Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Yoshiwara(1):Kirimise, Sandal Zori dan Hikari


__ADS_3

Cericip burung yang menggelitiki kedua telinga Hikari. Gadis bersurai senja itu baru saja pulang dari misi, dan berniat untuk segera pulang ke kediaman Hashira Badai, tempat tinggalnya bersama kakak-kakaknya. Gadis bermanik hijau rumput itu menguap lebar, merasa sedikit mengantuk setelah melalui malam yang luar biasa panjang.


Meskipun gadis beriris hijau rumput itu berniat untuk langsung pulang, namun karena kediaman kakaknya yang harus melalui Kediaman Kupu-kupu memaksanya untuk mendengar sebuah keributan dari kejauhan.


Hikari mengerutkan dahinya, sedikit bingung dengan jeritan bernada tenor yang melengking. Tidak mungkin markas pusat Kisatsutai diserang, karena kawasan ini dikelilingi oleh barisan hutan wisteria. Namun pekikan tadi membuat gadis bersurai oranye itu tetap melangkah lebih cepat, bahkan berlari di atas dinding batu.


Kerutan di dahinya kini bertambah dengan kedutan imajiner di kedua pelipisnya, menandakan jika sesuatu yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ketika jaraknya dirasa cukup, Hikari melepas kedua sandal zorinya dan melemparnya lurus sekeras mungkin.


Sebuah seringaian terpatri di wajah lelahnya saat telinganya disapa oleh suara berdebum yang cukup keras. Saat gadis bertubuh tinggi itu sampai di dekat Kediaman Kupu-kupu, kedua iris hijau rumputnya tengah memantulkan pemandangan yang bisa telah benaknya prediksi. Di dekat tembok pembatas Kediaman Kupu-kupu, sesosok pria bertubuh besar dengan rambut putih yang dikuncir jatuh terjerembab dengan tidak elitnya.


Lalu di sisi lain, terdapat tiga gadis muda bergaun putih serta seorang gadis berambut biru tua yang melihat kejadian tersebut dengan tatapan bingung dan terkejut. Hikari melompat turun dari pagar, lalu mengecek keadaan mereka berempat satu persatu. Sebuah senyuman langsung merekah di wajah lelah gadis itu saat tahu mereka berempat tidak apa-apa.


"Yokatta na, Aoi-chan, Naho-chan, Kiyo-chan, Sumi-chan," ujar Hikari. Mereka berempat mengangguk pelan.


"Daijobu desu Hika-nee. Tidak ada yang perlu dirisaukan," tukas Aoi. Hikari mengangguk-angguk, lalu memutar tubuhnya.


Di sana, pria bertubuh besar dengan otot yang sedikit berlebihan itu tengah memegangi kepalanya yang jatuh terlebih dahulu. Hikari yang melihat itu terkekeh kaku, lalu meminta maaf. Namun pria berambut putih itu membalas permintaan maaf Hikari sambil mengomel, lalu membedakan antara dirinya dengan Harada yang jauh lebih bersahabat dalam menghadapi sikap eksentriknya. Hikari memutar kedua bola matanya, sedikit bosan dengan topik yang dipilih oleh pria itu


"Jadi, kenapa kau sampai membuat mereka berempat memekik seperti tadi, Uzui Tengen-dono?" tanya Hikari. Tengen kini berusaha keras untuk mengendalikan emosinya.


"Aku butuh tiga orang untuk menyusup ke Yoshiwara, tahu! Setidaknya aku butuh tiga orang sekarang!"


Hikari sedikit menjauhkan wajahnya karena Tengen tiba-tiba mendekatkan wajahnya padanya. Gadis bersurai oranye tersebut sempat terkekeh kaku, tetapi saat dirinya mendapati Tengen kembali mengganggu keempat gadis dari Kediaman Kupu-kupu tersebut, Hikari menepuk punggung Tengen beberapa kali, hingga dirinya benar-benar menampar punggung lebar Tengen hingga pria flamboyan tersebut kembali mengomelinya.


