
Meskipun hanya berjarak setahun, namun selama ini sudah banyak sekali hal yang terjadi. Baik itu yang membuat dada semua orang sesak, ataupun hal-hal yang mengagumkan. Baik itu dari pensiunnya seorang Rengoku Shinjuro secara mendadak, hingga kemunculan seorang Himejima Gyomei yang membuat banyak pemburu iblis terkejut.
Terutama dengan cerita dari pria muda bertubuh besar itu yang telah memukuli seekor iblis tanpa henti hingga matahari terbit. Meskipun banyak yang kagum padanya, namun rasa kagum orang-orang belumlah sebesar Harada. Pemuda beriris hijau rumput itu mengaguminya dengan alasan tertentu.
Tetapi yang membuatnya bahagia adalah, saat Harada diizinkan untuk memanggilnya dengan sebutan 'Gyo-nii' saat pertemuan pertama mereka. Kagaya juga ada di sana, dan mengatakan jika pemuda berambut sebahu itu mengagumi kekuatan otot yang dimiliki Gyomei. Pemuda berambut hitam pendek itu merasa sangat terharu. Karena selain bisa diterima, banyak yang menganggapnya sebagai keluarga.
Setidaknya pertemuan antara Gyomei, Kagaya dan Harada berlangsung sekitar tiga minggu yang lalu. Kini pria berambut hitam spiky tersebut sedang menjalani misi pertamanya, yang sebenarnya tidak pernah diduga oleh dirinya sendiri.
Gyomei sudah tahu jika Harada telah menjadi Hashira sejak usia 12 tahun. Hal itu membuat Gyomei salut pada Harada, karena pemuda beriris hijau rumput itu telah membuang masa kanak-kanaknya yang berharga untuk melindungi orang-orang.
Lalu misi pertama Gyomei sebagai pemburu iblis, yang akan selalu dikenangnya adalah menjadi anggota tim yang dipimpin Harada. Selain mereka berdua, dalam misi ini juga turut serta dua orang berpangkat Kinoe, yaitu Hikaru dan Hideki. Harada sempat mengatakan jika misi ini sebenarnya terhitung berbahaya untuk seorang pemula. Namun mengingat ketahanan Gyomei yang luar biasa, maka Kagaya menjadikan misi ini sebagai misi pertama pemuda berambut spiky itu.
Kedua pemburu iblis yang lebih senior dari Gyomei terkejut ketika pemuda berambut hitam itu mengatakan ini adalah misi pertamanya. Namun Harada mengatakan jika dirinya dan Kagaya percaya pada pemuda yang tidak bisa melihat itu. Perkataan Harada sebelum berangkat untuk misi sukses membuat Hikaru dan Hideki menghela napas pelan, pasrah dengan apa yang menjadi keputusan atasan.
Malam ini adalah malam menjelang musim gugur yang cerah. Angin malam yang mulai dingin berembus lembut membelai wajah mereka berempat. Langit malam benar-benar bersih, menampilkan taburan bintang yang berkelip dengan malu-malu. Meskipun melewati hutan, kini mereka berempat sebenarnya sedang mendaki gunung, berniat untuk menuju suatu tempat yang indah namun juga bisa sangat berbahaya, terutama ketika seorang Kibutsuji Muzan telah mengetahui tempat itu.
Pergerakan mereka berempat membentuk sebuah formasi belah ketupat. Harada paling depan, karena pemuda bertubuh tinggi dan tegap itu adalah yang menemukan tempat tersebut. Sementara di belakang, Hideki dengan instingnya mengamankan jalur, bersiaga takutnya ada seseorang yang datang.
"Nii-chan, sejauh apa sebenarnya tempat itu?" tanya Hikaru. Karena kini mereka telah mendaki selama dua jam penuh.
"Sebentar lagi, nah itu dia!" balas Harada, sambil menunjuk ke depan.
Formasi langsung terpecah ketika Harada mengatakannya. Hideki dan Hikaru terpana dengan pemandangan di hadapannya, di mana bunga higanbana bermekaran dengan cantiknya dalam radius dua meter. Tetapi di padang bunga tersebut, ada lima anak perempuan yang sedang bermain di sana, dan membuat keempat pemburu iblis itu tergelak. Saat Harada mengendus udara dengan lebih teliti lagi, ternyata bukan hanya higanbana yang tumbuh subur di sini. Tetapi juga berbagai bunga lainnya seperti melati ataupun chrysanthium.
