Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Shinobi


__ADS_3

Setiap kali pemuda berambut hitam itu bernapas, uap yang hangat akan mengepul dari cuping hidungnya. Sekalipun dengan pikiran yang kalut dan hati yang kusut, logikanya menuntun pemuda bermanik hijau rumput itu untuk fokus pada misinya.


Sambil terus berlari bersama seorang pemuda berambut putih panjang, Harada tidak bisa berhenti untuk melindungi cuping hidungnya dengan tangan. Pemuda berambut putih di sampingnya, yang nyatanya lebih tinggi darinya, terlihat sedikit bingung. Sebenarnya ini bukan kali pertama dirinya menjalankan misi bersama Harada. Tetapi ini adalah misi pertamanya bersama Harada ketika puncak musim dingin.


Pelipis kanan Harada berkedut. Pemuda berambut hitam itu sadar jika dirinya sedang diperhatikan. Harada menoleh ke kiri, berpapasan dengan manik merah marun pemburu iblis ini, yang sebenarnya adalah seorang mantan shinobi.


"Bagaimana dengan hidungmu?" tanya pemuda berambut putih itu. Harada tersenyum tipis.


"Kau seperti lupa dengan misi terakhir kita, baka Tengen," balas Harada.


"Jangan memanggilku dengan panggilan yang tidak elok itu!"


"Ya, ya~ terserah kau saja~ lagipula kenapa aku harus menjalankan misi dengan mahluk berisik ini sih?"


Pelipis kiri pemuda berambut putih itu, Tengen Uzui, berkedut dengan kencang. Sambil terus berlari pemuda beriris merah marun itu berusaha untuk menahan amarahnya pada Harada. Karena bagaimanapun juga, peringkatnya masih terlalu rendah untuk menceramahi pemuda berambut hitam di sampingnya ini, juga jika berdasarkan pengamatannya, Harada setidaknya lebih tua 3 tahun dari dirinya. Sungguh tidak elok jika dirinya yang tampan itu harus melakukannya.


Iris merah marunnya menangkap jika Harada berhenti melindungi cuping hidungnya dengan tangan. Sebelah alisnya sempat naik karena bingung, terutama ketika mendapati Harada melompat ke atap rumah warga dengan mulusnya. Tengen mau tidak mau hanya bisa mengikuti Harada. Karena dengan pangkat Tsuchinoto miliknya, mendampingi misi dari para Hashira adalah sebuah hal yang jarang. Kedua telinganya bisa dengan jelas mendengar jika pemuda berambut hitam itu mendecih kesal.


Namun patut diakui, jika tindakan Harada bisa dikatakan tepat. Karena dari sini, dirinya juga bisa mendengar semua suara yang ada di desa. Entah itu dengkuran orang tidur, bayi yang menangis, atau suara geraman yang sangat samar. Tunggu, geraman apa itu? Karena geraman itu berada di ujung timur desa, dan tempatnya juga cukup jauh.


"Apa kau menemukannya juga?" tanya Tengen. Dirinya tahu jika kemampuan penciuman Harada di atas rata-rata.


"Pojok timur desa. Keluarga Ichizaki, Fujiwara dan Kamui. Sudah kuduga," balas Harada. Tengen terlihat sedikit bingung dengan reaksi yang ditunjukkan Harada.


"Aku kenal dengan pemburu iblis yang tahu tentang klan dan keluarga yang menjadi incaran Muzan, apa semua itu benar?"


"Ya. Akechi, Tsumori, Ichizaki, Kamui, Fujiwara, lalu juga Date."


"Berarti dia juga jadi incaran dong?"


"Ya. Lalu yang terpenting, disini ada dua lowermoon, serta satu mantan lowermoon. Kita pakai kecepatan kita sekarang, Tengen. Aku akan menghampirimu jika sudah selesai."

__ADS_1


"Eh? Jadi berpencar? Baiklah kalau itu yang kau mau."


Pada awalnya kedua pemuda itu melesat ke arah yang sama. Namun Tengen, dengan refleksnya menuju ke arah tenggara. Sementara Harada mengambil arah timur laut, di mana dirinya bisa merasakan keberadaan dua iblis lowermoon sekaligus. Harada menghela napas panjang, berusaha untuk meyakinkan dirinya jika semua ini akan berakhir baik-baik saja.


