Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Kereta Mugen(2):Pertarungan yang Gila


__ADS_3

Di atas kereta Mugen


Nezuko adalah yang paling pertama lepas dari Kekkijutsu Enmu, dan gadis berambut hitam dengan ujung oranye itu sudah cukup lama berurusan dengan Kagen no Ichi yang mencoba melahap habis seisi kereta. Kewarasannya benar-benar dipertaruhkan saat ini, tetapi yang paling menguntungkan adalah, dirinya tidak sendiri. Setelah dibantu oleh Tanjiro, yang membakar habis Kekkijutsu milik Enmu, Inosuke adalah orang kedua yang berhasil lepas.


Meski gadis bermanik pink pudar itu harus nyaris selalu merendahkan dirinya, namun kemampuan yang Inosuke miliki tidaklah sembarangan. Ketika gadis berhaori pink itu nyaris memenggal dirinya sendiri, pemuda berwajah kelewat imut itu datang menyelamatkannya. Lalu mengatakan jika dirinya hampir terjebak oleh rentetan Kekkijutsu yang merepotkan itu.


Setidaknya untuk beberapa saat, keduanya kini sudah berada di gerbong paling depan. Atau lebih tepatnya di tempat khusus masinis, tempat di mana Enmu menaruh lehernya. Nezuko bergidik ngeri setelah benar-benar bisa merasakan hawa menjijikan dari bagian lantai tempat ini.


Tetapi karena keduanya hanya berfokus pada upaya untuk memotong leher Enmu, punggung Inosuke yang terbuka lebar nyaris ditusuk masinis kereta jika Nezuko tidak menahan belati yang diarahkan sang masinis dengan nichirin. Gadis berkepang satu itu dengan segera menendang perut masinis hingga terbentur dinding ruangan.


Tetapi hanya berjarak beberapa detik, daging-daging itu kembali tumbuh dan berupaya untuk menyerang keduanya. Baik Nezuko dan Inosuke sampai harus melompat mundur ke atap gerbong pertama. Keduanya kini berniat untuk menyelaraskan pernapasan dan gerakan mereka, sehingga keduanya bergerak dengan irama dan arah yang teratur.


Ketika daging itu kembali membumbung tinggi dan keduanya berniat melompat kembali ke tempat masinis berada, puluhan mata yang memaksa keduanya untuk tidur kembali bermunculan. Jantung Nezuko langsung berdegup kencang karena dirinya tidak mau tertidur. Tapi dengan lantang Inosuke berteriak agar Nezuko mengikutinya.


Pemuda bertopeng kepala babi itu meluncur dengan cepat, lalu memposisikan kedua nichirinnya sebagai serangan cepat, dan memutar seluruh tubuhnya ketika mengeluarkan teknik pernapasannya. Tidak jauh dari pemuda berwajah imut itu, Nezuko bersiap untuk mengeluarkan pernapasan matahari, sesuatu yang akan membuatnya tidak bisa bergerak selama setengah jam. Tapi untuk memotong tulang besar itu, gadis berambut hitam itu tidak memiliki pilihan lain selain memakai teknik ini.


"Kedamono no Kokyu, Shi no Kiba: Kiri Komozaki!"


"Hinokami Kagura:Hekira no Ten!"


Beberapa detik berselang, seluruh gerbong ditumbuhi oleh daging-daging hidup yang membuat seluruh kereta melompat keluar rel. Di dalam gerbong, baik Senjuro, Kyojuro, Zenitsu dan Tanjiro masih sibuk untuk melindungi seluruh penumpang yang ada di dalam. Bagian khusus masinis yang lepas paling awal, dan itu membuat Nezuko dan Inosuke terpental ke dalam hutan.


Gadis bermanik pink pudar itu mencebik, mencoba untuk menahan rasa sakit dari efek pernapasan matahari dan karena dirinya berguling-guling di tanah yang penuh kerikil. Inosuke juga sempat terlempar ke udara, tetapi pemuda itu bisa dengan mudah menormalkan langkah kakinya, yang kemudian mengarah pada Nezuko. Inosuke lalu melompat ke arah Nezuko, memastikan jika gadis yang bahkan baginya kelewat imut itu baik-baik saja.


