Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Kesampingkan Emosimu, Sobat!


__ADS_3

Sementara itu, jauh dari kekacauan dan sumpah serapah yang memenuhi suasana, Hikari yang sedang bersandar pada salah satu tiang di engawa menjulurkan tangannya dan membiarkan Kugo mendarat di pergelangan tangannya.


Berselang tiga menit, Kugo kembali terbang dan meninggalkan Hikari dengan wajah yang mengeras. Sementara itu di samping kirinya, baik Tengen ataupun Shinjuro nampak penasaran dengan berita yang dibawa oleh Kugo. Karena sekalipun berderet, namun posisi ketiganya kini cukup jauh untuk menguping bisik-bisik antara Kasugai dan Pemburu Iblis, bahkan Tengen hanya bisa samar-samar mendengarnya.


"Hikari-chan? Ada apa?" tanya Tengen singkat. Hikari menggeleng, meski pada akhirnya gadis berambut senja itu menghela napas setelah ditatap tajam oleh Tengen.


"Pertarungan sudah dimulai. Sesuai dengan prediksi Oyakata-sama, Muzan menarik semuanya ke markasnya," tutur Hikari. Shinjuro di sisi lain hanya bisa diam tanpa berkomentar.


"Begitu. Berarti kita hanya bisa mengandalkan kabar dari para Kasugai dan komando Oyakata-sama."


Hikari mengangguk dengan dahi yang berkerut. Sekalipun gadis berambut oranye itu telah membekali nyaris seluruh Hashira dan beberapa anggota lain seperti Genya, Nezuko ataupun Ryunato, namun kekhawatirannya akan kekalahan Kisatsutai benar-benar membuat kepalanya sakit. Bukan berarti Hikari tidak mempercayai mereka yang maju ke medan perang. Namun instingnya mengatakan jika kegilaan ini akan penuh dengan kejutan yang sama sekali tidak terduga.



Sejauh mata memandang hanya ada pintu Shoji yang terus muncul di depannya, bahkan dinding dan lantai di sini tidak ada bedanya dengan Shoji. Selain itu, sebenarnya ada cukup banyak tiang yang lebar mulai bermunculan seiring dengan jarak yang keduanya tempuh. Namun di balik detail yang cukup membosankan, hanya ada dua hal yang membuat Harada jengah. Pertama dirinya entah bagaimana malah terpisah dari Hideki dan Ryunato.



Lalu masalah kedua adalah, selalu ada iblis rendahan yang mengganggu perjalanannya dan Hikaru. Padahal baik dirinya atau adiknya hanya terus berlari ke depan. Ketika kedua matanya terus mengamati situasi dan hidungnya dalam keadaan siaga penuh, Harada tiba-tiba berhenti berlari dan merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat agar Hikaru yang ada di belakangnya berhenti. Hikaru refleks mengerutkan dahi.



"Nii-chan, ada apa?" tanya Hikaru. Harada memegang gagang nichirinnya.


"Tipis sekali. Tapi ada yang mendekat," balas Harada.



Lelaki bermanik cokelat madu itu menempelkan punggungnya dengan punggung kakaknya. Tangannya yang kasar juga kini memegang gagang nichirinnya dengan erat, khawatir jika sosok yang mendatangi keduanya datang untuk memboking kakaknya. Tapi ketika Hikaru semakin merasakan kehadiran Jogen dari arah depan kakaknya, lelaki yang juga berambut hitam tersebut malah berdiri di depan kakaknya dengan nichirin yang terhunus.



Sejujurnya Harada sedikit terkejut dengan reaksi Hikaru. Meski ada satu hal yang membuatnya lebih terkejut, yaitu sosok iblis yang menghampiri kakak beradik ini. Terutama dengan wajah dan angka yang tercetak pada mata iblis yang kini tengah berjalan mendekat, yaitu tanda jika iblis ini adalah Jogen no Ichi alias Uppermoon Kesatu.



Iblis itu berambut putih sepunggung yang dikepang satu, dan kepangannya disimpan di bahu kanan. Kedua iris iblis tersebut berwarna biru muda, dan diatasnya juga tercetak tanda jika dirinya adalah Jogen no Ichi. Di balik bagian tangan kiri dan kanan kimono biru mudanya, terdapat seutas cambuk yang menggantung keluar dari kimono.



