Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Bertemu dengan Nezuko


__ADS_3

Entah minggu keberapa sejak Harada mengalahkan Kagami. Namun yang pasti, kini pria beriris hijau rumput tersebut sudah kembali menekuni misinya yang panjang. Kediamannya juga kini semakin sepi, dan hanya menyisakan bibi penjaga rumah yang telah lama mengabdikan diri pada Kisatsutai.


Dengan seringnya kakak beradik Akechi dan Zenitsu mengembara untuk membasmi iblis di tempat yang berbeda-beda, mereka berempat juga semakin jarang bertemu. Karena perbedaan tingkat yang terlampau jauh, bahkan Zenitsu sama sekali belum melihat kakak-kakak tercintanya itu sejak dirinya bergabung dengan Kisatsutai.


Namun di samping rasa sepi Zenitsu, banyak orang-orang yang lebih merasakan kesepian lagi. Termasuk dengan Hikari dan Hikaru, yang setelah sekian lama baru saja mendapatkan misi bersama. Dua kakak beradik itu juga menyelesaikan misinya dengan cukup lancar, sekalipun Hikaru saat ini keracunan bunga aconite. Hal yang menguntungkan untuk pria bermanik cokelat madu itu adalah adik kembarnya yang membawa penawar racun, sehingga nyawanya bisa terselamatkan.


Kini di bawah sinar rembulan yang lembut, Hikari terlihat berjalan cepat. Sementara Hikaru yang luar biasa lemas hanya diam dan menikmati angin di atas punggung adik kembarnya. Burung Kasugai milik Hikari terbang berdekatan dengan keduanya, mengarahkan mereka berdua ke depan sebuah gerbang kayu bergambar bunga wisteria.


"Kugo kau jahat! Kenapa kau menyuruh kami ke rumah wisteria sih?" suasana hati gadis berambut oranye itu sedang buruk saat ini.


"Kocho-sama sedang ada misi dengan Tsumori kyodai! Jadi rawatlah kakak kembarmu sampai sembuh, waaaak!" tutur Kugo, Kasugai milik Hikari.


"Ah dasar menyebalkan!"


"Hikari, sudahlah. Aku tidak apa-apa."


"Urusai baka aniki!"


Suasana hati Hikari kini luar biasa buruk, meski logikanya membenarkan apa yang Kugo katakan. Karena di Kediaman Kupu-kupu, hanya Shinobu dan Tsumori bersaudara itu yang paham betul tentang racun. Hikari menghela napas dengan kasar, meratapi nasibnya yang hanya bisa belajar sedikit dari Shinobu dan Tengen tentang penanganan racun.


Namun ketika seorang nenek tua bersanggul besar muncul dari balik gerbang dan mempersilahkan keduanya untuk masuk, gadis berambut oranye itu mencoba untuk mengatur emosinya. Setidaknya dirinya harus sedikit lebih tenang di hadapan warga sipil.


Nenek tua itu menuntun Hikari ke sebuah kamar dengan sebuah futon yang sudah digelar. Hikari mencabut nichirin milik Hikaru, membuka selimut futon, lalu membaringkan kakaknya di sana. Hikari langsung duduk bersandar ke dinding dan melepas nichirinnya juga dari sabuknya. Dengan wajah lelah Hikari meletakkan dua nichirin itu di samping kiri futon.


Nenek bersanggul besar itu mengatakan jika dirinya akan mengambil air hangat dan kain. Gadis berambut oranye itu hanya mengangguk, dan manik hijau rumputnya kini mendapati kakak kembarnya sedang tersenyum simpul.


Hikari terlihat sedikit tertohok dan khawatir dengan tingkah kakak kembarnya itu. Nenek yang juga bertubuh mungil itu lalu masuk dengan sebaskom air hangat dan kain bersih. Hikari mengatakan jika dirinya akan melakukannya sendiri. Nenek yang juga bertubuh mungil itu mengangkat sebelah alisnya, lalu meninggalkan kamar sambil mengatakan jika dirinya akan menyiapkan makanan dan pakaian bersih. Hikari hanya mengangguk dan segera membersihkan wajah Hikaru.


