
Kinbouyama, Kumamoto
Setelah melihat skala serangan yang bisa dikeluarkan oleh iblis di hadapannya, Hideki yang tadinya enggan kembali ke Kinbouyama terpaksa harus kembali ke sana. Karena serangan kombinasi antara petir dan api milik Kojiro bisa dikatakan sangat mengerikan, dan mustahil juga dirinya dan Kyojuro tetap berada di pusat keramaian. Selain itu, keahlian berpedang yang dimiliki oleh Kojiro bisa dikatakan sangat bagus, bahkan Hideki sempat berpikir jika dirinya tengah berhadapan dengan Kokushibo seorang diri.
Namun demi melindungi segala hal, Hideki menganggap jika kemampuan yang ditunjukkan Kojiro belumlah semuanya. Tapi dengan anggapan seperti itu juga, Jogen Kizuki no Roku ini telah membuat Kinbouyama mengalami kebakaran hutan yang hebat, dan hal ini jelas-jelas sangat merugikan untuk Hideki dan Kyojuro.
Di antara lautan api yang membara, suara benturan logam yang berdentang dengan cepat terus memenuhi kesunyian hutan yang terbakar. Baik Kyojuro ataupun Hideki, yang sudah bertarung di antara kepulan asap dan lautan api kini telah merasa sangat kelelahan. Karena sekalipun luka luar dari kedua Hashira itu tidak begitu parah, namun asap dan suhu di sekitar sini jelas sangat mengganggu keduanya. Belum lagi Hideki yang perlahan mendengar sayup-sayup warga yang panik karena kebakaran hutan di sini.
"Setengah jam bertarung dalam kondisi seperti ini. Kau hebat juga ternyata," tutur Kojiro. Hideki menyeringai.
"Meh, mustahil aku akan kalah darimu, Kojiro!"
"Umu! Kami akan segera mengakhiri ini sekarang juga!"
"Hah! Coba saja kalau kalian bisa! Kekkijutsu, Nichobotsu Raiu!"
Bersamaan dengan api yang semakin membesar, kini tercipta 16 buah bola petir di belakang Kojiro. Hanya dengan satu gerakan jari saja bola-bola itu meluncurkan sebuah tegangan listrik ke arah Kyojuro dan Hideki. Hanya dengan situasi ini saja, sambil menghindari rentetan tegangan listrik yang berusaha menyambar keduanya, Kyojuro dan Hideki saling bertukar tatapan dan mengangguk. Kedua Hashira itu harus segera mengakhiri kegilaan ini sebelum segalanya semakin parah.
Sekalipun rentetan tegangan listrik itu seperti tidak memiliki jeda dan celah, karena sudah beberapa kali juga Kyojuro tersengat. Sementara Hideki yang berusaha meladeni Kojiro dari jarak dekat, yaitu dengan beradu pedang, kini malah mendapatkan luka tebas diagonal dari bahu kiri hingga ke pinggang kanan. Sementara itu di sisi lain Kojiro sudah telanjang dada karena seragam lamanya ditebas oleh Hideki secara horizontal.
Kyojuro yang akhirnya berhasil lolos dari kejaran bola-bola listrik yang terus mengejarnya berlari ke belakang Kojiro dan menendang kepalanya ke arah kiri dengan sekuat tenaga. Namun alih-alih terpental, Kojiro malah bersalto dan melesat ke arah Kyojuro dengan nichirin bersepuh api hitam dan listrik. Kyojuro yang baru sadar jika Hideki sudah berada di udara kini menunduk dan mengincar leher Kojiro.
Jauh di dalam relung hatinya, Kyojuro terus berdo'a agar cara ini bisa menyelesaikan segalanya. Karena seharusnya Pernapasan Penuh darinya dan Hideki bisa memenggal Kojiro, meski tentunya setelah itu keduanya perlu bergerak cepat untuk menghancurkan kepalanya untuk memastikan kematian iblis satu ini.