Ketika Tengen masih mengomeli Hikari, Zenitsu, Inosuke dan Nezuko datang secara bersamaan. Nezuko mencoba untuk melerai adu mulut antara Hikari dan Tengen, selagi Inosuke menarik Hikari dari belakang untuk jauh. Tapi Tengen terlanjur berteriak jika Hikari akan ikut dalam misinya ke Yoshiwara. Zenitsu yang mendengar penuturan Tengen langsung mendelik pada pria bermanik marun itu. Sisi posesif Zenitsu mulai bergelora dengan ucapan Tengen tadi.


"Apa kau bilang pak tua! Kau mau menyeret Hikari nee-chan ku yang imut ini ke Yoshiwara?" Zenitsu menuturkan ucapannya dengan emosi bergelora.


"Kalau iya lalu kenapa?" tanya Tengen. Pelipis kanan Zenitsu langsung berkedut.


"Aku tidak akan mengizinkannya! Hikari-nee terlalu berharga untuk masuk ke sana!"


"Zenitsu-kun sudahlah! Lebih baik aku yang pergi daripada gadis-gadis itu."


Hikari mengucapkan kalimat itu sambil menunjuk pada Aoi beserta Naho, Kiyo dan Sumi. Pemuda berambut kuning itu kembali histeris dan menyumpahi Tengen sambil menunjuk-nunjuknya. Pria berambut putih itu langsung menjitak Zenitsu. Di tengah adu mulut antara mereka berdua, Nezuko tiba-tiba mengusulkan jika dirinya dan Inosuke ingin ikut dalam misi ini untuk menggantikan gadis-gadis tersebut.


Nezuko juga meminta agar Zenitsu ikut. Meskipun sedikit terpaksa, akhirnya Zenitsu juga memilih untuk ikut. Tujuannya kini hanya satu, yaitu melindungi Nezuko dan Hikari dari Tengen yang luar biasa aneh dan berisik.


.

__ADS_1


Harada menguap lebar-lebar, merasa sedikit lelah dengan misi pengawasan yang satu ini. Kini pria bertubuh tinggi tegap itu sedang berada di gang-gang kecil di antara rumah-rumah kayu yang terlihat kumuh. Hidungnya yang tajam bisa mencium aroma obat-obatan dari banyak tempat, dan ini membuatnya sedikit bosan.


Harada memutuskan untuk berjalan keluar gang dan melompat ke atas atap dari salah satu rumah, dan kembali duduk sambil menekuk lutut kanannya. Dari atas sini terdengar riuh rendah suara yang berasal dari Yoshiwara. Saat manik hijau rumputnya menatap ke bawah, kedua matanya mendapati Hideki yang berjalan ke arahnya, lalu melompat ke atap yang sama dan duduk berselonjor kaki di samping kanannya.


"Apa yang kau temukan?" tanya Harada. Hideki menggaruk tengkuknya dengan tatapan malas.


"Alih-alih Douma, aku malah menemukan Hinatsuru di sekitar sini," balas Hideki. Harada sedikit terkesiap dengan perkataan sahabatnya itu.


"Tunggu, Hinatsuru kau bilang?"


"Iya, istrinya baka Tengen yang paling dewasa itu. Kau ingat dengan dia, kan?"


Harada mendesis, merasa jika hal ini akan merepotkan semuanya nanti. Karena alih-alih meringankan beban Kagaya, Tengen malah menambah beban bagi semuanya. Sekalipun pria bersurai malam itu tidak menampik jika Yoshiwara dan Kirimise adalah wilayah patroli Tengen, tetapi dengan keberadaan Hinatsuru di Kirimise adalah sesuatu yang patut dicurigai.


Kini isi kepala Harada mendadak penuh dengan berbagai kemungkinan dan fakta. Selain misinya dan Hideki untuk berjaga di Kirimise, kepalanya juga masih dipenuhi dengan gerak-gerik Hikari yang sedikit mencurigakan selama dirinya dirawat di Kediaman Kupu-kupu. Namun belum sempat benaknya berkelana lebih jauh, Kara datang dan mendarat tepat di atas lutut kanannya.


Sebelah alisnya terangkat ketika sadar jika Kara sedang membawa surat di kaki kanannya. Dengan segera Harada melepaskan surat itu, lalu membacanya. Surat ini ditulis oleh seseorang bernama Tamayo, yang mengaku jika dirinya adalah iblis yang berhasil lepas dari kutukan Muzan. Tamayo juga memperkenankan dirinya sebagai seorang dokter. Barulah isi surat itu, yang sebenarnya cukup panjang, memaparkan segalanya dalam bentuk kronologi.