"Aniki, kau tidak melihat yang aneh-aneh, kan?" Hikari hanya ingin memastikan. Kakak kembarnya tersebut mengangguk pelan.


"Aku bisa ditampar tou-chan jika meninggalkanmu," balas Hikaru dengan suara parau. Hikari tersenyum simpul.


"Kalau begitu bertahanlah. Aku akan melanjutkan perawatan di sini."


Hikaru mengangguk dalam diam. Pria beriris cokelat madu itu membiarkan adik kembarnya untuk mengobati gejala keracunannya, yang kebanyakan membuatnya terasa seperti melayang. Padahal kenyataannya, racun wolfsbane sangat berpengaruh pada jantung, sehingga membuat racun ini sangat berbahaya.


Tapi untungnya Hikaru berhasil menghambat racun tersebut dengan pernapasannya. Bahkan dengan pandangannya yang saat ini sedang kabur, pria berambut hitam itu masih bisa melihat Hikari yang dengan telaten mengelap keringat yang meluncur bebas di wajahnya. Setidaknya hal terakhir yang diingat Hikaru adalah suara fusuma yang dibanting. Tidak lupa dengan dua aura kekhawatiran yang teramat besar.


.


Setiap menit terus bergulir, dan perlahan hitungan jam juga turut berganti. Matahari telah kembali menaiki singgasananya, menerangi dunia yang akan sangat berbahaya ketika malam menyingsing. Para iblis telah kembali ke bawah bayang-bayang, menanti malam hari tiba untuk berburu manusia.


Setiap iblis yang hidup secara liar akan mencari tempat gelap untuk berlindung, cukup berbeda dengan iblis yang telah menempati suatu tempat tertentu. Seperti halnya sebuah mansion besar, yang dari dalamnya terus terdengar dentuman drum tsuzumi. Bersamaan dengan drum yang berdentum berkali-kali, akan muncul hawa gelap yang sulit untuk dijelaskan.


Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh pemuda berambut pirang dengan ujung oranye itu. Sepasang manik semanis madunya menatap mansion itu lekat-lekat, lalu menghela napas panjang dan menelan air liur di tenggorokannya dengan susah payah. Instingnya mengatakan jika mansion ini setidaknya memiliki 3 iblis di dalamnya.


Di dekat pemuda berambut layaknya api tersebut, terdapat satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Tidak lupa dengan keberadaan dua rekannya yang entah kenapa cukup ajaib. Rekannya yang pertama adalah gadis berambut hitam dengan ujung seperti warna kayu. Sementara satu rekannya lagi, dan yang tertua di antara ketiganya, memiliki rambut kuning dan iris berwarna keemasan. Tidak lupa dengan sesosok mayat laki-laki bersimbah darah yang ada di dekat mereka berlima.


"Nezuko-san, Zenitsu nii-san, ayo kita selamatkan kakak mereka," ujarnya. Nezuko mengangguk.


"Wakatta, Senjuro-kun. Chotto matte ne," balas Nezuko. Gadis itu mencari tempat teduh, lalu menyimpan kotak yang selalu dibawanya di punggung.


"Hiii! Kau saja yang masuk kesana Sen-kun, aku akan tunggu di luar saja."


"Oh ayolah, kalau kau begini terus, kau hanya akan membuat Harada-san malu, Zenitsu nii-san."


Pelipis Zenitsu berkedut. Pemuda berambut kuning ini tahu jika orang di depannya adalah adik dari Hashira Api dan salah satu anak didik Hikaru. Namun entah mengapa lidah pemuda bermanik semanis madu tersebut terdengar bukan seperti lidah para Rengoku yang lainnya. Apa mungkin karena pengaruh aniue kesayangannya yang selalu berterus terang? Zenitsu tidak tahu, tapi pastinya Zenitsu luar biasa kesal sekarang.