"Kori no Kokyu, Go no Kata: Nadare!"
"Hono no Kokyu, Ni no Kata: Nobori Enten!"
Kojiro tertawa puas, lalu mengarahkan bola-bola petir yang sempat menjauh untuk mendekat dan menyerang kedua Hashira di dekatnya ini. Tapi sekalipun keduanya terpaksa menerima sengatan listrik yang bertubi-tubi selama beberapa detik, bola-bola itu sempat menghilang, sehingga memudahkan keduanya untuk menebas leher Kojiro dengan arah tebasan yang berlawanan.
Hideki yang sudah kehabisan tenaga jatuh ke tebing. Sekalipun Kyojuro sempat terkesiap, pria bersurai api tersebut tanpa ragu menggunakan teknik kelimanya untuk menghancurkan kepala Kojiro yang masih berada di udara. Namun saat manik cokelat madunya itu melihat kemunculan sebuah pintu shoji dari atas tanah, Kyojuro secara refleks melompat mundur, membiarkan tubuh dan kepala Kojiro tertarik ke dalam sana.
Kini hanya ada satu pertanyaan yang bercokol dalam benaknya, yaitu tentang kelanjutan pertarungannya. Tapi karena keberadaan Kojiro seperti hilang ditelan bumi, akhirnya Kyojuro memutuskan untuk menyarungkan kembali nichirinnya dan mencari Hideki.
"Pintu Shoji, apa-apaan tadi itu? Ah iya, Date-san!"
__ADS_1
Dengan segera Kyojuro berlari ke bawah dan meluncur menuruni tebing tempat terakhir dirinya melihat Hideki. Kedua manik cokelat madunya itu berkeliaran untuk mencari rekan berambut putihnya itu, hingga akhirnya kedua netranya menangkap keberadaan Hideki yang tidak sadarkan diri dengan keadaan telungkup di dekat sebuah pohon yang sudah terbakar.
Hanya dengan satu gerakan cepat Kyojuro mengembalikan nichirin Hideki ke dalam sarungnya, lalu berusaha keras menaikkan Hideki ke punggungnya tanpa peduli dengan fakta jika pria berambut putih itu jauh lebih tinggi darinya, dan ini jelas membuat Kyojuro kesusahan.
Sehingga pada akhirnya, ketika kedua telinganya mendengar retakan ranting dari atas pohon, pria berambut layaknya api yang menyala tersebut berhasil menaikkan rekan bermanik biru mudanya ini ke punggungnya.
Karena sadar dengan situasi yang semakin menjadi-jadi, Kyojuro yang masih memiliki tenaga memutuskan untuk memakai Pernapasan Penuh untuk turun gunung. Jauh di dalam hatinya, pria yang selalu penuh dengan semangat itu benar-benar berharap jika seseorang dari kesatuan telah menunggunya.
Warga sekitar kini bekerja sama untuk memadamkan api di Kinbouyama bersama dengan para Kakushi. Sementara itu, Ryunato yang baru sampai di kaki Gunung Kinbou seketika itu juga jatuh berlutut dengan kedua mata yang membola.
Instingnya mengatakan jika Hideki memang membawa iblis di Kastil Kumamoto kemari, lagipula memang ada serpihan es yang bertebaran dimana-mana. Tetapi keadaan yang dipantulkan oleh kedua iris cokelat mudanya sudah sangat berlebihan. Api memenuhi gunung, dan asap membumbung tinggi ke langit.
Sementara itu pikiran pemuda berambut cokelat muda tersebut sudah tidak terhubung dengan tubuh dan hatinya. Pikiran dan hatinya berteriak untuk menelusuri gunung ini dan mencari Hideki serta Kyojuro.
"Seseorang turun dari gunung!"
"Itu Rengoku-sama!"
