Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Melabrak Mentari


__ADS_3

Mimpi


Dahi lebar Harada berkerut, dan perlahan kedua kelopak matanya menampilkan sepasang manik berwarna hijau rumput yang terlihat sendu. Ketika kedua irisnya bergulir ke kanan dan ke kiri, dirinya cukup bingung dengan beberapa hal.


Pertama, alih-alih berada di atas kasur ataupun di dalam peti mati, kini pemuda bertubuh tinggi itu berada di atas tanah. Manik sewarna zamrudnya itu dapat melihat langit biru dengan awan putih yang berarak dengan perlahan di atas. Bahkan setiap jengkal kulitnya bisa merasakan embusan angin yang sangat lembut membelai tubuhnya. Harada sempat memejamkan matanya untuk menikmati embusan angin itu.


Ketika menoleh ke kanan dan ke kiri, Harada bisa melihat jika dirinya kini sedang tertidur di atas rerumputan yang warnanya menyaingi kedua matanya. Harada memutuskan untuk bergelum di antara rerumputan yang sangat hijau ini. Pemuda itu memiringkan tubuhnya ke kanan, dan menghirup aroma rumput segar yang memenuhi paru-parunya.


Hidungnya sempat tergelak ketika menyadari seseorang datang menghampirinya. Dengan cepat Harada bangun dari posisinya dan segera duduk. Kedua manik hijau rumputnya sempat membulat ketika dirinya hanya memakai jinbei putih polos saat ini. Apa dia sebenarnya sudah pindah alam? Tidak ada yang tahu, tapi Harada berpikir jika dirinya belumlah pindah alam saat ini, dan hanya sedang dalam situasi di antara hidup dan mati.


Dari kejauhan, manik hijau rumputnya bisa melihat tiga orang sekaligus, dengan latar belakang sebuah pantai pasir putih dan lautan yang berwarna biru muda, yang sekilas terlihat nyaris transparan. Mereka semua berambut panjang dan dikuncir. Mereka juga memakai hakama hitam, namun dengan kimono dan haori yang berbeda-beda.


Salah satu dari mereka tidak memakai haori, dan memperlihatkan kimono berwarna hitam bermotif geometris dengan warna ungu. Sementara sisanya memakai haori berwarna merah tua dan juga pengguna haori biru tua dengan beberapa motif bangau di berbagai tempat.


"Sudah kubilang, kan kalau kalian tidak usah ikut!"


"Diamlah, dasar kau tiang pancang!"


Kalimat terakhir diucapkan oleh pria berambut hitam dan dikuncir. Pria itu dengan santai menjitak kepala rekannya, sementara Harada dan pria berhaori merah tua hanya memandang hal itu dengan ekspresi kebingungan. Padahal jauh di dalam hatinya, Harada sudah curiga pria berhaori biru tua itu merupakan orang penting.


"Maaf mengganggu pertengkaran kalian, tapi kalian siapa?" tanya Harada dengan polosnya. Posisi duduknya kini sudah bersila dengan tegak. Pria berhaori merah di sana tergelak.


Baik pria dengan kimono hitam ataupun pria berhaori biru, mereka berdua memandangi Harada untuk sesaat dan kembali saling menyalahkan. Pria berhaori merah tua, yang juga memiliki tanda api di wajahnya, mengehela napas panjang ketika melihat tingkah dua orang yang ikut dengannya ini.


"Kimono hitam itu kakak kembarku, Tsugikuni Michikatsu. Lalu yang haori biru tua itu Akechi Sojuro, pencipta Pernapasan Neraka. Lalu aku Tsugikuni Yoriichi, pencipta Pernapasan Matahari."


Pria berambut merah tua itu memperkenalkan semua yang ikut dengannya secara runtut. Sementara di sisi lain, Harada saat ini sangat terkejut. Karena di dalam pikirannya, jika pemuda berambut hitam itu sudah bertemu leluhurnya, itu berarti dia tewas. Terutama jika sudah bertemu dengan Akechi Sojuro.


"Apa aku tewas gara-gara kehilangan banyak darah?" tanya Harada kikuk. Sojuro dan Michikatsu menghentikan perdebatan mereka, lalu mendekati Harada. Setidaknya sejajar dengan Yoriichi.


"Maaf tentang itu, karena aku juga menyesal dengan pilihan bodohku itu. Lalu kau belum tewas," balas Michikatsu.


"Makannya aku menyebutmu buta, baka Michi!"


"Kau mau cari mati ya, Akechi Sojuro?"


"Kalian berdua diamlah!"