__ADS_1


Nezuko dan Senjuro berjalan memasuki rumah besar tersebut sambil menggenggam gagang nichirin. Zenitsu berjengit dan segera menyusul keduanya. Bahkan pemuda bermanik cokelat keemasan tersebut sampai menarik haori putih polos Senjuro sambil mengatakan jika dirinya akan ikut serta.


Mereka bertiga memasuki rumah itu dengan kesiagaan penuh, meskipun Zenitsu masih terlihat ketakutan. Udara di dalam rumah ini terlalu berat dan gelap. Senjuro terus mencoba untuk mengendalikan emosinya. Zenitsu masih terlihat ketakutan.


Sementara di sisi lain, Nezuko menghampiri dua anak tadi, yang secara mengejutkan menghampiri ketiganya hanya karena kotak yang memuat Tanjiro terus mengeluarkan suara geraman. Manik cokelat madu Senjuro kini mendapati Nezuko yang sedang mengomeli dua anak tersebut, sebelum akhirnya suara drum tsuzumi berseru beberapa kali dan memisahkan mereka semua.


Nezuko bersama dengan seorang anak perempuan berkuncir dua, yang mengatakan jika namanya adalah Teruko. Di sisi lain Zenitsu harus melindungi seorang anak laki-laki bernama Shoichi, dan di sisi lain, mungkin karena Senjuro sedang benar-benar sial, pemuda berambut layaknya kobaran api itu langsung berhadapan dengan iblis yang memiliki tiga drum tsuzumi di tubuhnya.


Satu di bahu kanan, satu di bahu kiri, dan satu lagi di dada tengah. Sepasang manik semanis madunya membulat sempurna, tidak percaya jika dirinyalah yang akan berhadapan secara langsung dengan iblis yang memiliki aura berat ini.


.


Detik terus bergulir silih berganti. Setiap menit sang mentari secara perlahan turun dari singgasananya, dan membuat langit di akhir musim panas diwarnai oleh semburat oranye. Pertanda senja mulai menyingsing, dan sebentar lagi malam akan tiba. Saat-saat di mana para iblis akan berburu makanan di bawah sinar keperakan rembulan yang lembut.


Saat langit oranye tergantikan oleh langit malam yang gelap, angin sejuk kembali berembus dengan lembut, membelai segala hal yang dilaluinya. Harada, dengan kepala diperban, terlihat sedang duduk di engawa sambil menengadahkan kepala menghela napas  panjang, menikmati aroma daun momiji yang perlahan mulai muncul.


Harada menoleh ke belakang dengan tatapan yang rumit. Pikirannya terlalu kusut sejak kemarin, terutama ketika Hikari mengatakan jika iblis yang membuat Hikaru terkena racun wolfsbane adalah mantan shinobi legendaris. Manik hijau rumputnya bertatapan langsung dengan Tengen yang sedang bersandar ke dinding. Pria beriris merah marun itu bangkit dari duduknya, lalu duduk di samping kiri Harada.


"Tenanglah, Hikaru sudah kuamankan posisinya. Dia akan segera sadar," ujar Tengen. Harada mengangguk pelan.


"Kazumasa Shotaro, spesialisasinya bukanlah racun, kan?" tanya Harada. Sebelah alis putih Tengen terangkat, namun akhirnya mengangguk.


"Dia adalah pembunuh cepat. Jika ini menyangkut tentang racun, hanya satu tokoh yang kupikirkan."


"Siapa dia, Tengen?"


"Kudo Hakaku. Hideki pasti tahu orang ini."


Harada membelalak. Pria berambut hitam itu teringat dengan apa yang pernah Hideki katakan beberapa bulan lalu, jika sosok itu sangat cepat dan memiliki refleks yang bagus. Harada kembali menghela napas, lalu membaringkan tubuhnya dengan kaki menggantung di tanah, kemudian memejamkan kedua matanya. Hal yang pantas jika Hikaru berhasil diracuni, karena para Shinobi menggunakan racun mereka secara sembunyi-sembunyi tanpa disadari lawan.


