
Hanya ada satu kata yang benar-benar bercokol di otak Kyojuro saat ini. Dilema. Pria bersurai api itu tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Dirinya yang biasanya menjadi yang paling cerewet dan optimistis di antara Hashira lainnya, sekarang hanya bisa diam terkuku.
Terutama kini dirinya sedang berada di hadapan Kagaya dan Amane bersama dengan Nezuko dan Senjuro. Ketiganya kini sedang memberikan laporan secara lisan pada Kagaya, dengan alasan jika semuanya masih shock dengan apa yang baru mereka alami. Terutama untuk Kyojuro.
Karena sejak tadi, Hashira Api itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Senjuro cenderung mengambil alih pembicaraan, dan Nezuko yang masih canggung hanya bisa menimpali apa yang dikatakan Senjuro. Entah darimana keberanian yang Senjuro miliki, tetapi kemungkinan semua itu berasal dari pengaruh yang Hikaru bawa ke keluarga Rengoku.
Untungnya Kagaya dan Amane bisa memaklumi situasi canggung ini, dengan syarat nanti Kyojuro harus menulis laporan tertulis sebagai arsip. Hashira Api itu menyetujui persyaratan yang Kagaya ajukan, karena pikirannya sekarang penuh dengan bayang-bayang Akaza yang menusuk perut bawah kanan Harada hingga tembus ke pinggul.
"Kyojuro, daijobu ka?" suara Kagaya yang penuh kedamaian itu membuat Kyojuro terkesiap. Kedua manik semanis madunya sudah berkaca-kaca.
"Ha-hai, Oyakata-sama. Apa anda mengatakan sesuatu?" Kyojuro malah balik bertanya.
Baik Senjuro ataupun Nezuko memilih untuk diam selagi Kagaya sedikit memajukan posisi duduknya untuk memeluk Kyojuro. Hashira Api itu semakin terkesiap dan tidak bisa menahan air matanya. Hingga hanya berjarak semenit, bulir-bulir air mata merembes dari kedua manik semanis madu milik Kyojuro. Hashira Api akhirnya menangis setelah sekian lama.
Kedua mata yang biasanya selalu memancarkan optimisme dan kepercayaan diri tinggi, kini tidak sanggup untuk membendung kesedihan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh hati kecilnya. Kagaya menepuk-nepuk punggung Kyojuro perlahan, merelakan bahunya yang sempit menjadi sasaran air mata dari putra sulung klan Rengoku di depannya. Mungkin jika dihitung, Kyojuro menangis dalam pelukan Kagaya selama tiga menit.
Pria bersurai layaknya api itu menjauhkan diri dari Kagaya, lalu meminta maaf karena reaksi spontannya tadi. Kagaya mengelus pelan ubun-ubun Kyojuro, seolah menjadi tanda jika semua itu bukanlah apa-apa. Senjuro menghela napas panjang karena tingkah kakaknya yang sama sekali tidak terduga. Instingnya kini mengatakan jika Amane akan turut berkomentar dengan apa yang baru saja mereka alami. Tapi sepertinya, Senjuro masih harus belajar pada Inosuke dalam masalah ketajaman insting.
"Lebih baik keluarkan emosimu, Kyojuro. Hal ini juga berlaku untuk semua anak-anakku," tutur Kagaya. Baik itu Nezuko, Senjuro atau Kyojuro sama-sama terkekeh kaku.
Ketiganya lalu pamit pada Kagaya dan Amane, berniat untuk melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Nezuko masih harus menemui Inosuke dan Zenitsu, memastikan agar kakaknya baik-baik saja dalam penjagaan kedua pemuda berisik itu. Sementara Kyojuro dan Senjuro, alih-alih melangkah ke kediaman klan Rengoku, keduanya kini berjalan tidak tentu arah.
Senjuro tahu jika kakaknya sudah berniat untuk menulis laporan. Tapi sepertinya hati kecil kakaknya masih belum siap, sehingga kini keduanya secara tidak sengaja malah berjalan ke Kediaman Kupu-kupu melalui arah yang berbeda dari yang diambil oleh Nezuko. Jika gadis berambut hitam dengan ujung oranye itu melangkah ke wilayah khusus untuk bermukim, kedua lelaki bersurai api tersebut melangkah ke bagian perawatan. Senjuro sampai harus menarik ujung haori kakaknya untuk membuatnya tersadar dengan langkah kakinya sendiri.
