
Burung-burung bersenandung dengan riang, menandakan jika sang mentari telah menaiki singgasananya. Panci-panci telah mengepul sejak setengah jam yang lalu, menandakan jika pemilik rumah sedang sibuk memasak sejak beberapa saat yang lalu.
Sambil menunggu masakannya matang, seorang wanita berambut oranye membuka semua jendela di rumahnya, membiarkan udara pagi yang segar memenuhi rumahnya yang sederhana. Wanita bermanik cokelat madu itu menghirup napas panjang, berusaha untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen segar yang berasal dari hutan pinus yang lebat di sekitar rumah.
Wanita berwajah anggun itu berlari kecil ketika mengingat sup dan nasi yang sedang dimasak. Setelah mengecek kematangan nasi dan cita rasa supnya, wanita itu tersenyum puas. Lezat seperti biasanya, dan masakannya adalah primadona bagi seluruh keluarga dan juga anggota klannya yang hanya tersisa dua keluarga lagi.
Wanita yang masih terlihat ramping itu mematikan tungku, dan berniat menata meja untuk sarapan. Namun ketika kedua manik sewarna madunya menangkap jika meja sudah siap, sebuah senyuman terukir di wajahnya yang anggun. Kedua matanya juga bisa melihat tiga orang anak, yang selalu saja melakukan segala pekerjaan rumah tanpa dirinya ketahui, kini sedang tersenyum lebar, seolah merasa bangga dengan hasil pekerjaan mereka.
"Kaa-chan, lihat! aku dan aniki hebat kan?"
"Hikari, sudahlah. Ini hanya menata meja makan!"
"Biarkan adikmu Hikaru, setidaknya dia berhak untuk itu."
Wanita berambut oranye itu terkekeh kaku dan mengangguk, mengiyakan pernyataan putri bungsunya yang energik tersebut. Saat dirinya sedang tertawa, tanpa sadar kedua putranya sudah mengambil makanan di dapur beserta alat makan. Sebuah senyuman tulus merekah di wajahnya yang anggun, lalu menghela napas. Semua anaknya memang tidak terlalu banyak berbicara, namun ketiganya adalah anak-anak yang baik. Bahkan putra sulungnya, perlahan telah belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Wanita itu membantu ketiga anaknya untuk menata meja makan. Meskipun hanya bertiga, namun keluarga ini selalu menyisakan satu porsi lagi. Seolah menunggu seseorang yang selalu pergi malam dan pulang di pagi hari. Baru saja ketiganya berbincang mengenai sosok tersebut, suara sosok itu, yang merupakan seorang pria dengan suara bariton berperangai riang, telah sampai di rumah.
"Tadaima!"
Saat pria berambut hitam itu berseru, sebuah senyuman langsung merekah pada wajahnya yang sendu. Semua orang yang sedang makan berseru agar pria itu segera duduk dan makan. Dengan senang hati, pria beriris hijau rumput itu, yang merupakan seorang kepala keluarga, bergabung dengan anak dan istrinya dengan hati yang riang. Seolah rasa lelahnya lenyap seketika saat melihat keluarga tercintanya.
"Tou-chan, bagaimana pekerjaan tou-chan hari ini?"
"Apa oni-oni itu melukai tou-chan?"
"Ya ampun, Hikaru, Hikari. Tou-chan jelas-jelas lelah dan lapar, biarkan tou-chan makan dulu!"
Pria itu tertawa lepas dengan reaksi putra sulungnya. Meski perkataan putra sulungnya, yang bisa dikatakan sebagai duplikat sejatinya itu memang benar, namun pria bertubuh tinggi dan tegap itu merasa baik-baik saja selama yang mengganggunya adalah orang-orang terdekatnya.
"Harada, sudahlah. Tou-chan tidak masalah kok," tukas pria berambut hitam itu. Sementara putra sulungnya langsung menggembungkan pipi.
Meskipun berkata seperti itu, namun dirinya paham apa yang Harada maksudkan. Karena semua kelembutan dalam keluarga ini berasal darinya. Namun sang kepala keluarga, yang memiliki nama Akechi Matsuda, juga mewariskan intelegensia miliknya pada ketiga anaknya. Sementara sang istri, Akechi Hitomi, mewariskan keuletan dan keramahannya pada ketiga anak tercintanya.