Yoriichi menyerukan kalimat terakhir itu dengan lantang. Baik Sojuro atau Michikatsu, keduanya kini terlihat duduk bersila dengan tenang di hadapan Harada. Yoriichi menghela napas panjang, seolah meratapi nasibnya yang menjadi paling waras di antara mereka bertiga.


Sementara di sisi lain, Harada terkekeh kaku dengan sedikit keringat dingin yang meluncur di dahinya. Antara kagum dengan kehadiran para leluhur, dan juga tidak habis pikir dengan polah tingkah leluhurnya sendiri. Tapi mungkinkah ini jadi alasan kenapa ayahnya bisa sangat santai? Karena di matanya, Akechi Sojuro benar-benar seorang pria tua yang santai.


Yoriichi lalu mengatakan jika kedatangannya ini adalah untuk mengurangi efek samping dari berbagai kejadian. Sebelah alis Harada mencuat. Pemuda berambut hitam itu bingung dan merasa tertarik dengan topik yang akan dibahas Yoriichi.

__ADS_1


"Instingmu selalu mengatakan agar dirimu bisa melindungi seseorang, apa aku benar?" tanya Yoriichi. Harada mengangguk.


"Sejak dulu, dan sejak kejadian itu," balas Harada. Sepasang manik zamrudnya bisa melihat Yoriichi yang menatap kakak kembarnya dengan sangat tajam.


"Ayolah akukan sudah minta maaf," ujar Michikatsu. Yoriichi menghela napas panjang.


"Jadi alasanku menarikmu kemari adalah, karena kau butuh tenaga lebih untuk melawan Muzan."


"Kau sudah menguasai teknik lanjutan dari teknik kesepuluh, berarti kaulah yang terpilih dari klan Akechi. Bahkan aku tidak bisa melakukan itu, Harada-kun."


Harada hanya bisa tersenyum canggung. Michikatsu juga terlihat yang paling canggung di sana, karena tubuhnya kini dikuasai oleh sosok yang lahir dari keputusannya untuk menjadi iblis. Sojuro kini memutuskan untuk duduk di samping kiri Harada, lalu menggenggam tangan kiri pemuda bertubuh tinggi tegap itu.


Di sisi lain, Harada saat ini tengah membulatkan kedua matanya. Karena saat ini, Sojuro sebenarnya tengah menyalurkan banyak energi kepadanya. Yoriichi melemparkan sebuah apel pada Harada. Dengan sigap pemuda itu menangkapnya. Pria berhaori merah tua itu lalu mengatakan agar Harada menyantap apel itu.


"Tenanglah, itu tidak beracun," ucap Yoriichi. Harada mengangguk.


Pemuda berambut hitam itu menyantap apelnya dengan ragu-ragu. Ketika pemuda bermanik sewarna zamrud itu merasa jika apel ini tidak bermasalah, Harada bisa merasakan kekuatan yang mengalir dalam dirinya. Harada menatap Yoriichi untuk sesaat. Pria berambut merah tua itu menjelaskan jika dirinya memberikan vitalitas yang dimilikinya pada Harada.


Pemuda berambut hitam itu membelalakkan matanya, merasa terkejut dan juga tidak percaya dengan semua kegilaan ini. Michikatsu menambahkan jika apel itu juga mengandung vitalitasnya ketika masih menjadi manusia. Harada mengangguk pelan, lalu berusaha menghabiskan apel itu sendirian.


Padahal sebetulnya, Harada kurang menyukai apel. Tapi menunjukkan hal itu pada orang sekelas Yoriichi bisa menghancurkan harga dirinya. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari apel pemberian Yoriichi. Namun setelah 15 menit menunggu, Harada merasakan jika sesuatu mengalir dengan deras di sekujur tubuhnya.


Ketika manik sewarna zamrud Harada bertemu dengan mata Yoriichi, pria berhaori merah itu tersenyum sangat tipis. Seolah-olah puas dengan reaksi Harada yang kelewat tenang. Pria berambut merah itu menghampiri Harada dan duduk di samping kanannya. Selama beberapa saat Yoriichi memandangi Harada lekat-lekat, seolah enggan mengabaikan satupun reaksi.


"Apa kau menahan reaksimu, Harada?" tanya Yoriichi. Harada menggeleng.


Yoriichi tersenyum tipis. Keputusannya untuk ikut dengan Sojuro tidaklah sia-sia. Karena saat ini, Yoriichi benar-benar menyukai ketenangan yang Harada miliki. Kedua matanya mendapati Yoriichi melakukan beberapa isyarat tangan yang cukup rumit. Namun setelah pria berambut merah itu selesai, Harada langsung membelalak kaget. Karena dirinya telah kehilangan pijakannya, serta jatuh ke dalam lubang penuh cahaya yang menyilaukan.


