Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Hajime! Pertarungan Besar Dimulai!


__ADS_3

Kediaman Hashira Batu


Jika Harada menghitungnya, hari ini adalah hari ketujuh sejak Kara membawa pesan dari pertempuran di Kumamoto. Saat ini juga seharusnya Hideki dan Kyojuro sudah berlatih bersama Sanemi, tidak peduli dengan masa pemulihan atau semacamnya. Namun karena keinginan keras mereka berdua juga kini Gyomei malah terharu. Harada yang melihat itu dengan ekor matanya hanya bisa menggelengkan kepala. Sementara di sisi lain Tengen tidak ingin banyak berbicara tentang hal ini dan fokus menyelesaikan sarapannya.


Harada dan Tengen memang sudah turun dari Gunung Sagiri, namun Harada masih harus menyelesaikan tahapan Latihan Hashira ini sementara Tengen langsung menuju kemari bersama ketiga istrinya. Sehingga di pagi hari yang berawan ini, ketiga pria berbadan besar tersebut terlihat menghabiskan sarapannya sambil mengelilingi panci berisi sayuran yang mendidih, lengkap dengan topik obrolan yang bisa dibilang sangat berat karena menyangkut nyawa seseorang.


"Harada, apa kau yakin?" tanya Tengen. Harada mengangguk.


"Aku sudah mengatakan ini sebelumnya pada Oyakata-sama, dan dia juga menyetujuinya," balas Harada singkat.


Sebelum Tengen kembali bertanya, Harada mengeluarkan tumpukan kertas mantra yang menyerupai mata dari kantung seragamnya. Setelah menyimpan tumpukan kertas itu dan mengambilnya satu lembar, pria bermanik hijau rumput tersebut lalu menempelkannya ke dahi.


Seketika itu juga Harada menghilang dari hadapan Tengen dan membuat manik merah marunnya membelalak. Harada melepas kertas mantra tersebut dari dahinya dan kembali muncul di depan Tengen. Kini giliran Gyomei yang bertanya tentang status Hikari, karena seingatnya eksistensi Hikari juga sama vitalnya dengan Tanjiro.


"Aku juga akan menyembunyikannya. Hanya Hikaru yang akan masuk ke pertempuran," tutur Harada dengan suara rendah. Gyomei mengangguk.


Harada berdiri dan membuka jendela, membiarkan udara pagi yang dingin membelai wajah lelahnya. Dari sini pria bermanik hijau rumput itu bisa mencium berbagai jenis aroma yang membuatnya tersenyum tipis.


Namun ketika ada satu aroma asing masuk ke hidungnya, Harada dengan cepat mengambil empat kunai di kantung paha kanannya dan melemparnya sekaligus ke semak-semak, lalu melompat dari jendela dan memeriksa semak-semak. Baik Tengen dan Gyomei mendekati jendela, lalu sedikit tertegun ketika Harada mengangkat empat buah bola mata tinggi-tinggi.


"Oi, yang benar saja?" tukas Tengen. Harada mengangkat kedua bahu. Tengen mencebik dan ikut melompat keluar.


"Kau mau membantuku?" tanya Harada. Tengen mengangguk.


"Mau tidak mau. Mustahil aku malah merepotkan tuan rumah. Lagipula yang seperti ini memang pekerjaanku dulu."


"Oho, biasanya ada sesuatu yang teriris jika seperti ini."


"Diamlah!"


"Iya-iya, tutup mulutmu! Aku akan fokus mencari!"

__ADS_1


Meskipun langit sudah diwarnai oleh semburat oranye yang pekat, namun banyak pemburu iblis yang masih berusaha untuk menuntaskan latihan yang diberikan oleh Gyomei. Terutama untuk latihan mendorong batu besar, bisa dikatakan banyak sekali yang kewalahan. Bahkan setelah beberapa waktu berlalu, Gyomei yang dibantu oleh Harada hanya menemukan dua orang yang berhasil menuntaskan latihan tersebut, yaitu Nezuko dan Inosuke.