Pikirannya semakin kalut. Bahkan Harada tidak sadar jika Tengen kembali masuk ke kamar, dan memeriksa Hikaru. Pria berambut hitam itu baru sadar jika Hikaru baru siuman ketika membuka mata. Harada beringsut dari posisinya, dan langsung memeluk Hikaru meskipun sempat sedikit tergopoh-gopoh dan terisak.


"Onii-chan, aku baik-baik saja kok," gumam Hikaru dengan suara parau. Harada melepas pelukannya dan mengangguk.


"Aku tahu, tapi. Tetap saja rasanya-"


"Onii-chan, sudahlah. Aku akan dihajar tou-chan kalau aku kesana terlalu cepat."


Harada sedikit tergelak, lalu mengangguk pelan. Sebelum Tengen menyadari Kasugai miliknya tengah berada di udara, pria berambut putih itu sudah menghela napas duluan sebelum gagak Kasugai miliknya mendarat di bahunya dan memberitahukan misi selanjutnya.


Harada hanya bisa terkekeh kaku untuk menyemangati Tengen. Meskipun sejujurnya, kelakuan Harada hanya membuat pria berotot itu semakin dongkol. Tidak butuh waktu lama hingga Tengen memakai kembali sandal zorinya, lalu melompat melewati pagar batu dari rumah wisteria. Harada menggeleng pelan, mencoba untuk memaklumi tingkah ajaib mantan shinobi tersebut.


Sejak Tengen beranjak untuk misi, mungkin 2 jam telah berlalu. Nenek bersanggul besar itu telah memberi mereka berdua porsi makan malam, dan keduanya juga sudah mandi untuk menyegarkan diri. Kini keduanya sedang duduk bersandar pada dinding ruangan sambil berbincang santai. Keduanya kini memakai yukata berwarna ungu dengan bagian tangan yang berwarna putih.


Fusuma ruangan sengaja dibuka dengan lebar, sehingga angin akhir musim panas yang sejuk mengisi ruangan. Pria beriris hijau rumput itu terperanjat ketika menyadari ada bau iblis yang datang kemari, dan iblis ini didampingi oleh setidaknya 4 pemburu iblis tingkat Mizunoto.


Harada bisa mengenali bau Senjuro, Nezuko dan Zenitsu di antara mereka, namun tidak dengan satu aroma lainnya. Hikaru mengambil nichirinnya, dan melemparkan nichirin Harada yang ditangkap dengan cekatan oleh pemegangnya. Harada mengisyaratkan agar Hikaru menyembunyikan nichirinnya, dengan alasan jika Harada yang akan menangani semua ini. Hikaru akhirnya menyembunyikan nichirin miliknya di bawah selimut futon.


Aroma iblis tersebut kian mendekat, disertai dengan aroma dari Nezuko dan Zenitsu yang mengekor di belakangnya. Namun saat iblis tersebut muncul di engawa, Harada mengangkat tangan kirinya, meminta agar Hikaru menahan diri. Pria beriris cokelat madu itu sempat protes.


Namun Harada mengatakan jika iblis ini, yang memiliki rambut berwarna merah anggur, yang kini tengah menggigit sebatang bambu, adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian di Aino. Hikaru terlihat kesal, bahkan dirinya sampai menggeram. Harada hanya menghela napas, mencoba untuk memaklumi reaksi adiknya itu.


Iblis berbentuk anak-anak itu masuk ke ruangan. Harada beringsut untuk berada di depan Hikaru dan nyaris memenggal iblis di depannya ini. Namun iblis yang juga bermanik kemerahan tersebut terlanjur menyentuh Hikaru dan membakar sekujur tubuh pria beriris cokelat madu itu dengan api berwarna merah anggur.


