menunggunya.
Zoya sendiri tak pernah menampakkan diri lagi di depan Hafsah atas permintaan dari Insha. Insha tak ingin Hafsah terus berlarut-larut dalam kesedihannya ketika melihat Zoya berada di dekatnya.
Terbukti cara Insha berhasil membuat Hafsah sedikit melupakan kehidupannya kini, Insha juga sering bercerita tentang segala yang jauh dari topik tentang pernikahan, Zoya maupun Khanza yang akan membuat Hafsah mengingat kembali luka yang harus dia jalani.
Barang-barang sudah di kemas ke dalam tas, Hafsah dan Insha sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan. Mereka menunggu seorang perawat untuk mengantar Hafsah ke lantai bawah dengan kursi roda, karna tubuhnya masih terasa lemas ketika berjalan.
Mereka berdua duduk di sofa dan saling berdekatan.
"Sayang...apa kau sudah benar-benar baikan sekarang...jika belum kita bisa menginap.lagi disini...ibu akan selalu menunggu mu dan menemanimu disini..tak perlu khawatir..."
kata Insha sambil menyisir rambut Hafsah kebelakang dengan tangannya.
"Tidak bu...aku sudah jauh lebih baik...sekali lagi maafkan aku telah membuat ibu khawatir dan merepotkan ibu...."
jawab Hafsah sambil memegang tangan Insha lalu mencium punggung tangannya.
"Jangan lakukan itu lagi ya nak...jangan membuat dirimu dalam bahaya lagi...ibu sangat membenci itu..."
"Iya bu tentu...aku tak akan mengecewakan ibu...ibu memang ibu yang terbaik..."
mencium punggung tangan Insha lagi sambil tersenyum.
"Bu...bolehkah aku minta sesuatu pada ibu..."
Kata Hafsah lagi dengan mata memelasnya.
"Apa sayang katakanlah...ibu akan memberikan apapun asal ibu mampu..."
menatap Hafsah penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku ingin mengunjungi adik-adikku bu....Adam dan Zakki...aku rindu sekali pada mereka..."
"Tentu saja sayang..ibu akan menemanimu kesana...ibu juga sangat rindu pada mereka..."
kata Insha dengan antusias, Insha sendiri tau Hafsah tak benar-benar merindukan adik-adiknya, dia hanya beralasan untuk pergi dari rumah. Insha tau Hafsah hanya ingin mencari hiburan untuk sejenak melupakan Zoya.
"Tidak bu...aku akan pergi sendiri...ibu uruslah pernikahan kak Khanza disini...siapa yang akan mengurus semuanya jika bukan ibu...dan aku mungkin akan tinggal disana cukup lama...sampai rinduku pada mereka terlampiaskan bu...aku rindu bercanda dengan mereka dan tinggal bersama..."
"Baiklah sayang tapi tunggu beberapa hari lagi sampai kau benar-benar pulih dan kuat untuk perjalanan jauh ya..."
kata Insha sambil mengelus kepala Hafsah.
Tiba-tiba kepala Hafsah bersandar di bahu Insha, dia memeluk ibunya dengan manja seakan membutuhkan sebuah kasih sayang dan perlindungan. Meski terlihat aneh, tubuh Hafsah yang tinggi dan besar memeluk Insha yang memiliki tubuh lebih kecil darinya.
"Aku mau sekarang bu...aku mohon...aku tak sanggup untuk pulang...aku tak mau melihat kak Khanza...aku butuh waktu untuk menata hatiku bu...dan aku akan kembali nanti ketika aku sudah siap menerima semua kenyataan ini...hatiku sakit bu setiap ingat dengan kak Khanza....maafkan aku yang belum dewasa..."
kata Hafsah di ujung matanya sudah mengalirkan air mata dengan derasnya.
