
Mimpi
Deburan ombak membelai kedua telinganya, dan bau garam turut memanjakan penciumannya yang tajam. Semilir angin laut membelai setiap inchi tubuh kekarnya yang kelelahan, membuat Harada merasa sangat malas untuk membuka mata. Meskipun pada akhirnya, sepasang manik sewarna zamrud miliknya menampakkan diri. Harada sedikit mengerutkan dahi, dan melindungi kedua matanya dengan tangan.
Dengan kepala yang luar biasa sakit Harada segera duduk. Kerutan di dahinya kian dalam ketika mendapati dirinya tertidur di atas pasir yang putih bersih. Pria berambut hitam itu membersihkan rambutnya. Kerutan di dahi lebarnya kian dalam ketika menyadari jika dirinya hanya memakai jinbei putih polos. Kedua telinganya bisa mendengar langkah kaki seseorang, dan hal tersebut membuatnya segera duduk dan menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal.
Sebuah senyuman merekah di wajah lelah Harada ketika pria berambut hitam itu menyadari orang yang menghampirinya. Dengan rambut hitam panjangnya yang dikuncir, Yoriichi memutuskan untuk duduk di samping kiri Harada. Manik merah tuanya terpejam, menikmati aroma laut yang sangat khas.
"Kau benar-benar menikmati tempat ini, Yoriichi-dono," ujar Harada. Yoriichi mengangguk.
"Karena tempat ini mencerminkan dirimu, Harada," balas pria yang memakai haori merah tua itu.
"Ngomong-ngomong, tidak biasanya kau terlihat sesantai ini. Ada apa, Yoriichi-dono?"
"Vitalitasku yang sempat tertutupi oleh vitalitas Michikatsu dan Sojuro, kini sudah tergabung dengan vitalitas mereka berdua."
Kedua manik sewarna zamrud milik Harada membulat. Pria berambut hitam itu tidak tahu harus melakukan dan bereaksi seperti apa. Antara bahagia dan cemas, pikirannya kini terasa bercampur layaknya sebuah sup sayuran. Yoriichi menepuk bahu Harada, lalu tersenyum tipis. Mencoba untuk menenangkan pria bertubuh tinggi tersebut.
"Tenanglah, tubuhmu akan terbiasa dengan ini, Harada."
Kini beberapa bulir keringat dingin meluncur bebas di kedua pelipis Harada. Pria berambut hitam itu merasakan sebuah kekuatan yang amat besar memasuki tubuhnya dengan paksa. Namun selang beberapa menit, lonjakan energi itu mulai mereda dan energinya kembali tenang. Meskipun sejujurnya, kini detak jantung Harada bisa dikatakan tidak normal, hingga pandangannya kini meredup dan sepenuhnya gelap.
Mimpi End
Setidaknya sudah 3 hari berlalu sejak Gyomei datang ke Kediaman Kupu-kupu dengan membawa Harada di pundaknya, lengkap dengan Hideki, Ryunato dan kedua adik kembar Harada yang juga terluka parah. Namun disaat keempat orang itu kini telah melakukan latihan pemulihan dengan bantuan Mitsuri dan Tengen, Harada masih belum sadarkan diri.
Berterima kasihlah pada luka di dada serta punggungnya yang panjang dan juga dalam, sehingga Harada kehilangan banyak sekali darah. Selain seisi penghuni Kediaman Kupu-kupu, luka kali ini bahkan membuat Tsumori bersaudara, Yue dan Ui, yang bahkan lebih ahli dalam masalah pengobatan dari Shinobu, sangat khawatir.
Sebenarnya tidak hanya khawatir jika Kisatsutai akan kehilangan anggota terkuatnya. Tetapi ini juga menyangkut masalah personal mereka berdua. Singkat kata, sebenarnya kakak beradik itu memendam sebuah cinta yang amat dalam untuk Harada. Atau lebih tepatnya, setidaknya para pemburu iblis perempuan akan menjadikan Harada sebagai kriteria ideal mereka.
Kini saat kedua kakak beradik tersebut tengah mengecek keadaan Harada, pria berambut hitam itu tiba-tiba kejang-kejang. Yue yang lebih rasional dari Ui langsung mengambil tindakan dan menyuntikkan obat anti kejang, lalu kembali memeriksa detak jantung pria bertubuh besar tersebut. Meskipun detak jantungnya masih memburu, namun kini detak jantungnya mulai berjalan ke arah normal.
Sementara itu, Ui yang sebenarnya memiliki trauma terhadap momen saat seseorang meregang nyawa, hanya bisa memegang kepalanya dengan kedua tangan dengan mata yang melotot. Sebutir air mata berhasil meluncur tanpa cela di pipi mulus gadis berambut oranye itu.
