Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Yoshiwara (2)


__ADS_3

Yoshiwara, sekitar 1 hari sebelum kedatangan Harada dan Hideki di Kirimise


Langit biru dengan awan putih yang berarak cukup menjadi pemandangan yang bagus di tengah keramaian Yoshiwara yang memabukkan. Sambil menikmati semilir angin yang berembus lembut, Hikari dan Tengen yang sudah memakai seragam pemburu iblisnya berjongkok di atas atap yang menukik.


Sebagai catatan, Tengen sengaja melindungi Hikari mati-matian dari sekian banyak orang yang menawari gadis bersurai senja itu untuk memasuki rumah bordil, karena secara keseluruhan, pria berambut putih itu masihlah membutuhkan gadis di sampingnya ini. Selain tentunya, keselamatan Hikari adalah jaminan agar mantan shinobi itu tidak dihajar sampai mampus oleh Harada. Karena Hashira Badai itu sangat protektif pada kedua adik kembarnya.


Sepasang manik merah marunnya memperhatikan suasana ramai di bawahnya, dan sesekali melirik pada Hikari yang terlihat khawatir. Ingin rasanya pria berambut putih itu untuk menanyakan sebab kekhawatiran gadis di sampingnya. Tetapi saat mengingat sisi sensitif Hikari, Tengen terpaksa untuk mengurungkan niatnya. Lagipula saat ini, Nezuko dan Inosuke sedang berdebat tentang kedatangan Zenitsu yang terlambat.


"Zenitsu tidak akan datang," tukas Tengen. Nezuko terdengar terkesiap.


"Eh tapi kenapa? Aku yakin Zenitsu-san akan datang kok, Uzui-san," balas Nezuko. Tengen menoleh ke belakang sedikit lalu berdiri.


"Kalian berdua pergilah. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kalian tangani. Siapapun yang berhenti mengabari akan kuanggap sudah mati. Dari sini aku hanya akan membawa Hikari-chan, karena dia secara teknis lebih kuat dariku."


Pada saat yang sama, Tengen dan Hikari lenyap dari hadapan Nezuko dan Inosuke. Pemuda berambut biru itu sempat tercengang dengan kecepatan yang dimiliki oleh keduanya, tetapi kesadarannya tertarik kembali karena Nezuko kini mengajaknya untuk kembali ke pos masing-masing.


Namun pemuda bermanik hijau itu tidak terima, dan menjelaskan tentang peringkat mereka yang sudah lebih tinggi. Nezuko hanya menganggukkan kepalanya, lalu berucap agar keduanya harus berhenti menyamar malam ini. Inosuke terkekeh, lalu mengacak-acak rambut di ubun-ubun Nezuko, merasa puas dengan jawaban spontan yang diberikan gadis bermanik pink pudar itu.


Timeline Normal


Meski situasi di sekitar ketiganya telah hancur lebur, tetapi iblis bersurai pirang pudar tersebut masih berdiri tegak sambil tertawa-tawa. Di depannya, dua pemburu iblis tingkat Hashira menatap nyalang dirinya sambil mengacungkan nichirin dengan tangan yang sedikit gemetar. Bertarung dalam jangka waktu yang lama dengan suhu rendah sungguh membuat Harada dan Hideki frustasi. Karena bagaimanapun ceritanya, mereka masihlah seorang manusia.


Pasalnya mereka berdua sudah terluka cukup parah, tetapi Douma, yang pada dasarnya adalah iblis, memang memiliki stamina dan kemampuan regenerasi diluar nalar. Hanya sudah beberapa kali kedua Hashira itu mendengar gemuruh perut Douma yang kelaparan.


Iblis bermanik pelangi tersebut melangkah ke depan dengan kipas tessen yang menutupi bagian bawah wajahnya. Kedua matanya tampak tersenyum, tetapi kedua Hashira di sana paham jika iblis bulan di hadapan mereka akan melancarkan kombinasi serangan yang tidak terduga sama sekali. Karena baru saja ketiganya melancarkan serangan berskala besar yang mengejutkan.


"Wah sekuat-kuatnya kalian berdua, tetap saja ada batasannya jika berhadapan dengan es ya~" tutur Douma. Hideki mencebik kesal.


"Oi, tutup mulutmu dasar norak! Kami belum selesai!" tukas Hideki dengan penuh penekanan.


"Muhyo-Suiren Bosatsu."


Patung Buddha yang terbuat dari es muncul dari dalam tanah, lengkap dengan beberapa teratai es di dekat pundak kanan dan kiri. Douma segera menaiki pundak kiri patung itu, yang dalam jarak beberapa detik memunculkan angin dingin dengan jangkauan yang sangat luas.

