Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Iguro Obanai dan Jejak Douma


__ADS_3

Time Skip 2 Tahun Kemudian


Di saat orang-orang tertidur di malam hari, Harada tengah sibuk menjalankan misinya yang bisa dikatakan seringkali membahayakan jiwa. Setelah misi pelacakannya di siang hari selesai, kini pemuda berambut hitam itu menerima bantuan yang cukup tidak terduga.


Sang Pilar Api, Shinjuro Rengoku, turut bergabung dalam misinya. Belum lagi di belakangnya, Hikaru turut mengekori pria berambut kuning merah tersebut. Mereka bertiga bertemu di tengah hutan, dan kini pelipisnya berkedut secara bergantian.


Pemuda berambut hitam itu tidak habis pikir dengan bantuan yang datang padanya, padahal misi ini hanya harus membunuh seekor iblis ular yang sudah banyak memakan manusia. Meskipun sebenarnya, pemuda bergelar Hashira Badai itu cukup curiga dengan dikirimnya Shinjuro dan Hikaru secara bersamaan.


"Ada apa ini? Apa misiku berubah menjadi misi pembakaran hutan?" tanya Harada. Shinjuro menggeleng pelan.


"Bukan itu. Ada Jogen Kizuki yang mengincar tempat ini, karena tempat yang akan kita datangi dipenuhi dengan gadis muda," balas Shinjuro.


Kedua mata Harada membulat. Otaknya berusaha mencerna informasi yang diterimanya dari Shinjuro, dan mencampurnya dengan informasi lama yang diterimanya dari mendiang ayahnya. Sambil berlari untuk mendekati lokasi iblis yang dimaksudkan, Harada mencoba menghubungkan semuanya.


Uppermoon dan gadis muda. Hanya ada satu jawabannya, yaitu si Pendeta Kuil Surgawi, uppermoon kedua, Douma. Harada lalu bertanya tentang keberadaan sebuah kuil di dekat sana. Shinjuro mengangguk pelan, dan hanya bisa menghela napas panjang.


Jauh di dalam hatinya, Harada berharap Pernapasan Api yang mereka berdua gunakan akan berguna saat melawan iblis pirang tersebut, karena Kekkijutsu milik iblis itu sama merepotkannya dengan Pernapasan Es milik Hideki.


Mereka bertiga membutuhkan waktu satu jam untuk sampai dalam radius 200 meter dari rumah itu. Hikaru terlihat berdecak kagum, karena rumah yang ada di depannya itu terlihat sangat besar, megah dan juga mewah. Hanya dari sini saja, sebenarnya Harada sudah bisa mencium aroma sisik ular.


Namun ada sebuah aroma samar yang sedikit mengganggunya. Aroma itu terasa sangat membeku, dan mengingatkan pemuda berambut hitam tersebut ketika iblis bermanik pelangi pucat itu memaksanya untuk membatalkan jurus terkuat dari Pernapasan Badai.


"Jika pendeta menyebalkan itu menghampiri kita, untuk berjaga-jaga, jangan hirup udara dingin dari Kekkijutsu miliknya," gumam Harada. Shinjuro dan Hikaru mengangguk.


Setelah lima belas menit menunggu di balik semak-semak, Hikaru yang memang memiliki pengelihatan yang setajam elang, menyadari jika seseorang keluar dari rumah tersebut. Harada mengangguk pelan, dan menyuruh Hikaru untuk mengikuti anak itu. Pemuda beriris cokelat madu itu mengangguk pelan, dan mencoba untuk mengejar anak berkimono putih tersebut dari jauh.


Shinjuro memutuskan untuk mengikuti Hikaru. Sementara Harada beranjak ke arah yang berlawanan dari Shinjuro dan Hikaru. Di samping bau darah manusia yang menguar dengan kuat dari rumah itu, ada sesuatu yang mengganggu benaknya dengan sangat keras, yaitu keberadaan Douma yang samar-samar dapat dirasakannya di daerah ini.


.