"Oi Nyoko, daijobu ka? Pisau tadi tidak mengenaimu, kan?" tanya Inosuke. Nezuko tersenyum kecil, lalu terkekeh dengan sangat pelan.


"A, aku baik, kok. Aku hanya tidak bisa bergerak," balas Nezuko terbata-bata.


"Baguslah, kalau begitu aku akan menunggumu sampai bisa bergerak!"


"Tidak, jangan. Selamatkanlah yang lain, kumohon."


"Oi, Nyoko. Bagaimana kalau tiba-tiba ada iblis yang menyerangmu huh? Pertahananmu terbuka lebar tahu!"


"Masih ada yang lain, aku yakin mereka baik-baik saja kok."


"Argh! Wakatta yo wakatta! Kau ini padahal tidak bisa bergerak tapi masih saja cerewet seperti Tanjuro!"


Inosuke lalu menjauhi Nezuko sambil membawa dua nichirinnya. Sementara di sisi lain, Nezuko tersenyum sangat tipis sambil berusaha menormalkan pernapasannya. Bahkan dalam situasi yang seperti ini, kebiasaan Inosuke yang selalu salah menyebutkan nama orang masih bisa menghiburnya walaupun hanya sesaat.


Nezuko yang sejak tadi memejamkan mata akhirnya menggulung kedua kelopak matanya. Ada aroma matahari di sana, dan gadis bermanik pink pudar itu harus segera menormalkan kembali pernapasannya. Pelipis kirinya mengerinyit karena gadis muda itu berusaha dengan keras untuk menghentikan pendarahan. Bahkan indera perasanya tidak menyadari keberadaan Kyojuro dan Senjuro, yang tiba-tiba menekan dahinya yang cukup lebar dengan telunjuk masing-masing.


"Kau bisa mempertahankan pernapasan penuhmu, mengagumkan!" ujar Kyojuro.


"Re,ngoku-san, Senjuro-kun," gumam Nezuko. Senjuro tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya.


"Kau telah mengambil langkah pertama untuk menjadi Hashira. Sekarang pulihkanlah dirimu dengan pernapasanmu, Kamado-chan."


"Aniue, kupikir Nezuko-san baru memakai pernapasan matahari. Jadi dia tidak akan bisa bergerak selama setengah jam."


"Eh? Sungguhkah? Kalau begitu kita akan diam di sini, Senjuro!"

__ADS_1


"Aniue, kau ini benar-benar ya."


Nezuko yang melihat interaksi antara kakak beradik itu hanya tersenyum. Gadis berkepang satu itu masih berusaha menormalkan pernapasannya. Meski sebenarnya dalam pikirannya, Nezuko mulai bertanya-tanya mengenai keberadaan kakaknya. Kali terakhir dirinya merasakan aura kakaknya yang sedang berdekatan dengan Zenitsu, dan semoga saja mereka berdua bisa akur. Terutama ketika mengingat sisi protektif Tanjiro pada Nezuko ketika pemuda kuning itu sedang menggodanya.


Namun baru beberapa menit berjalan, mereka bertiga sudah dikejutkan oleh suara ledakan yang sangat besar beserta deretan pohon yang tiba-tiba tumbang seperti domino. Nezuko dan Kyojuro sedikit bergidik ngeri ketika menyadari serangan yang datang. Sementara Senjuro dengan cepat membawa kakak beserta Nezuko ke tempat aman, yaitu di atas cabang dahan pohon di dekat rel. Dari sana mereka bertiga bisa melihat Harada yang sudah cukup babak belur dengan seragam yang terkoyak, serta dua sosok iblis yang menghadapi Hashira Badai itu dengan jumawa.


"Senjuro, kau bawa Kamado-chan ke tempat aman. Aku akan membantu aniki," tukas Kyojuro. Dengan cepat Senjuro menggenggam tangan kanan kakaknya.


