
Sudah sekitar dua minggu sejak Harada dan Hikaru berkunjung ke kediaman Rengoku setelah sekian lama. Hikaru mendapatkan kabar jika Kyojuro sudah sangat berniat untuk bergabung dengan Kisatsutai dan menjadi Hashira Api. Harada juga sudah aktif untuk melakukan misi, meskipun misinya untuk saat ini belumlah sepadat seperti sebelumnya.
Menurut informasi yang beredar di antara para kakushi, hal ini dikarenakan Kagaya berniat untuk mengangkat 4 orang sekaligus untuk menjadi Hashira, sehingga jatah misi Harada didistribusikan pada 4 orang tersebut. Pemuda berambut hitam itu hanya bisa terkekeh kaku saat mengetahui hal itu.
Karena sejujurnya, Harada merasakan sebuah kebahagiaan yang membuncah di dadanya ketika mengetahui hal itu. Di satu sisi Harada tidak akan kelelahan, namun di sisi lain, hal ini membuat instingnya menajam. Karena naluri alamiah Harada saat ini adalah untuk melindungi orang-orang tersayangnya, sehingga Harada akan sangat bersyukur jika manik hijau rumputnya masih melihat rekan-rekannya.
Setidaknya kini, di pagi hari yang cerah di musim gugur, Harada terlihat sedang duduk di engawa sambil memandangi langit yang biru dan bersih. Pemuda bertubuh tinggi tegap itu baru saja menyelesaikan misinya tadi malam, sehingga dirinya memutuskan untuk bersandar pada sebuah tiang kayu di sudut engawa sambil menikmati angin musim gugur yang sejuk.
Meskipun dengan mata yang mengantuk, Harada sadar siapa saja yang datang ke sana. Gyomei datang paling pertama. Pemuda bertubuh tinggi dan kekar menyampirkan sebuah haori hijau muda dengan tulisan kanji di bagian kerah pada bahunya yang lebar. Pemuda berambut hitam itu sempat membangunkan Harada yang semakin tertidur. Namun pemuda beriris hijau rumput itu mengatakan jika dirinya sudah biasa melakukan ini sambil menunggu Oyakata-sama datang.
Gyomei hanya mengangguk sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk beralaskan semen. Tengen datang kedua. Pemuda berambut putih itu, yang saat ini memiliki tubuh kekar, langsung menjewer Harada dan menyeret pemuda berambut hitam itu cukup jauh.
Namun Harada segera menendang masa depan milik Tengen, dan membuat pemuda beriris merah marun itu jatuh terduduk dengan tidak eloknya. Harada mendengus kesal sebelum akhirnya bersandar pada bahu lebar Gyomei dan kembali memejamkan kedua matanya.
Hideki datang paling terakhir bersama dengan seorang gadis berambut hitam, yang sebenarnya terlihat masih sangat muda. Pemuda berambut putih itu sedikit terkujut saat menyadari Harada yang kini sepenuhnya tertidur di pangkuan Gyomei. Hideki menyentil dahi lebar Harada, dan membuat pemuda berambut hitam itu bangun sambil mendengus kesal.
"Oi, kau ini niat tidak sih sebenarnya?" tanya Hideki dengan kekesalan yang meluap-luap.
"Tutup mulutmu Hideki! Aku ini belum tidur sejak dua hari yang lalu!" balas Harada, yang emosinya juga tidak kalah meletup-letup.
"Kalau begitu tolong maafkan aku karena telah memilih waktu yang salah, Harada. Tapi kalian hanya bisa dikumpulkan pada pagi hari sih."
Suara bernada lembut itu sukses membuat Harada terkejut. Pemuda berdahi lebar itu menoleh ke asal arah engawa, dan hanya bisa terkekeh sambil berlutut, serta menundukkan kepalanya karena merasa benar-benar malu. Sementara di sisi lain, Kagaya hanya terkekeh kaku, dan mengatakan jika ucapan Harada tadi bukanlah masalah yang besar. Harada kembali minta maaf, dan Kagaya hanya bisa mengangguk.
"Aku mengumpulkan kalian untuk sebuah pemberitahuan resmi," ucap Kagaya. Tengen terlihat cukup tertarik.
"Anu, tolong maafkan aku Oyakata-sama, tapi apa yang anda maksudkan?" tanya Tengen.
"Selain Harada yang sudah sejak lama menjadi Hashira, aku akan mengangkat kalian berempat menjadi Hashira. Uzui Tengen, mulai sekarang kau adalah Hashira Suara. Date Hideki, kini kau adalah Hashira Es. Kocho Kanae, kau akan menggantikan bibimu menjadi Hashira Bunga dan juga mengurus Kediaman Kupu-kupu. Lalu Himejima Gyomei, kau kini adalah Hashira Batu. Selamat atas kenaikan tingkat ini, dan kuharap kalian berlima bisa saling membantu untuk menuntaskan para iblis sampai ke akar."