Angin malam yang lembut menggoyangkan padang bunga berukuran kecil tersebut. Harada kembali mengendusi udara, lalu meminta agar Hikaru mengambil satu sample. Karena Hikaru juga membawa peralatan berkebun saat ini, dan hanya Hikaru yang memiliki kemampuan untuk berkebun dan berternak.
Sambil mengawasi lingkungan sekitar dengan penciumannya, Harada mendekati Hikaru yang sedang sibuk menentukan sample mana yang akan dibawa ke Rumah Kupu-kupu. Pemuda beriris cokelat madu itu berbalik menatap Harada dan menggeleng. Meskipun sample yang diambil memiliki warna biru di ujung kelopaknya, namun kemungkinan besarnya, Aoi Higanbana yang sangat dicari-cari itu belum mekar untuk saat ini.
"Hikaru, bakar tempat ini. Gyo-nii, Hideki, bisakah kalian urus anak-anak itu?" ujar Harada.
Mereka bertiga mengangguk pelan. Hideki dan Gyomei segera menghampiri kelima anak perempuan yang sedang membuat banyak mahkota bunga, lalu meminta mereka berlima untuk pergi dari padang bunga kecil ini. Atau lebih tepatnya turun gunung. Harada melompat untuk naik ke pohon, selagi Hikaru menyalakan korek api, kemudian melemparnya ke bunga-bunga higanbana di sekitarnya. Baru saja dua menit berlalu, Hikaru mendapati kakaknya menutup hidung.
"Daijobu ka nii-chan?" tanya Hikaru. Harada mengangguk.
"Tak apa, firasatku hanya tidak-" perkataan Harada terpotong ketika pemuda itu mendengar seruan Hideki dari kejauhan, yang membuatnya berdecih kesal.
"Akar beracun itu ada di sini!"
"Hikaru, berikan higanbana itu."
"Chotto onii-chan, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
"Berikan saja! Lalu sembunyikan umbinya nanti!"
Hikaru menyodorkan pot tanah liat berisi bunga higanbana pada kakaknya. Harada dengan cepat memakan bunga higanbana itu sambil mengerutkan dahi. Pemuda beriris hijau rumput itu lalu mengeluarkan sebuah suntikan dari saku dada seragam, dan menyuntikkan isinya melalui punggung tangan kirinya sebelum melesat pergi menghampiri Hideki. Hikaru butuh waktu beberapa detik untuk tersadar dari tindakan nekat kakaknya itu, lalu bersegera untuk turun gunung.
.
Dua pedang berdentang beberapa kali, bahkan telah menciptakan sebuah melodi yang khas dan teratur. Di belakang pertarungan itu, ada tujuh orang dengan emosi yang sangat berbeda. Gyomei dengan tubuhnya yang besar, menjadi tameng untuk 5 gadis yang ditemuinya di atas gunung. Sementara di seberang mereka, seorang pria berambut keriting tengah menunggu pertarungan ini selesai dengan sabarnya. Gyomei mengira jika orang ini memang mengincar para Akechi yang masih berada di atas gunung.
Sesi adu pedang itu berakhir. Hideki mendarat tepat di depan Gyomei. Sementara lawannya, Kokushibou, terdorong hingga ke depan Muzan. Dengan napas yang menderu Hideki masih mengacungkan nichirin pada Kokushibou. Sementara iblis bermata enam itu terlihat sedang memasang kuda-kuda, berniat untuk melakukan sebuah serangan yang mungkin cukup besar.
"Tsuki no Kokyu, Hachi no Kata:Getsuryu Rinbi."
"Arashi no Kokyu, Juuichi no Kata:Zerodo."
Iris biru muda Hideki membulat sempurna. Teknik Kokushibou yang seharusnya memiliki daya rusak yang sangat besar itu berhasil dibatalkan. Tepat di depan semuanya, Harada muncul sambil menghunus nichirin. Dengan napas yang memburu, pemuda bertubuh tinggi tegap itu seolah sedang menahan amarahnya pada dua musuh yang tepat berada di depan matanya.
Hideki, yang sebenarnya telah mengalami beberapa luka kecil, maju dan bersiaga di depan Harada. Tingkah pemuda berambut putih itu membuat Harada sedikit bingung. Namun ketika melihat kesungguhan pada iris biru mudanya, Harada hanya bisa tersenyum dengan tatapan mata yang sedikit rumit.
"Lama tidak berjumpa ya, Harada," ujar Muzan. Harada mencebikan bibir.
"Lalu apa yang kau inginkan hm?" tanya Harada dengan santainya.
