
Gunung Fujikasane, Malam Pertama
Bulir-bulir keringat meluncur di kedua sisi pelipis Harada. Meskipun angin musim panas berembus dengan lembut, namun malam ini suhu udara bisa terhitung panas. Bulan purnama bersinar dengan terang tanpa terhalang oleh satupun awan.
Setelah kedua kakinya meniti ratusan anak tangga, kini dirinya telah berada di ujung anak tangga. Harada membiarkan manik hijau rumputnya berkelana, dan memperhatikan suasana di sekitar. Setidaknya untuk tahun ini, ada sekitar 50 anak yang mengikuti ujian bertahan hidup ini, dengan rentang usia 12 hingga 15 tahun.
Harada tersenyum kaku, dan sedikit bersyukur dengan tinggi badannya yang setara dengan anak 14 tahun kebanyakan. Sehingga setidaknya, dirinya tidak dipandang sebelah mata. Karena di balik pengalamannya, Harada tetaplah masih berusia 10 tahun saat ini.
Setelah kedua telinganya cukup mendengar tentang ujian ini, seluruh peserta dipersilahkan untuk masuk ke dalam hutan. Benar saja, karena setelah melewati rumpun pohon wisteria yang berkilauan, sejauh mata memandang, dirinya bisa melihat hutan yang luas dan liar. Harada menghela napas panjang, dan berlari arah timur.
Karena sekuat apapun dirinya, anak laki-laki itu sangat jijik pada para iblis. Terutama ketika iblis itu kelaparan. Bulu-bulu di tengkuknya kembali berdiri ketika dirinya mengingat keisengannya untuk pergi ke Gunung Natagumo sekitar 2 tahun lalu. Sekalipun dirinya berhasil turun dari gunung itu, namun sebuah julukan langsung disematkan padanya oleh para pemburu iblis. Bocah ajaib, mereka bilang. Harada tersenyum miring ketika mengingat hal itu.
Perjalanannya selama lima belas menit berlangsung dalam kedamaian. Hingga hidungnya bisa mencium bau busuk yang kentara sedang mendekatinya. Harada memegang nichirinnya yang kini bertengger di punggungnya dengan bantuan obi milik ibunya. Saat sekumpulan iblis, yang mungkin jumlahnya sekitar 25 iblis sudah ada di depan matanya, Harada menghunuskan nichirinnya dan bersiap.
"Arashi no Kokyu, ni no kata:Itetsuku Kaze!"
Bersama dengan Harada yang semakin cepat, suhu di sekitar situ menurun cukup drastis. Selagi para iblis terkejut dengan suhu udara yang tiba-tiba turun, secepat mungkin Harada memenggal 25 iblis yang tadi menghampirinya seperti sedang lomba lari.
Hanya butuh tiga menit untuk anak lelaki berambut hitam itu guna menyelesaikan pestanya. Kini seluruh tubuh Harada sudah penuh dengan cipratan darah para iblis, dan napasnya juga sedikit menderu. Karena baru tadi dirinya membantai 25 iblis sekaligus, dan itu cukup membuatnya lelah meskipun hanya memakai teknik ke dua.
Harada mengayunkan nichirinnya untuk menghilangkan noda darah di bilah pedangnya, dan kembali menyarungkannya lalu berlari. Setidaknya siang nanti, anak laki-laki berusia 10 tahun itu ingin tidur siang meskipun di atas pohon. Rencananya adalah bergerak ketika malam hari, dan istirahat di siang hari. Karena jauh dalam pikirannya, Harada harus mulai belajar untuk mengikuti irama kehidupan para pemburu iblis.
Malam Kedua
Hari pertama dalam ujian ini berjalan lancar untuknya. Setelah penyambutan dari 25 iblis kacangan tadi, anak laki-laki berambut hitam tersebut bisa sedikit santai. Karena interval pertemuannya dengan iblis hingga menjelang pagi cukuplah panjang, yaitu sekitar 15 menit sekali.
Hingga saat ini, ketika rembulan mulai kembali ke tempat peraduannya, total iblis yang berhasil Harada penggal sudah mencapai angka 40. Entah ini adalah angka yang bagus atau tidak, namun dirinya merasa sangat lelah sekarang.
Sambil berjalan santai, Harada menepuk kedua pipinya sekeras mungkin, mencoba untuk sadar dan tetap bangun. Karena masih butuh waktu sekitar empat jam untuk menikmati kehangatan dan perlindungan dari sinar matahari.
