
Meskipun sedang sibuk menahan serangan bertubi-tubi dari iblis bertelinga kucing di depannya, tetapi Hideki bisa mendengar suara petir yang bertubi-tubi. Bahkan di tengah situasinya saat ini, yang sudah dipenuhi oleh salju.
Desa yang tadinya kering kini penuh dengan salju dan hawa dingin, yang tentunya disebabkan oleh iblis kucing di depannya ini. Namun dibalik semua situasi ini, Hideki merasa lega karena Ryunato sudah mengevakuasi warga. Setidaknya dirinya bisa bertarung tanpa hambatan. Karena selain cepat dan gesit, iblis satu ini tergolong sangat kuat. Salah langkah sedikit saja, maka bisa-bisa nyawa pria bersurai putih itulah yang melayang.
Seperti saat ini, ketika delapan cakar tebal berbenturan langsung dengan nichirin, Hideki harus langsung melompat ke samping untuk menyelamatkan nyawanya. Karena iblis ini tidak mengenal kata lelah dalam melayangkan serangan, dan refleks yang dimiliki iblis ini juga setara dengan Harada.
Sekilas memang menyeramkan, namun ada hal yang lebih menyeramkan bagi Hideki tentang iblis di depannya ini. Yaitu identitas asli iblis ini, serta apa yang iblis ini lalui hingga bisa menjadi sekuat ini. Bahkan saat manik biru mudanya bertukar pandangan dengan manik hijau tosca iblis tersebut, Hideki bisa melihat pantulan kesengsaraan dan permintaan tolong di sana.
"Kairi, itu kau kan? Kau adalah Kairi yang dulu kukenal, kan?" disela dentingan nichirin dan delapan cakar yang terus beradu, Hideki mencoba memastikan hal ini.
"Maaf saja, tapi aku tidak kenal orang itu," balas iblis berambut putih tersebut. Bahkan kini serangannya menjadi semakin liar, dan hal ini sedikit memaksa Hideki untuk menjaga jarak.
Jauh di dalam ceruk gelap nuraninya, kini Hideki menangis sejadi-jadinya. Karena selama bertarung dengan iblis ini, Hideki bisa melihat semua penderitaan yang telah dilalui. Termasuk saat pertama wanita kucing di hadapannya ini menjadi iblis, meskipun sedikit pudar. Setelah saling beradu senjata, kini iblis itu juga sedikit menjauh. Manik biru mudanya menangkap jika iblis di depannya ini bersiap untuk melakukan serangan jarak jauh lagi, karena tongkat putihnya yang tadi sempat bersandar pada punggung iblis itu kini kembali digunakan.
Namun alih-alih serangan jarak jauh, iblis itu meleburkan tongkatnya. Hal itu membuat cakar iblis itu memanjang hingga sepanjang belati. Iblis bermanik tosca itu lalu melompat ke arah Hideki, dan mulai memakai seluruh tubuhnya dengan gesit. Mulai dari pukulan, tendangan, hingga cakaran angin yang terasa sangat dingin. Ketika pria berkulit putih itu melompat menjauh, seluruh tubuhnya baru sadar jika bagian perut seragamnya sudah sobek. Ada sedikit darah yang keluar dari sana, dan itu membuat kuda-kuda Hideki melemah.
"Wah Tuan Hashira, sepertinya kau lengah karena terus bergulat dengan pikiranmu ya," iblis kucing itu berucap dengan sinis, terkesan sangat meremehkan.
"Kairi nee-chan, semua itu belumlah seberapa!" sergah Hideki. Iblis yang dipanggil Kairi itu tampak penasaran.
"Oh, sungguhkah? Kalau begitu tunjukkanlah padaku, bocah."
Hideki menormalkan kembali pernapasannya sekuat tenaga, berusaha untuk menghentikan perdarahan di perut. Sejujurnya Hideki sangat tidak tega untuk membasmi iblis di depannya ini. Namun semakin lama matanya bertukar tatapan dengan manik tosca iblis yang dia panggil Kairi, pria berambut putih itu semakin yakin dengan sugestinya.