Meski harus dirinya akui, jika Harada adalah yang paling pendiam dibandingkan kedua anak kembarnya. Mungkin karena Harada merasa dirinya harus membantu ayahnya dalam menjaga keluarga ini, atau mungkin karena anak lelaki berusia 10 tahun itu adalah yang paling cerdas dari anak-anaknya?
Tidak ada yang tahu. Tapi baik itu Hitomi ataupun Matsuda, keduanya setuju jika Harada adalah seorang jenius yang terlalu cepat tumbuh dewasa. Atau mungkin kedewasaan Harada berasal dari status Matsuda sebagai Hashira? Ya, itu semua mungkin.
Karena di usianya yang masih 10 tahun ini, Harada sudah menguasai pernapasan yang menjadi warisan dari klan Akechi, yaitu Pernapasan Neraka. Bahkan menurut Hitomi, anak sulungnya itu, yang juga memiliki tinggi di atas rata-rata, sedang membuat pernapasannya sendiri sekarang. Sementara adik kembar Harada yang baru berusia 7 tahun, yaitu Hikari dan Hikaru, memiliki lebih bisa berempati jika dibandingkan dengan kakaknya itu. Namun kedua anak kembar itu ahli dalam hal melempar sesuatu.
Mungkin suatu saat dirinya akan minta bantuan Sakonji atau Shinjuro, mengingat dirinya selalu saja mendapatkan misi-misi yang berbahaya. Bahkan di antara Hashira lainnya, Matsuda dicap sebagai mimpi buruk para iblis. Selain menjadi Hashira terkuat, dirinya adalah incaran utama Muzan karena statusnya sebagai pemilik darah langka atau marechi.
Setelah keluarga kecil tersebut sarapan, semuanya terlihat melakukan aktifitas masing-masing. Matsuda yang kelelahan setelah patroli memilih untuk istirahat. Untuk menambah penghasilan, Hitomi akan memasak beberapa makanan dan menjualnya dari rumah ke rumah. Harada sering sekali membantunya, namun tidak jarang Hikari dan Hikaru akan membantu selagi kakak mereka mengasah kemampuannya dalam berpedang.
Seperti detik ini juga. Ketika Matsuda tertidur karena lelah, Hikari dan Hikaru membantu ibunya memasak banyak makanan. Sementara Harada tengah berlatih dengan giat di dekat dapur. Sehingga baik itu Hitomi, Hikari dan Hikaru masih bisa melihat gerakan Harada yang lentur, gesit, namun tajam dan kuat dari dapur. Sebuah senyuman kembali terukir di atas wajah anggun Hitomi ketika melihat Harada.
Karena selain tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan, putra sulungnya juga sangatlah mempesona dengan caranya sendiri. Hitomi terkekeh kaku, lalu tersenyum getir. Sementara Hikaru dan Hikari yang kebingungan hanya saling bertatapan, lalu mengangkat bahu mereka.
"Kaa-chan, apa yang kaa-chan pikirkan?" tanya Hikaru. Hitomi kembali tersadar, lalu menatap kikuk kedua anak kembarnya.
"Ah tidak ada kok. Kaa-chan hanya merasa rumit," balas Hitomi singkat. Kedua anak kembar itu saling memandang, lalu kembali mengangkat bahu dan fokus untuk memasak lagi.
Setidaknya begitulah mereka menghabiskan waktu. Hikari dan Hikaru akan membantu ibunya selagi Harada latihan sampai sore. Sementara Matsuda yang kelelahan, bisa tertidur sampai tengah hari tanpa mandi dan atau hanya sekedar ganti baju jika sedang benar-benar lelah. Jika sudah bangun, pria berambut hitam itu hanya akan melakukan tiga hal ketika ada di rumah.
Melatih putra sulungnya, bermain dengan anak kembarnya, lalu menikmati suasana rumah dengan memasak. Keluarga ini memang memiliki 3 koki handal, sehingga keluarga ini setidaknya akan selalu kenyang dengan makanan yang enak.
Seperti halnya saat ini. Jika Matsuda perhatikan, ini sudah jam satu siang. Istri dan kedua anak kembarnya sedang berkeliling untuk menjual makanan, dan Matsuda juga kini sedang menata meja makan untuk makan siang. Kini pria berambut hitam itu memilih untuk makan siang di luar, berdekatan dengan Harada yang sedang sangat fokus untuk latihan.
