
Shinobu sengaja memisahkan ruang perawatan Harada dari yang lain sejak awal. Lagipula setelah insiden kereta Mugen, hanya Harada seorang yang nyawanya benar-benar terancam. Kyojuro dan Senjuro kini masih sering pergi ke gunung Sagiri di sela-sela misi yang padat.
Sementara Inosuke dan Zenitsu hanya butuh beberapa hari untuk kembali bertugas memburu iblis. Namun Nezuko harus beristirahat selama seminggu di Kediaman Kupu-kupu. Sangat berbeda dengan Harada. Sekalipun Akaza dan Kaigaku bisa dikalahkan di saat yang nyaris bersamaan, namun bayaran dari semua kesuksesan itu juga sangatlah besar.
Karena kini, setelah 2 minggu berlalu, Harada masih belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Sejujurnya ini membuat semua orang ketakutan, khususnya Hideki. Pria berambut keperakan itu selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di samping ranjang perawatan Harada setelah melaksanakan misi dan berlatih.
Baik penghuni Kediaman Kupu-kupu ataupun Ryunato yang merupakan Tsugukonya, sukses dibuat khawatir oleh Hashira Es tersebut. Meskipun masih mau makan dan beristirahat, namun berada di posisi yang sama dalam waktu yang lama akan membuat siapapun pegal bukan main.
Seperti saat ini, ketika semburat keemasan dan udara pagi hari yang menyegarkan masuk ke jendela di kamar perawatan yang Harada tempati, pria bersurai salju itu memasuki ruangan dengan sangat tenang. Pria bermanik biru muda itu lalu duduk di sebuah kursi di samping ranjang.
Netranya yang menjadi semakin dingin sejak 2 Minggu ke belakang menatap wajah sahabat baiknya lekat-lekat. Pikirannya kini berkelana ke segala tempat, mencoba untuk menebak apa yang sedang dilakukan pria besar di dekatnya ini di alam mimpi sana.
"Aibou, apa urusanmu di sana hm? Ayolah, kami merindukanmu."
Meskipun Hideki mengucapkan kalimat itu tanpa ekspresi yang berarti, tetapi dirinya terperanjat ketika menyadari jika kedua pipinya telah basah oleh air mata. Hideki cepat-cepat mengelap daerah pipi dan kedua pelipisnya, berusaha untuk tetap kuat.
Pikirannya mencoba untuk mengingat ketika pria bersurai kelam di dekatnya marah ketika Hideki menjadi lembek seperti ini. Tapi kini, sepertinya kedua matanya sama sekali tidak sinkron dengan pikirannya. Mereka jauh lebih terhubung dengan hati nuraninya yang tersiksa dengan fakta jika dirinya gagal untuk melindungi sahabatnya, seseorang yang dipercayakan padanya oleh gurunya sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Akechi Yoshinori.
Sekonyong-konyong segala ingatan masa lalu yang telah Hideki lupakan kembali lagi padanya. Ketika pembantaian klan Date, ketika dirinya menganggap Yoshinori, yang merupakan penyelamatnya sebagai seorang ayah, dan ketika dirinya dilatih habis-habisan oleh adik mantan Hashira Angin tersebut.
Namun yang membuat pria beriris biru muda itu mengerinyit sambil menggigit bibir bawahnya adalah ketika sebuah ingatan, yang menjadi ingatan pertama yang dilupakannya semenjak menjadi pemburu iblis, tiba-tiba muncul tanpa sopan santun sedikitpun.
Belum sempat ingatan itu berputar dengan sempurna di dalam benaknya, kedua telinganya mendengar seseorang masuk ke ruangan. Hideki menoleh ke belakang, mendapati Ui yang masuk sambil membawa sebuah nampan berisi cukup banyak makanan. Gadis bersurai senja itu meletakkan nampannya di atas nakas, lalu mengambil satu kursi lagi untuk duduk di dekat Hideki.
"Hideki-nii, aku membawa makanan dari Ryunato. Katanya kau tidak makan malam kemarin," tutur Ui. Hideki tidak bergeming sama sekali.
"Dia terlalu mengkhawatirkanku, padahal anak itu tahu aku ada misi di perkampungan dekat hulu Sungai Arakawa," kata Hideki. Ui hanya menganggukkan kepala.
"Tapi makan malam dengan sarapan kan berbeda, Hideki-nii."
"Hai hai. Aku akan makan semua itu kok, jadi tenang saja ya."
Ui kembali menganggukkan kepala dan memandangi wajah tidur Harada. Di mata Hideki, gadis bermanik karamel itu menatap wajah sahabatnya seolah sedang menahan sebuah tangisan. Hal ini sedikit menggelitiki rasa penasarannya, belum lagi saat Tengen membawa Harada kemari, katanya Ui tidak sanggup untuk ikut mengobati Harada bersama dengan Yue, Shinobu dan Aoi.