"Onegai, Hara-nii! Onegai!"
"Ya ampun, Ui! Tenanglah sedikit! Harada tidak apa-apa!"
Sekalipun Yue cukup sering menjahili adiknya, namun wanita muda berambut hitam tersebut kini sama sekali tidak bercanda. Adiknya kini menatap manik merah marunnya seolah tidak percaya. Yue akhirnya menyuruh Ui untuk memeriksa Harada dengan tangannya sendiri.
Adiknya menurut dan langsung tersenyum, sekalipun gadis berambut oranye itu tidak bisa berhenti menangis. Atau setidaknya untuk saat ini, Ui bisa merasa sedikit lega. Yue menghela napas pelan, lalu memeluk adik satu-satunya itu dari samping, mencoba untuk menenangkannya.
Beberapa menit berlalu, dan derit pintu yang bergerak terdengar dengan jelas. Kakak beradik Tsumori itu terkejut ketika melihat Amane dan Kagaya memasuki ruangan dalam diam. Sementara itu, Amane sempat mengangkat sebelah alis putihnya karena tidak menyangka jika di ruangan ini terdapat kedua kakak beradik Tsumori.
"Kuharap kedatangan kami tidak mengganggu pekerjaan kalian," ucap Amane. Ui langsung gelagapan.
"Tentu tidak Amane-sama. Tunggu sebentar ya," balas Yue. Gadis berambut hitam itu mengambil dua buah bangku, lalu menempatkannya di samping ranjang Harada.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Yue-chan."
"Itu bukan masalah besar kok, Oyakata-sama, sungguh."
"Jadi, bagaiama keadaan Harada? Karena sejujurnya, aku akan sangat sedih jika kita kehilangan orang sekuat dirinya."
Ui sedikit tertohok. Amane dan Kagaya, yang sudah duduk di bangku yang telah Yue sediakan, menatap Tsumori bersaudara dengan tatapan lembut dan sedih, namun juga teguh. Yue menghela napas pelan, lalu mengatakan semuanya secara gamblang pada kedua suami istri itu.
Kedua mata Kagaya, yang sebenarnya telah kehilangan fungsinya, membelalak dan kemudian mengeluarkan air mata. Yue yang melihat hal itu tersenyum getir, karena di antara pemburu iblis lainnya yang masih aktif, hanya Yue yang mengetahui hubungan personal antara Harada dan Kagaya. Namun Yue mengatakan jika dirinya, Ui dan Shinobu akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawat Hashira Badai tersebut. Kagaya tersenyum dengan raut wajah yang menyiratkan kekusutan suasana hati.
"Anda bisa percayakan ini pada kami, Oyakata-sama," tukas Yue dengan nada selembut mungkin.
"Tentu saja, kalian adalah yang terbaik dari yang terbaik. Jadi aku yakin kalau kalian akan mati-matian sekarang," balas Kagaya.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Oyakata-sama!"
Time Skip
Sejak hari itu, Harada berhasil mendapatkan kesadaran penuhnya pada hari keempat. Berarti sudah seminggu dirinya tertidur, dan hal ini sangat cukup untuk membuatnya mendapatkan sebuah sambutan yang luar biasa heboh dari para Hashira. Bahkan Giyuu yang biasanya memasang wajah temboknya terlihat sangat lega saat itu.
Mitsuri yang pertama kali menyadarinya, menangis cukup lama tempo hari. Bahkan tanpa ancaman dari Shinobu, Harada kemungkinan tidak akan bisa selamat dari lilitan Kaburamaru beserta cekikan Obanai yang over protektif terhadap Hashira Cinta tersebut. Hideki yang saat itu belum kembali aktif melakukan misi, hanya bisa menatap Harada dengan tatapan yang rumit.
3 hari setelah siuman, Harada diharuskan untuk mengikuti pelatihan rehabilitasi selama 4 hari. Lagi-lagi Mitsuri yang menangani bagian kelenturan tubuh, sementara Tengen harus mengurus bagian yang paling tidak menyenangkan, yaitu refleks dan kecepatan.
Namun sebagai mantan shinobi dan seseorang yang mencintai keelokan, Tengen menggabungkan pelatihan refleks dan kecepatan, sehingga mereka hanya bermain kejar-kejaran. Jika kedua pria bertubuh besar itu sedang saling mengejar di dojo, maka dapat dipastikan suasana ribut akan langsung terdengar.
Pada hari keempat pelatihan, yang merupakan hari terakhir, Harada akhirnya berhasil merebut lonceng pada ikat pinggang Tengen. Keesokan harinya, Harada sudah diperbolehkan untuk meninggalkan Kediaman Kupu-kupu. Namun pada hari kedua latihan pemulihan, Kagaya telah menemui Harada secara pribadi dan kembali meminta agar Harada mengambil jatah hari liburnya yang tidak pernah diambil. Harada menyerah, dan memutuskan mengambil cuti selama 2 minggu.