.


Sementara itu, di sisi lain, Tengen melesat dengan kecepatannya yang luar biasa. Karena meskipun bertubuh kekar, posturnya yang ramping mempercepat dirinya ketika berlari. Wilayah tenggara desa ini sendiri dipenuhi oleh sawah, dan ini membuatnya semakin penasaran dengan wujud iblis yang akan dihadapinya.


Mungkin lima menit Tengen berlari menyusuri bagian ini, hingga telinganya mendapati suara desingan kunai yang membelah angin sedang menghampirinya dari sisi kiri kepala. Tengen dengan sigap menghindari kunai itu dengan menggeser lehernya ke kanan. Kunai itu akhirnya jatuh ke tanah dengan suara dentingan yang cukup keras.


Tengen kembali disambut dengan serangan kunai yang menghampirinya secara horizontal. Karena jengah, pemuda berambut putih panjang itu akhirnya melompat dan bersiap untuk menggunakan pernapasan. Namun iblis itu juga ikut melompat, dan mengirimkan lima serangan dengan kunai padanya. Tengen dengan mulus berhasil menangkis semua serangan itu, meskipun dirinya kini tercekat ketika melihat iblis di depan matanya yang sewarna dengan bunga wisteria.


Rambut merahnya yang panjang dikepang ke atas menjadi beberapa bagian, dan membuat semua rambut merah itu turun hingga ke pinggang. Kulitnya pucat menyaingi tembok kapur, meskipun bagian matanya dia lukis dengan cat berwarna biru.


Bagian dada kiri dan lengan kirinya ditutupi oleh zirah. Di lengan kanannya, terlilit sebuah rantai kecil. Namun yang paling kentara bagi Tengen adalah cakar di kedua tangan iblis itu yang memantulkan cahaya bulan dengan mulusnya, serta tulisan kanji Kagen Kizuki no Ichi pada mata kirinya.


"Aku tidak menduga jika shinobi legendaris sepertimu telah menjadi iblis, Kazumasa Shotaro. Atau haruskah aku memanggilmu Fukase Shotaro?" tutur Tengen dengan santainya.


"Hey Pak Tua, kau itu sudah tidak elok lagi tahu! Jadi biarkan aku mengakhiri hidupmu yang menjijikan itu!"


Tengen melesat dan menyerang Shotaro dengan nichirin kembarnya yang besar. Shotaro dengan sigap menghalau serangan Tengen dengan cakarnya, lalu berniat menendang Tengen ke kiri. Namun pemuda beriris merah marun itu menjadikan wajah Shotaro sebagai pijakan untuk melakukan melompat ke atas, dan dengan cepat menggunakan pernapasannya.


"Oto no Kokyu, Ichi no kata:Todoroki!"


Tengen setidaknya mundur lima meter. Debu jalanan yang membeku kini berterbangan karena serangannya itu. Namun kedua telinganya mengatakan jika Shotaro akan kembali menyerangnya. Hanya berjarak 15 detik, Shotaro melesat ke arah Tengen lalu mencakar angin dengan mengikuti huruf X, menciptakan sebuah hembusan angin yang tajam. Tengen kembali melompat ke atas, tetapi Shotaro juga ikut melompat bersama dengan Tengen dan menendang perutnya dengan keras.


Meski sempat mengeluarkan darah, namun Tengen berhasil mendarat tanpa terjerembab atau hal-hal tidak elok lainnya. Shotaro tidak memberi Tengen celah sedikitpun. Iblis beriris ungu muda itu kembali menyerang lawannya dengan ganas dan cepat. Dari serangan beruntun Shotaro, setidaknya Tengen telah menerima beberapa cakaran di lengan atas dan bahunya.


"Kekkijutsu: Yugure no Kiri."


Tengen sedikit tersentak. Karena istilah itu adalah istilah kuno untuk penyerangan pada sore hari. Pemuda berambut putih itu fokus untuk mengikuti telinganya, sehingga bisa menangkis cakaran kilat yang dilakukan oleh Shotaro. Namun serangan iblis berambut merah itu semakin intens, bahkan kakinya sudah mulai menjadi sasarannya.

__ADS_1


"Oto no Kokyu, Shi no Kata: Kyozan Muken!"