Selagi dirinya dirawat di Kediaman Kupu-kupu selama 3 minggu lebih, Hikari ternyata telah mengetahui identitasnya sebagai Sora no Kibo. Hal ini mendorong gadis bersurai senja tersebut untuk bertemu dengan Tamayo dan mendiskusikan segala hal yang memungkinkan. Jika bahaya yang Hikari tanggung akan setara dengan Harada, lalu tentang khasiat dari sel-selnya beserta teknik Pernapasan Neraka yang hilang.


Ketika aku bertanya tentang penguasaannya dalam teknik Hentan dan Gyakuroi, Hikari-san mengatakan jika dirinya menguasai kedua hal itu, tapi dia tidak tahu apa fungsi dari Gyakuroi. Lalu ketika dijelaskan kegunaan dari Gyakuroi, apa yang ada di dalam pikiran Hikari-san sungguh tidak terduga.


Harada memijat kedua pelipisnya, merasa cukup terkejut dengan hal yang Hikari pikirkan tentang statusnya. Jika darahnya bersifat korosif, maka karakter darah Hikari adalah korosif terhadap hal-hal yang menyangkut spiritualitas, seperti iblis dan kutukan.


Sehingga meskipun tidak bisa dilahap, namun kemungkinan Hikari akan sangat direndahkan jika tertangkap oleh para iblis tersebut. Harada melompat turun dari atap, lalu melambai-lambaikan tangan kanannya ke arah Hideki. Dengan terpaksa pria berambut putih itu ikut melompat turun dari atap, lalu bertanya dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Ya ampun, kau mau kemana memang?" tanya Hideki. Harada malah menggelengkan kepalanya.


"Samar-samar aku merasakan hawa Jogen di Yoshi-"


"Sebelum ke Yoshiwara, aku pastikan kalian berdua menjadi makan malamku."


Hideki dan Harada serempak memutar badannya dan melompat mundur. Tangan kanan kedua pria itu sudah memegang nichirin masing-masing, dan posisi tubuh mereka sudah bersiaga dengan kuda-kuda yang paling ampuh. Mata kedua pria itu juga menatap nyalang pada dua iblis tingkat atas yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, Muzan dan Douma.


Iblis bersurai pirang pudar tersebut melambai-lambaikan tangan kanannya sambil tersenyum, sementara Muzan melangkahkan kakinya mendekati Harada. Di sisi lain, pria berambut hitam itu mencoba untuk mengendalikan rasa paniknya dan memghilangkan hawa keberadaannya, memasuki mode tempur habis-habisan untuk mencoba ******* Muzan dan Douma sekaligus.


"Tadinya aku benar-benar ingin memakanmu, Harada," tukas Muzan. Harada mengerutkan dahi, merasa sedikit kebingungan.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" tanya Harada.

__ADS_1


Pertanyaan Harada itu dibalas dengan kemunculan sulur es beserta sulur hitam yang menyerang Hideki dan Harada dengan membabi buta dan mendadak. Kedua pemburu iblis tersebut berusaha dengan keras untuk mengenyahkan sulur-sulur yang mencoba menusuk keduanya.


Mereka tidak peduli dengan beberapa kerusakan yang telah diakibatkan oleh sulur milik Douma dan Muzan. Kedua pria itu melompat mundur untuk sesaat, dan kembali melesat untuk mendaratkan beberapa serangan pada dua iblis itu. Meskipun sebenarnya, niatan mereka berdua bisa dikatakan sangatlah sulit untuk direalisasikan karena sulur es dan sulur hitam di depan mereka ini sangat cepat dan gesit.


Harada yang sudah jengah mulai bersiap dengan kuda-kudanya, sementara Hideki sudah lebih dulu memakai teknik ketiga dari pernapasannya, yaitu teknik khusus yang akan memecahkan es dengan cepat dan efektif. Sambil terus menghindari sulur hitam yang berasal dari Muzan, kini nichirin Harada sudah berlapiskan api hitam yang membara.