Tanpa sepengetahuan Harada, Matsuda membawa satu meja tatami ke halaman, tepat di bawah sebuah pohon maple yang daunnya masih hijau. Pria bermanik hijau rumput itu juga membawa makanan dan alat makan satu persatu keluar.
Meskipun hanya berdua di rumah, namun Matsuda sebenarnya tidak tinggal sendirian. Tepat di sebelah rumahnya, masih ada satu rumah lain, barulah ada pagar batu yang mengelilingi kedua rumah tersebut. Rumah sebelah diketahui adalah milik adiknya, Akechi Yoshinori.
Adiknya juga merupakan seorang pemburu iblis tingkat Kinoe, sehingga adiknya itu sedikit lebih sering untuk berada di rumah. Sebagai buktinya, kini kedua kakak beradik itu langsung menyiapkan makan siang di bawah pohon maple.
Barulah setelah semuanya siap, Matsuda menepuk bahu Harada yang sedang fokus untuk berpikir dan hendak melakukan salah satu jurus. Sebagai hasilnya, Matsuda nyaris terkena sabetan shinai yang Harada pakai untuk latihan. Sebagai catatan, sekalipun sedang memakai shinai, Harada selalu mengerahkan kekuatan penuhnya saat latihan.
"Tou-chan, setidaknya bersuaralah!" gerutu Harada. Matsuda terkekeh kaku.
"Aku juga sedang mengetes refleks yang kau miliki, Harada. Kerja bagus!"
Harada sempat memalingkan wajahnya ke pohon maple, dan sedikit terkejut ketika mendapati ada dua tatami yang berbaris di sana. Di atasnya telah di simpan beberapa makanan. Selain itu, paman dan sepupunya telah menunggu di meja makan. Mereka semua kini sedang mengatai Harada karena terlalu fokus ketika berlatih.
Manik hijau rumput Harada menatap ayahnya lurus-lurus. Sementara Matsuda hanya terkekeh kaku, dan mengingatkan Harada untuk sedikit santai. Yoshinori berseru untuk segera memulai makan siangnya. Harada dan Matsuda akhirnya bergabung dengan Yoshinori dan keluarganya untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Selama makan siang berlangsung, Harada terus diganggu oleh sepupu-sepupunya. Namun mereka semua, yang juga baru berusia 7 tahun, ikut membantu dirinya dan ayahnya untuk beres-beres. Setidaknya semuanya impas, begitulah pendapatnya.
Selagi mencuci piring bersama sepupunya, Harada bisa mendengar jika ayahnya kini sedang berbincang dengan pamannya, yang tidak seberuntung ayahnya. Karena Yoshinori telah kehilangan istrinya saat melahirkan kedua sepupunya ini, yang juga sama-sama kembar. Berbeda dengan adiknya, sepupunya ini sama-sama seorang laki-laki, Hideo dan Hideki adalah nama kedua adik sepupu Harada. Keduanya sangat energik, hingga Harada yakin mereka berdua akan menjadi sosok yang pekerja keras dan memiliki fisik yang prima.
"Hara-nii, apa kau berencana menjadi pemburu iblis?" tanya Hideki singkat.
"Iya, itu benar. Jika tidak membantu baa-chan kau pasti selalu berlatih! Bermainlah kali-kali dengan kami!" Hideo mengomel, sementara Harada hanya bisa terkekeh kaku.
"Aku sampai seperti ini hanyalah untuk bertahan hidup dan melindungi kalian, belum lagi aku adalah marechi."
Hideo dan Hideki mengangguk pelan. Kedua manik hijau rumput Harada bisa menangkap ketidak puasan dalam mata mereka, namun begitulah faktanya. Keluarga Harada adalah Akechi murni. Status tersebut memperbesar kemungkinan untuk menjadi seseorang yang berdarah langka atau marechi. Namun mengingat seisi klan Akechi adalah marechi, tentu yang menurut klan Akechi adalah darah langka memiliki nilai yang sangat besar.