Anak laki-laki berambut hitam itu menghela napas panjang, meratapi nasibnya sebagai seseorang yang memiliki darah langka. Sebuah pertanyaan berputar di dalam benak Harada mengenai aromanya bagi para iblis. Apakah dirinya benar-benar menggoda, sampai dirinya harus disambut oleh rombongan iblis itu? Lalu jika dibandingkan dengan yang lainnya, Harada tergolong sering sekali bertemu dengan para iblis.
Kepalanya kembali tegak ketika mendengar suara desisan ular. Kedua manik berwarna hijau rumputnya membelalak saat menyadari iblis macam apa yang ada di hadapannya. Harada tidak mau tahu siapa yang menculik iblis ini, namun dirinya tahu jika iblis ini adalah iblis yang layak untuknya. Dari mulutnya juga, tercium aroma darah manusia yang masih segar. Saat Harada menyadari ada noda darah segar di mulut iblis itu, Harada semakin meradang.
"Wah, marechi! Ya ampun ini hari keberuntunganku!" tukas iblis ular itu. Harada perlahan mendekati iblis itu hingga hanya berjarak tiga meter.
"Hei, apa bauku seharum itu ya? Kemarin aku sudah membunuh 40 iblis loh," tutur Harada. Iblis ular itu mendesis.
"Kau tahu, nak? Semakin kuat seorang marechi, maka semakin enak juga rasanya!"
"Dasar menjijikan."
"Apa? Aku tidak dengar."
"Kau menjijikan, iblis ******!"
Iblis ular berwarna hijau itu tersentak dan langsung menerjang Harada dengan amarah yang membara. Anak laki-laki itu tersenyum miring, karena dirinya bisa melihat celah pada pola gerakan iblis itu yang meliuk-liuk.
Harada segera melompat ke atas, namun tanpa disangka-sangka iblis itu juga melompat ke atas dan melempar Harada dengan tangannya ke rumpun pohon jati yang cukup tua. Setelah melempar, iblis ular itu seperti bersiap untuk menelan anak laki-laki berambut hitam itu. Tetapi siapa sangka jika senyuman di wajah Harada malah melebar, terutama sebelum dirinya melompat ke samping, dan melesat tepat ke atas leher iblis ular tersebut.
"Arashi no Kokyu, Ichi no kata: Chimamire Kazaha!"
__ADS_1
Harada menebaskan nichirinnya di udara secara horizontal, dan kembali melesat untuk melakukan tebasan lain di tubuh iblis ular itu. Karena jurusnya, setidaknya timbul angin kencang yang memenuhi kawasan tersebut. Dalam radius lima meter, angin itu kian kencang. Sebelum kepala iblis ular itu menggelinding di tanah, tubuhnya yang berwarna hijau muda sempat sedikit terangkat, lalu tercingcang karena angin tersebut.
Harada mengeluarkan sebuah sapu tangan dari tas kulit yang juga berada di punggungnya, lalu mengelap bilah nichirinnya. Anak beriris hijau rumput itu bisa mencium sedikit aroma racun saat memenggal iblis itu. Harada menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon jati.
Dari tas kulit yang dibawanya, Harada mengeluarkan sebuah kotak bambu, lalu membuka tutupnya. Ada cukup banyak onigiri di sana, dan hampir semuanya beraroma cabai yang juga berguna untuk mengawetkannya. Harada melahap dua onigiri dari kotak bambu itu.
Saat hendak memasukkan kembali kotak bambu tersebut ke tas, Harada bisa mendengar suara langkah kaki menghampirinya secara perlahan. Lalu saat Harada menoleh ke kiri, tepat ke sumber suara itu, dirinya bisa melihat seseorang menghampirinya dengan langkah gontai. Sepertinya anak itu, yang menurut Harada setidaknya berusia 11 tahun, sedang kelaparan.
Harada membuat isyarat tangan agar orang itu menghampirinya. Sementara anak berambut putih itu terlihat kegirangan, dan segera duduk di samping kiri Harada. Anak bertubuh tinggi tegap itu kembali membuka kotak bambunya, dan mengatakan jika anak beriris biru muda itu bisa makan sampai merasa cukup kenyang.
Anak berkulit putih pucat itu memekik kegirangan. Harada mengangguk untuk meyakinkannya, hingga anak berambut putih itu setidaknya melahap tiga onigiri seperti seekor beruang yang lapar. Harada terkekeh kaku saat melihat reaksi tamunya itu. Antara terkejut dan tidak percaya menjadi satu. Namun Harada merasa senang, karena akhirnya dirinya menemukan teman sejawat.
"Siapa namamu? Lalu berapa usiamu?" tanya Harada. Setelah menutup kotak bambu Harada, anak berambut putih berusaha untuk mengunyah dan menelan onigirinya secepat mungkin.