"Aniue, matte, tapi aku sama sekali tidak melihat celah di sana," balas Senjuro.


"Kalau begitu aku akan membuat celah itu! Dia berharga untuk keluarga kita!"


Kyojuro melesat ke arah Harada. Senjuro mencebik kesal, lalu membawa Nezuko ke dekat gerbong belakang. Karena terakhir kali dirinya mendapati Zenitsu dan Tanjiro di sana, jadi setidaknya baik dirinya ataupun Nezuko akan sedikit aman jika berkumpul kembali dengan yang lain.


.


Kedua manik sewarna madu Kyojuro terus beralih dari depan ke belakang. Tepat di belakangnya, Harada mencoba untuk menormalkan pernapasannya. Pria berambut hitam itu tengah berlutut sambil bertumpu pada nichirin miliknya. Sementara di depannya, musuh hanya mengalami sobekan pakaian di sana-sini.


Terutama iblis dengan sklera hitam di depannya. Kimono hitamnya telah terkoyak, menampakkan seragam pemburu iblisnya yang terlihat sudah berdebu. Kyojuro sempat shock karena hal ini, namun Hashira Api itu memilih untuk tidak memperlihatkan rasa shocknya. Ketika kedua telinganya mendengar langkah kaki Harada dari belakang, pria berambut api itu merasa semakin dilema. Anatara percaya diri dan khawatir menjadi satu di dalam dirinya.


"Kyo, apa aku bisa percayakan iblis hitam itu padamu?" tanya Harada. Pria berambut hitam itu kembali memasang kuda-kudanya di samping Kyojuro.


"Siapa dia, aniki?" Kyojuro malah bertanya balik. Harada tersenyum tipis.


"Dia nyaris membuat Himejima-san kehilangan kepalanya dulu."


"Kalau begitu ini adalah sebuah kehormatan untukku!"


"Hah, para Akechi sama saja!" gerutu Akaza.


"Haha, kau benar kok Akaza. Harga diri kami ini terlalu tinggi," balas Harada.


Akaza menggerakkan gigi dan melesat untuk menyerang Harada. Pria bersurai malam itu berusaha sebisa mungkin untuk menahan serangan beruntun yang dilontarkan iblis pinky di hadapannya. Meskipun sebenarnya, dari sekian banyak serangan, Harada tidak bisa memblokir semuanya. Dua ruas tulang rusuk kanannya patah, begitu juga dengan tulang iga kanannya.


Pria beriris hijau rumput itu sudah sangat lelah, tetapi dirinya tidak boleh menyerah sekarang. Sambil terus bertahan Harada terus memperhatikan Kyojuro. Pria bersurai layaknya api itu bisa menangani Kaigaku, sehingga Harada kini akan benar-benar fokus untuk menghabisi Akaza. Iblis berambut pink itu masih terus melancarkan serangan tangan kosongnya dengan gesit dan cepat, membuat Harada sedikit kerepotan.


Karena selain memakai tinjunya, Akaza kini memanfaatkan tendangannya. Sehingga Harada harus pandai-pandai memanfaatkan celah. Tapi karena sudah kelelahan, belum lagi karena dirinya kesulitan mengantisipasi serangan Kaigaku, Harada kini terpental cukup jauh setelah Akaza menendang kepalanya dari samping kiri.


Kyojuro langsung panik dan menahan tubuh Harada yang masih melayang di udara. Dengan sigap pria beriris madu itu membaringkan Harada di tanah, lalu membuka haori miliknya. Haori putih dengan ujung seperti lidah api itu lalu dilipat-lipat, dan diarahkan ke sisi kiri kepala Harada. Pria bersurai hitam itu menggeleng, lalu segera bangkit walaupun dengan susah payah. Iris hijaunya mendapati Akaza dan Kaigaku yang berdiri dengan jumawa di hadapan dirinya dan Kyojuro.


"Kurasa kau sudah mencapai batasnya, Harada," ujar Akaza. Harada hanya tersenyum.