Mimpi End


Sekalipun dirinya tidak bisa melihat, namun Gyomei setidaknya tahu jika Harada masih belum bangun juga. Padahal ini sudah hari ketujuh sejak pertempuran dengan Muzan dan Kokushibou, dan semua fakta ini membuat pemuda berambut hitam spiky itu meneteskan air mata. Yue yang melihat itu secara tidak sengaja memegang bahu kanan Gyomei dari belakang.


Pemuda bertubuh besar itu menoleh ke belakang, lalu tersenyum lembut. Gyomei balas mengusap punggung tangan Yue untuk sesaat, sebelum gadis itu melanjutkan pekerjaannya yang sangat menumpuk.


Selain diberi misi untuk berburu iblis, kakak beradik Tsumori itu juga haruslah mengurusi mansion kupu-kupu dan merawat anggota yang terluka. Hal ini dimulai sejak Kagami Kochou menghilang secara misterius, dan membuat dirinya dan adiknya harus memimpin di sini untuk sementara. Karena selain teknik kendali pikiran, anggota klan Tsumori juga terkenal sebagai para penyembuh yang berbakat.


Sebelah alis hitam Gyomei terangkat. Bermodalkan pandangan tembus pandangnya, pemuda bertubuh tinggi besar itu tahu kalau orang di dekatnya ini akan segera bangun. Untuk sesaat Gyomei keluar ruangan, berniat untuk mencari salah satu dari dua kakak beradik itu. Ketika dirinya mendapati hawa keberadaan Ui, Gyomei segera mengatakan jika Harada akan bangun sebentar lagi. Ui terlihat gembira dan segera menuju ruangan tempat Harada terbaring.


Ketika mereka berdua sampai di ruangan, Ui mendapati Harada sedang tersenyum padanya dan Gyomei. Ui dengan sigap memeriksa Harada. Sementara yang bersangkutan kini tersenyum samar, berusaha untuk tetap bersikap ramah.


"Hara-nii, tolong jangan memaksakan dirimu," kata Ui. Harada mengangguk pelan.


"Istirahatlah, Harada-san. Kuharap para dewa selalu melindungimu," kata Gyomei singkat.

__ADS_1


Harada kembali mengangguk pelan. Tubuhnya tidak mau bekerja sama dengan instingnya saat ini, membuat pemuda berambut hitam itu secara perlahan kembali tertidur. Gyomei yang menyadari situasi Harada kembali stabil tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Harada dengan lembut. Keberadaannya membuat Gyomei teringat anak-anak yang tempo hari dia rawat seorang diri di kuil. Setidaknya dengan bergabung dengan kisatsutai, Gyomei kembali merasa lengkap setelah dihantam beberapa cobaan yang berat tanpa ampun.


Dua Minggu Kemudian


Baik Ui ataupun Yue sebenarnya terpana dengan pemulihan Harada yang tergolong sangat cepat. Karena dalam waktu 12 hari, Harada sudah bisa kembali ke kediamannya. Dihari ketujuh Kagaya menjenguknya, dan mengatakan agar Harada mengambil cutinya yang menumpuk.


Jika ditotal, setidaknya Harada telah memiliki jatah cuti sebanyak 3 bulan. Namun karena saat itu hanya ada dirinya dan Kagaya, Harada menegaskan jika dirinya hanya akan mengambil cuti selama seminggu. Kagaya hanya bisa menghela napas pelan, karena pemuda berambut hitam itu tahu apa yang ada di pikiran Harada.


Pemuda beriris hijau rumput itu tidak ingin membiarkan orang-orang merasakan kesedihan yang dikarenakan oleh iblis, dan pola pikir Harada hanya diketahui oleh Kagaya seorang. Meski terkesan terlalu klise, tapi itulah kenyataannya. Berterima kasihlah pada para uppermoon dan Muzan yang telah merusak klan Akechi beberapa tahun lalu, sehingga Harada saat ini kelewat protektif.


Kini di hari yang cukup cerah ini, Harada akhirnya bisa melaksanakan apa yang sangat ingin dilakukannya. Pemuda beriris hijau rumput itu juga mengajak Hikaru untuk ikut. Hikari sempat keheranan, namun gadis berambut oranye itu akhirnya paham dengan apa yang akan dilakukan kedua kakaknya.


Hikaru dan Harada pamit pada Hikari, dan bergegas menuju ke tempat tujuan, yaitu Kediaman Rengoku. Hikaru juga kebetulan sedang libur saat ini, sehingga keduanya sama-sama memakai kimono dan hakama saat ini. Tidak seperti biasanya juga, Harada saat ini kembali memakai sandal zori karena merasa hari liburnya akan jauh lebih santai.