Jika seorang Kairi Date telah lama meninggalkannya, dan iblis di depannya ini bukanlah Kairi.. Setelah sekitar satu menit, saat luka di perutnya menutup, Hideki berlari sekencang mungkin memutari Kairi, menciptakan sebuah ilusi awan di sekitar iblis kucing itu. Telinga kucing iblis itu tampak bergerak kesana-kemari, mencoba mengawasi pergerakan Hideki.
"Arashi enkei, Kori no Kokyu, Shi no Kata: Mikazuki Tenmetsu!"
__ADS_1
Tebasan cahaya putih berbentuk bulan sabit seketika itu juga mengerubungi Kairi. Iblis kucing itu refleks melompat setinggi mungkin. Namun iblis berambut putih itu tidak sadar jika Hideki mengincar hal ini.
Sehingga pria beriris biru muda itu langsung menebas leher Kairi di udara, dan membuat kepala iblis itu menggelinding hingga menembus salju yang sudah mencapai 30 sentimeter bersamaan dengan tubuhnya. Hideki mendarat dengan mulus di sisi lain, lalu melirik ke belakang, tempat tubuh dan kepala Kairi jatuh. Hideki lalu berjalan mendekati tempat itu sambil menyarungkan nichirin, dan mendapati jika tubuh serta kepala iblis itu mulai memudar secara perlahan.
"Hidecchi," ucap iblis itu dengan suara parau. Hideki terkesiap, tapi tetap diam. Hanya kakak perempuannya yang super iseng, Kairi Date, yang biasa memanggilnya dengan nama itu. "Nee-chan senang, karena kau bisa menghentikan nee-chan, Hidecchi," lanjut iblis tersebut.
"T-tapi kenapa nee-chan? Kenapa kau-"
"Hidecchi. Ini baru permulaan. Kaa-chan, tou-chan, juga baka Koju masih berkeliaran. Nee-chan percayakan sisanya padamu, Hidecchi. Kau pasti bisa membimbing mereka, jangan lupa untuk melibatkan rekanmu. Mereka luar biasa, tapi kalian, terutama kau juga luar biasa karena berhasil bertahan dari serangan nee-chan, Hidecchi. Sayonara, aku akan senang jika kita bisa bersama lagi."
Kairi tersenyum simpul, lalu tubuh serta kepalanya memudar secara perlahan hingga hanya menyisakan kimono biru muda bermotif bunga lily putih sepanjang lutut. Di saat itu juga, setelah Kairi benar-benar hilang, Hideki jatuh berlutut dan membiarkan air matanya merembes membasahi kedua sisi pipinya.
Tangan kanannya mengambil kimono itu dan mendekapnya di dadanya sambil menangis. Bahkan karena tangisannya itu, pria berambut putih tersebut sama sekali tidak menyadari kehadiran ketiga rekannya yang muncul dari belakang. Hideki meneriakkan nama Kairi, lalu menatap kosong ke depan dengan air mata yang mengalir di kedua pipi serta badan yang gemetar.
"Hideki-san, daijobu ka?"
Itu suara Ryunato. Pria berambut spiky itu berlari paling depan, lalu menghampiri Hideki dan berlutut di sampingnya. Pria bermanik cokelat muda itu sedikit membelalak ketika menyadari pipi senseinya itu basah oleh air mata. Dari belakang sana, Akira dan Gyomei turut mendekati pria berambut putih itu, dan tidak bisa berkata apa-apa saat melihat rekannya tengah mendekap sebuah kimono pendek.
"Dia salah satu kakak kandungku, Gyomei," balas Hideki singkat.
Ryunato membulatkan kedua matanya, sementara Akira menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Ryunato lalu duduk di depan Hideki, berusaha untuk menenangkan guru yang sudah dia anggap sebagai kakaknya tersebut. Pria berambut putih itu tersenyum tipis, berdiri, lalu melipat kimono biru muda tersebut secara asal.
