
Sambil duduk bersimpuh di hadapan Kagaya dan Amane, Hideki sebenarnya tidak bisa memulai kalimat pertamanya yang telah disiapkan sejak masih di perjalanan. Pria berambut putih itu kini hanya duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya, selagi kedua tangannya mengepal dan gemetar di atas kedua lututnya.
Amane yang melihat respon Hideki merasa sedikit bingung. Berbagai pertanyaan berkeliaran di dalam benaknya, dan berkali-kali nyaris terucap begitu saja oleh lidahnya. Tetapi saat manik merah marunnya memperhatikan suaminya yang menepuk-nepuk punggung Hideki, Amane merasa jika pertanyaannya sudahlah tidak begitu berguna.
"Hideki, apa boleh aku mengetahui masalah apa yang mengganggumu?" tanya Kagaya setelah menegakkan kepala pria berambut putih itu. Hideki kembali mengusap wajahnya.
"Oyakata-sama, apakah Anda ingat tentang pembantaian Klan Date?" Hideki malah bertanya balik. Namun karena memang mengetahuinya, Kagaya hanya mengangguk pelan.
"Apa ada hubungannya dengan rasa kalutmu?"
Hideki mengangguk, lalu menceritakan semuanya dari awal, bahkan Hideki mengungkapkan jika dirinya adalah anak bungsu, lalu salah satu iblis yang berada di Tazawa adalah salah satu kakak perempuannya. Amane yang terkejut menutup mulutnya dengan tangan kanan, selagi Kagaya kini malah menatap Hideki dengan tatapan yang rumit, seolah ingin meringankan beban namun juga merasa segan di saat yang sama karena mengganggu privasi.
Pada akhirnya Kagaya kembali memeluk Hideki, dan pria berambut putih itu malah terisak pelan karena emosinya perlahan mulai keluar. Kagaya hanya bisa menepuk-nepuk punggung pria bersurai salju itu sampai Hideki perlahan menjauhkan dirinya dan berusaha mengatur emosinya.
"Maafkan aku, Oyakata-sama," tutur Hideki pelan.
"Bukan masalah besar, Hideki. Tapi jika memang kenyataannya begitu, kupikir kau perlu mempersiapkan diri. Karena kalian memang terlahir jenius, jadi kau juga membutuhkan mentor yang kompeten," balas Kagaya. Hideki mengangguk pelan.
"Maafkan aku sebelumnya, namun dalam situasi ini, hanya beberapa nama yang muncul dalam kepalaku."
"Datanglah pada orang yang memang memahamimu seutuhnya, Hideki. Seperti Harada mungkin? Karena aku tidak bisa jamin kau cocok dengan Sanemi ataupun Gyomei."
Hideki terkesiap dan nyaris terkekeh kaku, merasa sedikit bingung dengan kepribadian Kagaya yang mendadak cukup ahli melawak sejak mendapatkan perawatan dari Tamayo. Meskipun pada akhirnya hanya seutas senyuman yang mengembang di wajahnya, tetapi respon ini sudah lebih dari cukup bagi Kagaya dan Hideki.
Dengan kepala yang sedikit menengadah, Harada mengisi paru-parunya dengan udara pagi di musim semi yang menyegarkan. Burung-burung terdengar mulai sibuk untuk mencari makan, dan juga sedikit mengisi keheningan di telinga pria berambut hitam itu. Semalam hujan memang sempat turun, dan menjadikan suhu di Kediaman Kupu-kupu cukup rendah.
Tapi setidaknya, sambil memandangi beberapa genangan air di halaman, Harada yang masih memakai seragam pasien hanya bisa duduk di engawa selagi para kakushi membersihkan genangan air tersebut. Selain karena para kakushi yang akan gelagapan jika Harada membantu, tapi perut dan tangannya masih terasa cukup sakit.
Angin berhembus dengan lembut, seolah membelai wajah Harada yang masih sedikit pucat. Hembusan lembut ini sebenarnya membuat pria bermanik hijau rumput tersebut sedikit terperanjat. Karena selain membawa aroma hujan yang menenangkan, angin ini juga turut membawa aroma sahabatnya yang sedang kelelahan dan bingung.
Harada melirik ke kiri dengan ekor matanya. Telinganya juga mulai menyadari langkah kaki sahabatnya, Hideki, mendekatinya. Namun semakin dekat pria berambut putih itu, tidak hanya aroma kelelahan dan kebingungan yang muncul.
