Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Tomioka dan Tsumori


__ADS_3

Time Skip 5 Tahun Kemudian


Dengan gigi belakang yang saling beradu, Harada berusaha untuk mengatur emosinya yang berkecamuk. Karena sejak hari pertama, dirinya sudah diberi berbagai misi solo dengan kesulitan yang terhitung luar biasa. Sudah banyak nyawa juga yang gagal dia selamatkan, karena misinya sangatlah padat dan beruntun sejak awal.


Misi yang diemban remaja berambut hitam itu baru sedikit longgar sejak dirinya diangkat menjadi Hashira 3 tahun lalu, meski kesulitan dan jangka waktunya seringkali bertambah. Belum lagi untuk menyesuaikan jadwal latihannya dengan misi-misinya.


Jika remaja berambut hitam itu lupa akan pemandangan 5 tahun lalu, ada kemungkinan dirinya akan pensiun dini sebagai seorang pemburu iblis. Namun karena sepanjang misinya Harada terus melihat pemandangan yang sama, pemuda bermanik hijau rumput itu tanpa sengaja terus memupuk dendamnya pada iblis, khususnya tiga iblis terkuat yang ada di dunia ini.


Kini dibawah rembulan yang bersinar lembut, Harada melesat dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak boleh gagal lagi hari ini. Pemuda bertubuh tinggi tegap itu tidak mau gagal hari ini, sehingga tanpa sadar dirinya memakai kecepatan tertingginya.


Jika bukan karena hidungnya yang mencium bau orang yang dia kenal, Harada akan melanjutkan perjalanannya untuk menyusuri hutan pinus ini. Karena hawa keberadaan iblis yang dirasakannya sangatlah kuat, dan itu membuatnya teringat akan malam berdarah 5 tahun lalu.


Harada sedikit membungkukkan badan, berniat untuk menghentikan perjalanan. Dari balik kegelapan, muncul dua orang yang sangat dirinya kenal. Seorang pria dengan topeng Tengu, dan juga pemuda seumurannya yang memiliki rambut putih. Mereka berdua adalah Hideki dan Sakonji. Harada sedikit tergelak ketika melihat pemuda berambut putih tersebut, yang membiarkan rambut putihnya memanjang sehingga bisa dikuncir.


"Oh ayolah kau ini, aku sudah lama tidak memakai Pernapasan Penuhku tahu!" ujar Sakonji. Harada terkekeh kaku.


"Maafkan aku, Sakon ji-chan. Jadi kenapa kau kemari?" tanya Harada.


"Untuk mendampingimu. Akulah yang minta agar kau dan Hideki dikirim kemari."


Harada dan Hideki terlihat penasaran. Sakonji lalu menjelaskan situasinya, jika desa di utara pegunungan Sagiri ini kerap kali kedatangan Jogen Kizuki, atau salah satu dari uppermoon. Baik Harada dan Hideki, keduanya membelalak kaget.


Hideki lalu bertanya kenapa seorang uppermoon mau repot-repot untuk datang ke sana. Sakonji menjelaskan, jika di desa itu terdapat sebuah klan marechi yang memiliki kemampuan khusus, yaitu kendali pikiran. Semakin harum aroma darahnya, maka kemampuan kendali pikiran pemilik darah itu akan semakin bagus. Harada menghela napas pelan, seolah merasa jika malam ini akan berubah menjadi malam yang panjang. Karena nyatanya, Harada tahu klan apa saja yang menjadi incaran dari para iblis.


"Tapi, apa nama klan itu? Aku baru dengar ada klan yang begitu," tukas Hideki.


"Tsumori. Mereka senasib dengan kami," balas Harada.


Sakonji mengangguk pelan. Sementara Hideki terlihat tidak habis pikir. Ketiganya kini sudah berada di kecepatan maksimal mereka. Dengan penciumannya, Harada dan Sakonji berlari di depan untuk memimpin. Sementara Hideki berada tidak jauh dari dua orang itu, yang sebenarnya pangkatnya tiga tingkat di atasnya. Meskipun seorang Urokodaki Sakonji kini telah pensiun, namun mantan Hashira Air itu masih segar bugar dan siap bertarung kapanpun.