Muzan memunculkan akar dari bawah tanah. Gyomei melompat sambil membawa kelima anak perempuan di dekatnya dengan bahunya, lalu melompat ke atas dahan pohon. Hideki dan Hikaru juga berusaha untuk menghindari akar-akar tersebut dengan susah payah, selagi Harada kini berhadapan dengan Kokushibou yang semakin liar.
Ada satu akar yang mengarah ke Harada, dan akar itu mengincar jantungnya dari belakang. Hikaru yang menyadari itu segera melompat ke belakang Harada segera melakukan salah satu teknik pernapasannya.
"Hono no Kokyu, Shi no Kata: Sei En no Uneri!"
Hikaru memutari kakaknya sebanyak lima putaran, menghasilkan sebuah dinding api yang cukup tebal. Kokushibou mundur sejauh beberapa meter, dan teknik itu juga berhasil membelokkan akar milik Muzan. Harada yang melihat hal itu hanya bisa berterima kasih, lalu meminta agar Hikaru menjaga punggungnya. Harada yang baru saja menyadari jika Hikaru menitipkan peralatan berkebunnya pada Gyomei tersenyum kecil.
"Hideki, bawa anak-anak itu dengan Gyo-nii lalu kembalilah kemari. Aku butuh bantuanmu," tukas Harada.
Hideki mengangguk pelan. Pemuda berambut putih itu meminta agar Gyomei mengikutinya, tentu sambil menghiraukan protes dari pemuda bertubuh besar itu yang mengkhawatirkan Harada dan Hikaru.
Hideki mengatakan jika mereka berdua tidak akan kalah dengan mudah, meskipun lawannya sekaliber Muzan dan Kokushibou. Karena Harada telah memupuk kebenciannya sendiri pada dua iblis tersebut, dan hal itu membuatnya menjadi sangat kuat.
Sementara itu di sisi Harada, terlihat Muzan sedang tertawa. Entah karena apa iblis yang memakai fedora putih itu tertawa. Namun jika Harada ingat-ingat kembali, iblis bermata merah menyala itu kemungkinan tidak habis pikir dengan keputusan yang Harada ambil. Ya setidaknya minggu ini, dirinya bisa berpesta daging dan darah marechi dengan Kokushibou.
Harada menyeringai. Hikaru menyerang Kokushibou secara langsung. Tetapi dengan kelenturan tubuhnya, Hikaru berhasil menghindari berbagai serangan maut yang dilancarkan oleh Kokushibou. Sementara Muzan kembali memunculkan akarnya untuk menyerang Harada. Dari aromanya, Harada bisa tahu jika akar yang digunakan saat ini masihlah tidak beracun.
Sepertinya Muzan ingin bermain dulu dengan mereka, sama persis ketika dua iblis ini mendobrak masuk ke kediaman Akechi tempo hari. Sekalipun terlihat bermain-main, baik Kokushibou dan Muzan sebenarnya menyerang dengan nafsu makan yang sangat besar, seolah tidak sabar untuk melahap kedua kakak beradik di depan mereka.
__ADS_1
Hikaru dan Harada semakin terdesak. Secara bergantian mereka berdua menangani tebasan serta tendangan Kokushibou dan akar milik Muzan. Mereka berdua bertarung untuk saling melindungi, dan itu malah membuat kedua iblis itu tampak semakin lapar. Kedua pemburu iblis itu sudah terluka cukup parah. Harada meminta Hikaru untuk menutup telinganya. Pemuda beriris cokelat madu itu paham dengan apa yang akan dilakukan kakaknya, yang kini melesat menuju Muzan.
"Fukugo Gijutsu: Jigoku no Kokyu, Juuni no Kata: Zetsubo no Hoko! Jigoku no Kokyu, Juu no Kata: Yudeta Tsumi, Amaterasu!"
Harada berputar-putar di antara Kokushibou dan Muzan, menciptakan sebuah tornado api hitam yang mengenai kedua iblis itu. Sambil menahan rasa sakit di gendang telinganya, Kokushibou masih sempat menebas bahu kiri Harada dan memberikan luka yang terhitung dalam.
Muzan juga ikut menebas dada Harada secara vertikal, dan membuat seragam pemburu iblisnya sobek tepat di tengah-tengah, membuat dada bidang Harada terekspos, serta memberikan luka yang sangat dalam di sana. Darah terciprat di udara yang dingin. Hikaru, yang sudah tidak peduli dengan apa yang akan dialaminya, juga ikut melesat untuk memberikan serangan lanjutan.