Pemilik darah seperti ini akan muncul sekali dalam jangka beberapa puluh tahun. Mereka memanggil darah langka ini sebagai Kusahanada no Musuko, atau anak dari keinginan neraka. Nilai dari darah ini adalah 45 orang marechi. Sehingga jika iblis kacangan mendapatkan darah itu, ada dua kemungkinan yang akan diraihnya. Hancur karena karakter darahnya yang korosif, atau akan langsung mendapat kekuatan yang setara dengan para Juuni Kizuki.
Untuk menentukan hal itu, bisa dilihat dari penguasaan Pernapasan Neraka. Jika seseorang berhasil menguasai 15 jurus yang ada di dalamnya, maka orang itu adalah orang dengan darah spesial tersebut. Karena semua fakta itu, Harada menjadi sangat giat seperti sekarang ini. Karena saat dirinya berhasil menguasai semua jurus di Pernapasan Neraka, Hitomi menyadari hal ini dan langsung melapor pada Matsuda.
Keduanya meminta Harada untuk segera menguasai pernapasan lainnya sebagai kamuflase. Hal ini juga diketahui oleh para Hashira, bahkan Urokodaki Sakonji langsung merayu Matsuda untuk memberikan Harada padanya. Namun Matsuda, yang sudah tahu jika Harada tidak menyukai hal seperti itu, mengatakan jika Harada akan berguru ketika dia merasa perlu.
Setidaknya begitulah penjelasan dari Kusahanada no Musuko. Meskipun sosok itu memiliki kekuatan yang sangat besar, namun tanggung jawabnya juga akan sangat besar, bahkan hal itu harus ditanggung oleh seluruh klan. Setelah makan siang, Matsuda dan Yoshinori turut merapikan meja tatami yang tadi dibawa keluar.
Harada membuatkan teh hijau untuk ayah dan pamannya, yang kini sedang berbincang sambil menatap langit biru. Setelah itu, lagi-lagi Harada pamit pada kedua pria itu untuk pergi ke Gunung Sagiri, yang sebenarnya sangat dekat dengan kawasan klan Akechi. Lebih tepatnya klan ini mendiami kaki Gunung Sagiri sejak berada di bawah perlindungan klan Ubuyashiki. Matsuda dan Yoshinori menghela napas pelan.
Matsuda mengizinkan Harada, meskipun dirinya sangat ingin untuk mencegahnya agar anak lelaki beriris hijau rumput itu istirahat. Namun di sisi lain, Matsuda sendiri sadar jika Harada haruslah menjadi yang terkuat saat ini.
"Yoshi, apa kau ada misi malam ini?" tanya Matsuda. Yoshinori menggeleng.
"Sama sekali tidak aniki, ada apa memang?" Yoshinori balik bertanya.
"Tolong jaga semuanya untukku. Aku harus melacak para Jogen."
Yoshinori menoleh ke arah kakaknya dengan kedua mata yang membulat. Bahkan tanpa sadar, pria beriris hijau muda itu tidak sengaja mengerucutkan bibirnya. Matsuda tersenyum lembut, lalu mengacak-acak rambut cokelat adiknya yang lebih jabrik darinya.
"Karena itulah. Setidaknya kau harus memimpin semuanya lari jika tiba-tiba ada Jogen yang muncul," Matsuda menimpali ucapannya sendiri.
"Kuharap kau tidak pergi terlalu cepat, aniki," tukas Yoshinori.
Matsuda tertawa, meski sebenarnya kedua matanya memancarkan nuansa getir. Pria berambut hitam pendek itu menepuk-nepuk punggung adiknya, dan mengatakan jika dirinya akan bersiap untuk patroli nanti malam. Sementara Yoshinori memutuskan untuk kembali masuk ke rumahnya dan bermain dengan anak-anaknya.
Ketika Matsuda sedang memakai sandal zori miliknya di luar, Hitomi, Hikaru dan Hikari telah sampai ke rumah dengan wajah yang gembira. Namun yang membuatnya terkejut adalah, Gagak Kasugai miliknya sedang bertengger di atas kepala Hitomi. Gagak dengan bekas luka di mata itu langsung terbang ke bahu kanan Matsuda, dan berusaha membuat dirinya nyaman.
"Anata, kuharap kau tidak pergi hari ini," ucap Hitomi. Matsuda terkekeh sambil memeluk kedua anak kembarnya yang bergelayut manja di pinggangnya.