"Senjuro, kenapa kita bisa di sini?" tanya Kyojuro. Senjuro menggeleng pelan, seolah tidak mau ambil pusing.
Namun kedua iris cokelat madu Kyojuro sedikit bereaksi ketika melihat sosok bertubuh besar yang menghampirinya dari dalam bagian perawatan. Meskipun akhirnya, Kyojuro sedikit membuang muka ketika menyadari sosok bertubuh besar yang menghampirinya, yaitu Himejima Gyomei.
Namun yang membuatnya terkejut, Kyojuro baru saja melihat rambut putih Hideki menyembul dari balik punggung lebar Gyomei. Kyojuro mengambil napas panjang, seolah bersiap akan segala hal yang tidak menyenangkan. Karena bagaimanapun juga, kedua Hashira itu adalah yang paling dekat dengan Harada, dan dirinya secara tidak langsung baru saja menjadi beban untuk sahabat terbaik mereka berdua.
"Jangan membuang muka, Rengoku," ujar Gyomei.
"Harada akan memukulimu jika melihatmu meredup begini, baka!" tukas Hideki sambil menjitak Kyojuro dengan keras.
"Maafkan aku, Himejima-san, Date-san. Aku hanya menjadi beban untuk aniki," cicit Kyojuro.
Hideki menarik kerah seragam Kyojuro, lalu meninju pipinya. Senjuro langsung pasang badan di depan kakaknya, namun Hideki juga turut meninju Senjuro. Bahkan pemuda bertatapan sendu itu harus merasakan perutnya yang ditendang oleh lutut Hideki yang terkenal keras. Gyomei refleks mencoba menahan Hideki dengan mengangkat tubuh pria berambut putih itu melalui kedua ketiaknya, membuat Hideki melayang di udara dan menendang-nendang udara.
"Berhenti merendahkan dirimu itu! Jika kau menyesali hal ini jadilah lebih kuat! Bahkan Yue dan Ui tidak bisa menjamin nyawa Harada sekarang! Kuharap kau tidak jadi pengecut yang lari dari masalah karena hal ini, baka!"
"Hideki, sudahlah tidak ada gunanya kau marah-marah di depan mereka. Tapi semoga kau bisa memahami alasan Harada melindungimu sampai sebegitunya, Rengoku. Tolong kuatkan dirimu, ya."
Gyomei tersenyum getir sambil menutup kedua kelopak matanya. Kyojuro yang masih sempat melihat itu sedikit gemetaran, merasa sangat bersalah dan marah pada dirinya sendiri. Ini adalah kali pertama Kyojuro melihat senyuman pahit Gyomei, yang secara tidak langsung membuatnya sangat terbebani.
Orang macam apa dirinya sampai bisa membuat Hashira yang paling penyabar itu berekspresi semenyakitkan tadi? Senjuro masih setia memegangi tangan kanan kakaknya yang gemetaran, seolah berusaha untuk menguatkan kakaknya yang secara mengejutkan terguncang hebat psikisnya. Senjuro lalu mengelus-elus punggung kakaknya.
"Aniue sudahlah. Kita tenangkan dulu dirimu," tutur Senjuro. Kyojuro mengangguk.
"Senjuro. Apa kau mau menemaniku ke gunung Sagiri?" tanya Kyojuro. Dahi Senjuro berkerut.
"Aniue, apa yang akan kau lakukan di sana?"
"Mengunjungi makam seseorang. Aku tahu lokasinya dari chichiue."
"Eh baiklah jika itu bisa membuatmu lebih baik, aniue."
__ADS_1
"Umu, kau tenang saja ototou."
.
Mimpi, Lagi
Harada batuk-batuk, lalu meringkuk ke kanan. Sekujur tubuhnya serasa diserang angin dingin dari gunung Aino. Tetapi ketika hidungnya mendapati aroma garam, pria bersurai malam itu tahu jika ini adalah alam bawah sadarnya. Secara perlahan Harada membuka kedua matanya, lalu berguling untuk menatap langit senja yang oranye dengan awan yang berarak.
Manik hijau rumputnya menjelajahi sekitarnya, mencoba untuk menebak lokasinya. Pasir putih, lalu kedua kakinya kini merasa digelitiki oleh air yang tiba-tiba mencium kakinya. Dirinya ada di pesisir. Harada memutuskan untuk duduk, lalu memegangi kepalanya yang sakit. Kaki kanannya ditekuk dan menjadi tumpuannya.
"Heh, tidak kusangka kau akan melindungi anaknya Shinjuro sampai seperti itu."