Sejujurnya hal ini sedikit membuat Harada sakit hati, tetapi situasi sangat tidak mendukung bagi para Pemburu Iblis, sehingga banyak yang bersumpah akan mengorbankan nyawa untuk mengalahkan Muzan. Kini saat Gyomei memutuskan untuk menghampiri Nezuko, Harada memutuskan untuk masuk ke hutan lebih jauh. Karena dari sini saja sebenarnya pria beriris hijau rumput itu sudah mendengar dentingan nichirin yang saling beradu.



Setelah menjauhi kerumunan dan sedikit lebih masuk lagi ke hutan, Hashira Badai tersebut bisa dikatakan terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Banyak ranting dan dahan pohon yang jatuh, bahkan ada beberapa pohon yang sudah tumbang.



Harada memutuskan untuk terus memasuki hutan, hingga pada akhirnya pria bertubuh tinggi tegap itu mendapati Hideki dan Ryunato yang sedang latih tanding dengan memakai nichirin. Tapi jika sedikit diselidiki, sepertinya Hideki sudah sangat berambisi agar Ryunato bisa mengikuti kemampuan dasarnya, sebab kondisi Ryunato kini sudah terengah-engah dengan beberapa luka sayat di wajah.



"Oi baka! Perhatikan juga kondisi Ryunato!" seru Harada sambil melangkah ke depan Ryunato. Hideki tampak tidak bergeming.


"Kalian berdua bersihkan diri kalian. Angin sore ini membuatku mual."



Hideki terlihat sedikit tersentak, namun pada akhirnya pria berambut putih itu menyarungkan nichirinnya. Ryunato yang melihat reaksi gurunya tampak bertanya-tanya, meskipun akhirnya dirinya juga ikut menyarungkan nichirinnya. Hanya jarak sepersekian detik dari itu, Harada mendekati semak-semak dengan cepat dan mengambil benda yang membuat pergerakan dengan tangannya sambil menunjukkan hasil tangkapannya pada Ryunato dan Hideki. Kedua pengguna Pernapasan Es itu membelalakkan matanya saat melihat dua bola mata yang bertuliskan Jogen no Yon pada iris matanya.



"Tengen dan istri-istrinya sudah ada di dekat Kediaman Oyakata-sama. Kalian berdua cepatlah menyusul nanti," tutur Harada dengan nada dingin sambil berjalan menjauhi Hideki dan Ryunato.


"Chotto, kenapa kau begitu yakin hal ini akan terjadi malam ini?" tanya Hideki. Harada menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan ekor matanya.


"Aku sudah tiga kali menemukan bola mata itu hari ini. Selain itu, aku percaya dengan intuisinya Oyakata-sama."

__ADS_1



Harada berlari kencang setelah mengatakan kalimatnya tadi. Hideki mencebik kesal sambil mengepalkan kedua tangannya, mencoba untuk mengatur emosinya yang tiba-tiba bergejolak. Ryunato tanpa ragu menanyakan keadaan Hideki. Tetapi pria berambut putih itu berlalu melewati Tsugukonya sambil mengatakan agar pemuda berambut cokelat muda itu bersiap dan jangan jauh-jauh darinya. Ryunato mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Hideki dari belakang.


Meskipun malam ini nampak sangat damai dengan bulan purnama yang menggantung di antara awan yang berarak, namun ada kengerian yang tidak terbantahkan oleh sebagian orang, khususnya untuk para Pemburu Iblis dengan kemampuan yang diperhitungkan. Seperti halnya dengan apa yang dirasakan oleh Harada, Hikaru serta Kyojuro yang berlari menembus hutan dengan kecepatan penuh.


Sementara itu di depan mereka kini ada tiga gagak yang juga terbang dengan sangat cepat untuk membimbing ketiga pemiliknya untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu Kediaman Ubuyashiki. Karena jika sesuai rencana, harusnya Muzan sudah sampai di sana sekarang, dan Nijimaru sudah mulai berkeliaran di udara. Namun kedatangan Muzan sepertinya sedikit terlambat, mengingat Harada baru saja merasakan aroma samar dari Muzan di udara.


