
Pagi telah menyingsing, namun para kakushi telah bekerja sejak beberapa saat sebelum matahari terbit. Para kakushi lebih mudah lelah di sini, karena oksigen di gunung Sagiri sangatlah tipis.
Belum lagi kediaman klan Akechi terletak sedikit lebih tinggi dari kaki gunung Sagiri. Jujur para kakushi tidak habis pikir tentang cara semuanya bertahan di oksigen yang cukup tipis ini. Sekalipun menjadi mudah lelah, namun kakushi bekerja dengan giat agar pekerjaan mereka di tempat ini selesai lebih cepat.
Sementara itu, saat para kakushi sedang giat bekerja, Sakonji tiba-tiba datang menghampiri kediaman klan Akechi. Para kakushi yang berpapasan dengan Hashira air itu memberi salam dan kembali bekerja. Sementara Sakonji hanya membalas mereka seadanya. Dari balik topeng Tengu yang dipakainya, Sakonji bisa melihat lima mayat yang dijajarkan dan ditutup dengan kain putih yang ada di bawah pohon maple.
Seandainya dirinya tidak memakai topeng ini, maka para kakushi pasti akan kehilangan fokus saat bekerja. Karena pria berwajah lembut tersebut merasa sangat rumit sekarang. Sakonji berlutut di samping kanan tubuh Matsuda yang terletak paling kanan.
Dengan tubuh gemetaran, Sakonji menggenggam lengan berbalut seragam kisatsutai dan haori biru tua tersebut dengan erat, seolah sedang berjanji pada sahabat pertamanya di kisatsutai tersebut. Tanpa banyak bicara, Sakonji lalu sedikit menyibakkan kain putih tersebut, dan membuat seorang kakushi yang melihat aksinya itu menghampiri dengan penuh kepanikan.
"Urokodaki-sama, mohon maafkan saya tapi apa yang sedang anda lakukan?" tanya kakushi tersebut.
"Haori yang dipakai Yoshinori dan Matsuda, bisakah kau mengambilkannya? Lalu kimono dan yukata mereka berdua, serta beberapa pakaian Hitomi," tutur Sakonji. Kakushi itu mengangguk.
Sakonji kembali menutupi tubuh Matsuda dengan kain putih tadi, lalu memutuskan untuk duduk di bawah pohon di samping pemukiman klan Akechi. Kedua tangannya masih gatal untuk menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Tapi setidaknya, Sakonji bisa menahan keinginan itu dan mempertahankan topeng Tengu yang kini dipakainya.
Setidaknya hanya butuh waktu 15 menit, kakushi yang telah menghampirinya kini kembali mendatanginya sambil membawa sebuah buntalan kain. Dengan nada tenang yang sedikit dibuat-buat, Sakonji menerima buntalan kain itu, lalu mengatakan pada kakushi tadi jika dia sudah bisa kembali membersihkan kekacauan di sini. Kakushi itu mengangguk pelan, lalu membungkuk 90 derajat sebelum kembali bekerja. Di sisi lain, Sakonji segera kembali ke markas kisatsutai sambil membawa buntalan kain tersebut.
.
Sambil melipat kedua tangannya di dada, kedua manik semanis madu milik Shinjuro tidak bisa lepas dari Harada. Sekalipun kini sedang tertidur, namun Shinjuro merasa jika dirinya tidak bisa meninggalkan Harada begitu saja.
Entah karena dirinya sudah merindukan puteranya atau tidak, namun Shinjuro merasa beruntung karena klannya tidak harus bernasib sama seperti klan Akechi. Setidaknya anak laki-lakinya tidak perlu memiliki dendam yang sama dengan apa yang Harada miliki saat ini.
Sebelah alisnya terangkat ketika melihat dahi lebar Harada berkerut, dan alis hitam anak dari sahabat baiknya itu bergerak-gerak. Shinjuro refleks membuka pintu ruangan tempat Harada terbaring, lalu menoleh ke segala arah untuk mencari Kagami.