Ketiganya sampai di desa yang dimaksudkan oleh Sakonji. Mereka sempat berhenti terlebih dahulu untuk mencari bau iblis yang dimaksud Sakonji, meskipun hal ini butuh sedikit usaha. Karena seluruh desa telah dibantai habis. Bahkan di jalan utama, banyak mayat manusia yang berserakan, seolah tubuh-tubuh tersebut adalah daun kering. Hideki dan Sakonji sempat tercekat. Tetapi Harada kembali melesat ke bagian timur desa ini.


Harada menyeringai lebar. Tangan kanannya sudah memegang nichirin miliknya, sementara kedua kakinya berlari tanpa peduli jika sepatu boots hitamnya telah menginjak banyak sekali genangan darah. Kedua telinganya bisa mendengar Sakonji dan Hideki mengejarnya di belakang.


Harada berbelok ke kiri. Di samping kirinyanya Sakonji telah menghunus nichirinnya. Keduanya melompati pagar batu dari sebuah kediaman, dan bersegera untuk masuk ke sebuah ruangan. Dimana keduanya masih merasakan keberadaaan manusia, serta aroma ketakutan yang kentara. Sebuah keuntungan karena fusuma ruangan itu sudah hancur, sehingga keduanya bisa langsung masuk tanpa basa-basi, seperti halnya menggeser atau menendang fusuma.


"Mizu no Kokyu, Ichi no kata: Minamogiri!"


"Arashi no Kokyu, Ichi no kata: Chimamire Kazaha!"


Harada dan Sakonji memotong kedua lengan iblis berambut panjang itu dari belakang secara serentak, dan membuat anak laki-laki yang tadi dicekik batuk-batuk, lalu berlari ke belakang Harada dan Sakonji. Tiga anak perempuan, yang kemungkinan dilindungi oleh anak laki-laki itu, juga turut berlari keluar ruangan.


Tepat di depan fusuma yang rusak, Hideki terlihat memberi isyarat pada anak-anak itu untuk berlindung di belakangnya. Seiring dengan hal itu, keinginan untuk membunuh dari iblis itu meningkat. Baik Harada, Sakonji ataupun Hideki mengerutkan dahinya ketika menyadari hal itu.


Iblis yang sejak tadi memunggungi mereka memutar tubuhnya, dan menampakkan wajah yang sangat tidak asing untuk Harada dan Sakonji. Kedua tangan yang tadi mereka potong juga seketika telah tumbuh kembali, menyisakan tangan tanpa pucat yang tidak tertutupi lengan kimono.


Keenam mata iblis itu menatap orang-orang di hadapannya dengan tatapan nyalang, seolah mendapati gerombolan pencuri kecil yang nakal. Hideki yang melihat itu memutuskan untuk membawa keempat anak-anak di dekatnya ke tempat aman, lalu menunggu Harada dan Sakonji di sana. Karena pemuda berambut putih itu sadar jika dirinya hanya akan menjadi beban untuk Harada dan Sakonji.


"Kalian, beraninya.."


"Heh, perbaiki dulu cara bicaramu itu, pak tua!"

__ADS_1


Kokushibou, dengan mulut yang masih berlumuran darah, menghunuskan nichirinnya dan menerjang Harada dengan cepat untuk saling beradu ilmu pedang. Dari balik topeng Tengu yang dikenakannya, Sakonji melotot karena terkejut. 'Inikah kecepatan Jogen Kizuki terkuat?' pikirannya sempat berkecamuk. Namun pikirannya kembali fokus untuk mencari celah pada pertarungan di depannya ini.


Kokushibou membawa Harada keluar ruangan, dimana keduanya bisa bertarung dengan lebih leluasa. Lebih tepatnya ke hutan cemara di dekat kompleks kediaman itu. Sekalipun masih belum menggunakan teknik pernapasan apapun, keduanya kini terlihat saling beradu nichirin dengan kecepatan yang diluar nalar.


Sekalipun Harada berhasil mendaratkan beberapa tebasan pada tubuh Kokushibou, namun tubuh iblis berambut hitam itu langsung beregenerasi, dan hanya menyisakan kimono yang compang-camping. Berbeda dengan Harada yang mati-matian menghindari serangan mantan samurai tersebut.


Mungkin sekitar tiga jam keduanya saling beradu pedang tanpa memakai pernapasan, dan hal ini membuat pemuda berambut hitam tersebut jengah. Sementara di sisi lain, Sakonji terlihat sedang mengamati dan menunggu celah pertarungan di antara mereka berdua.


