Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Kereta Mugen(1): Kaigaku, Akaza, dan Hikari?


__ADS_3

Entah sudah berapa minggu telah berlalu sejak hari libur Harada selesai. Pria berambut hitam itu kini telah kembali pada rutinitasnya sebagai Hashira Badai. Bahkan pekerjaannya bertambah karena dirinya harus mendampingi Nezuko dan teman-temannya untuk latihan pemulihan dan latihan pernapasan penuh.


Tapi sekalipun terdengar menyebalkan, Harada malah menganggap pelatihan yang diberikannya itu sebagai permainan penghilang stress. Karena bagaimanapun juga, jadwalnya sudah sangat padat dengan patroli dan misi yang menyebalkan. Sehingga dari setumpuk misinya, pria berambut hitam itu butuh sesuatu yang menyegarkan dan cerah ceria.


Setidaknya beberapa hari berjalan tanpa masalah, bahkan Harada sedikit yakin jika misi berintensitas tinggi tidak akan menghampirinya dalam beberapa saat, karena Harada secara tidak sengaja sempat menunjukkan gangguan psikologis di hadapan Kagaya. Namun untuk kali pertama instingnya salah total. Bahkan otaknya berkata jika misi yang akan diterimanya kali ini bisa sangat berbahaya.


Saat ini di tengah langit pagi yang cerah, di dalam Kediaman Ubuyashiki, dirinya sedang duduk bersimpuh di hadapan Kagaya dan Amane. Tepat di sampingnya ada Kyojuro yang ekspresinya selalu cerah, seolah tidak menaruh kecurigaan dibalik dipanggilnya pria berambut api itu bersama dengan Harada. Pria bermanik hijau rumput itu sedikit merinding dengan pemikiran positif Kyojuro yang sedikit berlebihan.


"Tapi Oyakata-sama, jika hanya misi melindungi kereta Mugen, aku masih bisa melakukannya sendiri," tutur Kyojuro. Harada malah semakin merinding sekarang.


"Masalah utamanya bukanlah kereta, melainkan rutenya. Setiap kali ada laporan dari kereta Mugen, selalu ada mantan pemburu iblis yang merasakan hawa yang sangat kuat," tutur Kagaya.


Di samping Kagaya, Amane turut mengangguk seolah membenarkan perkataan suaminya. Wanita berambut putih itu lalu membacakan laporan mendetail dari misi lama yang Harada ambil, yaitu misinya saat menyelidiki para Juuni Kizuki. Atau lebih tepatnya pada bagian kekuatan Jogen dan Kagen. Amane membacakan kemampuan salah satu Kagen Kizuki yang bisa dikatakan sangat rapi, yaitu ilusi mimpi dan pemindahan kesadaran pada benda mati.


Manik sewarna madu Kyojuro sempat membelalak selama Amane menjelaskan tentang kekuatan itu. Kagaya lalu menambahkan, jika bekas kereta Mugen selalu terlihat rapi dan kosong setelah kejadian. Harada menghela napas, dan menggaruk pundak kirinya yang mendadak terasa gatal.


"Oyakata-sama, maaf karena mencela. Tapi misi ini tidak hanya menyangkut tentang Kagen menyebalkan itu, kan?" tanya Harada memastikan. Kagaya mengangguk. Kyojuro bingung.


"Itu benar, Harada. Selalu ada Jogen Kizuki yang menyertainya dalam kejadian Mugen," balas Kagaya. Harada menghela napas pelan.


"Sudah kuduga. Muzan dan para Jogen sedang mengetes para Kagen sepertinya."


"Kalau begitu, apa kalian akan mengambil misi ini? Jika kalian berdua tidak mau, aku akan memberikannya pada Hideki dan Gyomei."


Harada dan Kyojuro serentak berseru jika mereka akan mengambil misi berbahaya ini. Kagaya tersenyum, dan mengatakan agar keduanya tetap berhati-hati. Amane lalu mengatakan jika keduanya bisa mulai berangkat saat ini ke stasiun. Harada dan Kyojuro mengangguk pelan, lalu berpamitan pada suami istri klan Ubuyashiki itu.


Di luar kediaman, ketika Kyojuro sedang menunduk untuk memberi salam sebelum melaksanakan misi, Shinobu menghampiri keduanya. Gadis beriris ungu tua itu lalu menghampiri keduanya, lalu menyapa meskipun hanya untuk basa-basi.


Tetapi gadis beriris ungu tua itu juga bertanya jika Harada dan Kyojuro akan melaksanakan misi yang sama. Dengan semangat yang seolah tidak pernah padam, pria bersurai layaknya api tersebut mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Kagen dan Jogen berada dalam satu tempat, dan itu membuatku bersemangat!" tukas Kyojuro, seolah berusaha menurunkan rasa penasaran Shinobu.


"Tapi jika misi itu diemban oleh kalian berdua, aku yakin semua akan lancar, Rengoku-san," tutur Shinobu. Harada hanya tersenyum tipis.


"Kalau begitu do'akanlah kami, Shinobu."


"Ara, tentu saja Harada-san! Ganbatte ne, Harada-san, Rengoku-san!"


Skiiiip


Karena kedua kakaknya sedang menjalankan misi siang ini, Hikari yang baru pulih dari cedera setelah melawan mantan Kagen, kini hanya melihat latihan yang tengah dijalani oleh Senjuro, Nezuko, Zenitsu dan Inosuke dari engawa. Bahkan gadis bersurai senja itu masih memakai piyama pasien dan zori. Sebuah senyuman mengembang di wajah Hikari yang sedikit pucat, merasakan sensasi nostalgia ketika Harada melatihnya dan Hikaru demi mempertahankan Pernapasan Konsentrasi Penuh seharian.