Ketika manik cokelat madunya melihat Kagami sedang membawa nampan penuh obat, Shinjuro sedikit menggandeng Kagami, lalu menuntunnya sambil mengatakan jika Harada sudah siuman. Gadis bermanik ungu pucat itu nyaris berseru, dan segera mengikuti Shinjuro.
"Ara, Harada-kun yokatta ne," ujar Kagami dengan nada lembut. Dahi anak laki-laki itu semakin berkerut.
"Aku, dimana?" tanya Harada dengan suara parau.
"Ini rumahku, lebih tepatnya di markas kisatsutai."
Dahi lebar Harada masih berkerut, bahkan terlihat lebih dalam. Sebelum insting seorang ayah Shinjuro kian menjadi, Kagami memegang punggung pria berambut kuning merah tersebut, seolah mengatakan untuk melihat dan menunggu. Gadis berambut hitam itu paham jika reaksi anak-anak akan sulit untuk ditebak, tanpa peduli dengan kecepatan mental mereka untuk mencapai kedewasaan.
Harada memegangi kepalanya. Kagami masih memegang punggung Shinjuro. Saat kedua manik ungu pucatnya menyadari anak laki-laki itu sudah kehilangan kestabilan mentalnya, dengan lembut Kagami mengelus puncak kepala Harada. Di sisi lain, secara perlahan, anak laki-laki itu kembali menangis tanpa suara. Shinjuro sempat melotot. Namun Kagami malah menutupi wajah Shinjuro dari pandangan Harada, lalu tersenyum manis.
"Apa kau tidak apa-apa, Harada-kun?" tanya Kagami. Dengan tatapan nanar yang kosong, Harada hanya bisa menatap langit-langit ruangan.
"Mereka semua, keluargaku, dimana mereka?" Harada bertanya balik. Saat merasa ekspresi Shinjuro makin tidak karuan, Kagami berusaha membuat Harada fokus padanya.
"Maafkan aku. Tapi yang selamat dari insiden tadi malam hanya kau dan adik-adikmu, Harada-kun."
"Dimana mereka? Tolong, biarkan aku bertemu dengan mereka berdu-ack!"
__ADS_1
Shinjuro membuat Harada kembali berbaring di ranjang. Karena dari penjelasan Kagami setelah selesai mengobati luka-luka Harada, serangan dari Jogen, atau uppermoon kedua tersebut telah menimbulkan beberapa sabetan yang cukup dalam di banyak tempat. Hal yang paling menguntungkan adalah, Harada berhasil menggunakan pernapasan untuk menutup lukanya yang sebenarnya cukup parah.
"Tenanglah, adikmu tidak apa-apa. Mereka terpisah darimu karena mereka juga terguncang," tutur Shinjuro. Dirinya bisa merasakan jika manik hijau rumput tersebut mendelik tajam padanya.
"Tolong, aku ingin melihat mereka," balas Harada dengan suara parau.
Kagami dan Shinjuro saling bertukar pandangan. Belum sempat keduanya melontarkan perkataan lagi, keduanya mendengar suara yang tidak asing untuk mereka. Pemimpin mereka, yang baru memimpin mereka selama tiga tahun, Ubuyashiki Kagaya, baru saja memasuki ruang rawat. Kagami dan Shinjuro otomatis memberi salam kepada anak laki-laki berusia tujuh tahun itu.
Shinjuro dibuat sedikit tergelak dengan hal ini. Karena Kagaya datang bersama Hikaru dan Hikari, belum lagi mereka bertiga kini saling bergandengan tangan, dan pemimpin kisatsutai tersebut berada di tengah, diapit oleh adik kembar Harada. Sementara Harada, yang masih cukup berjuang untuk bernapas, langsung membulatkan kedua mata hijau rumputnya ketika melihat Hikaru dan Hikari yang selamat tanpa adanya sedikitpun luka.
