
Sebulan Lebih Kemudian, Mibu
Meskipun baru melalui waktu yang singkat, tetapi dalam waktu sebulan lebih ini, setidaknya Harada sudah bisa membaca situasi yang akan terjadi. Terutama dari hasil pertarungan Hikari dan yang lainnya di Yoshiwara. Sekalipun Shinobu sebelumnya mengatakan jika tidak ada harga yang harus dibayar, tetapi nyatanya, gadis berhaori kupu-kupu itu hanya melakukan tugasnya sebagai seorang dokter dengan tidak membuat pasien khawatir.
Tengen kehilangan mata dan tangan kirinya. Sehingga begitu pulih, pria berambut putih itu mengundurkan diri dari Kisatsutai, menciptakan satu kursi kosong di antara para Hashira. Hikaru yang baru kembali dari misi bersama Giyuu juga ditawari untuk menggantikan posisi Tengen oleh Kagaya. Alih-alih memakai gelar Hashira Neraka, demi penyamaran Kagaya juga akan memberikan gelar Hashira Api pada Hikaru. Tetapi pria bermanik karamel itu malah mengatakan jika dirinya ingin memperkuat diri terlebih dahulu, padahal sebenarnya itu hanya sebuah alasan belaka untuk menghindari posisi Hashira. Sehingga di sinilah mereka bertiga.
Di antara rimbunnya pepohonan, dan di bawah pecahan cahaya matahari yang menembus dedaunan, Harada yang masih memakai samue biru tua serta haori yang biasa dipakainya terlihat berdiri sambil memegang nichirin dengan erat. Namun mata dan seluruh inderanya kini berfokus untuk menemukan posisi Hideki dan Hikaru.
Karena dalam tahap akhir pelatihannya ini, mereka berdua harus melawan Harada sebagai sebuah tim tanpa memakai teknik pernapasan. Hanya kemampuan fisik dan teknik bermain pedang, sehingga ini adalah sebuah tantangan baru untuk Hideki dan Hikaru. Ketika pria bermanik hijau rumput tersebut mencium bau metal yang mendekat dari depan dan belakang, Harada melompat ke samping dan berputar 90 derajat, menghadapi adik laki-laki dan sahabatnya yang nyaris saja membunuh satu sama lain.
"Sudah kuduga dari seseorang sepertimu, aibou," tukas Hideki. Harada tersenyum miring.
"Kalian tidak berencana untuk menyerah saat ini juga, kan?" tanya Harada memastikan. Adik dan sahabatnya kini mencebik kesal karena merasa diremehkan.
"Jangan harap, karena kami akan menyobek bagian atas samuemu itu!"
Dengan cerdik Harada memperhatikan gerakan dua peserta pelatihannya, dan mencoba untuk menghindar sebisa mungkin. Sekalipun mereka bertiga sama-sama memakai nichirin, tapi untuk mencegah sesuatu yang tidak perlu, Harada mengatakan agar Hideki dan Hikaru hanya perlu merobek atasan samuenya saja.
Setelah itu, barulah keduanya dinyatakan lulus. Karena bagi seseorang yang memegang pedang dan bertarung melawan iblis sejak dulu, Harada bisa dengan mudah memperkirakan pergerakan manusia.
Sehingga ketika Hikaru dan Hideki melancarkan berbagai serangan ke arahnya secara bergantian, Harada masih dengan santai melompat-lompat dan menangkis dengan nichirinnya untuk menghindari serangan mereka berdua.
Namun karena sudah terlanjur kesal, Hideki pada akhirnya memutuskan untuk menambah kecepatan dan konsistensinya dalam menyerang sahabatnya ini. Sama halnya dengan Hikaru, yang secara teknis juga sudah lelah karena pergerakan kakaknya yang cepat dan tepat.
"Kalian sudah menguasainya, tapi akurasi kalian masih lemah. Apalagi kau, Hideki!" seru Harada.
Hideki sedikit meradang. Sambil sedikit menggeram pria bersurai salju itu mengubah posisi genggaman nichirinnya menjadi lurus. Sementara Hikari kini memposisikan nichirin miliknya ke posisi serangan cepat. Harada tersenyum melihat ini, lalu ikut memposisikan nichirin dalam genggamannya pada serangan cepat.
"Hachisasare!"
"Mikazuki Zensho!"
"Karasu Moten."
__ADS_1
Hideki menerjang ke arah Harada dan menusuk angin di depan Harada berkali-kali dengan kecepatan tinggi. Lalu dengan langkah yang gesit, Hikaru berlari dari kiri, belakang dan kanan Harada sambil menebaskan nichirinnya berkali-kali. Sementara itu, pria bermanik hijau rumput itu kini tersenyum miring sambil menahan serangan yang dilancarkan padanya serta bergerak secepat mungkin di celah-celah dua teknik itu.
