
Pagi telah menyingsing, dan mentari telah terbit untuk menghangatkan bumi serta mendorong para iblis untuk masuk ke bawah bayang-bayang. Manusia normal biasanya baru akan memulai aktifitasnya di pagi hari. Tetapi untuk para pemburu iblis, pagi hari adalah saat mereka beristirahat atau berangkat guna melaksanakan misi selanjutnya.
Orang-orang yang bergabung dengan Kisatsutai memang memiliki jadwal yang semakin tidak normal belakangan ini. Namun semua itu demi melindungi manusia dari serangan iblis. Lalu tidak lupa di tengah jadwal para Hashira yang padat, kesebelas Hashira kini harus mengikuti rapat yang diadakan setiap 6 bulan sekali.
Selain untuk mengecek kelengkapan anggota, rapat persetengah tahun ini berguna untuk mengumpulkan informasi yang telah dikumpulkan oleh masing-masing Hashira sebelum rapat. Namun kini, sebelum memulai rapat rutin, mereka dipanggil ke markas pusat sejak pagi buta.
Katanya untuk mengadili seorang Mizunoto yang berpetualang membasmi iblis bersama dengan kakaknya yang telah menjadi iblis. Namun setelah sekian lama berada di Kisatsutai dan mengenal Kagaya dengan baik, Harada tidak yakin jika semua Hashira dipanggil pagi-pagi sekali hanya untuk mengadili seorang gadis berambut hitam, yang kini tengah tergeletak tidak sadarkan diri di depan 10 Hashira.
Manik hijau rumputnya kini berkeliaran dengan liar, berusaha untuk mencari satu Hashira lagi, yang entah kenapa bisa sampai terlambat. Padahal pemuja ohagi itu tidak pernah datang terlambat sebelumnya, dan hal ini sedikit membuat Harada gusar.
Hideki yang berdiri tepat di depannya hanya menepuk-nepuk dada Harada, mencoba menenangkan sahabat baiknya. Harada sendiri berdiri di pojok kiri, bersebelahan dengan Gyomei yang hanya melantunkan do'a sambil mengatupkan kedua tangan. Berterima kasihlah pada tubuh tinggi menjulangnya, sehingga Harada selalu mendapat tempat yang paling belakang bersama Gyomei dan Tengen sejak sebelum rapat.
Lalu di samping gadis itu juga, yang notabenenya adalah Kamado Nezuko, ada seorang kakushi yang berlutut dan berkali-kali berseru guna membangunkannya, hingga kakushi itu kesal dan mengucapkan kata-kata mutiara. Harada memalingkan wajahnya sambil menutup mata untuk beberapa saat, merasa jengah dengan segala jenis pertemuan dadakan ini.
"Hora, kau ini sedang berada di hadapan para Hashira tahu! Mereka adalah 11 pendekar terkuat di organisasi!"
Harada sedikit menguap sambil menggaruk tengkuknya, selagi Hashira lainnya menatap intens pada gadis berkepang satu kebelakang di depan mereka. Sementara di sisi lain, Nezuko terlihat sangat terkejut. Terutama saat mendapati keberadaan Harada di antara orang-orang yang mungkin menurutnya akan membahayakan kakak kandungnya. Dugaan Harada benar adanya, gadis itu kini terlihat semakin panik.
Nezuko berkali-kali memanggil kakaknya, lalu berlanjut memanggil Senjuro, Zenitsu dan Inosuke. Dengan penuh selidik Harada kini memperhatikan wajah terkejut Kyojuro dan seorang gadis berambut pink bergradasi hijau, Kanroji Mitsuri. Gadis berkepang tiga itu terlihat terenyuh dengan kesungguhan Nezuko, bahkan kini Hashira Cinta itu sudah berderai air mata.