"Ui, apa kau jatuh cinta dengan Harada?"
__ADS_1
Hanya dengan satu pertanyaan itu, Hideki berhasil membuat wajah gadis bersurai senja itu bersemu merah. Ui tidak berani untuk menatap Hideki saat ini, namun wajahnya sudah berubah menjadi sewarna dengan kepiting rebus.
Meskipun ujung-ujungnya gadis bernetra sewarna karamel itu malah menangis dalam diam dan membuat Hideki sedikit panik. Ui lalu menjawab jika dirinya tidak sanggup untuk hidup jika dirinya tidak merasakan kehadiran Harada, dan ucapan Ui membuat Hideki sedikit tertohok sambil setengah terkejut.
Hideki ingat jika yang menyelamatkan Ui adalah Harada, dirinya dan Sakonji. Namun pria bersurai putih itu tidak menyangka jika perasaan gadis yang trauma akan kehilangan itu bisa tumbuh sampai sejauh ini dalam waktu beberapa tahun. Atau setidaknya, Hideki tidak bisa menduga semua yang Ui rasakan saat ini.
Belum sempat Hideki menceramahi Ui, gadis itu malah keluar dari ruangan. Ketika manik biru mudanya kembali menatap Harada, Hideki luar biasa terkejut ketika mendapati Harada sudah siuman. Pria bersurai gelap itu tersenyum tipis pada sahabat baiknya, seolah berusaha menenangkannya, meski hasilnya Hideki kini malah menangis dalam diam.
Ui kembali masuk ke ruangan sambil membawa beberapa benda yang kemudian dia taruh di dekat nakas, selagi lehernya digantungi dengan stetoskop. Hideki memberi sedikit ruang pada Ui untuk melakukan tugasnya, sekalipun pandangannya tidak bisa lepas dari sahabat baiknya.
Jika pria berambut putih itu jujur, ini adalah kali pertama dirinya melihat Harada sampai selemas ini. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Tapi pria bermanik biru muda itu berusaha keras untuk meyakinkan dirinya sendiri jika semua ini akan berjalan dengan baik, sehingga dirinya tidak akan kehilangan mukanya ketika berhadapan dengan Yoshinori kelak.
"Yokatta na, Hara-nii," ujar Ui. Gadis itu tersenyum, meski Hideki tahu dia menahan rasa girangnya sekuat tenaga.
"Apa yang, terjadi, selama ini?" tanya Harada, yang terlihat berusaha keras untuk bicara.
"Kau tidak sadarkan diri selama dua minggu. Sudah banyak yang terjadi selama ini."
"Hideki..."
"Kau, tidak memarahinya, kan?"
Hideki membuang muka. Harada yang melihat itu malah tersenyum, dan berusaha meraih tangan kanan Hideki. Pria beriris hijau rumput itu meletakkan tangan kanan sobatnya di atas ulu hatinya, lalu menepuk-nepuk punggung tangan kanan Hideki. Pria bersurai salju itu sedikit terkujut dengan reaksi yang Harada tunjukkan padanya, dan itu malah membuatnya merasa bersalah.
Namun tidak ada salahnya jika amarahnya berhasil membuat Rengoku bersaudara itu latihan seperti orang gila, kan? Lagipula setiap latihan dasar juga akan membuat semuanya menjadi lebih kuat dan mantap. Tapi reaksi macam apa yang justru ditunjukkan sobatnya ini? tanpa sadar Hideki menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba dengan keras untuk tidak merasa bersalah karena sudah mengamuk di depan kedua lelaki bersurai api tersebut.
"Aku bisa mengerti perasaan Hideki-nii sekarang, kok," ujar Ui sambil membereskan peralatannya. Harada terlihat sedikit bingung, dan Hideki hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu jelaskanlah," tukas Hideki dengan nada sedikit menantang.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tapi ketika ada seseorang yang cukup kuat untuk membantu, dan orang itu malah menjadi beban untuk orang tersayangku, rasanya aku benar-benar ingin membunuh orang itu."
"Kuharap kau mengatakan itu bukan karena sedang dimabuk cinta, Ui-chan."
"Hideki-nii ayolah, kau ini apa-apaan sih?!"
__ADS_1
Wajah Ui langsung merona dengan ucapan Hideki. Pria berambut putih itu kini tertawa lepas setelah sukses menggoda pengagum setia sahabatnya. Lalu di sisi lain, Harada yang pikirannya masih belum terlalu terhubung hanya bisa tersenyum dengan interaksi dua orang di dekatnya ini.