"Maafkan aku sayang, tapi ini sudah menjadi tugasku," balas Matsuda. Hitomi terlihat cemberut.
"Kalau begitu, apa bisa kau membawa sesuatu saat pulang?"
"Akan kuusahakan. Oh ya, Harada sedang latihan di Gunung Sagiri. Mungkin baru dua hari dia akan kembali."
Hitomi semakin cemberut. Namun Matsuda malah mengecup pipi istrinya itu, lalu pamit pada mereka bertiga. Wanita berambut oranye itu menghela napas panjang, dan merasa jika malam ini akan cukup membosankan. Karena selain tidak ada Harada yang sering menjadi tempat curhatnya, Matsuda juga pergi untuk bertugas.
Saat manik cokelat madunya menyadari hari semakin sore, Hitomi segera menyuruh Hikaru dan Hikari untuk masuk rumah. Tidak lupa mereka bertiga akan menutup pintu dan jendela rapat-rapat, lalu menyalakan dupa yang terbuat dari bunga wisteria sebagai perlindungan dari iblis. Atau setidaknya, itulah yang selalu mereka lakukan setiap malam.
.
Selagi latihan di rumah, Harada memang memakai shinai. Namun ketika berlatih di gunung, Harada akan membawa nichirin yang diberikan ayahnya. Sejak berusia 7 tahun, Harada sudah dilatih untuk mengayunkan nichirin oleh Matsuda.
Hingga saat ini, anak lelaki berusia 10 tahun itu, yang sedang menyempurnakan pernapasan buatannya sendiri, seolah sudah menyatu dengan nichirin warisan ayahnya tercinta. Namun ketika Harada mencium bau busuk yang kentara menghampirinya, anak lelaki bermanik hijau rumput itu tidak ragu untuk meninggalkan tempatnya berlatih. Sekalipun oksigen di tempat ini sangatlah tipis, namun Gunung Sagiri adalah tempatnya bermain sejak dulu. Sehingga Harada bisa mengetahui jika ada orang asing yang masuk.
Setelah berlari untuk mengikuti bau busuk tadi selama satu jam, kedua mata hijau rumput Harada langsung membulat sempurna. Tepat di depan matanya, kini telah berdiri sesosok iblis berambut pirang pudar yang sedang menatap ke tebing. Harada tercekat karena masih bisa mencium bau darah perempuan yang menguar dari mulutnya. Saat iblis bermanik pelangi itu menoleh pada Harada, anak lelaki bertubuh tinggi tegap itu langsung menggenggam erat pegangan nichirin miliknya.
"Dari baumu yang sangat manis itu, kau pasti Kusahanada no Musuko. Apa aku benar?" ucap iblis tersebut, yang terlihat ingin memastikan terlebih dahulu.
"Maaf saja. Aku tidak tahu apa itu, Jogen Kizuki peringkat dua, Douma," Harada jelas-jelas berkilah saat ini.
"Ya ampun, kau mengenalku! Senangnya bisa dikenali oleh Kusahanada no Musuko!"
"Diam kau bedebah! Arashi no Kokyu, san no kata:Senpuha!"
Harada berputar untuk menciptakan sebuah tornado berukuran lima meter. Dengan sedikit usaha, Douma membelah tornado itu menjadi dua secara horizontal. Namun tornado itu hanyalah sebuah pengalihan, karena kini di belakangnya, muncul seekor naga es berwarna biru muda yang diselimuti oleh petir.
Douma kembali memakai kedua kipasnya dengan kekuatan penuh. Karena dari apa yang dirasakan iblis berambut pirang pudar itu, kekuatan Harada untuknya setara dengan kekuatan para Hashira. Namun lagi-lagi, naga es berselimut petir itu hanyalah pengalihan. Karena saat ini, Harada kembali memberi kejutan dengan muncul tepat tiga meter di atas kepala Douma.
"Arashi no Kokyu, juu no kata:Zachokuraen!"
__ADS_1
"Wah kau kuat sekali! Kalau begitu, Kekkijutsu:Chiri Renge!"
"Uso! Jigoku no Kokyu, san no kata:Hiryu!"
"Hono no Kokyu, go no kata:Enko!"