Lalu pada hari keempat, Harada mendapati Kara mendarat di dadanya, dan mengabarkan jika Jigoro Kuwajima, yang tempo hari cukup dekat dengannya, telah melakukan seppuku karena rasa malunya saat mengetahui salah satu muridnya yang telah menjadi pemburu iblis, kini telah berkhianat dan mengubah dirinya sendiri menjadi iblis karena kalah telak dengan Kokushibou.
Harada mencebik kesal tempo hari. Kara juga turut membawa Kasugai milik muridnya Jigoro, sehingga kini Harada telah memiliki 2 Kasugai secara teknis. Namun Kasugai milik muridnya Jigoro ini direncanakan akan diberikan pada Sakonji, sehingga Harada bisa leluasa bertukar surat dengan mantan Hashira Air tersebut.
Setidaknya untuk saat ini, setelah pelatihan pemulihan selesai, Harada diperbolehkan untuk pulang. Tetapi belum ada seminggu, pria beriris hijau rumput tersebut mengatakan jika dirinya akan menginap di rumah Sakonji pada kedua adik kembarnya yang telah lebih dulu aktif melakukan misi.
"Huwee!! Aku mau ikut onii-chan!" Hikari menangis sejadi-jadinya. Gadis berambut oranye itu memang belum pernah mengunjungi Sakonji lagi sejak menjadi pemburu iblis.
"Hikari, kau akan kena marah Sakon ji-chan kalau kau mengabaikan misi," tukas Harada. Hikari cemberut.
"Tapi onii-chan~"
"Urusai! Makannya kalau kau punya waktu luang, jangan keasyikan tidur!"
Hikari menunduk. Harada menghela napas panjang, lalu mengacak-acak puncak kepala Hikari dengan lembut. Pria berambut hitam itu mengatakan jika dirinya akan menyampaikan salam dari Hikari. Gadis beriris hijau rumput itu kembali menegakkan kepalanya dengan tatapan seolah meminta kejelasan.
Harada tersenyum dan mengangguk, sebelum akhirnya berpamitan untuk menuju ke gunung Sagiri. Meskipun sedang libur, namun Harada memilih untuk memakai seragamnya agar dirinya bisa dikenali Sakonji dengan mudah. Karena sejak memulai misi di gunung Aino, Harada memutuskan untuk memakai parfum, dan hal ini terbawa hingga saat ini.
Dari rumahnya, setidaknya butuh waktu 6 jam bagi Harada untuk sampai ke pegunungan Sagiri. Sudah lama sekali rasanya pria berambut hitam itu tidak kemari, namun semuanya tetaplah sama. Aroma pinus basah yang menusuk hidung masih memenuhi pegunungan ini. Pria beriris hijau rumput itu sampai di pegunungan Sagiri pada jam 1 siang, namun langit sedang berawan.
__ADS_1
Karena sangat sedikit orang yang tinggal di kaki gunung Sagiri, Harada hanya bisa mengandalkan penciuman, logika dan instingnya untuk mencari Sakonji. Tempat yang kira-kira dikunjungi oleh pria paruh baya tersebut, atau tempat yang setidaknya menjadi favoritnya. Muncul sebuah tempat yang memungkinkan dikunjungi oleh mantan Hashira Air itu, yaitu sebuah air terjun besar yang ada di dekat sini.
Dengan hati yang riang Harada berlari dengan santai kesana, lebih tepatnya ke atas tebing yang berada di samping deburan air terjun yang deras. Sebuah senyuman penuh kerinduan merekah di atas wajah pucat Harada ketika melihat haori biru muda bermotif awan milik Sakonji. Pria yang menggunakan topeng Tengu itu, yang sedang menatap ke arah air terjun, memutar tubuhnya. Aroma kebahagiaan langsung menyeruak dari pria tua itu, yang sekonyong-konyong memeluknya tanpa aba-aba.
"Yokatta na Harada, yokatta," gumam Sakonji, yang sebenarnya sudah menangis dalam diam. Harada membalas pelukan Sakonji dengan lembut.
"Kurasa kau mendengar pertarunganku di Aino, Sakon ji-chan," balas Harada. Sakonji melepas pelukannya lalu mengangguk.
"Aku kenal orang-orang di sana, dan aku juga dekat dengan Saburo. Saat dia membawaku kesana, aku terkejut dengan skala pertarungannya."
"Kalau begitu maafkan aku, Sakon ji-chan."
"Sudahlah, oh iya ngomong-ngomong, apa haori ayahmu robek?"
"Begitulah, mata enam menyebalkan itulah penyebabnya."
