
Ketika sinar matahari telah menembus tirai kamar, Harada dengan malas menyembunyikan wajahnya di balik selimut futon. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya, sehingga pria bertubuh tinggi tegap itu tidak merasakan kehangatan dari paparan mentari pada kedua kakinya. Bahkan aroma masakan yang mengisi seisi rumah juga tidaklah cukup untuk membuat Hashira Badai itu kembali ke dunia nyata, padahal aroma sarapan pagi ini tergolong tajam.
Pria bersurai hitam itu luar biasa kelelahan. Karena setelah rapat Hashira dan mengadili Nezuko, Harada harus kembali ke gunung Sagiri dan desa di sekitar pegunungan itu, yang merupakan wilayahnya untuk berpatroli. Setelah sekian lama tidak libur juga, mulai hari ini Harada kembali dipaksa untuk mengambil jatah liburnya oleh Kagaya selama seminggu.
Sehingga hasilnya, kini pria yang memiliki tinggi nyaris 2 meter tersebut menggeliat di bawah selimut futon dan berusaha untuk kembali tidur. Bahkan kedua telinganya sama sekali tidak mendengar fusuma yang bergeser, dan hawa kekesalan yang meluap dari sosok di depan pintu sambil memukul-mukulkan sendok sup ke dinding.
"Onii-chan ayo bangun! Atau jatahmu akan dilibas baka aniki!"
"Lima menit lagi Hikari."
Sosok yang memukul-mukul sendok sup tadi adalah Hikari. Di atas seragam pemburu iblisnya, gadis bersurai senja itu sedang memakai celemek polos berwarna merah marun. Gadis bermanik karamel itu mendengus kesal, lalu menyibakkan selimut yang menutupi wajah Harada.
Sementara di sisi lain, pria bermanik hijau rumput itu mengerutkan dahi, lalu perlahan menggulung kelopak matanya, menampilkan iris sewarna rumput musim seminya yang terlihat kelelahan. Kedua bola matanya langsung membulat ketika wajah adiknya hanya berjarak beberapa sentimeter dengannya. Harada refleks mundur secara acak dengan punggungnya, mencoba untuk menormalkan detak jantungnya.
"Hikari kau terlalu dekat!" gerutu Harada. Hikari hanya terkekeh kaku.
"Siapa suruh susah untuk bangun pagi," balas Hikari enteng.
Harada menghela napas. Netra sewarna rumput musim seminya itu lalu melihat jika Hikari segera keluar kamar. Mungkin lanjut memasak, atau menata meja. Dengan malas Harada segera bangun dan keluar dari kamarnya untuk menuju meja makan, yang masih berbentuk meja tatami. Di sana kedua adiknya sudah menunggu, dan sarapan juga sudah tersaji di atas meja.
Dengan wajah sedikit malas Harada akhirnya duduk di lantai, lalu memperhatikan menu sarapan hari ini untuk sesaat. Nasi, telur dadar, dan kari sayuran. Tidak lupa dengan cerek teh hijau beserta tiga gelas untuk teh. Harada tersenyum kecil, lalu mengacak-acak rambut Hikari tanpa peduli jika adik bungsunya harus merapikan kembali rambutnya.
Tiga kakak beradik itu melahap sarapannya dengan keheningan yang cukup mencekik. Harada tahu jika Hikari sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi gadis bermanik karamel itu seolah sedang mengumpulkan tekadnya untuk mengungkapkannya.
Sehingga Harada akhirnya memutuskan untuk membantu Hikari cuci piring dan beres-beres rumah, selagi Hikaru menyelesaikan porsi latihan hariannya yang telah ditentukan Harada. Karena katanya, malam ini adik kembarnya akan melakukan misi bersama lagi, dan Hikaru benar-benar ingin menjadi lebih berguna malam ini. Walhasil Hikari dan Harada memiliki sedikit privasi, yang sejak sarapan sangat Hikari cari.
"Onii-chan," gumam Hikari. Harada sedikit mengerucutkan bibirnya sambil melirik pada adik perempuannya.
"Kenapa? Nii-chan tahu kau ingin mengatakan sesuatu," balas Harada. Manik hijau rumput Harada kini mendapati wajah adiknya sedikit memerah.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku jatuh cinta pada seseorang?"