__ADS_1


Di lain sisi, Hikaru tidak bisa melepaskan keberadaan anak berambut hitam panjang tersebut. Secara perlahan kakinya terus mengikuti anak tersebut dengan melompati dahan pohon. Namun kedua iris cokelat madunya langsung membulat ketika menyadari ada seekor iblis ular yang melesat dan mengincar anak tersebut dengan penuh dendam, membuat kecepatan iblis tersebut meningkat dengan sangat pesat.


Lalu ketika pemuda berambut hitam itu semakin melihat ke belakang, Shinjuro sedang berlari sekencang mungkin untuk menyusulnya. Namun kecepatan itu tidak akan menyelamatkan anak malang ini. Sehingga dengan terpaksa, Hikaru menghunus nichirinnya dan melesat dari atas pohon untuk menyelamatkan anak itu.


"Hono no Kokyu, Ichi no Kata:Shiranui!"


Dengan beberapa kali tebasan, Hikaru memotong iblis ular itu menjadi empat bagian. Tidak lupa dengan fakta jika kepala iblis tersebut adalah yang pertama kali terpisah dari tubuhnya. Hikaru kembali menyarungkan nichirinnya, lalu memutar tubuhnya.


Manik cokelat madunya bisa melihat jika anak di hadapannya ini, yang memiliki warna mata biru dan kuning, mengalami tremor yang sangat hebat. Napas anak bermata belang itu juga menderu, dan tanpa sadar, air mata meluncur dari kedua maniknya yang tidak serasi itu.


Dengan refleks sebagai seorang kakak, Hikaru memeluk anak berkimono putih tersebut. Persetan dengan Shinjuro yang memberikan apresiasi atas langkah nekatnya tadi. Karena yang kini diinginkan olehnya hanyalah ketenangan dari anak berambut hitam panjang ini, yang secara tidak sadar tengah membenamkan wajahnya ke ulu hati Hikaru.


"Kerja bagus, Hikaru!" tukas Shinjuro. Hikaru tersenyum simpul.


"Ini tugasku, sensei," balas Hikaru singkat. Shinjuro dengan sengaja mengacak-acak rambut hitam anak didiknya tersebut sambil tersenyum.


"Namamu siapa, sobat?" tanya Hikaru. Sekalipun anak dihadapannya ini memiliki kulit yang sangat mulus, namun Hikaru tidak mau membuat kesan pertama yang buruk.


"Obanai. Iguro Obanai," ucap anak berambut hitam tersebut dengan suara yang gemetar.


"Obanai-kun, kau bisa sedikit tenang ya sekarang. Kami akan melindungimu."


Dengan sorot mata yang menyiratkan keterkejutan, Obanai sama sekali tidak bergeming. Hikaru mengacak-acak rambut anak laki-laki tersebut, seolah mengatakan agar dirinya bisa sedikit santai. Namun insting bertahan hidup Obanai tidak bisa luntur begitu saja.


Karena di belakang Shinjuro, iris belangnya bisa menangkap keberadaan sepupu tertuanya. Shinjuro memutar badannya, terlihat berniat untuk melindunginya dan pemburu iblis muda di dekatnya ini. Ketika sepupunya semakin dekat dan niat membunuh semakin kentara, Shinjuro menggunakan tangan kanannya untuk menahan gadis muda tersebut, yang kini terdengar sedang mencaci maki Obanai.


Gadis itu memberontak. Shinjuro berusaha untuk menahannya dengan memeluknya dari belakang. Namun gadis itu menyundul dagu Shinjuro dengan ubun-ubunnya, membuat sang Pilar Api jatuh berlutut sambil memegangi dagu dan lehernya. Kini giliran Hikaru yang berusaha keras untuk menahan gadis tersebut.


Namun siapa sangka. Selagi Hikaru menahannya dengan memeluk gadis itu dari belakang, gadis berambut hitam itu mencakar wajah Obanai seperti sedang kerasukan setan. Hikaru terpaksa mendorongnya dengan sedikit lebih kuat untuk memisahkan mereka. Di sisi lain, Obanai kembali mengalami tremor. Amarah, rasa kecewa, dan kesedihannya menjadi satu saat ini. Perban yang digunakannya seperti masker juga sudah berantakan, tetapi Obanai masih harus berurusan dengan sepupu tertuanya ini.