Harada refleks melempar iblis tersebut keluar ruangan. Api berwarna unik itu secara otomatis menghilang ketika penggunanya berada di udara. Harada langsung memeriksa keadaan Hikaru, khawatir jika situasi adiknya akan lebih parah lagi. Padahal sebenarnya, Harada masih merasa pusing karena lukanya yang berada di bagian kiri kepalanya.


"Hikaru, kau tidak apa-apa kan?" tanya Harada. Hikaru mengangguk.

__ADS_1


"Dia membakar racun di tubuhku, kak. Racunnya habis," balas Hikaru.


Harada tergelak. Selama karirnya di Kisatsutai, Harada baru mendapati ada Kekkijutsu yang terlihat seperti serangan, namun nyatanya itu adalah teknik penyembuhan. Pria beriris hijau rumput tersebut kembali menatap fusuma. Kedua matanya kini menangkap seorang gadis berambut hitam panjang yang sedang berjengit, lalu menundukkan kepalanya hingga membentuk sudut sebesar 90°.


Dengan insting seorang kakak Harada berjalan keluar, lalu menegakkan kepala gadis tersebut. Kedua telinga Harada langsung digelitiki oleh seruan Zenitsu, yang mengatakan jika dirinya sangat merindukan aniki tercintanya. Zenitsu bahkan sampai bergelayut manja di pinggang Harada.


Senjuro sedikit membungkuk ketika menyapa Harada, dan satu-satunya yang membuat Harada tertarik adalah tentang pemuda bertopeng babi hutan yang datang bersama dengan Zenitsu dan yang lainnya. Tanpa sepatah katapun Harada menunjuk pada pemuda tersebut, yang langsung dibalas oleh kekehan kaku Nezuko.


"Hei kalian, masuklah dulu!"


Orang yang mengucapkan hal itu tadi adalah Hikaru. Pria berambut hitam itu kembali ke dalam ruangan lalu menggulung futon yang sejak tadi telah digelar. Harada mengangguk pelan, mempersilahkan agar para Mizunoto di dekatnya untuk mampir sebentar.


Mereka semua masuk ke dalam ruangan yang telah Harada dan Hikaru tempati selama dua hari, lalu duduk mengelilingi ruangan. Mereka berlima memutuskan untuk menyimpan nichirin mereka di tengah, begitu juga dengan Harada dan Hikaru.


Akechi bersaudara itu lalu memperkenalkan diri, meskipun keduanya masih menyembunyikan pangkat mereka sekarang. Pemuda bertopeng babi itu juga memperkenalkan diri sebagai Hashira Inosuke, dan hal itu membuat Harada sedikit tersentak. Karena nyatanya, Harada tahu Douma pernah menahan nafsu makannya terhadap satu wanita bermarga Hashibira. Di sisi lain, Zenitsu dan Senjuro sedikit terkejut karena melihat Harada dan Hikaru yang hanya memperkenalkan namanya saja.


"Anu, tolong maafkan reaksi kakakku tadi, Harada-san," ucap Nezuko. Tanjiro kini sedang berbaring di pangkuan gadis berhaori pink itu sambil memainkan rambut hitamnya.


"Sudahlah. Setidaknya berkat kakakmu itu, racun di tubuh adikku langsung terbakar habis," balas Harada. Zenitsu menatap Hikaru dengan tatapan terkejut.


"Eh Hika-nii keracunan! Bagaimana bisa?!"


"Diamlah, baka Zenitsu! Ini adalah racun iblis yang dimodifikasi."


"Tapi Harada-san, jujur aku terkejut Tanjiro tidak bereaksi sama sekali dengan darah kalian berdua."


Kini giliran Nezuko, Inosuke dan Zenitsu yang melirik Harada dan Hikaru dengan penuh rasa penasaran. Harada, yang kebetulan duduk di samping kanan Senjuro, langsung menjitak kepala pemuda berambut layaknya api itu dengan cukup keras. Baik Harada atau Hikaru benci jika harus mengakui dirinya adalah marechi.