"Jigoku no Kokyu, shichi no kata: Sabaku no Haka."


Radius lima meter dari tempat Kokushibou berdiri kini diliputi oleh badai pasir yang intens. Iblis bermata enam itu mendapati jika kulitnya tersayat oleh pasir yang bergerak bebas di sekitarnya. Bahkan lehernya sudah mulai berdarah karena teknik ini. Dengan sebuah seringai setipis kertas, Kokushibou kini bersiap untuk melakukan sesuatu.


"Tsuki no Kokyu, go no kata: Geppaku Saika."


Sakonji melotot. Dengan penciumannya sang mantan Hashira Air itu segera mencari Harada, dan menyeretnya mundur sejauh 10 meter. Manik hijau rumput Harada bisa melihat Kokushibou membuat banyak tebasan, yang malah menyerupai tornado, untuk membatalkan tekniknya yang ketujuh.


Dengan kimono yang compang-camping Kokushibou mendekati Harada. Sakonji bersiaga di depan Harada, selagi pemuda bermanik hijau rumput itu mengatur napasnya yang terengah-engah. Dari balik topeng Tengunya, Sakonji menyadari jika Kokushibou mulai bernafsu untuk memakan Harada.


Pria yang memakai haori biru muda bermotif awan tersebut menyuruh Harada untuk menormalkan pernapasannya, dan fokus untuk menutup luka di sekujur tubuhnya. Dengan sengaja mantan Hashira Air itu juga menendang perut Harada untuk menjauhkan pemuda bertubuh tinggi tegap itu dari bahaya. Harada yang terpental sejauh 6 meter dan telah membentur dahan pohon cemara, kini hanya bisa berbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Kau, adalah Hashira Air, iya kan?" Kokushibou terlihat memastikan. Dari balik topengnya Sakonji hanya tersenyum miring.


"Lalu apa urusanmu dengan pangkat yang telah kulepas?" Sakonji dengan berani malah balik bertanya, seolah menantang lawan yang berhasil mendesak Harada.


Alih-alih menjawabnya, Kokushibou yang sudah gelap mata berniat untuk memenggal Harada. Dengan sigap Sakonji menghalau Kokushibou dengan cara menendang iblis berambut hitam tersebut, berniat untuk mengambil ancang-ancang.


"Mizu no Kokyu, Juu no Kata: Seisei Ruten!"


Sakonji bergerak secara acak ke arah Kokushibou. Iblis pemilik tanda api di wajahnya itu berusaha untuk menghalau serangan sang mantan Hashira Air. Tidak cukup sampai di situ, muncul sebuah personifikasi naga es dari samping kirinya, yang secara cuma-cuma membuat iblis tersebut menghantam beberapa pohon cemara. Sakonji yang melihat tindakan nekat Hideki tersenyum tipis, dan melanjutkan serangannya terhadap Kokushibou dengan jurus kesepuluh itu.


"Kori no Kokyu, Kyu no kata: Ketsueki Gyoko!"


Selagi Sakonji menghindari jurus tadi, tanpa disangka Hideki langsung menusuk Kokushibou dari belakang, tepat pada punggung bawah bagian kanan iblis tersebut. Tangan kanan Muzan itu terlihat terkejut, terutama ketika menyadari ada bagian perutnya yang membeku. Hideki mendorong pedangnya ke kanan, menciptakan luka yang lebih besar sambil berusaha menarik nichirin miliknya dari tubuh pucat uppermoon pertama itu.


Ketika pemuda beriris biru muda itu hendak melayangkan serangan selanjutnya, Kokushibou lari meninggalkan pertarungan karena matahari mulai terbit untuk menghangatkan hari. Hideki berniat mengejar Kokushibou. Namun Sakonji mencegah langkah gegabah sahabat baik Harada itu, lalu mengatakan ada baiknya untuk mundur. Mau tidak mau Hideki mengangguk pelan.


Saat pemuda berambut putih tersebut menoleh ke belakang, jantungnya berdegup tidak karuan. Karena dirinya baru menyadari Harada yang tidak sadarkan diri di belakang sana. Dengan tatapan yang langsung berganti sendu, Hideki menghampiri Harada dan mengecek keadaannya.