__ADS_1


"Dasar pengecut! Karena kau kabur saudari-saudariku semuanya dibunuh olehnya!"


Gadis itu menjerit-jerit. Shinjuro yang sudah merasa baikan menghampiri Hikaru yang kerepotan, lalu memukul tengkuk gadis berambut hitam tersebut. Gadis itu pingsan. Hikaru menghela napas panjang karena merasa lega.


Shinjuro memutuskan untuk menggendong gadis itu dan membuatnya duduk bersandar pada sebuah pohon ek. Di sisi lain, bukannya terkejut dengan luka yang menganga di wajah Obanai, Hikaru membantu anak beriris belang itu untuk membetulkan perban di mulutnya, tidak lupa sembari menutupi wajah lelah anak berambut hitam di depannya dari pandangan Shinjuro selagi lukanya ditutupi oleh perban. Obanai yang melihat reaksi Hikaru sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya, seorang Iguro Obanai merasa aman ketika bertemu seseorang.


"Sensei, apa kau tahu nii-chan ada di mana?" tanya Hikaru. Shinjuro terlihat menerawang ke langit malam yang bertabur bintang.


"Entahlah, tapi kau tidak perlu khawatir. Kakakmu itu sangat kuat, Hikaru," balas Shinjuro.


"Ya ampun Shinjuro ji-chan, kau ini kadang kelewatan ya."


Hikaru melambai-lambaikan tangan. Dari kejauhan Harada berjalan menghampiri mereka sambil membersihkan telinga kirinya dengan kelingking kiri. Ketika pemuda beriris hijau rumput itu melihat keberadaan Obanai, kedua kakinya bergerak lebih cepat dan mengambil posisi jongkok di depan anak laki-laki itu.


Harada, Hikaru dan Shinjuro sedikit berjengit ketika menyadari ada ular putih yang melingkari leher anak beriris belang di depannya ini. Namun sebelum semuanya di luar kendali, Obanai dengan sigap mengatakan jika ular putih itu adalah sahabatnya selama ini. Ketiga pemburu iblis di sana hanya mengangguk-angguk.


Karena perjalanan aku berlangsung cukup lama, Hikaru mengatakan agar Obanai naik ke punggungnya. Anak berambut hitam panjang itu sempat menolak. Namun Harada mengatakan jika perjalanan mereka saat ini akan cukup panjang, sehingga Obanai tidak mempunya pilihan lain untuk saat ini. Anak laki-laki beriris biru muda dan kuning itu menghela napas, pasrah dengan situasi. Sementara Shinjuro kini terlihat menggendong sepupu tertua Obanai, yang masih tidak sadarkan diri, di punggungnya.


Ketiga pemburu iblis tersebut berlari dalam diam. Hikaru, dengan Obanai yang ada di punggungnya, berada paling depan. Sementara Harada seperti sengaja menyesuaikan kecepatannya dengan Shinjuro. Pria berambut menyala itu sadar dengan tingkah laku Harada, yang baginya selalu sama. Pemuda beriris hijau rumput itu masih cukup kesulitan untuk membuka topik.


"Wajahmu aneh begitu, Harada," ujar Shinjuro. Harada kini sedang menggigiti bibir bawahnya.


"Kuil yang kau katakan itu, ji-chan. Aku berhasil menemukan jejaknya," kata Harada. Shinjuro tergelak dan sedikit terkejut.


"Lalu apa yang kau temukan di sana?"


"Muzan ada di sana. Sama halnya dengan Douma. Mereka sepertinya sedang berbincang, lalu pergi begitu saja ke dalam sebuah portal."


Shinjuro tertohok. Portal katanya? Berarti Muzan telah menciptakan dimensinya sendiri, sehingga tidak semua orang bisa melacak keberadaan markas mereka. Pria berambut layaknya api itu hanya bisa menatap ke depan dalam diam, berharap jika tindakan Harada tidak disadari oleh Muzan. Karena selain darah pemuda berambut hitam itu yang sangat kuat, Shinjuro juga tidak ingin kehilangan sesuatu yang telah dipercayakan padanya dan Sakonji tempo hari.

__ADS_1


__ADS_2