Manik sewarna rumput musim semi Harada mendapati jika Inosuke mulai menantang Harada untuk bertarung. Namun pemuda bertopeng babi hutan itu langsung dipukul oleh Zenitsu, tepat di tengkuknya, sehingga kini Inosuke tidak sadarkan diri. Harada hanya terkekeh kaku saat melihat keramaian di dekatnya.


"Baiklah, akan kujelaskan maksud perkataan Senjuro," ujar Harada dengan nada yang sedikit malas. Nezuko dan Zenitsu terlihat antusias. Sementara Inosuke terlanjur tidur di engawa.


"Baik aku, Hikari atau nii-chan adalah pemilik darah langka, atau lebih mudahnya marechi," tutur Hikaru dengan suara yang masihlah parau.


"Lalu di antara para marechi, terdapat beberapa kelas. Semakin tinggi kelasnya, maka darahnya akan semakin harum dan mengandung banyak kekuatan," timpal Harada.


"Anu aniki, lalu bagaimana dengan kalian bertiga?"


"Nii-chan ada di puncak piramida itu. Jika nii-chan sampai dimakan iblis, maka persamaan antara nii-chan dan marechi lainnya adalah 45 marechi. Sementara aku dan Hikari adalah 20 marechi."


Zenitsu kembali berteriak dan mengatakan jika setiap tetes darah ketiga kakaknya itu ternyata amat berharga. Sambil menutup telinganya yang berdengung, Senjuro diam-diam menatap Tanjiro lekat-lekat.


Pemuda berambut api itu tahu jika Harada, Hikari dan Hikaru adalah marechi. Namun jika persamaannya sampai separah itu, bukankah mereka bertiga adalah orang yang seharusnya sangat dilindungi? Senjuro tidak habis pikir.


Tapi ketika dirinya mengingat kekuatan ketiganya, yang bahkan secara individu melebihi ayah dan kakaknya, Senjuro yakin jika Akechi bersaudara memilih untuk tidak mempedulikan status marechi mereka, dan menggunakan hal ini untuk melindungi orang banyak.


"Nezuko-chan," ujar Harada. Nezuko menatap Harada dengan tatapan antusias.


"Ada apa Harada-san?" tanya Nezuko.


"Keadaanmu tidak bagus. Cepat atau lambat para Hashira pasti akan mengendus apa yang kau lakukan ini."


"D-demo Harada-san. Aku tidak bisa meninggalkan nii-chan begitu saja."


"Aku tahu betul situasimu ini, Nezuko-chan. Jadi tenanglah, tapi kau harus tetap bersiap untuk kemungkinan terburuk."


Nezuko mengangguk pelan. Harada menepuk puncak kepala Nezuko dengan lembut, lalu sedikit mengacak-acak rambut hitamnya yang kini dikepang satu ke belakang. Nezuko tersenyum, dan mengatakan jika rintangan apapun akan dihadapinya untuk mengembalikan kakaknya menjadi manusia seutuhnya.

__ADS_1


Harada hanya bisa tersenyum getir ketika mendengar tekad membara dari gadis berhaori pink itu. Hikaru yang sadar jika kakaknya mulai dikuasai rasa bersalah, langsung mengambil alih pembicaraan, dan mengatakan jika mereka berlima pasti lelah setelah perjalanan panjang.


Nezuko dan Senjuro mengangguk. Namun Inosuke lagi-lagi menantang Harada bertarung, sehingga Zenitsu harus memukul tengkuk pemuda bertopeng itu. Setelah membawa barang-barangnya, mereka berlima kini benar-benar pamit untuk menuju ke kamar, dan menyisakan Hikaru serta Harada yang sedang menutup fusuma. Hikaru menggelar dua futon, dan langsung mengamankan diri di salah satu futon yang telah digelarnya. Sementara Harada kini merebahkan tubuhnya di atas satu futon yang tidak Hikaru pakai.


__ADS_2