Bagian dada dan perut seragam pemburu iblisnya memiliki sobekan yang cukup besar. Dari sana manik biru mudanya bisa melihat jika pendarahan mulai berkurang seiring berjalannya waktu, meski dirinya sama sekali tidak menyangkal jika bagian atas seragam Harada sudah berubah warna menjadi merah tua.


"Dimana anak-anak itu, Hideki?" tanya Sakonji.


Hideki menunjuk ke timur. Mungkin sekitar 200 meter dari tempat ketiga petarung tersebut berada, dari balik semak-semak, muncul tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki. Mereka berempat masih terlihat bingung dan takut, karena baru menyaksikan pertarungan yang nyaris tidak bisa mereka ikuti dengan mata kepala mereka sendiri.


Sakonji memberikan isyarat tangan agar keempat anak tersebut menghampirinya. Salah satu anak perempuan beriris cokelat berjalan mendekati Sakonji dengan perasaan campur aduk. Dengan tenang pria itu menggeser topeng Tengu yang dipakainya ke pelipis kiri, menampilkan wajah tenangnya yang mulai menunjukkan penuaan sedang tersenyum dengan lembut. Keputusan anak beriris cokelat itu membuat tiga anak lainnya terpaksa menghampiri Sakonji.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Sakonji. Anak laki-laki berambut hitam mengangguk.


"Kami tak apa, Ji-san. Kami justru khawatir pada kalian," balas anak laki-laki tersebut. Sakonji kembali tersenyum.


"Jangan khawatirkan kami. Kakak berambut hitam itu juga akan membaik, tenanglah."

__ADS_1


Sakonji menunjuk Harada, yang luka-lukanya sedang dibersihkan oleh Hideki. Sakonji lalu bertanya pada keempat anak di dekatnya tentang apa yang akan mereka lakukan sekarang. Keempat anak itu tertegun. Tapi Sakonji bisa melihat keinginan mereka berempat untuk bertambah kuat, setidaknya ada motivasi kuat pada mereka untuk tidak lagi menjadi beban.


Harada batuk, dan perhatian anak-anak teralihkan pada Harada. Mereka berempat kini berdiri berjejer di depan Harada dan Hideki. Pemuda berambut putih di sana sempat terkejut dan tidak habis pikir. Tapi Harada, dengan napas yang belum stabil, memaksa tubuhnya untuk duduk bersandar di dahan pohon cemara, lalu tersenyum seolah menyapa keempat anak itu, yang di matanya hanya terdapat dua anak.


""Ups, sepertinya aku membuat kalian berdua takut ya. Maukah kalian memaafkanku?" tanya Harada. Hideki menghela napas.


"Harada, mereka itu ada empat anak loh," timpal Hideki. Harada terkekeh dengan suara parau.


"Maukah kalian memperkenalkan diri?" tanya Harada. Hideki pasrah, tidak habis pikir jika sahabatnya masih bisa bereaksi seperti ini.


"Giyuu, Tomioka Giyuu."


"Ui, Tsumori Ui."


"Runa, Tomioka Runa."


"Yue, Tsumori Yue."


Sakonji kembali memakai topeng Tengunya untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Hideki terlihat mengerutkan dahi, merasa terkejut dan sedih mengenai nama yang disandang gadis berambut oranye di dekatnya. Perkiraan mereka berdua adalah, gadis bernama Ui itu adalah incaran para iblis, mirip halnya dengan Harada.


Sakonji menoleh ke kiri. Dari sana gerombolan kakushi mulai berdatangan, berniat untuk merapikan hutan cemara yang acak-acakan. Salah satu dari para kakushi itu menghampiri mereka bertujuh, dan sedikit berjengit ngeri saat melihat luka yang Harada alami. Sakonji meminta agar Harada segera dibawa ke Kediaman Kupu-kupu. Harada meminta agar kakak beradik Tsumori itu ikut dengannya ke markas kisatsutai. Mereka berdua, yang merasa tidak punya pilihan, hanya mengangguk pelan.


"Harada, dasar anak itu," keluh Hideki. Sakonji seketika mencubit pipi pemuda berambut putih itu.


"Dia punya alasannya sendiri, Hideki. Kau juga pergilah dengan Harada, biar aku yang mengurus dua anak ini," tutur Sakonji.