"Namaku Hideki, Date Hideki. Aku masih 10 tahun, kalau onii-chan?" tutur Hideki yang malah balik bertanya.
"Harada, Akechi Harada. Lalu jangan panggil aku onii-chan, aku seusia denganmu."
Hideki kembali terlihat antusias. Harada hanya bisa tersenyum kaku ketika melihat senyuman Hideki, yang sepertinya sangat kegirangan ketika bisa menemukan teman sebaya. Setelah anak berambut putih itu mengembalikan kotak bambu Harada dan membantunya berkemas, dua anak berusia 10 tahun itu memutuskan untuk berjalan bersama hingga ujian bertahan hidup ini selesai.
Sebenarnya Harada sedikit terkejut ketika Hideki memintanya untuk berjalan bersama. Karena anak berambut hitam itu takut akan membahayakan kenalan barunya. Tetapi Hideki sama sekali tidak mempermasalahkan jumlah iblis lapar yang datang menghampirinya, seolah sudah mengetahui jika Harada adalah marechi yang sangat langka.
Hari Ketujuh, pagi hari
Hanya butuh 5 hari 4 malam bagi dua anak tersebut untuk saling mengenal dan dekat. Bahkan kini, Hideki sudah mulai mengisengi Harada yang semakin lelah. Bagaimana tidak lelah, karena anak berusia 10 tahun itu telah membantai setidaknya 70 iblis kacangan. Sakon ji-chan tersayangnya, alias Urokodaki Sakonji, mengatakan jika ada 200 iblis yang terkurung di gunung ini.
Jika digabungkan dengan hasil buruan Hideki yang mencapai angka 50 iblis, maka dapat dipastikan jika para Hashira harus kembali mengisi gunung ini dengan iblis untuk ujian kedepannya. Harada terkekeh kaku selama beberapa saat, membayangkan kengerian yang menjangkiti para Hashira saat sadar dengan efek yang ditimbulkan dari darahnya.
Sementara di sisi lain, Hideki yang sebenarnya sudah khatam dengan masalah klan Akechi, hanya bisa tersenyum canggung. Setelah kedua anak itu berlari selama berjam-jam, dua pasang manik hijau rumput dan biru muda dari keduanya kembali disambut dengan kanopi berwarna ungu yang terdiri dari banyak sekali bunga wisteria.
Keduanya melangkah keluar dari hutan, dan disambut dengan sinar matahari pagi yang menyilaukan. Harada mengerutkan dahi dan menyipitkan kedua matanya, sementara Hideki memberikan naungan pada kedua manik biru mudanya memakai kedua tangannya. Mereka berdua melangkah semakin jauh untuk menikmati sinar matahari dan menunggu peserta lain untuk muncul. Namun setelah menunggu 15 menit, tidak ada satu orangpun yang muncul lagi.
Bahkan setelah kemunculan dua anak kembar bermanik ungu tua yang juga menyambut 50 calon pemburu iblis seminggu yang lalu, tidak ada lagi yang muncul. Ini berarti hanya dirinya dan Hideki yang lolos. Keduanya kembali bertukar pandangan entah untuk kali keberapa, dan sama-sama merinding dengan fakta menyeramkan ini.
"Selamat karena telah bertahan selama 7 hari di dalam."
"Sekarang pilihlah dulu bijih besi kalian, lalu akan ada pengukuran untuk pembuatan seragam pemburu iblis kalian nanti."
Kedua anak kembar itu sedikit menjauhkan diri, dan menunjukkan sebuah nampan berisi 10 batu yang merupakan bijih besi yang khusus digunakan untuk pembuatan nichirin. Dengan mengandalkan hidungnya, Harada maju terlebih dahulu dan memilih bijih besi di pojok atas kiri. Sementara Hideki memilih yang ada di pojok kanan bawah. Baik Harada dan Hideki menyerahkan bijih besi yang telah mereka pilih pada dua anak kembar tersebut.
Salah satu dari mereka mengatakan jika pembuatan nichirin akan memakan waktu selama 15 hari. Bersamaan dengan selesainya ucapan gadis kecil itu tentang nichirin, dari atas langit, muncul dua ekor gagak.
Kedua gagak itu bertengger di tempat yang berbeda. Gagak milik Hideki bertengger tepat di atas kepalanya, sementara gagak milik Harada, yang sebagian bulunya berwarna putih bertengger dengan manis di bahu kanannya yang cukup lebar. Salah satu dari anak kembar itu lalu mengatakan jika gagak itu adalah pemandu mereka saat misi.