Kedua anak kembar itu menerjang Harada, dan memeluknya dari dua arah. Hikari di kiri, sementara Hikaru di kanan. Kepala mereka kini diletakan di atas perut Harada, yang lagi-lagi menangis dalam diam. Tetapi kedua tangannya itu sibuk mengelus ubun-ubun adiknya, membuatnya sedikit lupa akan situasi yang dihadapinya sekarang.
"Syukurlah masih ada yang selamat. Aku senang sekali."
Harada melirik ke arah pintu, dan menemukan seorang anak laki-laki berambut sebahu berdiri di sana. Rambutnya hitam, dan matanya sewarna lavender. Namun yang membuat Harada tercekat adalah, tatapannya yang sangat menenangkan seperti aroma lavender.
Anak laki-laki itu menghampiri ranjang tempat Harada berbaring, lalu menggenggam tangan kanan Harada. Kedua manik hijau rumputnya membelalak saat melihatnya tersenyum. Sangat tulus, jujur, dan juga cerdas. Masih dengan senyuman tulus itu, anak beiris lavender ini lalu mengatakan tentang identitas dirinya.
"Belajarlah untuk memanggilnya Oyakata-sama, Harada," tukas Shinjuro. Kagami sebelumnya sudah pergi dari ruangan itu untuk beberapa urusan.
"Shinjuro-san, tolong bersantailah sedikit. Aku tidak mau Harada merasa terdesak dalam waktu dekat ini," balas Kagaya.
Harada sedikit membelalak dan bingung. Bagaimana anak berusia 7 tahun bisa sedewasa ini? Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya tempo hari, saat itu dirinya masih sangat manja pada kaa-channya Hitomi. Ataukah sifat manja itu telah menjadi bawaan bagi klan Akechi? Karena sebenarnya, ayahnya juga dulu bisa dikatakan sebagai pria yang sangat manja.
"Bisakah kau menganggapku sebagai adikmu juga, Harada? Aku sudah bicara banyak pada Hikaru dan Hikari, aku benar-benar iri pada mereka."
Harada tersenyum, lalu mengelus kepala Kagaya dengan lembut. Shinjuro mempelototi Harada. Namun anak lelaki itu malah mengarahkan kepala Kagaya ke dadanya. Hikaru dan Hikari saling berpandangan sambil tersenyum gembira. Mungkin satu menit Kagaya berada di posisi tersebut. Anak laki-laki berambut sebahu itu menegakkan posisi duduknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat ya, Kagaya-sama. Itu artinya iya," tukas Hikaru.
"Kalau begitu, apa artinya kalian bertiga akan bergabung dengan kisatsutai nanti?" tanya Kagaya, yang sebenarnya sedang sangat berharap.
Manik lavendernya menatap anak-anak klan Akechi satu persatu. Hikaru dan Hikari mengangguk penuh keyakinan. Harada tersenyum melihat reaksi adik kembarnya itu, lalu mengangguk pelan. Lalu Hikari sekonyong-konyong bertanya, tentang kapan dan bagaimana dirinya bisa menjadi bagian dari kisatsutai. Shinjuro menepuk dahi dan menghela napas. Sementara Kagaya hanya terkekeh kaku dengan pertanyaan Hikari.
Sebelum Kagaya menjelaskan panjang dan lebar, Shinjuro segera menjelaskan mengenai ujian akhir di Gunung Fujikasane. Para calon pemburu iblis harus memasuki gunung itu dan bertahan hidup di sana. Di dalam gunung itu sendiri terdapat banyak iblis yang terperangkap di sana, karena gunung itu dikelilingi oleh hutan wisteria. Mereka hanya bisa makan ketika ujian itu diselenggarakan. Hikari dan Hikaru bergidik ngeri.