Harada menepuk-nepuk punggung Sakonji. Pria tua itu kini membawanya ke tepian tebing, lalu menunjuk pada seseorang yang sedang bermeditasi di bawah air terjun. Manik hijau rumputnya membulat ketika sadar dengan sosok berambut hitam panjang itu, yang tidak lain merupakan Nezuko. Gadis muda itu terlihat sangat serius dan fokus, sehingga hal itu membuat Harada kagum.
"Oh ya Harada, Jigoro menitipkan sesuatu padaku," tukas Sakonji. Harada langsung menatap pria dengan topeng Tengu itu dengan tatapan terkejut.
"Eh? Goro ji-chan titip apa, Sakon ji-chan?" Harada terlihat blank dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi Sakonji menyerahkan sebuah amplop pada Harada.
"Jigoro melarangku untuk membukanya. Jadi lebih baik kau cari tempat dan cari tahu isinya. Aku masih harus mengawasi Nezuko."
Sakonji berjalan menuruni tebing. Sementara Harada kini tampak sedikit tersentak, dan pikirannya mencoba untuk terhubung dengan hati dan tubuhnya. Pria berambut hitam itu tahu jika Jigoro terlampau dekat dengan Sakonji tempo hari, sehingga mereka berdua tidak segan untuk berbagi banyak hal. Daripada pusing memikirkan tempat, Harada duduk bersila dan membuka amplop itu. Sebuah surat, namun surat itu sangatlah panjang.
*Hei, Harada. Ini aku, kakekmu yang sering menjahilimu, Kuwajima Jigoro. Aku terus memantaumu sejak saat itu, dan kini kau benar-benar jadi anak yang sangat keren! Ah kuharap kita bisa bertemu lagi, tapi aku tahu kau sangat sibuk, terutama sejak kau naik menjadi Hashira, jadi aku memutuskan untuk tidak mengganggumu*.
*Aku sengaja menitipkan surat ini pada Sakon, karena aku tahu kau jauh lebih terikat padanya daripada dengan Shinjuro. Lalu jika kau membaca surat ini, maka aku sudah melakukan seppuku karena aku luar biasa malu dengan keputusan Kaigaku untuk menjadi iblis*.
*Aku punya permintaan untukmu, Harada. Lagipula kau tahu kalau aku ini hanyalah pria tua yang egois dan berisik, sehingga aku akan terus terang. Jadi, bisakah kau jaga Zenitsu untukku? Dia bocah berhati lembut yang sangat penakut. Dia sebenarnya membenci pertarungan, namun dengan diriku yang melakukan seppuku, kemungkinan besar dia akan sedikit kehilangan arahnya meskipun dia tetap dikuasai oleh ketakutannya. Bocah kuning itu juga memiliki potensi yang sangat besar, Harada. Jadi kau tidak usah khawatir*.
*Lalu soal Kaigaku, kupikir kau akan merasa familiar dengan nama itu. Pikiranmu itu benar kok, Kaigaku yang membuatku malu adalah anak yang membuat Himejima Gyomei, yang saat ini merupakan Hashira Batu, nyaris kehilangan kepalanya. Aku menanyakan hal ini pada Oyakata-sama, karena itulah aku tahu hubungan antara Kaigaku dengan Himejima*.
*Oyakata-sama juga mengatakan jika kalian berdua sekilas seperti kakak beradik. Ah kau pasti bahagia karena telah memiliki seorang kakak, Harada! Lalu kuharap kau tidak mengamuk ketika bertemu dengan Kaigaku, karena aku tahu dirimu tidak akan membiarkan seorang pengkhianat sejati sepertinya berjalan dengan bebas di atas tanah. Ya ampun, orang tua ini terlalu banyak mengoceh sepertinya. Aku sudahi dulu surat ini, kuharap kau menjalankan hidupmu dengan baik, Harada! Lalu jangan lupa untuk menebas kepala Muzan di sana, biar aku yang mencincang iblis itu bersama dengan Matsuda di sini*!
__ADS_1
Harada membaca surat itu dengan mata yang membelalak dan berair. Dadanya saat ini seolah ditusuk dengan banyak nichirin, merasa sesak dengan kenyataan yang ada di dunia ini. Namun di sisi lain, Harada merasa jika dunia yang ditinggalinya ini terlalu sempit dan penuh dengan iblis haus darah. Harada kembali memasukan surat itu ke amplopnya, lalu menuruni tebing untuk mencari Sakon ji-chan yang kini telah menjadi sosok ayah untuknya. Jika bukan di rumah atau di tengah hutan, maka pastinya kedua orang itu masih berada di dekat air terjun. Karena tadi Sakonji mengatakan jika dirinya masihlah harus mengurusi Nezuko.