"Siapa memangnya? Semoga bukan Sanemi atau Tengen, deh."
"Tenang saja nii-chan. A-aku jatuh cinta pada Kyojuro."
Harada dengan santai menatap lurus wajah adik perempuannya yang merah padam. Di saat gadis berambut oranye itu terlihat sangat gugup, Harada dengan enteng mengacak-acak surai senja Hikari yang sudah dikuncir kuda dengan rapi. Hikari sedikit berdecak kesal karenanya, namun ketika manik hijau rumput keduanya saling menatap dengan lekat, Hikari tahu jika kakak bertubuh raksasanya ini setuju dengan pilihannya.
Skiiiip
Kemarin malam sebenarnya Harada berencana untuk mengunjungi makam keluarganya, karena dirinya sama sekali belum pergi ke makam keluarganya sejak bergabung ke Kisatsutai. Namun hanya karena perubahan suasana hati, Harada akhirnya mengunjungi Kediaman Kupu-kupu dengan sebuah buntalan kain dalam genggaman tangan kanannya.
Karena dirinya kembali mendapatkan libur yang cukup singkat, Harada kini hanya memakai jinbei hijau lumut dan sandal zori tanpa memakai tabi. Setelah beberapa saat menyusuri lorong yang cukup panjang, kedua telinganya kembali digelitiki oleh jeritan khas Zenitsu yang melengking.
Harada terkekeh kaku sambil terus berjalan, lalu membuka fusuma di ujung lorong. Baru saja tangan kirinya membuka fusuma, Harada harus menahan tubuhnya untuk tidak menghindar dari Zenitsu yang tiba-tiba melompat dan berlari ke belakang punggungnya. Pria berambut hitam itu menghela napas panjang.
Manik hijau rumputnya bisa melihat jika ruangan ini diisi oleh Zenitsu, Nezuko, Inosuke dan Senjuro. Mereka berempat kini memakai piyama pasien, dan sedang menunjukkan reaksi masing-masing atas tingkah Zenitsu. Sebelah alisnya sedikit terangkat saat menyadari Kyojuro yang berada di samping ranjang Senjuro.
"Aniki, tolong selamatkan aku dari obat pahit itu!" Zenitsu merengek dengan sungguh-sungguh sekarang.
"Harada-sama, tolong katakan pada Tsuguko anda untuk minum obat dengan benar!" sergah Aoi.
"Huweee! Aku tidak mau aniki! Selamatkan aku!"
"Diam kau Zenitsu-san! Tangan dan kakimu tidak akan kembali jika tidak minum obat ini!"
"Huweeeeee! Kenapa tidak ada cara lain sih? Aku tidak mau pokoknya!"
Pelipis kiri Harada berkedut kencang, menandakan jika pria berambut hitam tersebut sedang tidak mau diajak bercanda atau kompromi. Kyojuro dan Nezuko yang menyadari hawa keberadaan Harada berubah drastis hanya bisa terkekeh kaku dari jauh. Sementara itu, di sisi Aoi dan Zenitsu yang masih mengelilingi tubuh Harada, keduanya tidak sadar jika Harada sudah sangat kesal sekarang.
__ADS_1
Pria bertubuh tinggi tegap itu meletakkan buntalan kainnya di lantai, lalu menangkap Zenitsu dan memaksa rahang pemuda berambut pirang itu agar terbuka dengan lebar. Aoi yang melihat kesempatan itu langsung menuangkan obat di tangannya ke dalam mulut Zenitsu, yang kemudian meluncur dengan lancar ke kerongkongan dan sistem pencernaannya.
Masih tanpa sepatah kata apapun, Harada hanya melihat Zenitsu yang kini sedang merengek karena obatnya yang pahit. Harada menghela napas panjang, mengambil kembali buntalan kainnya, lalu menuntun Zenitsu ke ranjang dan memaksa pemuda bermanik keemasan itu untuk duduk. Hanya berselang beberapa detik, Harada mencubit pipi pemuda berambut kuning itu dengan cukup keras. Setidaknya saat ini, Harada bisa melihat bekas cubitan dari tangan kirinya di atas pipi pemuda itu.