Dengan kecepatan di luar nalar Harada kini berada di antara Kaigaku dan Akaza. Pria bersurai malam itu lalu memutar seluruh tubuhnya hingga membentuk sebuah tornado api berwarna hitam. Dari sana Kyojuro melihat jika Akaza dan Kaigaku menutup kedua telinganya, seolah Harada sedang menyerang gendang telinga mereka.


"Hono no Kokyu, Go no Kata: Enko!"


"Ranshiki!"


Kyojuro berniat menyerang Kaigaku, namun Akaza bereaksi dengan cepat dan tepat. Iblis berambut pink itu menahan serangan harimau api Kyojuro dengan segera. Namun iblis itu juga lupa jika nichirin Harada masihlah bersepuh api hitam, sehingga tanpa disadari oleh siapapun, Harada tanpa ragu langsung menebas leher Kaigaku hingga putus dari belakang.


Pria bersurai malam itu lalu menendang punggung Akaza, membuat iblis beriris kuning itu terpaksa menerima serangan telak dari Kyojuro. Harada dan Kyojuro mundur dengan segera, sementara Akaza sedang beregenerasi karena ditendang dari belakang dan menerima efek serangan Kyojuro.

__ADS_1


"Rupanya kau lebih licik dari Matsuda, Harada," ujar Akaza.


Harada kembali memasang kuda-kuda, yang membuat Kyojuro sedikit bergidik ngeri. Pria bersurai layaknya api tersebut terpaksa melompat mundur sambil membawa haorinya. Detak jantungnya juga kini berantakan, merasa ngeri dengan teknik pernapasan yang akan Harada keluarkan. Kuda-kuda itu mirip dengan teknik kesembilannya, namun api hitam menyambar tangan kanan Harada. Api itu lalu menjalar ke nichirin, lalu menciptakan sebuah ledakan yang besar.


"Jigoku no Kokyu, Juusan no Kata: Kusahanada!"


"Jutsushiki Tenkai:Messhiki!"


Harada dan Akaza sama-sama menciptakan ledakan energi yang besar. Kyojuro sampai terpaksa berlindung di dekat rel kereta sambil tiarap. Kedua manik semanis madunya membola ketika melihat Harada melesat dan mencoba untuk memenggal Akaza. Semuanya dimulai dengan memotong kedua tangan iblis itu, lalu berlanjut menyasar bagian leher. Tapi belum sempat Harada memenggal leher Akaza, tangan kanan iblis berambut pink itu telah beregenerasi dan menembus perut kanan bawah Harada.


Pria bertubuh tinggi tegap itu batuk darah tepat di depan wajah Akaza. Kyojuro yang melihat itu melotot dan nyaris menerjang Akaza sambil berusaha menebas tangan kanan iblis itu. Tetapi ketika pria dengan senyuman secerah mentari itu sadar dengan gerakan tangan Harada, kedua kakinya tertahan oleh keraguan dan rasa takut. Karena kini nichirin milik Harada malah diselimuti api hitam yang sangat besar.


"Jigoku no Kokyu, Juu no Kata:Yudeta Tsumi, Amaterasu!"


Masih dengan tangan Akaza yang tertancap di perutnya, Harada nekat melanjutkan serangannya dan berhasil memenggal kepala Akaza. Tangan yang menancap di perutnya ditarik secara paksa. Darah segar langsung mengalir deras dari sana. Kyojuro yang sempat ragu untuk melangkah akhirnya menghambur ke arah Harada yang terhuyung, lalu menangkap pria bertubuh besar itu.


Dengan cekatan Kyojuro membaringkan Harada lagi di tanah, dan kini dirinya memaksa agar Harada menerima haorinya. Dengan senyuman setipis kertas Harada akhirnya menerima haori Kyojuro untuk menekan perut kanannya yang terluka parah, meskipun sebenarnya itu percuma.


Dengan emosi yang menggebu Kyojuro bersiaga di depan Harada, karena nyatanya kini terlihat kepala Akaza hendak beregenerasi. Hidungnya bisa mencium aroma sinar matahari yang akan segera muncul. Hal ini sempat membuat tubuh iblis itu ketar-ketir. Ketika tubuh Akaza hendak bersembunyi ke dalam hutan, manik cokelat madu Kyojuro kembali membulat.