Tengen berputar secara acak untuk membatalkan Kekkijutsu yang merepotkan ini. Namun belum juga teknik ini dibatalkan, Tengen sudah menemukan keberadaan Shotaro. Dengan kecepatan tinggi Tengen menendang Shotaro sejauh beberapa meter, lalu melesat dengan kecepatannya untuk memenggal Shotaro.


Namun leher iblis berambut merah itu tidak seperti yang ada dalam pikirannya, karena leher Shotaro sangatlah keras. Iblis beriris ungu muda itu menyeringai ketika tahu nichirin milik Tengen tersangkut. Ketika tangan iblis itu, yang sebenarnya cukup panjang hendak menghancurkan kepala Tengen, iris merah marunnya dikejutkan oleh bagian perut Shotaro yang mulai terbakar.


Sekuat tenaga Tengen mencabut nichirin miliknya dari leher Shotaro. Iblis itu juga ikut mundur sekitar 2 meter, dan Harada kini muncul di hadapan Tengen dengan nichirin yang terhunus. Dari apa yang ditangkap oleh telinganya, Hashira Badai di depannya ini juga terluka cukup parah. Belum lagi dengan tenaganya yang sudah hampir habis, karena napas pemuda berambut hitam di depannya ini sudah sangat menderu.


Namun kini, Tengen kembali dikejutkan dengan sebuah fakta yang menurutnya cukup aneh. Alih-alih beregenerasi, luka yang dialami Shotaro malah semakin parah dan menyebar. Harada kembali melesat dan menyerang iblis berambut merah tersebut. Dari belakang Shotaro, Tengen bisa melihat tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan.


Pemuda berambut putih itu secepat mungkin mengamankan ketiga anak-anak itu sebelum pertarungan antara Harada dan Shotaro semakin meluas. Tapi Shotaro justru berbalik dan mengejar Tengen, yang secara terpaksa kembali menghunus nichirinnya untuk memenggal Shotaro. Secara ajaib leher iblis berambut merah itu menjadi lebih mudah untuk dipenggal setelah mendapat tusukan dari Harada.


"Kerja bagus Tengen! Terima kasih sudah memenggalnya!" tukas Harada sambil berlari kecil.


"Oi, jangan berlari begitu dong, lukamu itu lebih parah dariku," ujar Tengen, yang sebenarnya menggerutu. Harada terkekeh kaku, lalu berjongkok di depan anak-anak yang selamat.


"Kalau begitu kita akan istirahat dulu di sini."


Tengen hanya mengangguk. Kedua pemburu iblis itu langsung merebahkan dirinya di atas tanah, tidak peduli dengan anak-anak yang khawatir dengan mereka. Namun Harada dengan mudahnya menenangkan semua anak-anak itu, dan mengatakan jika dirinya dan Tengen sedang beristirahat sejenak.


Pemuda beriris hijau rumput itu bahkan mengajak mereka berempat untuk tiduran di tanah dan melihat bintang yang berkelip, tanpa peduli jika jalanan itu sebenarnya adalah jalan umum. Lagipula, hanya orang-orang yang bukan berasal dari timur yang akan datang kemari. Karena bagian timur desa ini sudah dibantai habis oleh ketiga iblis itu.


"Harada," gumam Tengen pelan.


"Ada apa? Apa kau penasaran dengan tusukanku itu?" tanya Harada. Tengen mengangguk pelan.


"Ya, aku belum pernah melihat teknik seperti itu."


"Itu pernapasan neraka, bentuk kesepuluh."


Tengen melotot. Dirinya memang sudah pernah mendengar masalah Pernapasan Neraka ini, namun pemuda berambut putih itu tidak terlalu paham tentang pernapasan lainnya. Namun ketika melihat tubuh Shotaro yang berhenti beregenerasi, Tengen yakin jika itu adalah teknik yang sangat kuat.

__ADS_1


Sambil berbaring di atas tanah, Tengen bisa mendengar derap langkah para kakushi yang mulai berdatangan. Tetapi yang membuatnya sedikit tergelak adalah fakta bahwa Harada sudah tidak sadarkan diri. Tengen memutuskan untuk duduk, dan benar saja. Kedua telinganya sama sekali belum pernah berbohong padanya.


__ADS_2