Siapapun yang bertahan selama tujuh hari, berarti orang itu akan lulus dan menjadi kisatsutai. Hikari hanya menganggukkan kepala, lalu bertanya tentang iblis yang harus diwaspadai. Shinjuro menggaruk leher, dan mengatakan jika Urokodaki telah menangkap iblis yang cukup merepotkan. Kagaya lalu menambahkan, untuk lolos dari ujian akhir, setidaknya seseorang harus menguasai satu macam pernapasan.
Hikaru dan Hikari saling bertukar pandangan, lalu menatap kakak mereka yang nyaris tertidur. Shinjuro mengatakan jika Harada mungkin bisa membuat para Hashira harus menculik iblis-iblis untuk diperangkap di Fujikasane dengan segera. Kagaya tertawa pelan, seolah setuju dengan lelucon Shinjuro.
Anak lelaki berambut sebahu itu lalu berdiri, dan pamit pada Shinjuro dan Harada. Pria beriris cokelat madu itu berterima kasih untuk kunjungannya. Kagaya tersenyum, dan mengatakan jika ujian akhir itu akan dilaksanakan dua minggu lagi, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan. Harada sedikit tersentak, terutama ketika menyadari pandangan adik-adiknya.
Sepuluh menit setelah Kagaya pamit, Shinjuro turut pamit untuk pulang ke kediaman Rengoku. Harada yang masih sedikit sulit untuk bergerak hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Hikaru dan Hikari berterima kasih karena sudah menunggui kakaknya dalam waktu yang lama. Shinjuro tersenyum.
Saat Shinjuro keluar ruangan, Sakonji memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah buntalan kain. Pria berambut layaknya api itu bertanya tentang isi buntalan itu. Sakonji mengatakan jika ini adalah barang-barang mereka. Shinjuro sempat menatap tajam Sakonji sebelum berlalu untuk pulang ke kediaman Rengoku.
__ADS_1
Hikaru dan Hikari menyambut Sakonji dengan sebuah pelukan, sebelum pria yang selalu memakai topeng Tengu itu duduk di kursi di samping ranjang Harada. Anak lelaki berambut hitam itu penasaran tentang isi buntalan kain itu. Sakonji menyerahkan buntalan kain itu pada Hikari, dan gadis kecil berambut oranye itu naik ke ranjang, dan membuka buntalan kain dekat dengan kaki Harada. Hikaru yang penasaran ikut naik ke ranjang, lalu terkejut dengan isinya.
"Hikaru, Hikari. Apa itu?" tanya Harada dengan suara parau.
"Nii-chan, apa kau mau memakai haori tou-chan nanti?"
Harada memaksa tubuhnya untuk duduk, dan kedua matanya kembali membulat. Hikaru kini terlihat sedang membentangkan sebuah haori biru tua bermotif awan putih dan burung bangau yang berarak. Meski nyatanya, masih ada cipratan darah di bagian polos dari lengan haori tersebut. Harada mengangguk pelan. Manik hijau rumputnya melirik ke arah Hikari yang sedang kegirangan karena melihat haori milik Yoshinori dan Hitomi juga ada di sana.
Sakonji menggeser topengnya yang terikat dengan tali karet ke pelipis kanannya. Hikari dan Hikaru yang menyadari senyuman lembut Sakonji ikut tersenyum. Sementara Harada menundukkan kepalanya, hingga Sakonji memeluk Harada dari samping. Karena bagaimanapun ceritanya, pria berwajah lembut itu paham rasanya kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
.
Time Skip, 1 Minggu Kedepan
Satu minggu telah berlalu sejak Sakonji memberikan pakaian dari klan Akechi yang terbunuh di malam berdarah itu. Selama satu minggu juga keadaan Akechi bersaudara semakin stabil dan mantap, terutama mengenai motivasi mereka untuk menjadi seorang kisatsutai. Harada sudah menitipkan Hikari pada penjagaan Sakonji kemarin, dan kini, dirinya bersama Hikaru sedang berada di kediaman klan Rengoku.