Setidaknya butuh setengah jam perjalanan dengan berjalan santai. Harada langsung menutup hidungnya ketika mencium bau sake. Di sisi lain, Hikaru terlihat keheranan. Ini adalah kali pertama pemuda bermanik cokelat madu itu melihat lelaki yang sudah cukup umur dan benci dengan bau sake.


Keduanya memasuki gerbang. Namun baru beberapa langkah, sebuah botol sake melayang di depan wajah Harada dengan sangat cepat. Pemuda bertubuh tinggi tegap itu menangkapnya, lalu menatap nyalang ke depan. Tepat di depannya, Shinjuro sedang duduk di teras. Ekspresinya terlihat terkejut. Tapi di sisi lain, Harada masih bisa merasakan aura acuh tak acuh yang sangat tidak dikenalinya. Shinjuro Rengoku yang Harada kenal bukanlah pria yang bertransformasi menjadi beban seperti ini.


Harada mengatakan agar Hikaru menjaga Kyojuro dan Senjuro. Sementara pemuda yang masih cukup pucat itu menghampiri Shinjuro, lalu duduk di sampingnya. Meskipun amarah Harada saat ini sedang memuncak, namun pemuda berambut hitam itu memutuskan untuk mengendalikannya. Lagipula Shinjuro tidak akan mempan jika ditangani dengan kekerasan, dan Harada paham hal ini dengan sangat baik.


"Kau meredup, Shin Ji-chan," ujar Harada. Shinjuro tergelak.


"Lalu apa yang kau mau dariku, Harada? Apa kau mau mengejekku?" tanya Shinjuro. Harada menggeleng pelan.


"Amaterasu tidak akan hadir jika tidak ada api. Api juga tidak akan hadir tanpa adanya amaterasu. Shin Ji-chan, jangan malu untuk menunjukkan kesedihanmu. Entah itu pada Kyojuro ataupun Senjuro, aku yakin mereka pasti paham. Lagipula, kenapa matahariku, matahari Hikaru, matahari Kyojuro dan matahari Senjuro bisa seredup ini? Apa awannya yang terlalu tebal, atau jangan-jangan matahari kami semua yang sudah terlalu lama bersedih?"


Shinjuro tidak berkutik sama sekali. Amarahnya yang mencuat karena kedatangan Harada langsung padam. Pria berambut layaknya api itu membulatkan kedua matanya yang sewarna dengan madu. Sementara bibir bawahnya kini bergetar hebat, dan perlahan namun pasti, bulir-bulir air mata kesedihan kembali membasahi pipi Shinjuro setelah sekian lama.


Harada refleks memeluk Shinjuro, lalu menepuk-nepuk punggung pria bersurai api itu. Shinjuro menangis dengan keras di dalam pelukan Harada. Penciumannya bisa menangkap jika Hikaru, Kyojuro dan Senjuro kini sedang mengintip di balik fusuma yang sedikit terbuka.


"Maafkan aku karena baru mengunjungimu, Ji-chan. Tapi kau tahu kondisi kisatsutai sekarang. Bahkan sebelum kepergianmu, orang yang mengisi posisi pilar hanya aku dan Kagami-san selain dirimu," tutur Harada.


Pemuda berambut hitam itu bisa merasakan jika Shinjuro menggeleng di dalam pelukannya. Pria itu juga mengatakan jika misi lebih penting daripada dirinya. Shinjuro melepaskan diri dari pelukan pemuda berambut hitam itu. Harada tersenyum lembut, dan tatapannya juga kini sangatlah sayu.


"Tolong jaga anak-anakmu dengan baik. Bahkan Hikaru menolak posisi Hashira Api hanya karenamu, ji-chan," tutur Harada.


"Sungguh?" tanya Shinjuro. Harada mengangguk.


"Dia berpikir hanya Kyojuro yang layak untuk posisi itu."


Shinjuro kembali termenung. Beberapa kali dirinya menatap Harada dan pemandangan di depannya secara bergantian. Namun cara Harada memperlakukannya, semua ini benar-benar mengingatkannya pada Matsuda tempo hari.


"Ketenanganmu itu sangat khas, huh," tukas Shinjuro. Harada menoleh padanya dengan wajah sedikit bingung.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Shin Ji-chan?" tanya Harada dengan nada polos. Shinjuro menggeleng.


"Kau dan ayahmu benar-benar sama. Baik itu ketika melindungi seseorang, ataupun menghibur seseorang, semua sama."


__ADS_2