"Hono no Kokyu, Go no Kata: Enko!"
Hikaru turut menghujani Muzan dan Kokushibou dengan serangan yang kuat, karena dirinya memang selalu memakai pernapasan penuhnya. Setelah serangan itu, ada sesuatu yang menarik yang baru saja diketahui olehnya.
Jika Muzan dan Kokushibou sama sekali tidak beregenerasi. Serangan harimau apinya juga menambah kuantitas luka bakar yang telah mereka alami karena serangan Harada. Karena semua itu, Kokushibou secara mengejutkan melancarkan sebuah serangan yang sangat kuat dan sama sekali tidak diduga oleh Hikaru.
"Tsuki no Kokyu, Juuroku no Kata: Gekko Katawaredzuki!"
"Fukugo Gijutsu: Kori no Kokyu, Juu no Kata:Kotta Ryodo! Kori no Kokyu, Shichi no Kata: Koryudan!"
Hideki datang tepat waktu. Lagi-lagi satu teknik pembatal teknik lain keluar. Meskipun begitu, teknik milik Kokushibou tidaklah sepenuhnya dibatalkan. Hideki masih harus menghindari serangan Kokushibou untuk melancarkan serangan lanjutannya, yang serupa dengan tarian yang menebas udara dan menghasilkan beberapa suara ledakan pada Kokushibou dan Muzan.
Sementara Hikaru terpaksa menggendong Harada yang sudah tidak sadarkan diri di punggungnya untuk sedikit menjauh. Dari jarak 15 meter, tepat di atas sebuah pohon pinus, Hikaru bisa melihat jika Muzan dan Kokushibou kabur dengan memasuki sebuah portal. Meskipun itu membuat pemuda bermanik cokelat madu itu terkejut, namun Hikaru lebih memilih untuk lompat menuruni pohon pinus yang cukup tinggi dan menghampiri Hideki.
Manik biru muda miliknya langsung membulat ketika melihat wajah Harada yang benar-benar pucat di punggung Hikaru. Hideki meminta agar Hikaru membaringkan kakaknya untuk sesaat, karena pemuda berambut putih itu ingin mengeceknya.
Hikaru hanya menurut. Karena di samping nichirin, Hideki selalu membawa tas pinggang berisi obat-obatan. Hideki sedikit berjengit ngeri, namun pemuda berkulit putih pucat itu memberanikan diri untuk membersihkan dan menghentikan pendarahan yang dialami oleh Harada.
"Aku hanya bisa sampai menutup lukanya. Sisanya harus dilakukan di markas," ujar Hideki. Hikaru terlihat tidak percaya.
"Separah apa memangnya?" tanya Hikaru. Tatapan mata Hideki langsung meredup.
"Tebasan di perut dan bahu kiri, lalu tebasan menurun yang tepat di dada sampai perutnya, serta lima ruas tulang rusuk yang patah. Tapi untungnya itu belum menusuk paru-parunya. Jadi untuk membawanya saja, kita harus berhati-hati."
"Kalau itu situasinya, aku akan menggendong Harada-san sampai ke markas."
Kalimat terakhir itu diucapkan oleh Gyomei. Di punggung dan pundaknya, lima gadis kecil yang tadi bersamanya juga turut serta. Mereka berlima terlihat terkejut dengan pemandangan hutan yang porak poranda ini. Hideki menatap Gyomei selama beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Tapi berhati-hatilah, Himejima. Anak-anak ini biar kami berdua yang urus," tukas Hideki.
Gyomei mengangguk pelan. Setelah Hideki selesai menghentikan pendarahan yang dialami sahabat baiknya, Gyomei lalu menggendong Harada seolah pemuda berambut hitam itu adalah nampan kristal yang harus dijaga dengan kedua tangan. Pemuda bertubuh besar tersebut kemudian berlari secepat dan setenang yang dia bisa, karena dirinya juga takut akan menimbulkan cedera yang lebih serius pada Harada.
Di sisi lain, Hikaru berusaha untuk ceria dan menuntun lima gadis kecil di dekatnya untuk turun gunung. Iris cokelat madunya bisa melihat jika suasana hati Hideki sangat kacau sekarang. Bahkan hanya untuk berbasa-basi saja, rasanya Hikaru enggan untuk melakukannya. Iris biru muda yang biasanya terasa secerah langit di siang hari, kini terlihat sangat dingin seperti danau yang membeku pada puncak musim dingin.
__ADS_1