
Ketika Harada mengatakan jika dirinya akan menghabiskan sisa 15 harinya untuk beristirahat, sebenarnya dia tidak sepenuhnya beristirahat dan menikmati waktu luang. Setelah menghabiskan waktu 3 hari di rumah, Harada memutuskan untuk menginap di tiga tempat. 2 hari semalam di kediaman klan Rengoku, 2 hari di rumah Sakon ji-chan tercintanya, dan 2 hari bersama Jigoro.
Sejak malam itu, Jigoro memutuskan untuk pensiun dari kisatsutai. Karena selain usianya yang sudah tua, dirinya juga telah kehilangan setengah kaki kanannya. Semua menghormati keputusan pengguna Pernapasan Petir itu. Karena setidaknya, seorang Kuwajima Jigoro telah menghabiskan hampir seumur hidupnya untuk berada di kisatsutai.
Setelah menginap di rumah Jigoro dan Sakonji, Harada kini berada di kediaman Rengoku. Alasannya melakukan ini juga cukup sederhana, karena dirinya ingin menikmati waktu luangnya bersama dengan orang-orang yang telah Harada anggap sebagai ayah.
Meski nyatanya, anak laki-laki berambut hitam itu disambut layaknya rekan sesama Hashira oleh Shinjuro. Bahkan Harada sampai harus mengaku-ngaku sebagai Mizunoto pada pria berambut kuning merah itu. Meski terdengar sepele, namun hal tersebut berhasil membuat Shinjuro berhenti menganggapnya sebagai Hashira untuk saat ini, dan lebih menganggapnya sebagai anak.
Di pagi hari yang cukup terik ini, pria beriris cokelat madu itu sedang libur selama 2 hari dari misi-misinya sebagai Hashira. Sehingga kini Shinjuro memutuskan untuk fokus pada Hikaru, yang secara mengejutkan sangat cocok dengan Pernapasan Api. Meskipun latihan yang diberikan Shinjuro sedikit lebih kejam dari latihan yang Sakonji berikan, namun Hikaru bisa melakukannya dengan cukup baik. Atau setidaknya, itulah yang Harada simpulkan.
Karena sembari bermain dengan Kyojuro di teras belakang rumah, keduanya turut menyimak latihan yang Hikaru jalani di halaman belakang. Anak laki-laki di pangkuannya ini terlihat begitu antusias dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Harada hanya bisa mengelus puncak kepala Kyojuro ketika menyadari hal itu.
"Aniki," ucap Kyojuro singkat.
"Nani, Kyojuro? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Harada. Kyojuro menggeleng pelan.
"Kira-kira, kapan aku bisa berlatih seperti Hikaru nii-san? Aku juga ingin jadi kuat!"
Harada tergelak, nyaris tertawa dengan canggung. Anak berambut hitam itu tidak menyangka jika Kyojuro, yang masih berusia 4 tahun, akan mengatakan sesuatu seperti itu. Namun ketika Harada merefleksikan segala hal tentang klan ini, Harada paham kenapa Kyojuro sampai bertanya tentang hal itu pada umurnya yang masih sekecil ini.
Harada mengatakan estimasinya, jika Kyojuro kemungkinan akan dilatih dua tahun kemudian. Karena pelatihan kedua adiknya mungkin akan selesai pada saat itu, lalu Harada harus berdo'a agar kedua adiknya ini selamat dari ujian di Fujikasane. Saat itu juga merupakan batas waktu yang Kagaya berikan pada Harada untuk menikmati hidupnya sebagai pemburu iblis yang normal.
Tapi dibalik semua kerumitan tersebut, Harada sebenarnya sudah harus pulang nanti siang, dan kembali menikmati waktunya di rumah. Namun entah untuk alasan apa, Kyojuro sangat menempel dan ingin selalu bermain dengannya. Jujur ini membuatnya berat.
__ADS_1
Hingga 45 menit berlalu, Ruka datang menghampirinya dengan membawa lima gelas jeruk peras. Ruka memanggil Shinjuro dan Hikaru, agar kedua lelaki itu juga beristirahat untuk sejenak. Harada tersenyum kecil ketika melihat Hikaru yang terlihat puas dengan jeruk peras dari Ruka.
Setidaknya sekarang, dirinya bisa semakin tenang untuk meninggalkan kedua adiknya dalam waktu lama. Bahkan Hikaru mulai bercerocos tentang dirinya yang akan mempelajari pernapasan neraka. Shinjuro dan Harada sedikit tersedak. Hikaru hanya bisa cengengesan dengan wajah bingung. Apa sesulit itu ya?
"Oh ya Harada, Kyojuro kemarin bilang padaku jika kau akan pulang hari ini," kata Shinjuro. Harada terkekeh kaku, bingung akan menjawab apa.
"Rencananya memang begitu. Aku juga harus mempersiapkan mentalku," balas Harada.
Shinjuro menggaruk lehernya yang tidak terlalu gatal, merasa jika perkataan Harada ada benarnya. Di sisi lain Ruka tertawa kecil, lalu mengacak-acak surai hitam Harada. Sementara anak laki-laki berusia 10 tahun itu langsung merona, antara bingung, malu, dan nyaman. Karena setelah sekian lama, akhirnya ada orang yang mengacak-acak rambutnya lagi.
6 Hari Kemudian
Nyanyian burung gereja yang sangat berisik di luar memaksa insting Harada untuk terbangun. Sepasang netranya yang masih tertutup oleh kelopak bergetar dan terbuka secara perlahan. Sinar mentari pagi yang menghangatkan dunia menerobos masuk dari jendela kamarnya, membuat Harada mengerutkan dahi lebarnya untuk sesaat.