__ADS_1


Hideki dan Harada yang sedikit terlambat merespon langsung menghindar ke arah yang berlawanan. Bagian mulut patung itu terbuka dan mengeluarkan angin beku ke segala arah, selagi bunga teratai di pundak kanan dan kirinya kini mengeluarkan sulur es yang berduri. Dengan sedikit paksaan keduanya bersiap untuk melakukan teknik pernapasan yang mereka pikir efektif dalam menangani serangan gila-gilaan dari Douma.


"Kori no Kokyu, San no Kata: Saihyosen!"


"Fukugo Gijutsu. Arashi no Kokyu, San no Kata: Senpuha. Jigoku no Kokyu, Juusan no Kata: Kusahanada!"


Suhu rendah yang mencekik hutan kembali naik, bahkan jauh lebih panas dari sebelumnya. Embusan angin beku yang hendak menyerang Harada dan Hideki seketika itu juga lenyap. Pepohonan yang membeku terbakar oleh api hitam yang meledak secara tiba-tiba, dan juga mulai membuat patung es yang Douma buat meleleh.


Hideki dengan nichirin yang sedikit menyala, berusaha secepat mungkin untuk menghancurkan sulur es yang mengincarnya sambil berusaha menghindar dari sulur es lain dan api hitam Harada. Sementara pria bersurai malam itu kini benar-benar mengincar kepala milik Jogen Kizuki no Ni tersebut.


Sambil membakar setiap serangan yang menghampirinya, Harada melesat ke arah Douma. Dengan sekuat tenaga pria beriris hijau rumput itu menendang kepala Douma ke belakang hingga terpelanting. Tetapi dengan pengalaman bertarung yang jauh lebih banyak dari Harada, Douma berhasil mendarat dengan mulus.


Sehingga kini keduanya terlibat pertarungan jarak dekat. Nichirin dan kipas tessen beradu dengan nyaring, menambah keramaian di hutan yang sepi. Douma memunculkan 15 tombak di atas kepala Harada, tetapi dengan mudah pria yang lebih tinggi dari Douma itu membakarnya. Sebuah seringai terpampang jelas di wajah lelah Harada.


Pria bertubuh tinggi tegap itu menendang perut Douma dengan lutut kanannya, lalu melakukan tebasan horizontal pada leher Douma dengan nichirin yang masih bersepuhkan api hitam. Tetapi fajar yang ditunggu-tunggu masih lama menyingsing, sehingga meskipun Harada berhasil memenggal Douma, tetapi sebuah pintu shoji tiba-tiba muncul dari belakang Douma dan menarik iblis pirang itu.


Harada refleks melompat ke belakang dan mencebik kesal, merasa jika usahanya akan sia-sia. Patung Buddha dan teratai-teratai es yang Douma buat seketika itu juga hancur berkeping-keping, dan hanya menyisakan rumput basah yang juga ternodai oleh darah. Harada dan Hideki jatuh berlutut lalu batuk darah. Ada rasa sesak yang menjalar dari dada kedua pria tersebut. Tetapi sebuah seruan dengan suara berat mengalihkan perhatian keduanya, terutama karena sosoknya yang lebih tinggi dan kekar dari Harada.


"Apa kalian bisa menahannya? Genya juga akan segera datang kemari, jadi tahanlah sebentar lagi," ujar Gyomei. Harada terkekeh lalu merebahkan diri sambil menahan sakit.


Dahi pria bersurai hitam spiky itu berkerut. Meskipun sudah sangat lama tidak bisa melihat, namun telinganya bisa mendengar jika situasi keduanya tidaklah baik-baik saja. Ketika Gyomei sadar jika Shinazugawa Genya, yang merupakan Tsugukonya datang, Gyomei berjalan ke arah Harada dan menggendongnya di punggungnya yang lebar.


Lalu di sisi lain, pemuda dengan bekas luka yang menjalar dari telinga kanan hingga ke hidung itu mencoba memapah Hideki, meskipun akhirnya Genya terpaksa harus menggendong Hashira Es tersebut di punggungnya. Setelah sebuah anggukan kepala dari keduanya, kedua lelaki bersurai malam itu melangkahkan kakinya sesegera mungkin agar Kisatsutai tidak kehilangan dua Hashira sekaligus.


.


Selagi Tengen pergi ke Kirimise untuk menjemput Hinatsuru, Hikari ditugaskan untuk mengawasi segala sesuatu yang terjadi di Yoshiwara. Dengan matanya yang tajam serta kemampuannya dalam merasakan aura jugalah, gadis bersurai senja itu berhasil menyadari keberadaan dari iblis bulan yang tinggal di Yoshiwara.


Karena kepekaannya juga kini membuatnya berhadapan dengan iblis yang dicari. Jogen Kizuki no Roku, Daki. Di sampingnya sendiri ada Nezuko yang sedang terperangah dengan pemandangan yang ada di depan keduanya.


