Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Natagumo dan Topeng Batu


__ADS_3

Sambil berjalan menyusuri keramaian di jalanan Asakusa yang sibuk, Harada sedikit berjinjit untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu banyak duduk. Selain misi untuk membasmi iblis, Harada juga dipercayai oleh Kagaya untuk menjadi juru bicara dari Kisatsutai untuk pemerintah.


Harada sendiri telah menekuni hal ini sejak berusia 19 tahun. Berarti sudah 7 tahun pria berambut hitam itu menjadi amfibi, hidup di lingkungan pemburu iblis dan orang biasa, yang untungnya telah menganggap jika iblis memang ada.


Ketika Harada bertanya tentang alasan di balik penunjukkannya, Kagaya mengatakan sesuatu yang amat sederhana dan sedikit lucu. Hanya Harada yang paling normal di Kisatsutai, terutama di antara para Hashira. Ketika pria bermanik lavender itu melihat reaksi Harada untuk kali pertama, pria yang juga bertubuh kurus itu langsung tertawa.


Setidaknya itulah kenangan manis yang mengawali perannya sebagai juru bicara. Harada yang masih berjalan untuk mencari kedai makanan mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut ketika mendapati Kara yang akan mendarat di kepalanya.


Harada hanya bisa membiarkan Kara mendarat, lalu mencari tempat sepi, yaitu gang-gang kecil yang biasanya diisi oleh beberapa sampah dan hewan liar. Karena meskipun Kisatsutai telah diakui pemerintah, namun keberadaan gagak yang bisa bicara hanya akan mengejutkan seisi Asakusa.


"Waaak, pergilah ke gunung Natagumo, waaak! Jogen Kizuki no Ni dan Kagen Kizuki no Go, waaaak!"


Kedua manik sewarna rumput musim seminya membelalak ketika mendengar penuturan Kara. Uppermoon kedua dan lowermoon kelima berada di satu tempat? Ini gila. Sekalipun Harada memegang predikat sebagai Hashira yang paling normal dan paling kuat, namun keberadaan dua iblis tingkat tinggi seperti itu hanya akan membuat Harada kewalahan. Lalu pria bertubuh tinggi itu masih berharap jika dirinya akan memburu Kudo Hakaku, namun firasatnya mengatakan jika Kagaya akan memberikan misi itu pada Tengen atau yang lainnya.


"Kara, aku punya pertanyaan untukmu," ucap Harada. Kara mengangguk pelan.


"Tanyakan saja, waaaak!"


"Tentang Kudo Hakaku, siapa yang diberi misi untuk memburunya?"


"Hashira Serangga, Kocho Shinobu dan Tsugukonya, Tsuyuri Kanao, waaaak!"


"Baiklah, kau kembalilah dan katakan pada Kagaya untuk mengirim Hashira lain ke Natagumo. Aku butuh orang untuk menangani keluarga laba-laba itu."


Kara kembali terbang dari atas kepala Harada. Pria berambut hitam itu sedikit merapikan rambutnya yang kusut, dan memutuskan untuk segera berlari. Karena di Asakusa ini juga, sayangnya tidak ada kendaraan yang mau mengantar sampai ke daerah pegunungan yang jauh dari kota dan jalan raya.


Sambil berlari dan melompat di atap bangunan, Harada tidak bisa berhenti untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang menunggu. Dirinya tahu jika sudah banyak Mizunoto yang dikirim ke sana, dan itu benar-benar akan merepotkan. Tidak ada data kemampuan dari setiap anggota keluarga laba-laba itu. Tapi Harada yakin jika sudah banyak peringkat bawah yang berjatuhan di sana.


.


Jika pemuda bersurai api itu memiliki kesempatan untuk protes dan mengomel, dirinya benar-benar akan melakukannya sekarang. Senjuro tahu jika gunung ini memang terlalu pekat auranya. Namun pemuda beriris cokelat madu itu tidak menduga jika dirinya akan dipertemukan dengan iblis bermanik pelangi di depannya, yang kini terlihat sudah bosan dengan perlawanan yang Senjuro berikan.


Karena bagaimanapun ceritanya, level kekuatan antara keduanya terlalu jauh. Seluruh tubuh Senjuro yang mungil namun kekar juga telah mendapatkan banyak sayatan dan lecet. Entah untuk kali keberapa, suara antara nichirin dan tessen yang beradu kembali menggema di seluruh hutan.

