Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
The Cursed Successor (1)


__ADS_3

Gunung Sagiri


Niat hati ingin bersantai bersama Tengen dan Sakonji di garis finish, tetapi Harada tahu jika latihan ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Sehingga tidak hanya para pemburu iblis yang berlatih yang naik ke gunung.


Tetapi Harada, Sakonji, Tengen beserta ketiga istrinya turut mengawasi dari dahan pohon tertinggi yang bisa dipijak. Jebakan yang dipasang oleh Sakonji juga kini jauh lebih sulit dari biasanya, dan hal ini membuat para pemburu iblis yang sedang berlarian di bawah sambil menenteng nichirin masing-masing menjerit karena terkejut.


Sementara itu dari kejauhan, Tengen yang melihat kinerja jebakan milik Sakonji dari atas pohon sudah mandi keringat dingin saat ini. Pria bermanik marun itu teringat dengan masa kecilnya yang penuh kegilaan. Harada yang bisa mencium keterkejutan Tengen tertawa lepas, dan membuat pria berambut sebahu itu mengomel sambil mengacungkan empat kunai yang ada di sela-sela jari tangan kanannya pada Harada.


"Hora Harada! Berhenti tertawa! Akan kuhajar kau dengan elok jika kau terus tertawa begitu!" seru Tengen. Harada hanya mengibas-ngibaskan tangan kirinya yang bebas dari kunai.


"Aye aye, aku akan berhenti. Jadi lemparkan saja kunai-kunai itu pada mereka," balas Harada santai.


"Apa kalian sering begini?" tanya Sakonji yang ada di sebelah Harada. Pria berambut hitam itu mengangguk pelan.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan kami, Sakon Ji-chan. Daripada itu, ayo kita bergerak lagi. Kita harus menyambut mereka dengan badai senbon dan kunai."


Sebenarnya pelatihan ini bukanlah pelatihan untuk mendapat tanda saja. Tetapi Kagaya sendiri berpesan agar pelatihan ini bisa meningkatkan kekuatan Kisatsutai secara singkat dengan hasil yang pesat. Sehingga dengan pesan itu, Harada sengaja membuat sistem pelatihannya seperti ini.


Selain jebakan Sakonji yang dibuat semakin rumit, akan ada hujan kunai ataupun senbon dalam interval setiap jebakan milik mantan Hashira Air itu. Singkat kata, peserta pelatihan di bawah sana tidak memiliki waktu untuk istirahat yang cukup lama. Bahkan mungkin hanya beberapa detik. Sehingga tidak heran kini belantara di Gunung Sagiri dipenuhi oleh dua benda tersebut.


Sambil melompat dari dahan ke dahan, Harada tidak bisa berhenti tersenyum dengan apa yang ada di sekitarnya. Tekad yang kuat bercampur dengan kengerian karena dihujani kunai dan senbon, suara nichirin yang beradu dengan dua benda tersebut, serta keluwesan Sakonji yang semakin baik dalam melempar dua senjata tersebut. Jangan lupa dengan kerja sama yang dilakukan adik kembarnya di bawah sana. Jika dipikir-pikir lagi, mungkin ini adalah momen sekali seumur hidup di antara anggota Kisatsutai.


Sementara di bawah sana, di dalam gerombolan pemburu iblis yang berlari menuruni gunung, Hikari dan Hikaru akhirnya sepakat untuk saling melindungi. Hikari yang sudah khatam dengan jebakan-jebakan ini bertugas memimpin kakak kembarnya. Sementara di sisi lain, dua saudara kembar itu juga saling melindungi punggung masing-masing, menciptakan sebuah kerja sama yang terhitung mulus.


Tengen yang melihat itu dari atas pohon memberi sinyal pada Harada untuk mendekat. Pria berambut putih tersebut meminta tolong untuk mengikatkan nichirinnya pada tangan kiri dengan bantuan perban. Harada yang sedikit kaget sempat tidak mengatakan apapun hingga akhirnya Tengen menyentil dahi lebar rekannya tersebut.

__ADS_1


"Itte yo, kono-" ucapan Harada terpotong oleh omelan Tengen yang cukup keras.


"Sudahlah, cepat lakukan saja permintaanku! Apa susahnya hanya mengikatkan nichirin dengan tangan kiriku?" tanya Tengen. Harada menghela napas dan menurut.


Tengen tersenyum puas. Harada berseru agar mantan Hashira Suara itu tidak sampai membunuh mereka. Tapi sepertinya, ucapan Harada sedikit diabaikan oleh Tengen. Mengingat saat ini, mantan shinobi itu, yang juga memakai pakaian shinobi lamanya saat ini, turun dari atas pohon dan langsung menguji satu persatu pemburu iblis dengan adu nichirin yang berpadu dengan pertarungan tangan kosong. Sehingga dari atas sana, baik ketiga istri Tengen, Harada atau bahkan Sakonji dibuat melongo karenanya.


"Hora kemari dan lawan aku!" seru Tengen dengan semangat yang berapi-api.


Pria dengan rambut putih yang kini digerai itu menyerang satu persatu pemburu iblis di sekitarnya, dan membuat benturan metal menjadi musik tersendiri yang mengisi hutan yang tipis akan oksigen ini. Sambil melemparkan kunai ke bawah, Harada kembali tersenyum saat melihat Hikari yang menantang Tengen secara langsung.


Sehingga kini mereka berdua harus bertarung sambil menghindari berbagai jebakan yang terpasang. Namun beberapa saat setelah itu, ketika Harada asyik melempar kunai sambil memperhatikan sekitarnya, hidungnya yang tajam mendapati jika Gyomei mengikutinya dari jauh. Tanpa basa-basi pria berambut hitam tersebut berbalik arah, meninggalkan Tengen dan yang lainnya untuk mengurus semuanya.