"Meh, akhirnya kalian datang juga. Berapa jumlah kalian? Salah satu dari kalian pasti seorang Hashira, iya kan?" tutur Daki. Hikari hanya tersenyum.


"Apapun anggapanmu, aku akan menerimanya. Lagipula ucapanmu itu tidak salah," balas Hikari.

__ADS_1


"Ho, kalau begitu berapa jumlah kalian? Aku sudah menangkap bocah pirang itu. Lebih baik kau turuti kemauanku jika kau ingin bocah itu bebas, Nona Hashira."


"Tapi sayangnya aku tidak akan memberitahukan informasi itu. Lagipula kami tidak cuma berdua."


Dengan selendangnya Daki menelan tubuh Oiran Koinatsu. Kedatangan Hikari dan Nezuko yang cukup mengejutkan iblis bersurai putih kehijauan itu membuatnya kesal. Terutama dengan setiap ucapan Hikari, iblis dengan tato bunga di rahang bawah kiri itu merasa tertantang. Sehingga dalam sekejap mata, Daki menggunakan selendangnya untuk menyerang Hikari dan Nezuko.


Gadis bersurai senja itu langsung menarik kerah seragam Nezuko dari belakang untuk sedikit menjauh, setidaknya menuju atap bangunan di depan ruangan Daki berada. Iblis beriris sewarna lemon mentah itu menatap nyalang manik hijau Hikari, sementara Nezuko kini tengah meletakkan kotak yang membawa Tanjiro karena talinya rusak.


"Aku akan bebaskan Oiran itu. Kau cepat menyingkir dari sini, Nezuko. Kau hanya akan terbunuh olehnya," tutur Hikari. Tangan kanan Nezuko gemetaran.


"Tapi, Hikari-san! Aku bisa melakukannya!" tukas Nezuko. Hikari menggeleng.


"Kalau begitu jagalah punggungku. Ini bukan pertarungan yang akan kau menangkan dengan mudah."


Hikari dan Daki melesat di saat yang bersamaan. Dengan ketepatan yang sudah terasah Hikari berhasil memotong selendang yang memerangkap Koinatsu, lalu mencoba memotong bagian selendang lainnya dengan teknik keempat Pernapasan Air.


Kedua wanita itu mendarat di tanah, dan bersiap untuk sesi selanjutnya. Daki mulai merasa tertantang dengan kelincahan dan kecepatan Hikari, sehingga iblis bertubuh molek itu merasa jika setiap ucapan Hikari ada benarnya. Sementara di sisi lain, gadis bersurai senja tersebut tampak menyeringai karena Daki telah terbawa suasana.


"Hahaha! Kau benar-benar hebat, Nona Hashira!" seru Daki sambil tertawa puas.


"Sungguh sebuah kehormatan untukku. Tapi aku tidak akan menganggap itu sebagai pujian," timpal Hikari.


"Ho, kau menarik rupanya ya."


Daki menyerang Hikari dengan lebih brutal. Namun gadis beriris hijau rumput itu dengan piawai menghindar dan mencoba membalas serangan dari iblis yang terlalu seksi di depannya. Sambil mengerutkan dahi, Hikari mulai merasa jika semua ini tidak akan ada habisnya, dan situasi ini memaksa Hikari untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak akan bisa diduga oleh Daki. Hikari malah mendekat ke arah Jogen tersebut, lalu seolah hilang ditelan badai pasir.


"Jigoku no Kokyu, Shichi no Kata: Sabaku no Haka."


Nezuko yang masih berada di atap menyipitkan kedua matanya, mencoba untuk mengidentifikasi teknik yang Hikari pakai. Ketika manik pink pudarnya melihat siluet Hikari yang timbul hilang dengan cepat, serta suara selendang yang terpotong, Nezuko diam-diam tersenyum dari atap karena merasa jika Hikari akan menang dengan mudah.


Tapi tentunya, setiap serangan yang kini Hikari lancarkan layaknya sebuah makanan pembuka. Karena saat matanya melihat Hikari yang mencoba memenggal Daki, leher iblis itu malah berubah menjadi selendang yang lentur. Ketika manik pink pudarnya sadar jika selendang Daki datang dari belakang Hikari, Nezuko melompat ke bawah, berniat untuk melindungi punggung Hikari.


"Mizu no Kokyu, Shi no Kata: Uchishio!"

__ADS_1


Teknik ketujuh dari Pernapasan Neraka langsung berhenti. Hikari yang sadar dengan punggungnya yang terbuka lebar kini menoleh ke belakang dengan mata yang melotot. Nezuko tersenyum dan mengatakan jika semuanya kini baik-baik saja. Hikari berterima kasih, lalu membiarkan Nezuko untuk ikut bertarung melawan Daki.


__ADS_2