__ADS_1


Sesekali suara kerincing rantai akan terdengar, berbarengan dengan rasa sakit yang menusuk di seluruh paru-paru Senjuro. Pemuda berambut kuning dengan ujung oranye itu sudah sangat lelah. Tetapi jika dirinya menurunkan kewaspadaan walau hanya sedikit, maka kakak dan ayahnya bisa-bisa menyusulnya secepat kilat ke akhirat atau ke kehidupan selanjutnya.


"Kau gigih sekali, ya ampun," ujar Douma. Gigi belakang Senjuro saling beradu satu sama lain.


"Orang yang tidak tahu arti kegigihan lebih baik diam!" Senjuro membentak, dan hal itu membuat Douma sedikit terperangah.


"Ya ampun, jujur kegigihanmu ini membuatku terharu."


"Urusai! Hono no Kokyu, Roku no Kata: Shuchu Nensho!"


Nichirin Senjuro yang berwarna oranye kini berubah menjadi merah gelap, bahkan cenderung hitam. Pemuda berambut sewarna api itu melesat untuk menyerang Douma. Suara nichirin dan tessen kembar yang beradu kembali berdentang nyaring di seluruh hutan.


Sepasang manik pelangi milik Douma melebar ketika mendapati tepian salah satu kipas tessen kesayangannya meleleh. Baik Douma ataupun Senjuro melompat mundur, mencoba untuk mempersiapkan serangan selanjutnya. Douma tiba-tiba melompat tinggi, membuat Senjuro menengadahkan kepalanya.


"Kekkijutsu: Fuyusare Tsurara."


"Hono no Kokyu, Shi no Kata: Sei En no Uneri!"


Senjuro yang teringat ucapan Hikaru, refleks menahan napas dan melesat ke arah Douma. Jauh dalam pikirannya, Senjuro menganggap jika Douma sudah kewalahan untuk meladeni pertarungan jarak dekat darinya. Namun karena itulah, kini Senjuro benar-benar tidak akan membiarkan Douma melakukan serangan jarak jauh.


Dentingan antara tessen dan nichirin yang beradu kembali mengisi keheningan di sekitar mereka. Ketika pemuda bersurai api itu menemukan celah, Senjuro langsung menendang wajah Douma sekuat tenaga. Keduanya kembali menjaga sedikit jarak. Namun ketika jarak keduanya masih sangat dekat, Douma kembali menebas udara dengan kipas tessen, yang bahkan jaraknya kurang dari semeter dari wajah Senjuro.


Senjuro kembali menahan napas, namun udara dingin sekonyong-konyong masuk dan menusuk paru-parunya. Pemuda bersurai api itu jatuh tertelungkup di tanah. Dadanya kini luar biasa sakit, karena angin dingin yang menjadi senjata Douma sudah terlalu banyak mengisi paru-parunya.


Iblis berambut pirang pudar itu menginjak kepala Senjuro, lalu melangkah menuju punggungnya yang sempit. Di atas sana Douma terlihat menggesekkan kakinya secara kasar, tidak peduli dengan Senjuro yang menjerit. Setelah puas memperlakukan Senjuro seperti keset kaki, Douma kembali menginjak kepala bersurai api di bawahnya, lalu turun dari sana dan langsung berjongkok.


Baru saja tangan kanannya yang bebas mengangkat dagu Senjuro, Douma merasa jika kepalanya ditendang dengan keras dari samping kanan. Karena tidak mengantisipasi hal itu, tubuhnya terlempar ke kiri. Saat iblis bermanik pelangi itu masih di udara, lagi-lagi dirinya merasa jika seseorang kembali menendang ruas tulang rusuk kanannya dengan kuat, sehingga kini dirinya menabrak sebuah pohon cemara yang berjarak lima meter di depan Senjuro.


Namun dengan cepat, sang Pendeta Suci itu kembali berdiri, seolah dirinya tidak mengalami hal apapun sebelumnya. Saat ini sepasang netra pelanginya mendapati tiga pengunjung baru, yang sayangnya tidak ada wanita muda di antaranya. Lalu hal yang membuat Douma kesal adalah, dua orang yang mengambil posisi sejajar di depan seorang pria muda berambut cokelat muda, mengetahui kekuatannya dengan cukup baik.