Namun amarah, serta kesedihannya jauh lebih kentara dari kebingungan yang melandanya. Harada menepuk-nepuk tempat di samping kirinya, meminta Hideki untuk duduk di sana. Pria bermanik biru muda itu hanya bisa duduk di sana, lalu menggigit bibir bawahnya. Hingga secara tidak sengaja darah muncul dari bibir bawahnya. Sementara di sisi lain, Harada yang masih melirik Hideki dengan ekor matanya, akhirnya kembali menatap ke depan.
"Ya ampun, bahkan aku tidak sekacau ini saat menghadapi Kokushibo," celetuk Harada enteng. Hideki meringis, dan gigi belakangnya saling bergesekan.
"Aku punya satu permintaan untukmu, aibou," tukas Hideki. Harada menoleh ke kiri, dan langsung terkejut saat melihat Hideki melakukan senrei.
"O-oi Hideki, angkat kepalamu!"
"Harada, kumohon latihlah aku lagi seperti dulu! Bahkan setelah sekian banyak iblis yang kutebas, ujung-ujungnya aku masih merasa kurang. Terutama untuk misiku yang terakhir!"
__ADS_1
"Oi, baka! Apa yang sebenarnya terjadi huh? Kenapa kau tiba-tiba begini?"
"Muzan. Dia menghancurkan harga diriku. Dia mengubah seisi klanku menjadi iblis. Lalu pada misi sebelumnya, aku harus berhadapan dengan kakak kandungku."
Harada mengangkat dagu Hideki, lalu bertanya tentang iblis yang pria berambut putih itu hadapi. Hideki memang tahu jika sahabatnya ini paham betul tentang Klan Date, khususnya keluarga kecilnya. Hingga akhirnya, Hideki yang merupakan anak terakhir dari lima bersaudara, mengatakan kronologisnya.
Jika yang ditemuinya adalah kakak pertamanya, Kairi Date. Hideki juga mengulangi kalimat terakhir kakak perempuannya pada Harada. Pria berambut hitam tersebut, yang memang sangat teliti dengan kata-kata, bisa menangkap situasi yang sedang melanda sahabat baiknya ini. Bahkan pria dengan tinggi hampir dua meter itu bisa membaca kemungkinan ingatan dari sisi manusia milik Kairi.
Harada mengangguk pelan, lalu menanyakan apa pria berkulit pucat itu sudah melaporkan semua masalah ini pada Kagaya atau belum. Hideki lalu mengatakan jika Kagaya sudah mengetahui hal ini. Pria berbahu sempit itu jugalah yang meminta Hideki untuk merundingkan masalah ini dengan Harada. Selain sebagai Hashira terkuat, juga sebagai seseorang yang memahami Klan Date dengan baik. Di sisi lain, Harada hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil memegang pelipisnya.
"Benar-benar ya, bocah itu..." gumam Harada pelan. Hideki terkesiap dengan ucapan Harada yang keluar dengan begitu mulus.
"Jadi, apa kau setuju?" tanya Hideki. Harada menggigit sedikit bibir bawahnya, cukup kebingungan untuk menjawab.
"Jika kau ingin aku mengajarkan semuanya, maka latihan ini akan 100 kali lipat lebih merepotkan dari Arashi Enkei."
"Tidak masalah! Hal yang terpenting adalah, aku tidak ingin jika anggota klanku sampai membunuh teman-temanku."
"Ya ampun pesimis sekali. Kau tidak sendiri, baka! Lagipula Kisatsutai berisi orang-orang kuat. Jangan menyimpan terlalu banyak beban di pundakmu itu. Tapi pastinya, kau harus menungguku pulih dulu sih."
Kuil Enryakuji, Yokawa, Gunung Hiei
Sepanjang karirnya sebagai pemburu iblis, hanya ada satu hal yang paling Hikaru benci, yaitu pertarungan di pegunungan. Belum lagi jika dirinya terpaksa bertarung di dekat sebuah kuil. Hal ini juga dikarenakan dirinya datang ke gunung ini bersama dengan Giyuu. Sehingga mau tidak mau Hikaru harus menuruti Hashira Air itu, yang kini sedang patroli di desa yang cukup jauh dari sini
Rasanya benar-benar memuakkan. Tapi tugas tetaplah tugas, mengingat iblis yang dilaporkan telah menempati kuil ini sejak beberapa bulan lalu berhasil mengalahkan banyak pemburu iblis sebelumnya.
Tapi karena iblis yang menempati tempat ini adalah pengguna serangan jarak jauh, hal itu sangat masuk akal untuk Hikaru. Karena pria berambut hitam tersebut tahu betul tingkat kesulitan ketika berhadapan dengan petarung jarak jauh. Seperti saat ini, saat rentetan senapan terus menghampirinya, Hikaru berusaha sekuat tenaga untuk mendekati iblis aneh tersebut dengan memanfaatkan pohon sebagai perisai.