Setelah Hideki menghentikan tawanya yang bisa dikatakan cukup menggelegar, Ui pamit keluar sambil membawa peralatannya. Gadis bersurai senja itu juga mengatakan jika dirinya akan memberitahu Hashira lainnya tentang ini, lalu meminta agar Harada mencukupi porsi istirahatnya meski nanti pastinya pengunjung akan berdatangan silih berganti. Harada hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya, karena perut kanannya masih terasa sangat sakit sekarang.
.
Dengan iringan suara air terjun yang deras, setidaknya Hikaru dan Sakonji tidak akan merasa terlalu sepi di sini. Kedua lelaki itu kini sedang menggelar tikar di dekat sebuah air terjun, lengkap dengan makanan yang Sakonji bawa dari rumahnya yang sederhana. Meskipun terlihat sedang bersantai, namun keduanya kini sedang mengawasi dua lelaki berambut layaknya api yang sedang bermeditasi di bawah deburan air terjun.
Manik sewarna karamelnya melirik ke arah mantan Hashira Air di sampingnya. Ada sekilas rasa tidak percaya jika Sakonji mau melatih mereka berdua. Namun ketika dirinya melihat kesungguhan dari Kyojuro dan Senjuro, naluri seorang guru pasti akan mengatakan untuk memberi keduanya kesempatan. Hikaru yang masih sedikit bingung menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepala. Mencoba menangkis segala pemikiran gila yang tiba-tiba memasuki pikirannya.
"Ji-chan," gumam Hikaru. Sakonji menoleh tanpa suara. "Kenapa kau mau melatih mereka?" tanya Hikaru. Dari balik topengnya, Sakonji tergelak.
"Penyesalan mereka itu terlalu kuat. Lagipula, pria tua mana yang tega melihat anak muda yang kesusahan?" tutur Sakonji. Hikaru terkekeh kaku mendengar jawaban guru adiknya ini.
"Bahkan jika Pernapasan mereka sangat berlawanan denganmu?"
"Aku hanya memantapkan dasar-dasarnya dengan caraku. Itulah alasannya aku memanggilmu kemari, Hikaru. Shinjuro sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk melatih seseorang."
Hikaru tergelak, namun ucapan Sakonji memang ada benarnya. Terakhir kali Hikaru berkunjung ke Kediaman Rengoku, Shinjuro terlihat sedang menyobek-nyobek sebuah buku. Ketika pria bermanik karamel itu bertanya alasan di balik semua tindakannya, Shinjuro mengelak dengan mengatakan jika buku itu membosankan. Hikaru hanya bisa terkekeh saat itu.
Tapi ketika dirinya melihat sampul buku tersebut, pria bersurai malam itu yakin jika gurunya telah melupakan keberadaan dari Hashira Es, yang notabenenya berasal dari klan Date yang memiliki wawasan kelewat luas. Atau mungkin dia tidak tahu menahu tentang eksistensi seorang Hideki Date? Entahlah, tapi saat itu Shinjuro kemungkinan merasa jika menyobek-nyobek buku tersebut adalah sebuah upaya pencegahan tunggal.
Setelah sekitar 5 menit terhanyut dalam lamunannya, suara riak air dan tetesan air yang jatuh ke atas batu kembali membuatnya tersadar. Hikaru menegakkan kepalanya yang sempat menunduk saat melamun, dan sedikit terkejut ketika kedua matanya melihat Kyojuro dan Senjuro sudah selesai bermeditasi. Kedua pria beriris cokelat madu itu kini sedang mengeringkan tubuh mereka yang basah dengan handuk sambil melahap onigiri yang Sakonji buat.
"Setelah kenyang, pakai lagi atasan seragam kalian. Hikaru akan membawa kalian masuk hutan," tutur Sakonji. Kyojuro mengangguk, dan Senjuro sedikit terkejut.
"Hikaru-nii, apa tidak ada istirahat meski sebentar?" tanya Senjuro. Hikaru menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu apa kalian berdua sudah membicarakannya atau belum. Namun ada baiknya kemampuan kalian berdua selaras, jadi aku tidak akan main-main di sini."
"Umu, semangatlah ototou! Semua ini akan membuat kita semakin kuat!"
"Tenanglah. Mustahil aku membunuh kalian berdua. Setidaknya kalian harus menunjukkan dedikasi kalian jika ingin bertambah kuat."
Senjuro masih tetap terlihat panik. Kyojuro dengan segera menepuk-nepuk punggung adiknya, mencoba untuk menenangkan dan meyakinkannya. Senjuro menoleh ke arah Kyojuro, sementara pria bermanik cokelat madu itu membalas tatapan Senjuro yang ragu-ragu dengan tatapan yang penuh dengan keyakinan. Senjuro menghela napas pelan, mencoba untuk tetap bertahan di tengah pelatihan singkat yang cukup menyiksanya ini.
__ADS_1