Semuanya berseru ya untuk mengiyakan perkataan Kagaya. Di sisi lain Harada bisa melihat berbagai reaksi yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya. Tengen dan Hideki masih terlihat tidak percaya. Sementara di sisi lain, Kanae terlihat penuh determinasi. Lalu Gyomei hanya bisa komat-kamit memanjatkan do'a dan rasa syukur.
Sebelum Kagaya kembali ke dalam rumah, pemuda itu meminta agar semuanya saling mengenal satu sama lain. Sehingga Tengen kini membawa semua pilar untuk piknik bersama di sebuah danau yang dekat dengan markas Kisatsutai. Ketika sampai di sana, semuanya dikejutkan oleh pemandangan yang bis dibilang cukup menawan.
Daun pohon momiji yang telah berubah warna menutupi tanah, membuat tanah hitam yang dipijak menjadi berwarna oranye dan keemasan. Angin musim dingin juga berembus dengan lembut, membuat suasana menjadi semakin sejuk dan asri.
Sebelah alis Harada sempat terangkat ketika dirinya melihat sebuah tikar bambu yang sudah digelar, beserta sebuah keranjang besar yang didalamnya terdapat beberapa makanan. Baik Hideki ataupun Kanae bersorak dan segera duduk di atas tikar itu.
"Siapa yang menyiapkan ini semua?" tanya Harada.
"3 istriku. Aku minta tolong pada mereka," balas Tengen dengan sangat ringan.
Pelipis kiri Harada berkedut dengan kencang. Apa tadi katanya? Tiga orang istri? Orang ini gila. Namun di balik semua keluhan yang Harada pendam, Gyomei menepuk pundak kanan Harada, seolah mengatakan agar Harada menikmati momen langka ini. Pemuda beriris hijau rumput itu mengangguk pelan dan ikut serta dalam obrolan 3 Hashira lainnya bersama dengan Gyomei.
Semuanya saling berbagi cerita, dan Tengen terlihat yang paling mendominasi suasana dengan tingkah lakunya yang terlalu percaya diri dan cenderung berisik. Di sisi lain Harada yang tidak terlalu biasa dengan kebisingan yang dimiliki Tengen hanya bisa menghela napas panjang, mencoba untuk bersabar.
__ADS_1
"Hora, kenapa mahluk berisik sepertimu bisa jadi Hashira sih?" tanya Harada, yang dengan sengaja memasang wajah polosnya.
"Jelas-jelas karena aku tidak terkalahkan!" seru Tengen.
"Oi, tidak terkalahkan bagaimana huh?"
Setidaknya dari acara piknik tersebut, yang berlangsung hingga sore, Harada berhasil mengetahui beberapa hal. Jika Kanae memiliki seorang adik perempuan, beserta masa lalu tragis yang harus Tengen lalui dan kesulitannya untuk keluar dari klan Uzui. Lalu sebuah fakta mencengangkan, yang akhirnya diakui oleh pemuda berambut putih itu.
Jika dirinya adalah murid dari Akechi Yoshinori. Saat mengetahui hal ini, Harada hanya bisa melihat Hideki dengan mata yang melotot. Hideki terkekeh kaku. Tengen lalu menyindir jika dirinya akhirnya telah mengetahui kenapa Hideki terus-terusan menempel dengan Harada. Pemuda berambut hitam itu berusaha untuk mengendalikan gejolak emosinya pada Tengen, hingga Hideki harus mencegah perkelahian yang tidak penting antara Harada dan Tengen.
Time Skip 6 Tahun Kemudian
Sudah banyak sekali yang terjadi dalam kurun waktu 6 tahun ini, begitu juga kekuatan dari Kisatsutai sudah mulai berkembang dari waktu ke waktu. Jumlah Hashira saat ini juga telah menjadi 11 Hashira, yang juga memiliki segudang dendam dengan para iblis tanpa terkecuali. Bahkan seorang Kyojuro Rengoku, yang menjadi Hashira untuk membuktikan diri, mulai mendendam pada para iblis seiring dengan berjalannya waktu.
Obanai yang tempo hari diselamatkan oleh Hikaru, Harada dan Shinjuro kini telah menjadi Hashira Ular. Sama halnya dengan Giyuu, yang turut mengisi posisi Hashira Air. Meskipun sebenarnya, posisi Giyuu di Kisatsutai membuat Hideki sedikit bingung. Berterima kasihlah pada sikap Giyuu yang kelewat dingin.