Sebenarnya langkah Ryunato turut diikuti oleh beberapa Kakushi dan warga sekitar. Tetapi Ryunato sudah tidak peduli lagi, toh dirinya bisa dikatakan jauh lebih cepat dari mereka, sehingga yang pertama menghampiri Kyojuro adalah dirinya.
Bahkan Ryunato sampai bersumpah jika dirinya tidak akan melupakan tatapan mata pria berambut layaknya api itu ketika melihatnya. Setelah Hashira Api tersebut memindahkan Hideki yang masih tidak sadarkan diri ke punggung Ryunato, mereka semua turun gunung hingga mencapai tempat yang tidak terjamah oleh api dan asap.
__ADS_1
Kyojuro jugalah yang terus menyerukan hal itu, karena baik dirinya ataupun Hideki sudah terlalu banyak menghirup asap. Alhasil beberapa Kakushi, Kyojuro dan Ryunato yang membawa Hideki di punggungnya kini menuju tepian Sungai Kouchi lalu bersegera untuk memberikan pertolongan pertama pada dua Hashira tersebut.
Ryunato juga ikut membantu para Kakushi, meskipun itu hanyalah sekedar menyalakan kayu bakar untuk merebus air ataupun pekerjaan kasar lainnya, karena memang pria berambut cokelat muda itu tidak begitu lihai dalam hal seperti memberikan pertolongan pertama. Kyojuro yang sejak awal terus memperhatikan Ryunato hanya bisa tersenyum tipis, lalu menunggu hingga Ryunato duduk di antara tempatnya dan Hideki berbaring.
"Date-san pasti selamat, Ichizaki-kun. Tekadnya jauh lebih kuat dariku," ujar Kyojuro. Ryunato sama sekali tidak menoleh dan hanya mengepalkan kedua tangannya.
"Sekuat apa dia? Sekuat apa iblis itu?" tanya Ryunato dengan suara parau. Kyojuro menatap ke langit yang berawan, mencoba untuk merangkai kata.
"Iblis itu sangat kuat. Aku kurang mampu mengukurnya, tapi dia lebih kuat dari Jogen no Roku sebelumnya yang diceritakan oleh Uzui."
Ryunato jelas-jelas tertohok karena ucapan Kyojuro tadi. Tidak hanya karena Hideki yang dekat dengan Tengen sehingga dirinya juga dekat dengan mantan Hashira Suara itu. Tapi karena Tengen memang hanya menjelaskan setiap detail pertarungan itu pada orang-orang yang sepenuhnya dia percayai termasuk pada dirinya. Ryunato sedikit menggigil, meski respon itu malah membuat Kyojuro tersenyum.
Hanya berjarak beberapa detik dari perkataan Kyojuro tadi, iris cokelat madunya bisa melihat jika Ryunato sepenuhnya memunggunginya. Bukan tanpa alasan pria berambut cokelat muda itu melakukannya, tapi kebahagiaan dan rasa leganya kini tengah membuncah. Berterima kasihlah pada suara batuk Hideki yang selalu menggelegar, dan hal itu malah membuat Ryunato menangis.
"Baka Ryu, begitu saja sudah menyusulku dan malah menangis. Kebiasaan kau," gumam Hideki. Ryunato masih tersedu-sedu.
"Habisnya, Hideki-san, kau-"
"Jangan cengeng. Aku baik-baik saja. Aku pasti kembali."
Ryunato secepat mungkin menyeka air matanya dengan kedua punggung tangannya, lalu tersenyum tipis. Pria berambut cokelat muda itu mengatakan jika dirinya sangat lega karena Kyojuro dan Hideki berhasil turun gunung dalam keadaan hidup.
__ADS_1
Ryunato juga mengatakan jika sebelum dirinya kemari, pria bertubuh tegap itu juga telah pergi ke Kastil Kumamoto dan melihat cairan hitam kental di Istana Honmaru, yang usut punya usut adalah sebuah racun. Hingga pada akhirnya Ryunato meminta maaf karena telah menyusul keduanya ke Kumamoto.