Sementara Gyomei dan Tengen kini sedang mengasihani nasib Nezuko dengan gayanya sendiri. Namun keduanya sama-sama mengatakan jika Nezuko terlampau imut namun memiliki nasib yang kurang beruntung. Pelipis kiri Harada berkali-kali berkedut ketika telinganya digelitiki oleh kalimat yang kedua rekan sekaligus sahabat berbadan besarnya katakan tentang Nezuko. Namun saat aroma Sanemi dan Tanjiro muncul bersamaan, kedua mata Harada langsung membulat.
"Kupikir siapa yang membawa iblis ketika bertugas. Ternyata hanya bocah ingusan huh?"
Baik Nezuko dan Harada kini mulai tersulut amarah. Pria berambut putih itu mengangkat kotak yang memuat Tanjiro hanya menggunakan tangan kirinya, dan pemandangan serta aura Sanemi yang tajam sempat membuat Nezuko tercekat. Ketika pria beriris ungu pucat itu baru menusuk kotak itu sekali, Harada melesat ke arah Sanemi dan langsung menendang wajahnya, membuat Sanemi terpelanting dan melemparkan kotak kayu yang dipegangnya ke udara.
Kedua tangannya refleks memeluk kotak itu. Pria berambut hitam tersebut bertumpu pada telapak kakinya untuk menghentikan manuvernya. Harada segera memakai kotak itu layaknya sebuah ransel, kemudian bersiap untuk menangkis serangan Sanemi dengan tangan kosong. Harada hanya bisa tersenyum tipis sambil memandang Sanemi dengan wajah datar, terutama ketika sadar perhatian para Hashira kini terpusat padanya.
"Harada, apa-apaan ini? Kenapa kau bertingkah tidak elok?" tanya Tengen.
"Hora, baka! Berikan mangsaku!" tukas Sanemi.
Di atas wajahnya yang juga penuh luka, kini terdapat bekas tapak sepatu yang kemerahan, tanda jika tendangan yang Harada layangkan bukanlah tendangan normal. Nezuko yang melihat pergerakan Sanemi yang hendak kembali menusuk ke arah kotak langsung bangkit dan berlari ke arah Sanemi. Harada sedikit menjauh, memberikan panggung pada mereka berdua.
Sanemi yang sudah sangat kesal menebaskan nichirin hijaunya pada Nezuko secara horizontal. Gadis berkepang satu itu, yang masih lebih pendek dari Sanemi menunduk, dan langsung menendang aset masa depan milik pria berambut putih itu sekeras mungkin. Entah bagaimana caranya Gyomei menutup kedua mata Muichiro. Ekspresi Tengen saat ini kelewat shock, sementara Hashira lainnya langsung berwajah masam selama Sanemi menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Siapapun yang melukai onii-chan akan kuhajar sampai mampus!" seru Nezuko. Harada terkesiap, dan tanpa sadar bersiul.
"Kalian semua hentikan! Oyakata-sama akan segera datang!" tukas Giyuu dengan penuh penekanan. Harada mendelik ke arah Giyuu, lalu tersenyum tipis.
"Setidaknya kita tidak bisa memutuskannya tanpa beliau tahu! Itu tidak sopan!" tukas Mitsuri.
Sanemi kembali bangkit secara perlahan dan berniat untuk memenggal Nezuko. Harada yang menyadari hal itu pertama kali mencoba menyerang kaki pria berambut putih itu, namun Sanemi dengan mulus berhasil melompat. Dengan seringai setipis kertas Harada mendorong kedua bahu Sanemi ke tanah. Sementara kedua betis pria bermanik ungu pucat itu ditahan oleh kedua lutut Harada.
"Teme, apa-apaan kau ini hah?!" tanya Sanemi, yang sebenarnya setengah membentak.
"Diam dan tunggu keputusan Oyakata-sama. Kau ini benar-benar tidak berubah, ya, Sanemi," tutur Harada dengan nada tenang. Sanemi mencebik kesal.
"Urusai! Aku lebih baik darimu yang malah melindungi iblis jahanam di dalam kotak itu!"