Iblis di hadapan Harada juga terlihat membawa pedang di pinggang kiri, dan hal ini membuat Harada mencebik saking bosannya berhadapan dengan iblis yang mempersenjatai diri mereka dengan senjata tajam. Tapi disamping semua itu, hal yang membuat Harada dan Hikaru terkejut hanya satu, yaitu kemiripan iblis ini dengan Hideki.



"Wah, aku menemukan orang kuat sepertinya," ucap iblis itu. Dahi lebar Harada berkerut, sementara Hikaru tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Ya ampun. Untung saja Baka Kori tidak kesini," gumam Harada. Iblis bersurai salju itu memiringkan kepalanya.


"Huh? Baka Kori? Siapa yang kau maksud, Arashi Bashira?"



Harada sedikit tergelak karena iblis di depannya malah menyebutnya dengan gelar resmi, padahal seharusnya iblis di hadapannya ini menyadari identitas aslinya. Harada memberi kode dengan tatapan mata pada Hikaru, dan di saat itu juga, kakak beradik tersebut menghilang dari pandangan iblis tersebut untuk menyerang iblis berambut putih itu dari arah yang berbeda.



Tetapi dengan kecepatan tangan yang luar biasa, iblis itu menangkap tangan Harada dan Hikaru, kemudian melemparkan keduanya ke arah yang berlainan. Harada yang masih berada di udara memutar tubuhnya, lalu menahan seluruh tubuhnya dengan kedua kakinya.



Hanya berjarak beberapa detik saja, pria bertubuh tinggi tegap itu kembali melesat menuju iblis yang mirip dengan Hideki itu, kemudian tanpa ragu Harada menendang pinggang kanan sang iblis hingga terpental. Namun sebagai iblis, tentu itu bukanlah apa-apa, sehingga dia dengan mudahnya kembali bangkit seolah tidak terjadi apa-apa.


__ADS_1


"Kakimu kuat. Ini benar-benar mengingatkanku pada seseorang," ucap iblis itu dengan santainya.


"Oi baka! Lebih baik kau perkenalkan dirimu dulu, wajahmu itu menyebalkan tahu!" sahut Hikaru. Harada mengangguk.


"Jika kalian ingin tahu namaku, maka kalian harus menjamin akan memberikan perlawanan yang layak."


"Tenang saja. Baik aku atau adikku yang di sana bukanlah orang biasa."


"Begitu? Baiklah. Kalau begitu, nama manusiaku adalah Date Hiroaki. Setelah menjadi iblis, aku dikenal sebagai Fukuro."



Kedua manik Harada membulat, sementara Hikaru, yang melihat respon kakaknya seperti itu tanpa ragu maju untuk menyerang Hiroaki tanpa teknik pernapasan. Setelah beberapa saat mendesak iblis bersurai putih itu, Hiroaki pada akhirnya menghunuskan pedangnya dan saling beradu pedang dengan Hikaru.



Di sisi lain, Harada yang masih mencerna segala informasi yang Hiroaki katakan, dipadukan dengan ingatan lamanya tentang cerita-cerita yang disampaikan oleh Yoshinori tempo hari, akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang menyakitkan. Date Hiroaki dulunya adalah seorang Pemburu Iblis, dan dia juga adalah adalah rekan terbaik Yoshinori. Dulu pamannya pernah bercerita jika orang itu juga memiliki anak.



Harada mencebik kesal, lalu melesat untuk ikut menyerang Hiroaki sekalipun tanpa teknik pernapasan. Karena nyatanya, Harada penasaran dengan kemampuan iblis satu ini, yang sejak masih hidup sebagai manusia saja terus dielu-elukan oleh pamannya. Harada yang melihat Hikaru sedikit lengah merangsek masuk ke tengah pertarungan.



Pria bermanik hijau rumput tersebut sedikit mendorong Hikaru, lalu saling beradu pedang dengan Hiroaki untuk beberapa menit hingga keduanya kembali mengambil jarak. Hal yang paling menguntungkan adalah, Harada sanggup mengikuti pergerakan Hiroaki yang cepat dan tajam meski cukup terseok-seok, sehingga Hashira Badai tersebut kini masih belum terluka sedikitpun.



"Kalian hebat. Katakanlah siapa diri kalian sebenarnya," ucap Hiroaki.