"Mati kau bocah!!!jika aku berhasil membunuhmu, maka aku akan diangkat menjadi Jogen! Matilah!!"
Iblis berpenampilan necis itu kini membidik pohon tempat Hikaru bersembunyi. Sehingga lagi-lagi pria berambut hitam itu kembali berlari secara melingkar untuk keluar dari jangkauannya. Ketika Hikaru sudah merasa berhasil melakukannya, pria bermanik sewarna karamel itu melesat dengan cepat ke arah iblis yang memakai topi fedora putih tersebut.
__ADS_1
"Mikazuki Zensho, Hono no Kokyu, Ichi no Kata: Shiranui!"
Dengan memakai kelenturan dan kecepatan tangannya, Hikaru menerjang ke arah iblis tersebut sambil menciptakan tebasan api berbentuk bulan sabit sebanyak mungkin, yang diakhiri dengan tebasan horizontal di leher.
Tetapi setelah pria berambut hitam itu selesai dengan teknik kombinasinya, Hikaru yang kini berhadapan dengan punggung iblis bersurai cokelat tua itu dibuat terperangah. Karena tubuh iblis itu berjalan tanpa kepala, lalu mengambil kepalanya yang tergeletak di tanah dan kembali memasangkannya seolah serangan tadi bukanlah apa-apa.
Iblis itu tertawa saat melihat ekspresi Hikaru. Dari mulutnya kini keluar dua pistol berwarna merah dengan pola bunga yang di bagian atasnya disertai belati. Hikaru meringis, sedikit geli dengan penampakan pistol yang iblis itu pegang. Sementara di sisi lain, iblis itu kini menyeringai lebar ketika melihat ekspresi pria berambut hitam tersebut.
"Keterampilanmu setara dengan Hashira, jadi aku mengeluarkan ini. Tapi kenapa kau malah meringis begitu?" tutur iblis bermanik biru muda itu.
"Aku hanya jijik dengan desain pistolmu itu. Kau mengingatkanku pada Jogen no Ichi," balas Hikaru santai, disertai dengan gerakan pundak dan mulutnya yang dibuat bergidik.
"Kalau kau sudah bertemu dengan Kokushibo-sama, seharusnya kau punya keterampilan yang tinggi. Kekkijutsu: Dokubari!"
Dari dua pistol itu muncul tembakan jarum yang memiliki kecepatan tinggi. Iblis necis itu juga dengan gesit membidik Hikaru yang terus berlarian menghindari jarum-jarum tersebut. Sambil melirik dengan ekor matanya, pria berambut hitam itu terus mencebik karena kesal serangan satu ini tidak kunjung berakhir.
"Hono no Kokyu, Shi no Kata: Sei En no Uneri!"
Hikaru memutar tubuhnya dan menciptakan sebuah perisai yang mengelilingi sekujur tubuh. Tanpa menunggu waktu lama, pria berambut hitam itu melesat keluar dari sana, menerjang iblis yang telah melawannya dalam waktu yang cukup lama. Iblis beriris biru muda sempat meremehkan gerakan Hikaru. Tapi ketika melihat pria berambut hitam itu secepat kilat memutar tubuhnya sambil memposisikan nichirin sangat dekat dengan lehernya, kedua matanya langsung membelalak karena terkejut.
Dengan lapisan tipis api hitam pada nichirinnya, Hikaru akhirnya bisa memenggal kepala iblis tersebut. Sambil berjalan ke arah kepalanya, Hikaru menjentikkan jempol dan jari tengah tangan kirinya, lalu membuat kepala iblis tadi dilahap api hitam dari nichirinnya hingga menjadi abu. Hikaru yang kelelahan menyarungkan kembali nichirinnya, dan berjalan terhuyung-huyung ke desa hingga hampir pingsan. Namun ketika pria berambut hitam itu nyaris kehilangan kesadarannya, matanya masih mendapati ada kain berwarna marun yang menahan tubuhnya.
"Kau berlebihan, Hikaru," kata Giyuu. Hikaru terkekeh. Hashira Air itu akhirnya memutuskan untuk memapah Hikaru.
"Maafkan aku Giyuu. Tapi setidaknya aku berhasil meminimalisir kandidat Jogen," balas Hikaru. Pria berambut hitam itu bisa merasakan jika Giyuu kini sedang melotot.
"Aku akan mendengar sisanya saat kita laporan."
"Aye aye. Tapi ngomong-ngomong, bisa kah kau menggendongku di punggung?"
"Tidak. Aku baru akan melakukannya jika kau tidak bisa jalan."
"Hidoi na Giyuu-tan~"
__ADS_1
"Urusai!"