Harada refleks menoleh ke belakang. Di sana, manik sewarna zamrudnya menangkap sosok pria bertubuh tinggi dan tegap. Rambutnya hitam, dan irisnya berwarna hijau rumput. Sama sepertinya. Tetapi ada beberapa kerutan di wajah pria itu, dan kerutan-kerutan tersebutlah yang membuat hati kecil Harada mencelos. Pria yang tengah menghampirinya, lalu duduk di samping kanannya ini adalah ayahnya, sosok ayah yang amat dirindukannya selama ini.
"Tou-chan, aku tidak tahu kau bisa mampir kemari," ujar Harada. Matsuda tertawa renyah.
"Tentu saja, tou-chanmu ini kan hebat!" tukas Matsuda sambil menepuk dadanya. Pria berambut hitam itu lalu mengarahkan Harada untuk tiduran di pangkuannya.
"Tou-chan, jangan dong.."
"Diamlah. Aku sangat ingin melakukan ini dari dulu, tapi tidak pernah sempat. Setidaknya biarkan arwah tou-chanmu ini bahagia, Harada."
Harada tergelak. Tapi rasanya boleh juga, karena dirinya nyaris tidak bisa santai selama ini, bahkan ketika sedang terluka parah sekalipun. Harada membiarkan Matsuda bermain-main dengan rambut panjangnya. Beberapa saat berlalu tanpa ada percakapan sedikitpun, keduanya hanya dibelai oleh angin laut beraroma garam yang cukup dingin. Sampai akhirnya, tiba-tiba Matsuda mengatakan beberapa hal yang membuat hati putra sulungnya semakin mencelos.
Tentang pertumbuhan adik kembarnya. Lalu tentang Hikari, yang ternyata merahasiakan identitasnya sebagai sosok pelengkap dari julukan kakak sulungnya sejak kecil. Jika Harada adalah Kusahanada no Musuko, maka Hikari adalah Sora no Kibo, sang harapan dari langit. Harada melotot, lalu memposisikan tubuhnya agar terlentang di pangkuan Matsuda. Ayahnya sudah menundukkan kepala, lalu mengangguk pelan. Matsuda tahu jika Harada akan terkejut karena fakta ini.
"Jika Hikari adalah Sora no Kibo, berarti dia adalah-" Harada tidak berani melanjutkan kalimatnya. Matsuda mengangguk pelan.
"Adikmu menyimpan sebuah kertas mantra di saku dada seragammu. Dia sudah membuat itu sejak lama, Harada. Tanpa itu kau sudah lewat," tutur Matsuda.
Harada menghela napas panjang dan kembali menghadapkan tubuhnya ke kanan, menatap rumput hijau yang tumbuh di atas pasir putih. Otaknya tahu jika keberadaan Sora no Kibo jauh lebih langka dari eksistensi Kusahanada no Musuko, dan kertas mantra yang Matsuda maksudkan tadi adalah perantara dari Pernapasan Neraka yang hilang. Hentan, atau teknik pembalik yang menjadi ciri khas dari ilmu pengobatan klan Akechi.
"Tapi ngomong-ngomong, apa alasanmu melindungi anaknya Shinjuro?" tanya Matsuda. Akhirnya ayahnya mulai penasaran dengan keputusannya.
"Apa tou-chan sudah bertemu dengan Ruka-san?" Harada malah balik bertanya. Namun Matsuda mengangguk pelan.
"Apa hubungannya dengan Ruka memang?"
"Ketika Shin Ji-chan kehilangan Ruka-san, dia benar-benar kehilangan segalanya. Dia mulai mabuk dan ogah-ogahan melakukan misi. Dia mengabaikan anak-anaknya, dan yang lebih parah, dia selalu menyudutkan mereka dan mengatakan agar gelar Hashira Api berakhir pada dirinya saja."
"Baka Shin. Kugentayangi anak itu, tahu rasa dia!"
"Tidak perlu, tou-chan. Aku dan Hikaru sudah mendampratnya."
"Tunggu, bagaimana kau bisa melunakkannya, Harada?"
"Dengan memposisikan diri sebagai anak-anaknya juga. Shin Ji-chan jugalah yang menyelamatkanku, jadi aku dan Hikaru tidak akan membiarkan matahari kedua kami meredup semakin parah."
"Heh, kau dari dulu memang banyak akal ya."
"Ittai, tou-chan!"