Hideki terlihat bersemangat, sementara Harada hanya menoleh ke kanan, menatap gagak itu dengan ekspresi yang rumit. Bahkan Gagak Kasugai miliknya sampai memiringkan kepala, terlihat bingung dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Harada. Antara tenang dan sedih yang menjadi satu, seolah kedatangan gagak tersebut membuat anak berusia 10 tahun tersebut sedih.
Kedua anak perempuan itu lalu menjelaskan tentang peringkat di kisatsutai. Mulai dari Mizunoto hingga Kinoe, dan semua pemburu iblis akan mulai dari tingkat Mizunoto, yang paling rendah. Tetapi ketika Harada mengepalkan tangan kanannya, kanji yang muncul di punggung tangannya bertuliskan Kinoe.
Harada nyaris teriak. Dirinya mungkin harus mengaku-ngaku sebagai Mizunoto nanti, karena dirinya berencana untuk bersenang-senang dulu sebelum menjemput takdirnya sebagai Hashira. Cara pengecekan peringkat ini sendiri diajarkan oleh pamannya tempo hari, ketika Yoshinori masih ada di tingkat Kinoto.
Time Skip
__ADS_1
Dari Fujikasane, butuh setidaknya waktu seharian bagi Harada untuk berjalan kembali ke rumah barunya. Rumah barunya ini sangat berdekatan dengan markas pusat kisatsutai. Kagami mengatakan padanya, jika rumah ini sebelumnya adalah milik Urokodaki Sakonji ketika baru menjadi Hashira.
Sebenarnya Kagaya ingin memberinya rumah yang benar-benar baru, karena anak bertubuh tinggi tegap itu nantinya akan diangkat menjadi Hashira. Namun dengan penuh kesopanan, Harada meminta agar Kagaya mengundur pengangkatannya untuk menjadi Hashira selama dua tahun setelah dirinya lolos ujian akhir.
Alasannya sendiri sederhana, karena Harada ingin bersenang-senang terlebih dahulu dan mengaku-ngaku masih ada di tingkat Mizunoto. Padahal tingkatannya kini langsung loncat ke Kinoe. Harada sendiri bingung dengan hal ini, namun dirinya lebih memilih untuk berpikir jika Kagaya ingin memberikannya perlindungan yang maksimal.
Atau setidaknya, itulah yang Harada pahami. Karena di dalam rumah itu, yang sebenarnya muat untuk 7 atau 8 orang, ada cukup banyak ornamen laut dan awan di setiap dinding. Karena Harada memang menyukai langit dan laut, Harada membiarkan interior rumah itu apa adanya, dan kini dirinya juga tinggal sendirian.
Sehingga setidaknya, dirinya bebas untuk melakukan apapun. Seperti saat ini. Setelah sampai dari perjalannya yang cukup jauh, Harada menaruh nichirin dan tas kulitnya di atas meja tatami, lalu merebahkan tubuhnya di dekat meja. Karena terlalu lelah, kelopak matanya yang terasa sangat berat memaksa untuk ditutup. Harada tertidur dalam waktu yang cukup lama, dan baru bangun ketika merasakan seseorang menyodok-nyodok kedua pipinya.
Ketika Harada membuka matanya, tepat di depan matanya, hidung dari topeng Tengu milik Sakonji berada tepat di depan matanya. Harada tersenyum canggung dan sedikit mundur, lalu duduk dan melihat sekitar.
Tidak hanya Sakon ji-chan kesayangannya yang ada di sana. Namun juga Shinjuro, beserta kedua adiknya Hikaru dan Hikari. Harada yang masih setengah sadar tersenyum kaku. Sementara kedua adiknya langsung memeluk Harada dari dua sisi, dan membenamkan wajah mereka ke ulu hati kakaknya.
"Nii-chan, Shinjuro ji-chan bilang kalau ujian itu adalah simulasi pertarungan yang sebenarnya," tutur Hikaru.
"Sakon ji-chan juga bilang begitu! Kami jadi khawatir!" timpal Hikari. Harada terkekeh kaku, lalu mengelus puncak kepala kedua adiknya tersebut dengan lembut.
"Kalian berlebihan, lagipula mana mungkin nii-chan yang bisa menahan iblis kelas atas kalah dengan iblis kacangan."
Hikaru dan Hikari melepaskan pelukannya, lalu menatap kakaknya dengan tatapan bingung. Harada hanya terkekeh kaku dan mengatakan jika ucapannya tadi tidaklah penting. Shinjuro yang sedang duduk bersila sambil bersandar ke dinding menghela napas pelan, berusaha untuk menyembunyikan reaksinya.