Ketika Hideki menerjang tepat ke arah limpa, Harada langsung bersalto ke belakang untuk menghindari kepungan serangan tersebut. Saat pria dengan tinggi hampir dua meter itu mengecek sekujur tubuhnya, manik hijau rumputnya mendapati sebuah sobekan di perut atas sebelah kiri. Untungnya sobekan itu tidak mengeluarkan darah. Harada akhirnya menegakkan kepalanya, tersenyum, berdiri, dan menyarungkan nichirinnya kembali.
"Hideki, kurasa Hachisasare milikmu ini berbeda," tukas Harada. Hideki mengangguk.
"Aku tidak hanya menusuk, tapi sedikit menebas juga," timpal Hideki. Harada hanya bisa menepuk dahi sambil menggelengkan kepala.
"Tapi nii-chan, kami lulus kan?"
"Ya, kalian lulus. Ini benar-benar kombinasi yang gila. Kalau gerak refleks milikku belum sepenuhnya kembali, ada jaminan kalian akan melukaiku."
Hideki menepuk-nepuk punggung Harada sambil mengatakan jika hal itu akan sulit terjadi. Harada terkekeh kaku, namun raut wajahnya kembali serius saat melihat Kasugai miliknya, Kara, terbang menghampiri lalu mendarat di bahu kanan Harada. Bahkan Hikaru sendiri cukup terkejut dengan kedatangan Kara yang tiba-tiba.
"Waaak, uppermoon kelima dan keempat sudah dibasmi, waaak! Iblis Tanjiro juga telah kebal terhadap matahari, waaak!"
Baik itu Harada, Hideki ataupun Hikaru sama-sama tercengang dengan ucapan Kara. Hikaru terus bertanya pada Kara tentang kebenaran kabar itu. Hideki menanyakan siapa yang berhasil mengalahkan dua Jogen sekaligus. Sementara kini Harada termenung, mencoba untuk mencerna serta menghubungkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Di sisi lain, setelah Kara mengatakan jika Muichiro, Kanroji, Genya, Hikari, Tanjiro dan Nezuko adalah yang berhasil membasmi dua Jogen sekaligus, burung gagak tersebut kini malah bertengger di atas kepala Harada lalu mematuk-matuknya untuk membuat Harada tersadar dari lamunannya.
"Waaaak, kau benar! Dia akan menjadi incaran Muzan, waaaak! Melebihi dari kalian semua, waaak!"
"Kurasa Kagaya akan merencanakan sesuatu setelah ini. Kara, pergilah lagi dan cari informasi. Kami akan segera kembali ke markas."
"Waaaak, wakatta, waaaaak! Jaa na waaaak!"
Kara akhirnya beranjak dari atas kepala Harada dan terbang tinggi. Manik hijau rumput yang semula menatap ranting pepohonan yang rimbun, kini beralih pada tatapan sahabatnya yang terlihat serba salah. Harada memiringkan kepalanya dan bertanya mengenai alasan Hideki bereaksi seperti itu.
Lalu Hideki mengatakan jika masih banyak Klan Date Date yang berubah menjadi iblis dan masih berkeliaran bebas. Pria berambut putih itu juga menceritakan tentang misi gabungannya yang paling baru bersama Gyomei, Akira dan Ryunato. Hanya berbekal cerita dari Hideki saja, Hikaru telah menyimpulkan jika anggota Jogen paling baru bisa saja muncul dari Klan Date.
Bahkan pria bermanik karamel itu menyimpulkan jika Muzan menyukai manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Kisatsutai , namun mengalami takdir yang buruk dan ingin selalu menjadi kuat. Hideki yang mendengar semua ucapan Hikaru hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Terutama saat mengingat jika Kairi, yang selama hidupnya sebagai manusia tidak pernah berbohong, sampai mengatakan jika orang tua dan seseorang yang dipanggil Baka Koju kini sangat kuat.
Time Skip Rapat Pilar
__ADS_1
Dengan dahi yang dipijat dan kedua matanya yang terpejam, Harada mencoba untuk mencerna segala pembicaraan di sekitarnya. Entah itu tentang penyerangan Desa Penempa, yang juga menjadi sebuah deklarasi perang dari Muzan, atau segala hal tentang tanda dan peningkatan kekuatan membuatnya merasa sangat dilematis.
Karena jika tanda itu muncul, maka orang itu tidak akan berumur panjang jika tidak menguasai Pernapasan Matahari. Harada sendiri yang menyimpulkan hal ini karena dirinya tahu jika Yoriichi Tsugikuni meninggal dalam usia yang sangat tua dan sehat.