"Lalu jika aku mengatakan keluarga dua anak ini adalah keluarga yang secara turun temurun mewarisi Pernapasan Matahari sebagai Tarian Dewa Api, apa kau akan paham hah?!"
"Persetan dengan hal itu! Iblis tetaplah iblis, dan orang bodoh yang melindungi iblis harus dibunuh!"
"Oyakata-sama."
"Telah tiba."
Sanemi yang mendapati Nezuko sedang bingung dan terkejut, langsung memaksa gadis berkepang satu itu untuk menundukkan kepala. Meskipun marechi dengan darah layaknya alkohol itu harus mendapat jitakan dan ceramah gratis dari Harada tentang cara memperlakukan perempuan.
"Selamat pagi, anak-anakku. Apakah langitnya berwarna biru?" tanya sosok yang muncul sambil dipapah kedua putrinya, Ubuyashiki Kagaya.
"Selamat pagi juga, Oyakata-sama. Saya selalu berdo'a agar anda selalu sehat dan bugar," ucap Sanemi.
"Kuharap api kehidupan anda akan terus berkobar walau hanya untuk sehari," tukas Gyomei. Kagaya tersenyum.
"Arigatou, Sanemi, Gyomei."
Harada melirik ke arah Mitsuri yang semakin merona saat ini. Entah karena iri atau apa, Harada sedikit tidak peduli dengan hal itu. Namun yang Harada pedulikan adalah pertanyaan frontal Sanemi, yang menanyakan apa maksud di balik pertemuan mendadak ini, terutama bersama seseorang yang membawa iblis selama bekerja? Itu sedikit gila.
Bukan hanya untuk Sanemi seorang, tapi juga untuk Gyomei, Tengen, Obanai, dan nyaris seluruh Hashira berada di pihak Sanemi. Harada menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Namun Kagaya mengatakan jika dirinya telah mengizinkan Nezuko dan Tanjiro berpetualang bersama sebagai pemburu iblis.
__ADS_1
Harada menghela napas pelan, lalu meminta maaf pada Kagaya atas segala ketidak sopanan yang akan terjadi. Harada melesat ke belakang Kagaya dan dua putri kembarnya, kemudian membuka pintu kotak yang menampung Tanjiro di dalamnya.
Iblis berambut merah anggur yang rambutnya diikat setengah ke belakang itu keluar dari kotak dengan kedua mata yang membulat. Ada sedikit air liur yang merembes ke bawah, terutama ketika melihat darah yang mengalir ke dagu dari bibir bawah Harada.
Tanjiro membuka haori kotak-kotak hijau hitam miliknya, membentuk haorinya menyerupai bola, dan menekan bibir bawah Harada dengannya. Tatapan Tanjiro seolah mengatakan agar Harada memegang haorinya hingga darah berhenti mengalir, dan pria berambut hitam itu hanya bisa menurut.
Sementara di sisi lain, Tanjiro kembali memperkecil ukuran tubuhnya dan kemudian masuk ke kotaknya lagi untuk tidur. Luka yang didapatkannya di Natagumo, serta luka tusuk yang dalam dari Sanemi, semua luka itu cukup untuk membuatnya tidur selama 4 bulan penuh.
Para Hashira yang melihat kejadian itu luar biasa terkejut. Semua Hashira tahu jika Harada ada di puncak piramida marechi. Sanemi mencebik kesal, sementara Hideki hanya bisa tersenyum dengan penuh arti. Kagaya meminta agar salah satu anaknya menjelaskan apa yang terjadi, dan begitu salah satu anaknya selesai menjelaskan, Kagaya juga terlihat terkejut bukan main.
"Kalian semua tahu darah macam apa yang mengalir pada tubuh Harada. Kuharap ini bisa menjadi jaminan kalian mengenai ketahanan iblis Tanjiro," tutur Kagaya.