Matsuda mencubit pipi Harada dengan keras, lalu tertawa lepas. Harada benar-benar tidak tahu menahu pikiran macam apa yang mampir ke dalam otak ayahnya yang terkadang bertingkah ajaib ini. Namun pastinya, dengan kedatangan ayahnya, Harada sedikit terhibur saat ini. Tidak hanya sebatas melepas stres, tapi dirinya bisa tahu siapa yang masih membutuhkan keberadaannya di dunia luar yang kejam.
Matsuda lalu membelai rambut Harada dengan lembut, seolah dirinya tidak akan pergi dari alam bawah sadar Harada. Atau setidaknya, itulah yang diinginkannya. Lagipula membantu pemulihan putra sulung kebanggaannya ini bukanlah sesuatu yang salah, kan? Jika Shinjuro kini sangat membanggakan Kyojuro, maka kebanggaannya kini adalah ketiga anaknya serta adiknya.
__ADS_1
Mimpi, End
Dari balik topeng Tengu yang selalu dipakainya, Sakonji mengangkat kedua alisnya, merasa jika dirinya sedikit berhalusinasi. Ketika pria paruh baya itu sedang menyiapkan dupa, kedua matanya merasa jika bagian hidung dari topengnya terkena butiran salju. Tetapi bukan salju yang turun, melainkan hujan. Hal ini membuat Sakonji menghela napas karena gagal menyalakan dupa untuk sahabat baiknya semasa masih menjadi Hashira.
Sakonji menengadah ke langit dan terkekeh pelan. Langit memang sudah sangat gelap siang ini, dan aroma air hujan juga menguar di seluruh pegunungan Sagiri. Sakonji kembali membungkus dupa yang tadi hendak dia bakar dengan kain, lalu memasukkannya ke kantung kimononya. Pria tua itu berniat untuk segera pulang, namun ada dua aroma yang menggelitiki hidungnya sedang menuju kemari.
Ketika dirinya kembali meneliti aroma itu, Sakonji sedikit tenang karena dirinya berhasil mengenali kedua aroma tersebut. Akhirnya pria tua itu memutuskan untuk keluar dari kawasan kediaman klan Akechi. Meskipun akhirnya, dari balik topeng Tengunya, Sakonji harus menahan tawa ketika mendengar sebuah pekikan yang terdengar sangat polos.
"Shinigami topeng Tengu!"
"Hush, Senjuro! Tidak baik berkata seperti itu!"
Setidaknya Sakonji berhasil mengenali kedua suara khas tadi, dan juga haori putih polos yang bagian bawahnya bermotif lidah api yang sangat khas. Sakonji memutuskan untuk mendekati kedua pemuda bersurai api itu, tidak peduli dengan sosok yang lebih muda tersebut, yang kini sedang bersembunyi di balik punggung pemilik haori bermotif lidah api.
Sakonji lalu memastikan jika perkiraannya benar, dengan bertanya jika kedua pria di hadapannya ini adalah anaknya Shinjuro atau bukan. Salah satu dari mereka menjawab jika mereka adalah putra dari Shinjuro dengan penuh semangat. Ah, sungguh nostalgia sekali, mengingatkannya pada semangat masa muda milik Shinjuro.
"Aku Urokodaki Sakonji, dan aku dulu adalah rekan sesama Hashira dari ayah kalian," tutur Sakonji. Kakak beradik itu terlihat antusias.
"Namaku Rengoku Senjuro, dan ini aniueku, Rengoku Kyojuro," tukas Senjuro. Sakonji mengangguk.
"Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan di sini? Hanya beberapa orang yang sadar tempat macam apa ini sejak awal."
"Aniue mengajakku kemari. Katanya untuk berkunjung ke makam seseorang. Urokodaki-san, apa kau mengetahui makam siapa yang aniue maksud?"
"Daripada hujan-hujanan di sana, kalian lebih baik ikut aku. Aku bisa merasakan jika kalian kemari karena sedang kalut."
Kakak beradik Rengoku itu tidak bisa berkomentar lebih banyak, karena nyatanya Sakonji memang benar. Sehingga saat ini, ketiganya berjalan menuruni tebing untuk menuju ke rumah Sakonji. Kyojuro beranggapan jika rekan ayahnya ini memang memiliki insting yang bagus. Tapi di balik semua itu, keduanya tidak menduga jika Sakonji, yang mungkin sudah nyaris memasuki usia kepala 5, masih sangat cepat untuk ukuran seorang pria tua.