Dengan wajah yang sedikit gusar Harada melihat ke sekitarnya, mencoba membaca ekspresi wajah dari peserta rapat kali ini. Karena selain para Hashira, Nezuko turut serta dalam rapat kali ini. Tanda lidah api di dahi kirinya juga kini terpampang dengan jelas dan cukup panjang, bahkan hingga mendekati pelipis kiri gadis berambut hitam dengan gradasi oranye tua di bawahnya.
"Mui, singkat kata kau mendapatkan tandamu saat tubuhmu berada di kondisi yang tidak wajar?" Itu Hideki yang mencoba memastikan. Muichiro mengangguk.
"Begitulah. Saat itu aku sangat ingin menang, mengingat kerugiannya juga akan sulit untuk dipulihkan," balas Muichiro. Semua yang hadir di sana turut mengangguk pelan.
"Kalau begitu, aku ingin semua anggota Kisatsutai memiliki tandanya masing-masing. Aku tahu ini egois, tetapi dengan semakin kuatnya Muzan dan para bawahannya, kitalah yang harus menyerang. Kita juga tidak bisa terus mengandalkan Hashira terkuat kita dalam pertarungan. Karena aku juga yakin mereka akan menghadapi musuh yang bahkan lebih kuat dari diri mereka sendiri."
Dengan penuturan Kagaya yang cenderung emosional, kini semua peserta rapat menundukkan kepala untuk beberapa saat, lalu tenggelam dalam keheningan. Tetapi di sisi lain, Harada terlihat mengamati Hashira lainnya serta Nezuko. Namun dengan berbagai ekspresi yang terpampang, Harada yakin jika mereka semua ingin menjadi kuat agar tidak menjadi beban di pertarungan nanti.
Setelah penuturan panjang dan emosionalnya tadi, Kagaya kini menjelaskan tentang aspek apa saja yang harus diajarkan pada seluruh anggota Kisatsutai. Mulai dari kecepatan dan gerak refleks, sinkronisasi dalam pergerakan, pemanfaatan celah, kelenturan tubuh, ketahanan dalam pertarungan jangka panjang, dan optimalisasi kekuatan otot. Nezuko yang ada di sana terlihat sedikit speechless dan bersemangat di saat yang bersamaan. Sementara para Hashira kini sudah tahu siapa saja yang akan menjadi instruktur dalam pelatihan ini.
"Oyakata-sama, apa ini berarti Anda akan memanggil dua mantan Hashira?" tanya Kyojuro. Kagaya mengangguk.
"Ya, aku akan memanggil Tengen dan Sakonji kemari. Lalu Harada, kau akan satu tim dengan mereka berdua. Kau paham betul dinamika jebakan milik Sakonji, jadi kau bisa melacak semuanya seharusnya," tutur Kagaya. Harada mengangguk pelan.
"Ano Oyakata-sama. Lalu bagaimana dengan Hashira lainnya?" tanya Shinobu.
"Sambil menuntaskan tugas masing-masing, secara bergiliran kalian akan latih tanding memakai shinai. Atau mungkin akan ada perubahan nantinya."
Semua peserta rapat mengangguk pelan. Mereka sudah yakin dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Lalu di sisi lain, Harada menyadari jika Kagaya kini memandang dirinya, Gyomei dan Hideki secara bergantian dengan tatapan yang cukup sulit diartikan.
Sehingga ketika Kagaya mengatakan rapatnya telah usai, ketiganya tetap diam di tempat dan menunggu pemimpin mereka untuk berucap lebih lanjut. Manik hijau rumput Harada juga kini mencoba mengamati ekspresi kedua rekannya dengan lebih dalam. Saat ruang rapat hanya diisi oleh Kagaya, Amane, Harada, Gyomei dan Hideki, pria beriris lavender tersebut mengeluarkan sebuah gulungan dari kantung kimononya dan membukanya di lantai.
"Terima kasih karena sudah mengerti kode yang aku kirimkan. Karena hanya kalian bertigalah yang sepenuhnya kupercayai dalam penyusunan strategi," tutur Kagaya.
"Selama Anda bisa melihat kehancuran Muzan, itu sudah cukup untukku, Oyakata-sama," tukas Gyomei. Kagaya tersenyum.
"Arigatou na, Gyomei. Tapi sepertinya tidak akan ada cara yang ampuh untuk diriku sendiri lolos dari rencana satu ini."
__ADS_1
Harada tertegun. Ucapan Kagaya tadi seolah memberikan sebuah shock therapy untuknya. Bahkan ketika pria bermanik hijau rumput itu memperhatikan satu persatu ekspresi orang-orang yang ada di sini, termasuk Kagaya, Harada bisa menjamin jika dirinyalah yang akan merombak habis rencana Kagaya demi keselamatan semuanya, mengingat Harada tidak akan pernah membuat seseorang harus berkorban secara cuma-cuma, terutama untuk keluarga kecil Kagaya yang baru terbebas dari kutukan.