"Aniki jahat!" tukas Zenitsu. Harada meletakkan buntalan kainnya ke meja di antara ranjang Zenitsu dan Nezuko, lalu menghela napas dengan kasar.
"Diamlah! Kau ini sudah 16 tahun! Setidaknya dewasalah sedikit meskipun itu sedang di dekatku!"
Zenitsu langsung berbaring dan memunggungi Harada. Di sisi lain Kyojuro tertawa dengan keras, sama halnya dengan Nezuko yang tidak bisa menahan tawanya. Senjuro kini sedang terlelap, sementara Inosuke tidak bisa berbicara banyak karena tenggorokannya turut terluka dari pertarungan sebelumnya.
Skiiiip
Malam hari telah menyingsing, dan sinar rembulan yang lembut kembali menerangi malam yang selalu menjadi sangat berbahaya. Sekalipun Harada sedang libur, namun khusus untuk malam ini pria berambut hitam itu akhirnya pergi ke kaki gunung Sagiri. Bukan dengan tujuan berburu, karena dirinya bahkan tidak memakai seragam meskipun membawa nichirin. Tapi untuk mengunjungi bekas rumahnya yang porak poranda bersama Sakonji.
Kedua pria itu sama-sama membawa lampu minyak dan nichirin. Tanpa peduli dengan suara burung hantu yang terdengar sangat nyaring, keduanya terus berjalan hingga mencapai sebuah tanah kosong. Masih ada pohon maple yang berdiri di sana, seolah menandakan jika hanya pohon itu yang selamat dari malam pembantaian itu. Tepat di bawah pohon maple itu, terdapat 5 batu nisan yang berjejer rapi.
Harada langsung bersimpuh di depan kelima batu nisan tersebut, menaruh lampu minyaknya di tanah, lalu mengatupkan kedua tangannya dan berdo'a. Ketika Sakonji menyadari aroma kesedihan yang tertahan, pria berambut putih itu menaruh tangan kanannya ke pundak kiri Harada, seolah mencoba untuk menghibur anak sulung dari sahabat baiknya ini.
"Tou-chan, kaa-chan, Yoshi ji-chan, Hideo, Hideki. Maaf karena baru mengunjungi kalian setelah sekian lama. Bukan karena aku enggan, tapi aku sudah sangat sibuk sejak malam itu. Kuharap kalian mau memaafkan aku dari atas sana. Naa, Tou-chan. Aku berhasil mewujudkan ekspektasimu. Aku adalah Hashira sekarang. Hikari dan Hikaru juga dalam keadaan baik sekarang. Bahkan Hikari sudah jatuh cinta dengan anak sulung Shin ji-chan loh, tou-chan. Kalau tou-chan masih di sini, aku yakin tou-chan akan sangat heboh."
Harada terus bercerita tentang kehidupannya selama ini, lengkap dengan sedikit air mata yang berderai walaupun tidak deras. Sakonji di sisi lain hanya bisa diam dan mendengarkan, sambil sesekali menebas iblis yang tiba-tiba datang mendekati keduanya. Setelah lima menit penuh bercerita, Harada akhirnya berdiri dan berpamitan. Pria berambut hitam itu hanya bisa terkekeh kaku ketika sadar sudah ada 6 yukata berserakan di tanah.
"Maafkan aku, Sakon ji-chan," gumam Harada. Sakonji menggeleng pelan.
"Tidak apa. Kau baru kemari setelah sekian lama, jadi aku sengaja tidak bereaksi secara berlebihan," tutur Sakonji.
"Sakon ji-chan, aku mau menginap di rumahmu ya malam ini."
"Baiklah kalau begitu. Lagipula sepertinya kau sedang malas berburu dan didatangi iblis."
__ADS_1
Harada tertawa dengan lantang. Sakonji hanya bisa tersenyum dari balik topeng tengu miliknya, lalu menepuk-nepuk punggung lebar Harada. Kedua lelaki dengan perbedaan umur yang cukup jauh kini memutuskan untuk turun gunung, lalu menuju ke rumah yang selama ini Sakonji tinggali setelah pensiun dari jabatan Hashira.