Pria yang rambutnya mulai memutih itu menunjuk Giyuu dan Runa. Hideki menghela napas dan mengangguk pelan. Sambil berlalu, pemuda beriris biru muda itu lalu berkelekar agar Sakonji tidak terlalu memaksa kedua anak itu dengan pekerjaan rumah. Dari balik topeng Tengu, Sakonji tersenyum tipis. Padahal dirinya akan membiarkan dua anak ini untuk berkembang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.


Time Skip


Di saat yang sama ketika Harada bertarung dengan Kokushibou, di saat itulah kedua adik kembarnya, Hikaru dan Hikari, berangkat untuk ujian bertahan hidup di gunung Fujikasane. Harada juga hanya butuh waktu 3 hari pemulihan sebelum kembali menjalankan misinya yang selalu beruntun layaknya kereta.


Setidaknya di siang hari yang cerah ini, Harada baru saja selesai dengan misinya untuk mengisi ulang iblis di Fujikasane. Pemuda berambut hitam itu memutuskan kembali ke rumah karena Kagaya memberikannya libur selama 4 hari. Jika pemuda bertubuh tinggi tegap itu menghitungnya dengan seksama, dirinya yakin jika kedua adiknya sudah pulang ke rumah saat ini. Karena ketika dihitung, ini adalah hari kesembilan sejak dirinya bertarung dengan Kokushibou.


Setidaknya ini cocok untuk memulihkan diri, karena dari beberapa iblis yang berhasil Harada tangkap, ada satu iblis yang memiliki kepala batu dan berhasil membuat kepalanya cedera cukup parah. Atau setidaknya, itulah yang Kagami katakan padanya.


Dengan langkah gontai Harada berjalan di antara keramaian warga. Dengan nichirin yang disembunyikan di balik hakama, pemuda berambut hitam itu sudah memikirkan untuk segera mandi air hangat dan tidur walaupun hanya sebentar. Karena dari pengamatannya, saat ini belum sampai tengah hari.


Jadi kepalanya tidak akan semakin sakit jika tidur pada jam-jam begini. Meskipun dengan wajah yang pucat, Harada tetap berusaha untuk bersikap ramah pada orang-orang yang menyapanya. Hingga dirinya memasuki sebuah gerbang kayu di tengah dinding batu, yang merupakan rumahnya sebagai Hashira.


Harada sudah pindah ke rumah yang sedikit lebih besar sejak pengangkatannya sebagai Hashira, meski dirinya menjadi satu-satunya Hashira yang tinggal di pusat keramaian. Tapi setidaknya, dirinya kini punya lahan untuk berlatih, meskipun akan menjadi latihan tanpa pernapasan.


Harada melangkahkan kakinya ke teras dan langsung berbaring di sana, tidak peduli dengan sepatu boots hitam yang sedang dipakainya. Kedua telinganya mendengar fusuma di dekatnya terbuka. Harada tersenyum ketika manik sewarna rumputnya ditatap lurus-lurus oleh manik hijau rumput milik Hikari.


"Ya ampun nii-chan, setidaknya buka sepatumu dulu dong!" tukas Hikari. Harada terkekeh kaku.


"Nanti saja, kepala nii-chan masih sakit," balas Harada. Hikari memutuskan untuk duduk di samping kepala Harada.


"Nii-chan, memang sesulit apa misi seorang Hashira?"


"Berhadapan dengan si mata enam, patroli di sebuah desa, dan mengisi ulang iblis di Fujikasane."

__ADS_1


Hikari yang baru saja mandi, dibuat terkejut oleh ucapan kakaknya. Gadis berambut oranye itu paham dengan maksud mata enam yang Harada utarakan, karena dirinya juga tahu Hashira adalah orang-orang terkuat di kisatsutai. Namun menangkap iblis dan mengurungnya di Fujikasane, itu pasti membuat kakaknya merasa sangat frustasi.


Harada segera duduk, lalu membuka sepatu boots hitamnya sebelum masuk ke dalam. Hikari terlihat sedikit terkejut, lalu memutuskan untuk ikut masuk ke dalam. Karena dalam 13 hari ini, baik dirinya dan Hikaru harus bisa memanfaatkan waktunya untuk berinteraksi dengan kakak tercinta mereka ini setelah 5 tahun berpisah, dan sebelum keduanya disibukkan oleh misi sebagai pemburu iblis.


__ADS_2