Posisi Kanae Kocho kini digantikan oleh adiknya, Shinobu Kocho. Hal ini disebabkan karena Kanae yang terbunuh oleh Douma, Jogen Kizuki nomor dua ketika sedang melakukan misi bersama Hikari dan dan Yue. Lalu akhirnya setelah sekian lama kosong, Kyojuro Rengoku berhasil menempati posisi Hashira Api yang sengaja ditolak oleh Hikaru tempo hari.
Lalu posisi Hashira Angin yang dua kali berganti sejak kepergian Matsuda, kini telah ada di tangan Sanemi Shinazugawa, seorang marechi dengan darah yang bagaikan alkohol untuk para iblis. Kemudian ada kabar jika Senjuro kembali berlatih untuk menjadi pemburu iblis di bawah pengawasan Shinjuro dan Hikaru.
Tidak lupa dengan kehadiran Mitsuri Kanroji, seorang gadis berambut pink dengan tubuh yang unik. Hashira Cinta itu kelewat lentur, dan tenaga serta nafsu makannya juga sangatlah besar. Lain halnya dengan Tokito Muichiro, seorang anak laki-laki misterius yang sudah bisa menempati posisi Hashira Kabut setelah dua bulan memegang pedang.
Lalu di sisi lain, Harada yang merupakan Hashira yang paling senior di antara yang lain, tidaklah terlalu banyak berubah. Harada masih setia dengan gaya berpakaiannya, bahkan haori yang digunakannya masihlah sama. Hanya rambut hitamnya yang memanjang hingga mencapai bagian bawah telinga. Poninya masih cenderung berantakan, karena bagian itulah yang paling sering terpotong ketika bertarung. Sama halnya dengan Hideki, Tengen dan Gyomei juga tidak begitu banyak berubah. Hanya tubuh mereka berdua yang semakin kekar layaknya batu besar.
Lalu selain sibuk dengan misi dan latihan keras dari Harada, Hikaru kini akan melatih Senjuro setiap kali dirinya memiliki waktu luang. Hidup terus berjalan, mati satu tumbuhlah seribu tunas. Begitulah situasi Kisatsutai saat ini. Meski banyak yang gugur, namun bibit unggul teruslah bermunculan.
Hal ini terbukti dengan keberadaan Kanao Tsuyuri dan Ryunato Ichizaki. Kanao yang merupakan Tsuguko dari Shinobu, adalah gadis yang pendiam namun sangat kuat untuk calon pemburu iblis. Begitu juga dengan Ryunato, yang diangkat menjadi Tsuguko oleh Hideki. Kedua anak itu tergolong kuat dan cepat, bahkan Ryunato sudah bisa membuat Hideki kewalahan dalam teknik berpedang.
Itulah kondisi Kisatsutai saat ini, yang juga baru diakui oleh pemerintah tiga tahun yang lalu setelah sekian lama beraksi dalam bayangan. Singkat kata, kondisi Kisatsutai kini sedang sangat prima, sekalipun sosok Ubuyashiki Kagaya kini semakin melemah karena kutukan yang ditanggung keluarganya sejak dulu.
Meskipun situasi semakin mendukung, Kagaya sama sekali tidak lengah. Pria berambut hitam itu merasa jika badai akan segera terjadi. Sehingga di siang hari ketika puncak musim panas, Kagaya memutuskan untuk memanggil Harada dan Hideki ke kediamannya. Sekalipun kedua Hashira itu baru pulih dari sebuah misi, namun misi ini bukanlah misi sembarangan yang bisa diserahkan pada orang awam.
Suara lembut seorang wanita mengatakan jika Harada dan Hideki sudah menunggu. Kagaya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Wanita itu yang merupakan istrinya, Amane, mengatakan pada Hideki dan Harada untuk segera menghadap. Kedua pria itu duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya di depan Kagaya, tidak lupa sambil menundukkan pandangannya.
"Kuharap aku tidak mengganggu kalian berdua, Harada, Hideki," ucap Kagaya dengan suara dan intonasi yang lembut. Kedua pria itu serentak menggeleng.
"Sama sekali tidak, Oyakata-sama. Kebetulan aku sudah bosan di rumah," balas Hideki. Kagaya meminta mereka berdua untuk menegakkan kepala, lalu tersenyum.
"Syukurlah, karena aku punya misi jangka panjang untuk kalian berdua."
Baik Harada dan Hideki, kedua pria itu sama-sama mengangkat sebelah alisnya karena bingung. Berbagai pertanyaan langsung berkecamuk dalam pikiran keduanya, mencoba untuk menebak-nebak misi macam apa yang membutuhkan dua orang Hashira. Di sisi lain, Kagaya sedikit terkekeh.
"Anu, maaf tapi, misi macam apa kira-kira ini?" tanya Harada.
"Ada laporan jika jumlah iblis kian bertambah di sekitar gunung Aino," balas Kagaya.
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi bagaimana dengan anggota yang dikirim kesana?"