"Hikaru, pastikan Shinoa tetap bisa terhubung dengan Kugo. Cukup Kaname dan Kara yang menuntun kita kesana," tutur Harada.


"Wakatta nii-chan. Aku akan memintanya mundur," balas Hikaru. Pemuda bermanik cokelat madu itu mengeluarkan cermin dari kantung dada seragamnya dan memberi isyarat pada Shinoa, Kasugai miliknya. Sementara itu Kyojuro tampak kagum.


Hikaru tersenyum kecil dan memutuskan untuk fokus berlari. Harada tampak mempercepat laju kedua kakinya seiring dengan terdengarnya sebuah ledakan dari arah kediaman Ubuyashiki. Kyojuro berseru pada Harada dan ikut menggunakan pernapasan penuh, sama halnya dengan Hikaru yang tidak mau ketinggalan momen untuk sama-sama memenggal Muzan.


Sehingga setelah 15 menit berlari dengan Pernapasan Konsentrasi Penuh, Harada sampai di Kediaman Ubuyashiki bersamaan dengan Gyomei. Situasi di depannya bisa dikatakan sangat berantakan setelah ledakan yang memporak-porandakan Kediaman Ubuyashiki.


Karena selain ledakan yang mengagetkan semuanya, baik Kagaya dan Tengen telah memasang jebakan yang berguna untuk memperlambat regenerasi Muzan secara brutal. Selagi Gyomei bersiap untuk menyerang Muzan dengan bola besinya, Harada dengan segera memasang kuda-kuda serangan yang hanya baru diperlihatkan pada Hikaru dan Hideki.


"Kori Jaryu, Arashi no Kokyu, Yon no Kata:Raiden!"


Di antara serangan bola besi milik Gyomei dan Tamayo yang kepalanya dicengkeram oleh Muzan, Harada bergerak cepat dan menebas tubuh Muzan dengan sangat cepat. Namun ketika manik hijau rumputnya saling menatap dengan iris mata Muzan yang merah menyala, sebelum iblis necis itu menyerang dahi lebarnya, Harada melompat mundur dengan segera bersama dengan munculnya banyak rantai berduri, dan hal ini memaksa Harada untuk kembali memakai Raiden untuk memantulkan banyak rantai yang mengincarnya serta mundur beberapa meter.


Di saat itulah para Hashira dan Pemburu Iblis lainnya sampai di Kediaman Ubuyashiki, selagi Nijimaru, Tengen beserta ketiga istrinya bergerak menjauh dari balik bayang-bayang. Harada dan Gyomei bersama-sama berseru jika pria di hadapan mereka kini adalah Muzan. Nezuko bahkan menyerukan nama Muzan dengan penuh amarah.


Detik berikutnya, dengan mengincar seluruh tubuh Muzan, para Hashira dan Pemburu Iblis dengan kemampuan yang diperhitungkan seperti Nezuko, Zenitsu, Inosuke, Hikaru dan Ryunato bersiap melancarkan serangannya masing-masing. Tapi ketika tidak ada satupun serangan yang mengenai Muzan, ada banyak Pintu Shoji yang terbuka, sehingga membuat orang-orang di sana jatuh ke dalam pintu tersebut.


"Dasar ceroboh! Kalian pikir kalian bisa menyudutkanku hah? Akan kukirim kalian semua ke Neraka saat ini juga!" Muzan mencoba menggertak semuanya, namun tidak ada yang terpengaruh.


"Kaulah yang akan ke Neraka, Muzan! Aku tidak akan membiarkanmu lolos setelah segala hal yang kau perbuat!" seru Nezuko.


"Aku dan Harada pasti menyeretmu ke Neraka! Kami pasti akan balas dendam malam ini!" seru Hideki.

__ADS_1


__ADS_2