Harada dan Hikaru tersenyum, dan mengangguk setelah bertukar pandangan. Kakak beradik itu masih beradu pedang dengan Hiroaki, hingga ujung-ujungnya iblis berambut putih itu membelalakkan matanya karena terkejut dengan badai pasir yang muncul secara tiba-tiba. Hiroaki menajamkan inderanya tanpa peduli dengan kimononya yang perlahan terkoyak. Iblis berambut putih itu tersenyum, merasa jika kesenangannya baru saja dimulai, khususnya ketika wajah seorang pria yang sangat mirip dengan Hashira Badai di depannya ini muncul begitu saja dengan sendirinya.



"Hikaru, mundur!"



Harada menarik kerah Hikaru dari belakang dan melompat mundur sesegera mungkin. Tetapi tidak hanya teknik pernapasan iblis ini yang membuatnya terkejut. Tetapi juga dengan puing di sekitar Hiroaki yang membeku, dan ini membuat suhu ruangan turun drastis. Jika Kairi berubah menjadi iblis kucing salju atau semacamnya, maka iblis lelaki satu ini, bisa dikatakan sebagai sebuah iblis pembawa mimpi buruk terkuat. Bahkan dia berhasil menendang Kokushibo dari takhta Jogen no Ichi yang sudah dipegangnya selama nyaris lima abad.



Harada secara terang-terangan memuji Hiroaki, dan berkata jika bekas sabetan yang tadi diciptakan oleh iblis itu mengingatkannya pada seseorang. Iblis bersurai putih itu mengangkat sebelah alisnya, penasaran dengan maksud dari ucapan Harada. Pria bermanik hijau rumput itu lalu mengatakan jika dirinya yakin dengan asal dari kemampuan murid pertamanya berasal darimana.



"Tapi kau akan berakhir di tangan kami, Hiroaki. Aku tidak akan membiarkan muridku bertemu denganmu," tutur Harada. Hiroaki tergelak.


"Jadi orang itu juga jatuh kemari, ya. Sayang sekali. Padahal aku ingin bertemu dengannya," balas Hiroaki yang tampak setengah berandai-andai. Di sisi lain, Hikaru kesal bukan kepalang.


"Jangan harap, dasar iblis menyebalkan! Jigoku no Kokyu, Hachi no Kata: Tanken no Kusahanada!"



Hikaru melompat ke atas dan mengayunkan nichirinnya secara melengkung ke bawah. Hiroaki menahan serangan Hikaru dengan mudah dan melempar lelaki bermanik cokelat madu tersebut ke sembarang arah. Hanya berjarak beberapa detik, iblis beriris biru muda itu kembali harus berurusan dengan Harada dan nichirinnya yang telah bersepuh api hitam.



Pria beriris hijau rumput itu saling beradu pedang dengan Hiroaki untuk beberapa menit hingga suara letusan senapan menggelegar di ruangan itu. Manik sewarna rumput musim semi Harada memantulkan iblis bersurai salju itu yang ditembak dari pelipis kiri, membuatnya berhenti untuk beberapa detik.


__ADS_1


Baik Hikaru atau Harada bergerak cepat dengan menebas kedua tangan dan berusaha memenggal Hiroaki dari dua sisi yang berbeda. Nichirin kakak beradik ini juga telah bersepuhkan api hitam. Namun sesuai dengan gelarnya, Harada tahu jika kemampuan regenerasi Hiroaki ada di atas Kokushibo, atau nyaris setara dengan Muzan, bahkan dengan tekniknya yang satu ini.



Dengan posisi lehernya yang dijepit oleh dua nichirin, Hiroaki merentangkan kedua tangannya yang telah beregenerasi. Harada yang merasa dejavu dengan posisi itu mendorong nichirinnya sekuat tenaga hingga mendorong keluar nichirin milik Hikaru, dan kembali menarik kerah seragam adiknya dari belakang untuk menghindar.



"Kekkijutsu: Koryu no Hoko."



Bersamaan dengan selesainya Hiroaki mengucapkan kalimatnya, sebuah ledakan besar yang berpusat padanya tercipta. Tidak hanya sebuah ledakan, namun banyak tombak es yang muncul dan menyebar ke segala arah. Harada dan Hikaru, yang diharuskan untuk menanggulangi kegilaan ini meskipun terus terdorong oleh ledakan yang kuat, bergerak untuk saling melindungi dari tombak es yang terus berdatangan.