Karena begitu dirinya pulang dari Fujikasane, orang itu memberinya sekarung ubi manis sebagai tanda terima kasih karena telah dibiarkan berjualan di sana. Ubi manis itu juga berakhir di kediaman Rengoku, karena Shinjuro memintanya untuk diberikan pada Kyojuro. Harada terkekeh kaku ketika mencium aroma tersebut, lalu sedikit menggeliat guna meregangkan tubuhnya di atas futon.
Anak laki-laki itu melangkah keluar dari futon, lalu merapikan bagian selimutnya. Dengan langkah yang sedikit gontai Harada melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpakaian. Ketika Harada ingat hari ini adalah hari selesainya nichirin, anak laki-laki berambut hitam tersebut memutuskan untuk memakai seragamnya.
Alih-alih berwarna hitam legam, namun seragam yang diterimanya cenderung berwarna biru tua. Agar hakama miliknya tidak terlalu menyusahkan ketika bertarung, Harada mengikat bagian betis hakamanya dengan perban. Sebelumnya anak laki-laki itu telah memakai tabi berwarna putih. Tidak lupa haori biru tua bermotif burung bangau dan awan putih yang berarak, menutupi kanji yang bertuliskan pemburu iblis di bagian punggung seragam.
Selesai dengan pakaiannnya, Harada beranjak ke dapur untuk memasak. Dahinya berkerut ketika manik hijau rumputnya menemukan jika di atas meja makannya telah tersaji beberapa makanan. Harada melangkah kesana, lalu menemukan sebuah surat. Harada mengambilnya dan membacanya, kemudian tersenyum lega.
Karena sebelumnya Kagami telah kemari, lalu memasak untuknya dan pedagang ubi manis tersebut. Sungguh baik hati. Jika anak berusia sepuluh tahun itu tidak ingat tentang perbedaan umurnya dan fakta jika Kagami Kochou adalah seorang pilar yang sangat berbakat, mungkin dirinya sudah tergila-gila dengan Kagami.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Harada menghabiskan sarapannya. Meskipun hanya makarel bakar dan sup sayur, tapi entah kenapa masakan ini terasa sangat enak. Atau mungkin, perasaan ini muncul karena dirinya tidak perlu memasak? Entahlah, tapi Harada cukup menikmati segala kesenangan ini.
Kedua telinganya bisa mendengar jika pintu rumahnya diketuk. Harada yang baru saja cuci piring bergegas untuk membuka pintu. Meskipun pada akhirnya, anak laki-laki beriris hijau rumput tersebut sampai menjerit dan terjengkang karena melihat orang di hadapannya yang memakai topeng. Orang itu mendekatkan wajahnya pada Harada, bahkan hingga bagian hidung topeng tersebut bersentuhan dengan hidungnya.
Pria yang juga memakai haori bermotif kelopak bunga matahari itu memperkenalkan diri sebagai Haganezuka. Kini dengan bagian hidung dari topengnya, Haganezuka bertanya tentang identitas Akechi Harada sambil menusuk-nusuk pipi Harada. Anak laki-laki berambut hitam itu mengangguk pelan, dan membenarkan jika orang yang dimaksud pria aneh itu adalah dirinya.
Harada mempersilahkan Haganezuka masuk, lalu keduanya duduk berhadapan di ruangan utama. Ada sebuah kotak panjang di antara keduanya, dan kini Harada hanya bisa membiarkan Haganezuka untuk berceloteh mengenai nichirin.
Karena dirinya sudah khatam tentang hal itu, sehingga anak laki-laki bertubuh tinggi tegap itu hanya mengangguk-anggukan kepala, seolah-olah mengerti. Dari reaksi yang ditunjukkan Haganezuka, Harada tahu jika klien yang menempa nichirin ayahnya bukanlah orang ini.
"Sekarang buka kotak itu, lalu hunuskanlah nichirin di dalamnya!" tukas Haganezuka.
Harada menurut begitu saja. Kedua tangannya membuka kotak di hadapannya itu, dan sedikit terpesona dengan isinya. Nichirin ini benar-benar akan menjadi miliknya. Pedang itu memiliki gagang berwarna biru muda, dan bagian tsuba pedang tersebut sekilas mirip dengan daun yang menyirip.
Harada tanpa ragu mengambil nichirin tersebut, lalu membuka sarung pedangnya yang juga berwarna biru muda. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5 detik, bilah nichirin miliknya berubah menjadi hitam legam. 5 detik kemudian, tercetak motif petir dan air di sana. Haganezuka histeris, dan Harada terlihat kebingungan.
"Anu, Haganezuka-san. Apa ini adalah pertanda buruk?" tanya Harada dengan nada polos. Pria bertopeng aneh itu malah mengguncang kedua pundaknya dengan keras untuk 2 menit.
"Katakan siapa dirimu, hah! Katakan!" Haganezuka terlihat tersulut emosi. Harada hanya bisa pasrah dengan tingkah penempa pedang eksentriknya ini.
"Ah baiklah, namaku Akechi Harada. Aku putra sulung Akechi Matsuda~ sekarang tolong berhentilah Haganezuka-san~"
Dari balik topengnya, Haganezuka tampak shock. Karena aroma itu sangat kentara di hidungnya. Pria berjubah cokelat itu lalu keluar dari rumah Harada tanpa permisi. Ketika melihat tingkah laku ajaib Haganezuka, Harada hanya bisa menghela napas. Ketika dirinya hendak kembali masuk ke rumah, Kasugai miliknya datang dan memberikan misi.
__ADS_1
"Kwaaak! Utara, utara! Anak-anak selalu menghilang di sana setiap malam, kwaak!"