Kedua mata Harada kembali membulat. Dengan napas yang menderu kencang, manik sehijau rumput musim seminya hanya bisa menatap haori putih yang bagian bawahnya bermotif api tersebut dalam diam. Jika sekelas Shinjuro Rengoku ada di sini, anak lelaki itu yakin jika sesuatu memang sedang terjadi.
Meskipun terluka cukup parah, Harada menelan ludah, dan memberanikan diri agar dirinya bisa berdiri di samping Shinjuro. Sementara itu di sisi lain, Douma terlihat kegirangan. Meski Harada kini sama sekali tidak bisa mencium aroma apapun karena pertarungannya dengan Douma yang berhasil membekukan banyak sekali tanaman di sekitarnya.
Serangan naga apinya serta harimau api milik Shinjuro, turut menghias area pertarungan yang membeku dengan sedikit api yang menyala-nyala. Douma kembali menyerang dengan memunculkan banyak tombak es. Shinjuro dengan mudahnya melelehkan semua itu dengan pernapasan apinya, begitu juga Harada yang terus memakai teknik ketiga dari pernapasan neraka untuk menghalau teknik darah iblis dari Douma.
"Harada, apa kau masih bisa turun gunung?" tanya Shinjuro. Harada bisa melihat jika Shinjuro kini sedang sangat khawatir.
"Jika aku turun gunung, bagaimana denganmu, Shinjuro Ji-chan?" Harada malah balik bertanya. Sementara sang pilar api tergelak, bingung dengan alasan dari reaksi Harada.
"Jangan khawatir. Aku akan menahannya, dan elemenku berlawanan dengan jogen kizuki ini."
"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah, Shin Ji-chan."
Harada langsung menjauh dari pertarungan. Shinjuro menyeringai, dan kembali bersiap untuk memakai kekuatan penuhnya. Saat Douma hendak memunculkan banyak tombak es lagi, Shinjuro bersegera untuk menghalau semua itu, dan setidaknya berusaha untuk mengakhiri jogen kizuki di hadapannya ini.
Meski nyatanya, Douma sama sekali tidak mudah untuk dikalahkan. Sementara kini, jauh di dalam lubuk hatinya, pria berambut oranye kuning itu berharap jika keempat rekan sesama Hashiranya akan baik-baik saja sekarang. Setidaknya klan dengan kemampuan khusus seperti ini haruslah diselamatkan.
.
Sementara itu di sisi lain, tepat di halaman rumah kediaman Klan Akechi, pemandangan yang sangat tidak biasa tengah berlangsung. Kedua rumah kayu yang tadi siang masih berdiri tegak, kini sudah rata dengan tanah.
Empat Hashira dan dua kisatsutai tingkat Kinoe sedang bersiaga di depan empat anak-anak dan satu wanita yang sedang sangat ketakutan. Selain Yoshinori, Kagami sang Pilar Bunga juga ikut untuk berjaga-jaga. Sementara itu tepat di hadapan mereka, berdiri dua iblis yang wujudnya masih utuh. Hanya pakaian kedua iblis itulah yang berantakan, begitu juga dengan suasana hati mereka.
Karena kedua iblis terkuat di dunia ini, Muzan dan Kokushibou, sudah sangat jengah dengan semua upaya enam kisatsutai ini untuk melindungi lima anggota klan Akechi yang ada di paling belakang. Tidak cukup sampai situ saja, lima kisatsutai di hadapannya juga sedang mencoba melindungi sang Pilar Angin, yang juga dijuluki sebagai Pilar Neraka, Akechi Matsuda.
Cukup berbeda dengan keenam kisatsutai, yang kini sudah terluka di seluruh tubuh. Bahkan topeng Tengu yang selalu digunakan Sakonji sudah pecah, menampakkan wajahnya yang tenang bagaikan air mengalir. Jigoro dan Matsuda juga sudah sangat kewalahan. Namun mereka bertiga setidaknya harus membiarkan yang di belakangnya selamat.
"Ya ampun, sudah kukatakan kalau aku akan melepaskan kalian jika kalian menyerahkan Kusahanada no Musuko padaku," tutur Muzan. Jigoro menyeringai, seolah mengejek.
"Langkahi mayatku dan Sakon kalau kau mau melakukannya!" tukas Jigoro.