Baik Senjuro ataupun Kyojuro sempat merasa kikuk karena kecepatan yang Sakonji miliki. Setelah sekitar 1 jam berjalan, ketiganya kini sampai di depan rumah Sakonji yang tergolong sederhana. Pria berkimono biru muda dengan motif awan itu mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dan duduk, selagi dirinya menyiapkan beberapa hal di dapur.
Sambil menunggu Sakonji kembali dari dapur, Rengoku bersaudara asyik memperhatikan detail rumah kayu sederhana milik Sakonji. Keduanya kini duduk di dekat perapian yang menyala. Meskipun mantan Hashira, namun keduanya mengira-ngira jika Sakonji memiliki alasan tersendiri untuk tinggal di tempat sederhana seperti ini.
Sekitar 15 menit waktu berlalu dengan penuh keheningan, akhirnya Sakonji kembali masuk ke ruang utama sambil membawa 3 gelas ocha dalam satu nampan, beserta beberapa handuk yang tersampir di atas bahu kanannya yang tergolong lebar. Senjuro refleks mengambil nampan berisi ocha tersebut dan meletakkannya di tengah, selagi Sakonji memberikan handuk pada Kyojuro dan Senjuro. Dari balik topengnya, Sakonji hanya bisa tersenyum tipis ketika memperhatikan kedua anak Shinjuro di depannya.
"Aku punya penciuman yang bagus, dan aku bisa mencium aroma kalut yang kentara dari kalian. Terutama kau, Kyojuro," tutur Sakonji. Kyojuro sedikit membuang muka sesaat.
"Sampai sebegitunya kah, Urokodaki-san?" tanya Kyojuro. Sakonji mengangguk pelan.
"Apa kau mau menceritakannya? Sangat jarang seorang Rengoku meredup separah ini."
Senjuro terkekeh kaku, sementara Kyojuro kini benar-benar menundukkan kepalanya. Dari balik topengnya Sakonji mengangkat sebelah alisnya karena merasa kebingungan. Tetapi hanya berjarak beberapa detik saja, Kyojuro akhirnya menumpahkan segala keluh kesahnya di hadapan Sakonji.
Bahkan Kyojuro sampai menyebutkan tentang kemarahan Hideki padanya. Meskipun serasa seperti disambar petir di siang bolong, namun Sakonji berusaha menetralkan reaksinya untuk saat ini. Karena sekalipun memutuskan untuk hidup menyendiri, Sakonji tahu keadaan Kyojuro kini sedang terguncang hebat. Bahkan dirinya ragu jika adiknya, yang menurut Sakonji jauh lebih rasional, akan sanggup dalam menangani reaksi kakaknya yang cukup berlebihan di matanya.
Sakonji hanya menganggukkan kepala, lalu menceritakan segalanya mengenai sumber kemarahan Hideki. Sakonji juga turut menyebutkan jika Hideki adalah anak didik dari pamannya Harada, dan itu membuat Kyojuro tersentak. Pria bersurai api itu pernah mendengar jika klan Akechi adalah sekumpulan orang yang handal dalam menunjukkan afeksi pada orang lain, dan kini Kyojuro mau tidak mau harus mengakuinya. Karena kedekatan antara Hashira Es dengan klan Akechi bukanlah sebuah ikatan yang sepele.
"Begini saja. Aku akan melatih kalian berdua, namun tingkatannya akan jauh di atas tingkatan normal. Aku juga akan minta tolong Hikaru untuk memperbaiki teknik pernapasan kalian berdua," tutur Sakonji. Kyojuro terlihat tersentak.
"U-Urokodaki-san, kenapa anda sampai mau melakukan itu?" tanya Senjuro. Dari balik topengnya, Sakonji tersenyum tipis.
"Karena aku juga menginginkannya. Aku bisa mencium aroma kedongkolan dan penyesalan pada kalian berdua."
"Kalau begitu kami akan menunjukkan semangat api kami pada anda, Urokodaki-san! Senjuro, kau ikut kan?"
"Aniue kenapa juga kau langsung menyetujui hal ini sih!"
__ADS_1
"Kalau begitu kalian tunggulah di sini. Aku akan mempersiapkannya dulu."
Sakonji beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah. Pria tua itu sebenarnya tidak tahu mengapa dirinya ikut merasakan kesedihan yang Kyojuro alami. Tetapi dirinya ingat satu hal, di sebuah malam yang kelam, ketika penyesalannya terhadap Matsuda dan Jigoro benar-benar membumbung seperti asap dari rumah besar yang terbakar.