"Mereka semua gugur, dan bekas pertarungan di sana katanya sangatlah khas, yaitu adanya bekas akar dan sabetan-sabetan rapi. Lalu terkadang ada beberapa bagian yang membeku."
Hideki dan Harada tertohok. Bekas-bekas pertarungan semacam itu telah menjelaskan keadaan di gunung Aino. Kedua mata mereka kini membulat, iris mereka perlahan juga mengecil. Kagaya tersenyum, lalu mengatakan jika misi ini tidak bisa diserahkan pada sembarang Hashira. Harada dan Hideki mengangguk pelan, lalu menyetujui jalan pikiran Kagaya.
"Untuk membuat penyamaran semakin rapi, jangan lupa untuk membawa Tsuguko kalian," timpal Kagaya.
Harada dan Hideki saling bertukar pandangan, lalu mengangguk. Kedua pria itu menyetujui misi yang diajukan langsung oleh Kagaya. Kedua pria dengan rambut yang kontras itu izin berpamitan pada Kagaya untuk bersiap-siap. Di sisi lain, Kagaya juga turut mendo'akan kedua Hashira tersebut agar kembali dengan selamat dan sukses.
Skip
Setelah Harada menjelaskan misi yang akan dijalani, perjalanan menuju gunung Aino diliputi oleh keheningan. Harada dan Hideki sibuk memikirkan langkah macam apa yang akan dilakukan nanti. Karena dari informasi yang telah didapatkan secara langsung, juga dari informasi tambahan yang dikirim melalui Kasugai, kawasan gunung Aino sedang diobrak-abrik oleh Muzan. Seolah-olah iblis berambut keriting itu sedang mencari seseorang untuk dilenyapkan, namun semua itu tidak kunjung didapatkan.
Sambil terus berlari, baik itu Hikaru, Hikari dan Ryunato kini sedang menebak-nebak tentang apa yang Muzan cari. Iblis berambut hitam itu mustahil sedang mencari sesuatu seperti halnya marechi dari klan Akechi dan Tsumori, atau keluarga yang berwawasan luas layaknya keluarga Date. Karena semua itu telah diamankan sebelumnya. Jika bukan bahaya dan parasit yang akan merepotkan Muzan, maka kali ini adalah sesuatu yang membuat iblis itu trauma.
"Onii-chan, tadi kau bilang misi ini di sekitar gunung Aino, kan?" tanya Hikari. Harada mengangguk pelan.
"Iya, apa ada yang kau ketahui Hikari?" Harada balik bertanya. Hikari tidak menjawab untuk beberapa menit.
"Sebenarnya aku tidak tahu pasti. Tapi kurasa aku tahu apa yang diincarnya."
"Kalau begitu katakanlah, Hikari. Biarkan yang lain tahu isi kepalamu."
"Onii-chan, apa kau tahu Tarian Dewa Bara Api?"
"Sama sekali tidak."
"Sebab aku pernah misi di sana ketika malam tahun baru, dan aku melihat ada pria yang sedang menari di bawah salju. Ketika aku perhatikan, gerakan tarian itu sebenarnya adalah gerakan pernapasan."
Kini giliran Hideki dan Harada yang mengerutkan dahi. Kedua pria itu mencoba untuk menghubungkan maksud dari penuturan gadis berambut oranye itu, hingga Hideki mendadak menjentikkan jarinya. Seolah sudah mengerti maksud dari penuturan Hikari tadi.
"Apa kau berinteraksi dengan mereka, Hikari-chan?" tanya Hideki. Hikari mengangguk.
"Iya, nama keluarga mereka adalah Kamado," balas Hikari.
Hideki menghentikan langkah kakinya secara mendadak. Akechi bersaudara dan Ryunato turut menghentikan laju larinya juga, menunggu jawaban dari Hideki yang saat ini terlihat jelas sangat terkejut dengan jawaban dari Hikari.
"Tujuan Muzan saat ini adalah untuk melenyapkan Pernapasan Matahari," tukas Hideki. Di antara yang lain, hanya Ryunato yang terlihat bingung.
"Maafkan aku Hideki-san, tapi apa istimewanya Pernapasan Matahari?" tanya Ryunato.
"Itu adalah pernapasan yang kekuatannya setara dengan Pernapasan Neraka."
Harada menghela napas. Pria berambut hitam itu baru saja mengingat hal ini dari cerita ayahnya tempo hari, jika Pernapasan Neraka memiliki rivalnya sendiri, yaitu Pernapasan Matahari. Hikari dan Hikaru hanya bisa mengangguk-angguk, setidaknya merasa paham dengan situasi mendesak ini. Apapun resikonya, dirinya harus mencegah Muzan untuk melenyapkan Pernapasan Matahari tanpa membuat dirinya dimakan oleh Muzan.
__ADS_1