"Ho, begitukah? Kokushibou, kau tahu bagianmu."
Bahkan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh Jigoro, iblis bermata enam itu melesat dan memenggal Yoshinori. Seolah belum cukup bersenang-senang, Kokushibou memotong kaki kanan Jigoro dari lutut ke bawah. Matsuda meradang.
Pria beriris hijau rumput tersebut melompat ke atas kepala Kokushibou, dan bersiap untuk menyerang iblis mata enam tersebut. Namun belum sempat Matsuda melakukan jurusnya, Kokushibou turut melompat ke atas dan saling beradu pedang dengan Matsuda.
Sakonji yang melihat celah, berseru pada Kagami agar segera mundur sambil membawa anak-anak dan Hitomi. Namun Muzan tidak ambil pusing. Iblis berambut hitam itu mengeluarkan akar beracunnya, dan langsung menusuk Matsuda dari belakang. Tepat di jantungnya. Hitomi yang belum terlalu jauh melangkah histeris, begitu juga dengan anak-anak.
Setelah melempar tubuh Matsuda ke dalam hutan, akar-akar milik Muzan mengarah pada Kagami. Pengguna pernapasan bunga itu dengan sigap menghalaunya. Sambil memberi waktu Kagami untuk kabur bersama Hideo, Hideki, Hikaru, Hikari serta Hitomi, Sakonji serta Jigoro kembali melayangkan serangan yang sangat kuat.
"Mizu no Kokyu, juu no kata:Seisei Ruten!"
"Kaminari no Kokyu, san no kata:Shubun Seirai!"
Setelah teknik tersebut, Sakonji bergegas menyusul Kanae sambil membawa Jigoro layaknya karung beras. Karena sudah kehilangan banyak darah, Jigoro sama sekali tidak melawan dan kehilangan kesadarannya di bahu Sakonji.
.
Sementara itu di sisi lain, Harada langsung membelalak saat melihat apa yang sedang terjadi di rumahnya. Dari kejauhan dirinya bisa melihat ayahnya ditusuk oleh akar tepat di jantung, lalu dilempar begitu saja ke dalam hutan di samping rumah. Bau darah yang sangat manis menguar dengan hebat, membuat dada dan napasnya terasa sangat berat.
Setelah itu, apa yang dilihatnya adalah lautan petir dan serangan air dalam jumlah besar. Anak lelaki berambut hitam itu masih bisa mencium bau iblis di rumahnya. Saat Harada hampir kembali berlari, seseorang memegang pundak kanannya. Harada menoleh ke belakang, dan mendapati Shinjuro yang penuh luka juga napas yang menderu sedang berdiri di sana sambil menggeleng pelan.
Denyut jantung Harada semakin cepat. Dirinya kesal bukan main. Anak lelaki itu mencoba melepaskan diri dari genggaman Shinjuro, namun pria beriris cokelat madu itu malah memeluknya. Harada langsung berontak. Shinjuro melepas pelukannya, namun tetap memegang kedua pundak Harada sambil menatap anak itu lurus-lurus.
"Shinjuro ji-chan, kenapa kau menahanku?" tanya Harada. Air mata sudah membasahi kedua pipinya.
"Jangan sia-siakan pengorbanan ayah dan pamanmu, Harada. Aku yakin ada yang selamat," tukas Shinjuro. Air mata semakin membasahi kedua pipi Harada.
"T-tapi ji-chan. Itu kan belum-"
"Sudahlah. Urokodaki, Kochou dan Kuwajima ada di sana. Kau tenanglah dulu."
Harada menangis sejadi-jadinya. Dia sudah tidak tahan dengan semua ini. Rasa khawatir akan keluarganya memenuhi hati kecilnya. Namun di sisi lain, Harada sadar jika dirinya tidak boleh tertangkap. Shinjuro memeluk Harada, lalu menggendongnya.
Harada yang masih menangis tanpa suara membenamkan wajahnya ke dada Shinjuro sambil sedikit menarik seragam kisatsutainya. Shinjuro menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk membawa Harada ke markas kisatsutai. Karena jika dipikir-pikir, Harada akan merasa nyaman dengan pemimpin kisatsutai yang baru memimpin selama tiga tahun, Kagaya Ubuyashiki yang baru berusia 7 tahun.
__ADS_1