"Pergilah sayang...pergilah sampai kau bisa melupakan semua...sampai kau siap menjalani hidupmu lagi...ibu tau...ibu tau apa yang kau rasakan nak...jangan menangis lagi...berliburlah...tenangkan dirimu disana...."
kata Insha dengan menahan airmata yang sudah berada di pelupuk matanya.
pagi itu juga setelah berbincang-bincang banyak dengan putranya, Insha segera menyuruh anak buahnya untuk mengurus kepergian Hafsah ke negara B. Ke tempat Adam dan Zakki tinggal untuk mengenyam pendidikan mereka. Insha juga membekali Hafsah dengan berbagai makanan kesukaan Adam dan Zakki.
Semua persiapan sudah siap, pakaian dan segala keperluan Hafsah telah di kemas kedalam tas-tas untuk keperluannya beberapa bulan disana.
Hafsah sendiri sama sekali tak menginjakkan kakinya di rumah, dia menunggu semua keperluannya di rumah sakit. Dan sore itu juga Hafsah pergi ke bandara untuk melakukan perjalanan untuk menenangkan hatinya.
Insha menempatkan 2 orang pengawal.untuk menemani Hafsah dalam perjalanannya, menyiapkan berbagai keperluannya. Dan akan merawat Hafsah sampai dia benar-benar sembuh disana.
Insha menatap anak pertamanya dengan tatapan iba, Hafsah terlihat bersandar di jendela mobil menempelkan kepalanya di kaca mobil dengan lemas, dan menatap ke arah depan dengan malas.
Ketika mobil sudah mulai melaju, Hafsah melambaikan tangannya pada Insha dan tersenyum kepadanya, Insha sendiri juga melambaikan tangan pada Hafsah sampai mobil menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Hatinya semakin teriris karna melihat sang anak yang menahan rasa sakit di hatinya, harus melupakan seorang yang di cintai untuk selamanya. Insha terisak keras di tempatnya meluapkan segala kekesalan yang dia rasakan beberapa minggu ini, hatinya tak rela melihat Hafsah sang putra yang sedang menderita dengan hidupnya.
Melihat sang anak telah pergi, Insha kembali teringat dengan Khanza. Insha berfikir apa yang terjadi pada Khanza hanyalah sebuah kebetulan belaka atau semua memang di sengaja olehnya. Mengingat lagi bahwa Khanza sudah mengetahui masa lalunya.
Insha pun beranjak pergi dari rumah sakit, sebelum pergi dia menyempatkan diri bertemu dengan dokter Arya, untuk bertanya tentang suatu hal yang mengganjal di hatinya.
Insha pun pulang, sudah lama berada di kamar dan sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba Hanafi masuk dan bertanya pada Insha.
"Sayang...dimana Hafsah...dokter mengirim pesan bahwa dia telah di perbolehkan pulang hari ini...tapi dimana dia..."
"Aku mengirimnya untuk pergi ke tempat Adam dan Zakki..."
kata Insha dengan acuh dan masih sibuk dengan laptopnya.
"Apaa...kenapa kau mengirimnya kesana sayang...dia baru saja sembuh..apa tidak apa-apa untuk melakukan perjalanan jauh dengan kondisinya sekarang...".
" Dia sendiri yang memohon padaku...tak mudah untuk menjalani kehidupannya sekarang...dan aku tau rasanya itu...dia akan tinggal disana cukup lama...dan tentu dia juga tak akan hadir di pesta pernikahan kakaknya..."
kata Insha lagi masih fokus pada laptopnya.
"Kenapa kau tak bilang sayang..aku bisa menemaninya kesana..."
"Tenanglah...aku sudah menyuruh 2 orang pengawalku untuk menemaninya sampai dia benar-benar pulih..."
kata Insha sambil menghela nafas panjang.
"Sejenak lupakan tentang Hafsah...biarkan dia menenangkan diri disana...sekarang lihatlah apa yang ada di laptopku ini...apa kau mengenalnya..."
Imbuh Insha lagi.
Hanafi segera mendekati Insha dan melihat sebuah gambar yang di tunjuk oleh Insha.
Bersambung...
__ADS_1