Bahkan karena hal ini, Harada dan Hikaru terdorong hingga salah satu dinding jebol dan membuat punggung dan bagian belakang kepala keduanya harus bertemu dengan sebuah tiang hitam besar. Setelah teknik gila tadi, butuh beberapa saat untuk kakak beradik itu guna menyadari jika mereka sudah menjadi alat penjebol tembok oleh Hiroaki.



"Oh, Michi-sensei, hisashiburi. Sepertinya kau bersenang-senang ya meskipun sedang kesulitan."



Itu suara Hiroaki yang kegirangan, dan hal itulah yang menyadarkan Harada untuk kali pertama dengan perasaan terkejut. Apa dia bilang? Michi? Ya ampun, sedekat apa iblis ini hingga dia memanggil Kokushibo dengan singkatan nama aslinya? Harada secepat mungkin berdiri sambil memegangi bagian belakang kepalanya, lalu terkejut bukan main dengan situasi di sekitar. Terutama setelah debu yang dihasilkan oleh Hiroaki mulai menghilang dan pandangannya mulai jelas.



Cukup jauh dari posisinya saat ini, Harada bisa melihat Muichiro yang terbaring dengan keadaan tubuh yang sudah tidak sempurna. Sanemi juga telah memiliki satu luka yang sangat panjang dari dada hingga perut. Sementara Gyomei, sekalipun memiliki kondisi yang cukup baik karena hanya menerima luka di wajah, namun kedua tangannya telah berhiaskan tanda Pemburu Iblis, dan hal ini membuat Harada meringis.



Lalu di dekat Gyomei, kini berdiri Hideki yang tampak sedang merinding setelah matanya bertatapan dengan Hiroaki. Lalu cukup jauh darinya, berdekatan dengan posisi Muichiro, terlihat Hikaru yang tengah menyeret Genya yang pingsan setelah ledakan tadi ke tempat aman. Harada tersenyum kecil saat melihat keputusan Hikaru. Lalu bagaimana dengan dirinya? Bisa dibilang Harada yang keadaannya paling baik di sini, bahkan setelah beradu pedang dengan Hiroaki, pria beriris hijau rumput itu kini hanya kehilangan haori birunya yang terbelah dua ketika iblis putih di depannya mencoba membokongnya.



"Sesuai dengan yang diharapkan darimu, Harada," ucap Gyomei.


"Heh, aku tidak mau mengakui ini, tapi aku terkesan denganmu, Akechi. Berhadapan dengan Jogen no Ichi bersama adikmu dan hanya kehilangan haori, wah," tutur Sanemi.


"Harada, iblis yang kau hadapi itu..."



Ucapan Hideki tercekat ketika Harada mengangkat tangan kanannya yang masih memegang nichirin. Pria bermanik hijau rumput itu menoleh ke belakang dan menatap semua yang ada di sana satu persatu, seolah memberi sinyal untuk berhati-hati dengan Hiroaki.



"Gyo-nii, Sanemi. Aku tahu kalian tidak akan pernah ragu dalam pertarungan, jadi aku serahkan Kokushibo pada kalian. Hideki, demi harga dirimu, ikutlah denganku melawan iblis putih di sana."



Hanya dengan gerakan mata Harada memelototi Hiroaki. Hideki yang memahami isyarat sahabatnya itu maju hingga berada di samping kanan pria bertubuh nyaris dua meter itu, lalu memasang kuda-kuda. Harada menepuk-nepuk punggung Hideki sambil meliriknya, dan tersenyum ketika sahabat berambut putihnya ini tersenyum.



"Arigatou, Aibou," tukas Hideki. Harada mengangguk.


"Apapun untukmu kawan," balas Harada.



Keempat Hashira itu melesat menuju lawannya masing-masing dengan tatapan yang berapi-api. Di sana Hiroaki tersenyum sinis, merasa jika dirinya berhasil membuat Harada ingkar janji. Sementara Kokushibo kembali fokus untuk berhadapan dengan Sanemi dan Gyomei, yang jika dirinya boleh berkata jujur, sangatlah merepotkan.

__ADS_1


__ADS_2