"Apa yang di tepi danau sudah selesai?" tanya Hideki.
"Aku dan Fujiwara sudah selesai sejak kau masih bertarung, Hideki," balas Gyomei.
"Berarti tinggal mengurus warga desa. Ryunato, tolong tunjukkan jalannya ke tempat evakuasi yang kau pilih."
__ADS_1
"Tapi, Hideki-san kau-"
"Aku tidak punya waktu untuk bersedih, Ryunato. Selain itu aku harus bicara empat mata dengan Oyakata-sama."
Ryunato menelan ludah, tidak punya pilihan lain. Karena dalam suasana hati sekacau ini, pria berambut cokelat muda itu paham akan semarah apa Hideki padanya jika melanggar perintah. Ryunato yang tidak punya pilihan akhirnya hanya melakukan apa yang pria berambut putih itu minta. Sehingga saat ini, keempat pemburu iblis tersebut tengah berjalan melalui salju ke arah selatan desa.
.
Sementara itu, di depan jendela yang terbuka, Harada sedang duduk bersandar ke kasur sambil memejamkan mata. Angin musim semi yang sedikit dingin namun menyegarkan menerpa wajahnya yang masih terlihat loyo, seolah memberikan semangat untuk segera sembuh.
Ketika hidung dan telinganya menangkap aroma Hikari yang masuk ke kamarnya, Harada langsung membuka mata, lalu menatap adik perempuannya, yang masih memakai seragam perawatan itu dengan ramah. Pria bertubuh tinggi itu memberi tanda agar Hikari duduk di kursi di samping ranjangnya, dan adiknya hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh kakaknya itu.
"Onii-chan, daijobu ka? Aku dengar nii-chan tidak sadarkan diri selama satu bulan," ucap Hikari. Harada mengangguk pelan.
"Memang. Tapi ada yang ingin kutanyakan padamu, Hikari," balas Harada. Hikari sedikit terkesiap.
"Ada apa memangnya nii-chan?"
"Kenapa kau menyembunyikan identitasmu itu, Hikari?"
Hikari tertohok dan langsung menunduk. Gadis bersurai oranye itu tahu jika suatu saat Harada akan menanyakan hal ini. Namun perkiraannya itu datang jauh lebih cepat, dan semua ini membuatnya gugup. Bukan berarti gadis beriris hijau rumput itu belum menyiapkan jawabannya. Namun mentalnya saja yang belum siap untuk mengatakannya, mengingat Harada memang cukup protektif sebagai seorang kakak dan figur orang tua untuk banyak orang.
"I-itu-"
"Hikari. Aku tahu maksudmu. Tapi jika seperti ini, kaulah yang akan dimanfaatkan jika orang-orang di sekitarmu tidak tahu identitasmu sebagai Sora no Kibo," tutur Harada. Hikari mengangguk.
"Maafkan aku, nii-chan. Habisnya aku juga ingin melindungi kalian."
__ADS_1
"Aku tahu itu dengan baik, Hikari. Tapi kau tidak bisa egois ingin menyelamatkan semuanya dengan taruhan nyawamu. Karena kami juga membutuhkanmu, adikku."
Hikari kembali menegakkan kepalanya, walaupun pandangannya masih tertuju ke lantai. Dirinya benar-benar malu saat ini. Tapi di sisi lain, gadis itu juga bingung kenapa Harada bisa sampai mengetahui apa yang dilakukannya selama ini. Tapi jika dilihat lebih dalam, Hikari tahu jika kakak sulungnya telah menyimpulkan semuanya sendiri dari keadaan Kagaya yang segar bugar saat ini, berikut dengan watak Kagaya yang sangat jujur. Harada sontak memeluk Hikari, membuat gadis berambut senja itu terkejut. Meskipun akhirnya, Hikari membalas pelukan kakaknya itu dengan hangat.