"Wah, pasangan legendaris Kisatsutai datang kemari. Aku harus memberikan sambutan yang layak berarti," tutur Douma.


"Oi, aku tidak peduli dengan sambutanmu itu tahu, dasar pendeta mesum!" cibir Hideki. Baik itu Hideki, Harada, Ryunato atau Senjuro bisa melihat jika Douma telah terprovokasi.

__ADS_1


Harada tersenyum tipis, lalu meminta Ryunato untuk membawa Senjuro ke tempat aman. Pemuda berambut cokelat muda itu menurut, sementara Hideki dan Harada kini mengacungkan nichirin masing-masing pada Douma, yang entah mengapa terlihat kegirangan. Iblis berambut pirang pudar itupun menyerang Harada secara membabi-buta dengan kipas tessen kembar miliknya.


Namun Harada, dengan stamina dan vitalitas barunya, berhasil memukul mundur Douma. Iblis bermanik pelangi itu mencebik kesal, sedikit merasa frustasi karena telah dipojokkan. Meskipun sebenarnya serangan balik yang Harada layangkan masihlah bukan apa-apa untuk saat ini.


"Kekkijutsu: Chiri Renge."


"Fukugo Gijutsu: Arashi no Kokyu, San no Kata:Senpuha! Jigoku no Kokyu, Go no Kata: Kugyo no Hidane!"


"Kekkijutsu: Fuyusare Tsurara."


"Kori no Kokyu, San no Kata: Saihyosen!"


Serangan angin beku milik Douma berhasil dilelehkan Harada dengan teknik kombinasi, yaitu membuat tornado dari putaran tubuhnya yang berbalut lidah api berwarna hitam. Lalu dengan kecepatan dan kelincahan tingkat tinggi, Hideki berhasil memecahkan banyak sekali tombak es yang tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan Harada.


Hanya dengan menatap manik pelanginya saja, kedua pria dengan rambut yang sangat kontras itu bisa tahu jika Douma sedang sangat kesal. Iblis berambut pirang pudar tersebut kini menghujani Hideki dengan serangan kipas tessen kembarnya.


Dengan usaha lebih Hideki bisa mengikuti pergerakan Douma, lalu kembali menendang wajahnya sekuat tenaga. Setidaknya iblis bersurai pirang pudar itu terpental sejauh 6 meter, dan membuat celah yang cukup untuk Hideki guna melayangkan serangan selanjutnya.


"Kori no Kokyu, shichi no kata: Koryudan!"


Dengan gerakan tangan yang bahkan sulit untuk Harada baca, Hideki kembali melesat ke arah Douma dan membuat banyak luka pada tubuh iblis tersebut. Tetapi ketika pria berambut putih itu hendak memenggal kepala Douma, sebuah pintu shoji terbuka dan membuat tubuh Douma jatuh ke dalamnya. Karena terkejut, Hideki melompat mundur dengan kedua mata yang melebar.


Namun belum sempat Hideki melontarkan kata-kata mutiara, seekor gagak Kasugai terbang mengitari hutan. Ketika manik biru muda Hideki bertatapan dengan Harada, pria berambut putih itu cukup terkejut dengan reaksi Harada yang tersentak. Pria berambut hitam itu jatuh berlutut dengan napas yang menderu.


"Pesan dari markas pusat, waaaak! Tangkap Nezuko dan iblis Tanjiro, waaaak! Nezuko memakai haori pink dan rambutnya dikepang satu, dan iblis Tanjiro menggigit bambu di mulutnya, waaaak!"


"Ah ini terlalu cepat!" gerutu Harada. Hideki ikut berlutut di samping kiri pria bertubuh tinggi tegap itu.


"Oi, kau tidak apa-apa kan sobat?"


"Maaf, aku terbawa suasana, Hideki. Sepertinya aku butuh istirahat."


Harada berusaha keras menormalkan pernapasannya, lalu segera berdiri dan kembali menyarungkan nichirinnya. Hideki yang melihat reaksi sahabatnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya, bingung dengan reaksi macam apa yang akan dirinya tunjukkan. Meskipun dirinya tahu betul Harada terlampau cakap dalam pekerjaan, namun Hideki tahu sahabat baiknya ini sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya untuk memburu iblis dan berinteraksi dengan para pejabat pemerintahan.

__ADS_1


__ADS_2