Dengan nichirin seperti itu Harada melesat ke arah Muzan, selagi nichirinnya terus membakar sulur hitam yang mengincarnya dari berbagai arah. Tetapi refleks yang iblis dan manusia miliki terpaut jauh. Dengan sulur hitamnya, iblis necis tersebut berhasil memukul punggung Harada yang pertahanannya terbuka lebar, sehingga pria bertubuh tinggi itu terlempar jauh kedepan, sekitar 300 meter ke belakang Muzan dan Douma dengan sangat cepat.


Iblis berambut hitam itu berbalik dan menyaksikan Harada yang berusaha untuk bangkit dari reruntuhan gubuk kayu yang sudah tidak berbentuk. Napas pria berambut hitam itu sudah tidak beraturan, dan wajahnya sudah berlumur darah karena kepala dan wajahnya tergores serta terbentur banyak kayu. Pandangannya juga berputar-putar karena membentur banyak kayu dengan sangat keras. Sekujur tubuhnya juga terasa sakit dan lelah karena benturan yang diterimanya.


Di kejauhan, Hideki yang baru saja menyadari ulah Muzan seketika itu juga langsung menghilang dari hadapan Douma. Iblis berambut pirang itu mengikuti Hideki dari belakang, bersamaan dengan 15 tombak es yang meluncur dengan cepat mengikuti Hideki.


Pria beriris biru muda itu memilih untuk menghindari semua tombak tersebut, dan meluncur ke hadapan Harada sebagai upaya proteksi. Pria berambut hitam itu, yang sadar dengan kemunculan 15 tombak es yang mengejar sahabatnya, menyiapkan kuda-kuda untuk memakai membakar tombak-tombak tersebut.


"Jigoku no Kokyu, San no Kata: Hiryu!"


Dengan gerakan tangan yang tajam dan nichirin berlapis api hitam yang memercikkan sisik naga, Harada membakar semua tombak es itu tanpa sisa. Douma yang sudah berada di depan Muzan cukup terkesan dengan usaha yang dilakukan Hashira Badai itu, dan usaha yang Harada lakukan membuat iblis bermanik pelangi pudar itu bersiul karena kagum.


"Benar-benar Kusahanada no Musuko ya! Padahal punggungmu sudah dipukul sulur hitam itu, tapi kau masih bisa bergerak bebas," tutur Douma. Hideki meradang.


"Douma, cukup Aku harus menemui Daki," ujar Muzan. Hideki dan Harada terkejut saat mendengarnya, karena keduanya pernah berhadapan dengan iblis selendang itu.


"Eh, tapi kenapa anda pergi? Lalu bagaimana dengan mereka? Mereka ini spesial loh."


"Kau yang akan mengurusnya. Pastikan saja sashiminya tetap segar."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di perjalanan ya!"


Douma melambai-lambaikan tangannya ke arah Muzan, selagi iblis necis itu pergi meninggalkan tempat pertarungan. Harada yang sudah lebih dulu menguasai dirinya sendiri maju beberapa langkah hingga sejajar dengan Hideki, lalu menepuk punggung sahabat putihnya tersebut yang masih terlihat panik.


Ketika manik biru mudanya bertemu dengan iris hijau rumput Harada yang menenangkan, pria bersurai salju itu baru tersadar jika pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kedua pemburu iblis tingkat Hashira itu menatap Douma dengan tatapan nyalang, dan sosok beriris pelangi yang ditatap nyalang tersebut kini terlihat mulai serius.


Senyuman yang selalu terpatri di wajahnya hilang, dan tangan kanannya kini telah menggenggam kipas tessen, yang notabenenya adalah senjata jarak dekat dan menengahnya, dengan sangat erat.


"Sebenarnya aku ingin menikmati Yoshiwara juga, tapi apa daya," gumam Douma. Harada dan Hideki menyeringai.


"Kau tenang saja. Kami ini tidak mudah dikalahkan," balas Harada.


Hideki lalu mengusulkan agar ketiganya pindah tempat. Karena bertarung di Kirimise hanya akan menghambat semuanya, khususnya Harada dan Hideki. Namun tidak disangka, Douma setuju dengan saran Hideki. Sehingga ketiganya pindah ke daerah hutan di utara Kirimise untuk memaksimalkan pesta yang akan digelar.

__ADS_1


__ADS_2