Hikaru sedang bermain dengan Kyojuro di halaman depan. Sementara Harada sedang duduk tepat di samping Shinjuro sambil melihat Hikaru dan Kyojuro bermain kejar-kejaran. Harada sempat tertawa terbahak-bahak ketika melihat Hikaru jatuh karena tersandung kerikil.
Sementara adiknya, tanpa basa-basi langsung melempar kerikil yang tadi membuatnya jatuh ke dahi lebar Harada, sebelum akhirnya melanjutkan untuk mengejar Kyojuro. Shinjuro yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Antara tidak habis pikir dan bahagia, karena melihat anak-anak dari sahabat baiknya sudah kembali normal, meski dirinya yakin luka batin mereka akan terus hidup di dalam diri mereka.
Harada mendengar suara langkah kaki menghampiri mereka dari belakang. Saat menoleh, manik hijau rumputnya langsung menatap lurus iris merah tua milik Rukia, yang sebenarnya terkesan datar. Harada langsung menatap ke depan lagi, karena dirinya merasa sedikit ngeri dengan aura yang dikeluarkan oleh Ruka. Wanita berambut hitam itu menyodorkan satu nampan yang berisi dua gelas teh hijau dan enam tusuk dango.
Harada kembali menatap Ruka yang ada di belakang mereka berdua, lalu mengucapkan terima kasih atas teh dan dango yang telah disajikan. Ruka hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Manik merah tuanya kini menatap lurus ke depan, mengawasi Hikaru dan Kyojuro yang sekarang sedang bermain bola.
"Aku sudah dengar keputusanmu untuk bergabung dengan kisatsutai dari Urokodaki," ucap Shinjuro. Harada mengangguk pelan.
"Anu, Shinjuro ji-chan. Sebenarnya aku kemari untuk meminta sesuatu," ucap Harada. Anak laki-laki berambut hitam itu memposisikan dirinya untuk berhadapan dengan Shinjuro.
"Apa itu Harada? Akan kuusahakan jika aku bisa."
"Tolong jaga Hikaru, dan tolong latihlah dia Pernapasan Api!"
Harada menundukkan kepalanya, nyaris bersujud pada Shinjuro. Sementara pria beriris cokelat madu itu langsung menegakkan posisi duduk Harada ketika menyadari hal itu. Saat kedua pasang mata itu saling bertemu, Harada kembali menundukkan kepalanya. Seolah ini adalah permintaan paling tulus yang muncul dari dalam hatinya. Shinjuro mengehela napas, dan kembali menegakkan posisi kepala Harada.
"Tanpa kau minta sekalipun, aku sudah menunggu ini tahu!" tukas Shinjuro. Harada sedikit tergelak dan bingung.
"Tunggu, Shinjuro ji-chan, maksud menunggumu itu apa?" tanya Harada sekenanya.
"Aku, Urokodaki, Kuwajima dan Kochou sedikit bertaruh."
"Eh, bertaruh? Tapi untuk apa?"
"Untuk pernapasan yang akan dipakai oleh adikmu. Karena kami berempat sebelumnya dekat dengan ayahmu, alhasil kami berempat juga yang dimintai Oyakata-sama untuk bersiap menjadi guru mereka berdua."
Kini giliran Harada yang terkejut. Kedua matanya membulat, dan tangannya juga gemetar. Antara rasa terkejut, senang dan bersyukur bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Shinjuro yang melihat hal ini hanya bisa tersenyum, dan Ruka diam-diam menyodorkan setusuk dango ke mulut Harada, berniat untuk memecah keterkejutan anak laki-laki berusia 10 tahun itu. Saat menyadari dango di depan mulutnya, Harada tanpa ragu menarik satu butir dari tusukannya. Shinjuro kembali tertawa, lagi-lagi merasa bersyukur karena semuanya sudah semakin stabil.
__ADS_1