Nezuko melemparkan nichirin hitam legam miliknya ke dada tubuh Akaza, Senjuro dan Zenitsu juga turut mencincang tubuh Akaza secara bersamaan, hingga akhirnya, tubuh Akaza terkena sinar matahari dan terbakar menjadi debu. Kyojuro, Nezuko, Zenitsu dan Senjuro tersenyum lega. Sementara dari kejauhan, Inosuke sudah membawa kotak berisi Tanjiro di punggungnya.


"Rengoku-san, Harada-san. Bagaiama keadaannya?" tanya Nezuko.


Kyojuro pelan-pelan melirik ke belakang. Zenitsu menghambur ke arah Harada, seolah tidak mendapati sesuatu yang seharusnya dia dengan. Kyojuro dan Senjuro yang melihat itu hanya bisa menggigit bibir bawah mereka, merasa sangat bersalah.


Dengan napas yang memburu Zenitsu menghampiri Harada. Kedua mata pria bertubuh besar itu menutup. Zenitsu mendekatkan telinganya ke dada kiri Harada, dan kedua manik cokelat keemasannya itu membulat saat mendapati suara detak jantung Harada semakin lemah. Namun di sisi lain, telinganya mendengar sebuah ledakan kecil dari saku dada seragam Harada. Jarak beberapa detik, Zenitsu kembali mendengar suara detak jantung Harada.


"Aniki bertahanlah! Aku hanya punya dirimu!"


Zenitsu mengambil alih haori milik Kyojuro untuk menekan luka di perut Harada. Kedua telinganya kini bisa mendengar seperti suara air dan segala sesuatu yang tersambung kembali. Harapannya tentang Harada kembali naik, bahkan Zenitsu tidak menyadari jika Kyojuro, Nezuko, Senjuro dan Inosuke kini mengerubunginya dan Harada.


Setelah berfokus pada suara detak jantung Harada, kini Zenitsu kembali bisa mendengar derap kaki para kakushi yang berlari kemari. Selain itu, dirinya bisa mendengar hembusan angin kencang yang disebabkan oleh sebuah langkah kaki yang menghampirinya. Tetapi selain itu, Zenitsu bisa mendengar perubahan detak jantung Kyojuro. Pilar Api ini bahagia dengan kedatangan seseorang?


"Uzui, kumohon bawa aniki sekarang! Tidak ada waktu lagi!"


"Baiklah, toh para kakushi juga sedang kemari. Hei bocah kuning, pinjam dulu!"


"Oi, kembali-kan."


Zenitsu tidak bisa bereaksi apa-apa karena terkejut. Manik keemasannya hanya bisa memandang punggung lebar pria bertubuh tinggi itu dari belakang. Kini giliran Zenitsu yang bergetar hebat karena khawatir, takut jika seseorang yang telah dia anggap kakak, atau bahkan ayahnya pergi meninggalkannya. Namun Kyojuro menepuk bahu Zenitsu, seolah berusaha menahannya.


"Tenanglah, aniki akan baik-baik saja. Aniki akan dibawa ke kediaman kupu-kupu." tutur Kyojuro. Zenitsu mendelik.


"Rengoku-san, bagaimana kau bisa menjamin itu?" tanya Zenitsu.


"Dia adalah Hashira Suara. Dialah yang tercepat di antara kami. Selain itu, dia menganggap aniki sebagai kakaknya juga."


"Begitu eh..aku akan menyusulnya. Aku pasti akan menyusulnya."


Senjuro memukul tengkuk Zenitsu. Bagi pemuda bersurai api itu, tindakan yang Zenitsu lakukan sedikit kelewatan. Kyojuro hanya bisa tersenyum pada adiknya, sebelum akhirnya dirinya merebahkan diri di atas tanah karena kelelahan yang kentara.

__ADS_1


__ADS_2