....


Dentingan metal yang beradu, pekik kengerian yang alamiah, serta suara besi yang menancap di tanah dan pohon yang silih berganti mengisi keramaian di telinga Harada kini perlahan mulai menjadi sayup-sayup di telinga Harada. Hal ini murni karena Hashira Badai itu pergi cukup jauh dari keramaian yang tadi mengitarinya, dan kini dia juga sudah berada di atas tanah.


Bersamaan dengan bola besi yang menghantam tanah, Gyomei turun dari atas pohon dan menenteng nichirinnya yang berupa kapak dan bola besi yang dihubungkan dengan rantai tersebut sambil mendekati Harada. Masih dengan seringai yang terpasang, pria bermanik hijau rumput itu memasang kuda-kuda sambil terkekeh.


"Apa perintahnya berubah, Gyo-nii?" tanya Harada. Gyomei mengangguk.


"Begitulah. Oyakata-sama memberitahu masalah ini dengan Kasugai," balas Gyomei singkat.


Harada mendecih pelan, merasa sedikit dongkol saat mengingat Kara yang saat ini sedang ditugaskan untuk mencari tahu tentang jajaran paling baru para Jogen olehnya. Karena dalam pemikiran Harada, mustahil Muzan membiarkan empat posisi Jogen tetap kosong, belum lagi salah satunya adalah Akaza yang menduduki posisi tiga terkuat.


Tapi setidaknya, antisipasinya cukup berguna sekarang. Pria berambut hitam itu membuang shinai yang disampirkan bersama dengan nichirinnya, lalu menghunus nichirinnya dengan tatapan yang kalkulatif pada Gyomei. Karena jika berurusan dengan pria yang memiliki bekas luka di dahi ini, Harada tidak bisa membuat satupun kesalahan, khususnya jika dirinya akan menyerang lebih awal.

__ADS_1


"Yah, itu bukan masalah juga, sih. Tapi bersiaplah, Gyo-nii. Aku tidak akan menahan diri," tutur Harada dengan santainya.


Gyomei tersenyum sebelum melempar bola besinya ke arah Harada dengan niat membunuh. Harada semakin menyeringai dan malah menempelkan nichirin miliknya ke rantai, sehingga menimbulkan kesan pergerakan yang terbaca. Padahal inilah gaya bertarungnya yang asli, yaitu mengecoh lawan dengan gerakan yang mudah terbaca sebelum melakukan serangan asli.


Kinbouyama, Kumamoto


Setiap dentingan metal yang beradu mengisi keheningan di tengah Gunung Kinbou yang dikelilingi oleh hutan belantara. Di antara dentingan tersebut, sesekali terdengar suara percikan petir yang saling sahut menyahut, seolah tidak mau kalah dengan lawannya yang mengandalkan gerakan cepat dari tubuh bagian atas beserta api dan udara dingin yang menusuk tulang.


Lalu seolah sudah bosan beradu pedang, salah satu dari tiga sosok tersebut mengembangkan sayap di punggungnya yang sejak tadi tertutup, lalu terbang di antara rimbunnya pepohonan, seolah-olah mengejek lawannya yang tidak bisa terbang, yaitu Hideki dan Kyojuro.


"Cih, kegesitannya bukan main memang," gerutu Hideki.


"Kalau begitu akulah yang akan mengejarnya, Date-san! Kau jebak dia nanti saat aku berhasil menjatuhkannya!" tutur Kyojuro. Hideki mengangguk pelan sambil menyeringai.


Kyojuro melompat ke atas pohon, lalu melompat dari setiap dahan untuk mengejar iblis petir tersebut. Sementara itu tepat di bawahnya, Hideki mengejar Kyojuro sambil memasang kuda-kuda, khawatir dengan serangan kejutan yang sangat mungkin terjadi. Karena jika tidak benar-benar terdesak, sebenarnya iblis petir itu bisa saja membunuh mereka berdua sekaligus.


Tapi entah mengapa iblis itu seolah sedang memikirkan strategi untuk melakukannya, dan ini sangatlah unik, khususnya bagi Hideki. Karena sekalipun telah lama berada di kesatuan, namun inilah kali pertama Hideki berhadapan dengan iblis yang perhitungan seperti ini. Atau mungkinkah, ini bukan tubuh aslinya?


Hideki mendecih, lalu tanpa pikir panjang ikut naik ke atas pepohonan dan secepat kilat menebas leher iblis yang sedang terbang tersebut. Tindakan pria berambut putih itu tadi sempat membuat Kyojuro tertohok, meskipun pada akhirnya mereka berdua mencapai sebuah keputusan yang menjengkelkan. Jika iblis yang mereka hadapi ini bukanlah tubuh aslinya.


Lalu saat sebuah asap hitam muncul dari leher iblis tadi, Hideki menarik tangan Kyojuro untuk turun ke tanah dan berlari secepat mungkin untuk menghindari asap hitam yang mengejar mereka berdua. Jika insting pria bermanik biru muda itu benar, seharusnya tubuh asli dari iblis ini tidak akan jauh dari gunung, atau minimal masih berada di satu kawasan.


"Date-san, kenapa kau melakukan ini!?" seru Kyojuro sambil berlari, dan menjadikan suaranya sedikit goyang.


"Ikut saja denganku. Ada satu tempat yang melintas di pikiranku tentang lokasi tubuh asli iblis ini," balas Hideki.

__ADS_1


"Semoga itu bukanlah tempat yang merepotkan!"


"Tenang saja, ini adalah tempat yang bagus!"


__ADS_2