"Namun meski tahan dengan darah Harada saat ini, tidak ada jaminan iblis itu akan tetap bertahan untuk tidak memakan manusia," sanggah Gyomei.
"Aku tahu hal itu. Namun jaminan yang dimiliki Tanjiro bukan hanya ketahanannya akan darah milik Harada."
Kagaya meminta salah satu anaknya untuk membacakan sebuah surat. Itu dari Sakonji, yang menjelaskan semua kondisi Tanjiro secara terperinci. Lalu ketika surat itu menyatakan jika Sakonji, Giyuu dan Nezuko sudah siap untuk melakukan seppuku jika Tanjiro memangsa manusia, semua hal itu langsung membuat Harada merinding. Pria bersurai segelap malam itu memegang kedua pelipisnya yang berdenyut, dan berusaha untuk tidak terbawa suasana.
Cukup Jigoro yang pergi karena melakukan seppuku. Harada tidak mau Sakon ji-chan kesayangannya sampai meninggalkannya dengan cara yang sama seperti Jigoro. Kedua tangan Harada gemetar. Kagaya lalu mengatakan jika Nezuko dan Tanjiro harus diberi kesempatan untuk bertarung bersama melawan para iblis rembulan. Namun Nezuko malah meracau jika dirinya akan membunuh Muzan, dan hal itu membuat seluruh Hashira menahan tawa.
"Hei nak, bahkan Harada dan Hideki yang pernah berhadapan dengan Muzan masih baru bisa memojokkannya tahu!" cibir Tengen.
"Level kalian masih terlalu jauh dengan mereka berdua," timpal Gyomei.
Harada tersenyum tipis. Kemungkinan besar informasi tentang keluarga Kamado telah sampai ke telinga Kagaya. Atau setidaknya, itulah yang diharapkan oleh Harada. Karena Kagaya juga mengatakan jika ingin Nezuko dieksekusi, maka pihak lawan harus memiliki bukti yang jauh lebih kuat. Hampir semua Hashira terkejut. Lalu sebagai tambahan, Kagaya mengatakan jika Nezuko dan Tanjiro telah bertemu dengan Muzan sebelumnya.
9 Hashira mulai ribut. Mereka bertanya macam-macam, mulai dari wujud, kekuatan, hingga markas. Nezuko tertawa kikuk dengan situasinya saat ini. Namun ketika Hideki menepuk bahu Nezuko, gadis berambut hitam dengan ujung oranye tua itu malah mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Karena keributan itu, Kagaya harus mengacungkan telunjuk tangan kanan di depan bibir, tanda agar semua Hashira diam. Hanya berjarak beberapa detik, Shinobu menyatakan jika dirinya ingin merawat Nezuko dan Tanjiro. Kagaya menyetujuinya.
Shinobu memanggil dua kakushi untuk memindahkan kakak beradik itu ke Kediaman Kupu-kupu. Sebelum terlalu jauh melaju, keributan kembali terdengar. Nezuko memaksa dirinya untuk kembali, dan gadis bersurai hitam itu marah-marah, dan mengatakan jika dirinya ingin menendang Sanemi sekali lagi. Nezuko kembali dipukuli dan ditarik-tarik oleh dua kakushi tadi, hingga Muichiro melemparkan kerikil pada Nezuko dan membuat gadis itu tidak berkutik.
"Jangan membantah!" ujar Muichiro dengan penuh penekanan.
"Arigatou na, Mui-kun," ucap Harada. Muichiro mengangguk.
__ADS_1
Remaja berambut hitam dengan gradasi mint di ujungnya itu paham Harada benci keributan. Kedua kakushi itu kembali datang sambil berkali-kali bersujud sebelum pergi. Kagaya mengatakan jika dirinya titip salam pada Tamayo. Harada yang masih ada di engawa rumah Kagaya menghela napas pelan, berusaha untuk mengatur emosinya.
"Jadi, mari kita mulai rapat sesungguhnya," ujar Kagaya.