Ketika Harada menyadari hal itu, sebuah senyuman merekah di wajahnya, seperti sedang berterima kasih pada Shinjuro karena tetap merahasiakan pertarungannya dengan Douma tempo hari. Saat kedua mata mereka bertemu, Harada kembali tersenyum. Shinjuro tersenyum tipis. Seperti mengatakan jika menyimpan rahasia adalah keahlian utama klan Rengoku.
"Harum sekali. Siapa yang memasak?" tanya Harada.
"Itu Kochou, kita akan merayakan kepulanganmu, Harada," balas Shinjuro.
"Mandilah dulu nii-chan. Badanmu itu bau sekali!"
"Kagami sudah menyiapkan air panas sebenarnya. Mandilah dulu, baru bergabung untuk makan."
Harada hanya mengangguk pelan. Kedua maniknya kembali memperhatikan seisi ruangan sebelum berdiri. Sakonji menggeser topeng Tengunya ke pelipis kanan. Sementara tanpa sadar, kedua adiknya menarik kedua tangan Harada menuju kamar mandi. Sebelum meninggalkan ruang utama, Harada melihat jika Shinjuro tertawa kecil dengan tingkah polah mereka bertiga.
Hikari terlihat sedang menyiapkan pakaian bersih untuk Harada. Sementara Hikaru mengecek suhu air di bak. Adik laki-lakinya itu ternyata ingat jika Harada kurang menyukai mandi air panas. Setelah mereka berdua selesai, Harada meminta mereka berdua untuk bergabung dengan yang lain selagi dirinya mandi.
Ketika Harada membersihkan diri, ingatan akan segala hal yang dialaminya selama musim panas tahun ini sungguh tidak terduga. Harada menghela napas panjang, lalu mencoba untuk santai. Karena selama 15 hari kedepan, dirinya akan memiliki waktu istirahat penuh sebelum melakukan misi-misi yang mengancam nyawa sebagai bagian dari kisatsutai.
Setelah Harada mandi dan berpakaian, dirinya segera keluar kamar. Di ruang utama, anak berambut hitam itu telah disambut oleh orang-orang yang tulus menyayanginya. Harada segera duduk di antara Hikaru dan Sakonji. Sementara Kagami dan Hikari terlihat sedang menata meja dan menyiapkan makanan.
Mereka berenam makan dengan hati yang gembira. Hikaru dan Hikari terlihat antusias dengan cerita dari kakaknya. Sementara di sisi lain, Kagami menanggapi saat di mana 25 iblis menghampiri Harada dengan wajah serius.
Karena gadis berambut hitam itu baru mendengar tentang reaksi mencolok para iblis yang dialami Harada. Baik Sakonji ataupun Shinjuro mengangguk pelan, setuju dengan kekhawatiran Kagami. Tapi Harada menganggap jika itu bukanlah sesuatu yang serius, meski dirinya mengakui jika hal itu akan menjadi pedang bermata dua untuknya.
"Tapi untuk jaga-jaga, bawalah bubuk bunga wisteria bersamamu. Setidaknya itu akan melindungimu ketika tidur sendirian di luar," tutur Kagami. Harada hanya mengangguk.
"Terlepas dari semua itu, apa yang akan kau lakukan selama 15 hari itu?" tanya Shinjuro.
"Kami-sama, Rengoku Shinjuro, demi apapun! Biarkan anak ini istirahat!"
Kalimat terakhir itu diucapkan oleh Sakonji dengan mulusnya. Di sisi lain Kagami bersiap untuk melerai dua pria itu, khawatir jika mereka berdua akan mengacau di sini. Harada dengan mantap mengatakan jika dirinya akan menghabiskan 15 hari kosongnya dengan beristirahat. Shinjuro terlihat sedikit kecewa. Tetapi Sakonji tanpa ragu menginjak kaki Shinjuro dengan keras, seolah sedang memarahi Hashira api tersebut.
__ADS_1
Sekalipun kembali dalam keadaan tanpa luka, namun anak berusia 10 tahun itu telah banyak menguras tenaganya. Selain itu juga, dirinya masih dalam masa pertumbuhan. Disamping aktifitas fisik dan asupan makanan yang baik, dirinya juga membutuhkan istirahat demi kewarasannya.
Harada tidak mengatakan apapun tentang peringkatnya yang langsung berada di peringkat Kinoe. Anak laki-laki berambut hitam itu akan membiarkan para Hashira di depannya ini menyadarinya nanti. Karena dalam sudut pandang Harada, lebih baik memendam sebuah ketidak wajaran daripada mengumbarnya.