Karena Shinobu juga mengatakan jika mereka sedang melatih untuk mempertahankan hal itu seharian. Meskipun sebenarnya, yang pertama memulai segala keributan ini adalah Senjuro dan Nezuko. Alasannya sangat sederhana, karena mereka berdua tergolong sebagai seseorang yang benci kekalahan.

__ADS_1


Hikari melirik ke belakang ketika kedua telinganya menangkap derap kaki yang sangat ringan dari dalam. Gadis bermanik hijau rumput itu lalu menatap langit yang semakin biru, lalu menghela napas panjang, berusaha untuk menikmati ketenangan yang sementara ini. Karena gadis beriris hijau rumput itu tahu jika yang menghampirinya dari belakang adalah Shinobu, sehingga dirinya bisa sedikit tenang. Gadis berambut hitam dengan gradasi ungu tua itu lalu duduk di samping Hikari, turut serta memandangi langit yang biru.


"Apa nii-chan mengambil misi kereta Mugen itu, Shinobu-chan?" tanya Hikari. Shinobu hanya bisa mengangguk.


"Iya, Harada-san sudah berangkat pagi-pagi bersama Rengoku-san," balas Shinobu. Hikari kembali menghela napas, terdengar sedikit takut.


"Kuharap Rengoku-san tidak akan merepotkan nii-chan."


"Ara Hikari-chan, sepertinya mimpi burukmu itu kembali berulang."


"Perasaan yang telah terkubur itu kembali karena mahluk bergaris itu, Shinobu-chan. Meski banyak yang mengatakan jika aku ini kuat, tapi tetap saja aku merasa lemah."


"Kalau begitu, bagaimana jika kau mengajari mereka berdua, Hikari-chan?"


Shinobu berdiri dari posisi duduknya. Wajahnya yang selalu tersenyum masih berhadapan dengan Hikari, tapi tangan kanannya menunjuk ke arah Zenitsu dan Inosuke yang berlatih dengan sangat gaduh. Belum lagi Nezuko dan Senjuro yang menyemangati keduanya. Gadis berambut senja itu menggeleng pelan, dan memutuskan untuk kembali ke kamar untuk beristirahat.


Karena sekalipun terlihat mulai pulih, namun emosi Hikari yang tidak stabil membuat gadis berambut oranye itu kelelahan secara mental. Bayang-bayang akan sesosok iblis berambut merah muda yang melawannya dan terkesan dengan kekuatannya masih tercetak dengan jelas. Namun ingatan yang paling jelas adalah ketika iblis itu bertanya tentang kakak sulungnya.


Iblis yang hanya memakai rompi itu bertanya seolah dia akan menerima sesuatu yang besar jika berhasil membunuh Harada, dan itu lagi-lagi membuatnya sakit kepala. Bahkan tanpa sadar, tubuh gadis bersurai oranye itu sempat oleng, lalu ditangkap oleh sepasang lengan telanjang yang kekar.


"Syukurlah masih sempat, Hikari-chan," ujar Tengen.


"T-Tengen, kau.."


"Tenanglah, biar aku gendong."


Dari tatapan yang dipancarkan oleh sepasang netra berwarna marun di depannya, Hikari tahu jika Tengen sudah paham dengan kekhawatiran yang Hikari tanggung. Karena meskipun tidak membersamai gadis berambut oranye itu, tapi berkat kemampuannya dalam mencari informasi, Tengen adalah sumber informasi mengenai kereta Mugen tersebut, dan Tengen juga terus memantau perkembangan dari kereta laknat tersebut. Tengen lalu mencari kursi untuk duduk di samping ranjang Hikari.


"Jadi, kau berhadapan dengan Jogen tapi kenapa dia malah melepasmu?" tanya Tengen. Hikari mengangguk.


"Dia bilang dia tidak mau memangsa perempuan," balas Hikari.


"Seenteng itukah alasannya?"


"Iya, juga kupikir dia mengusirku untuk mempertahankan prinsipnya. Karena bagaimanapun juga, aku tetaplah marechi, Tengen."


"Ya ampun, sungguh mahluk yang unik."


"Keberadaannya mencekikku, apa mungkin nii-chan sanggup membunuhnya?"


"Pasti, Hikari-chan. Dia pasti akan mencincang iblis itu dengan elok dan ramai!"


Hikari terkekeh kaku dengan respon dari Tengen. Dirinya yang terlalu tenang dan misterius memang memerlukan respon yang cerah ceria seperti ini, karena respon seperti ini telah membuat pikirannya nyaman dan tenang walau hanya untuk sesaat. Tapi mengingat ada dua nyawa yang sangat disayanginya sedang dalam bahaya besar, Hikari tetap tidak bisa tenang walaupun perutnya sekarang terluka parah.

__ADS_1


Skiiiip


Sudah sekitar dua minggu Harada dan Kyojuro mengumpulkan informasi mengenai kereta Mugen. Karena kereta tersebut hanya akan transit ke stasiun yang paling dekat dari markas sebulan sekali, sehingga kedua Hashira itu memilih untuk mempersiapkan segalanya selama tenggat waktu itu. Termasuk rencananya, karena kehadiran dua iblis tingkat atas bukanlah sesuatu yang enteng, bahkan untuk dua orang Hashira.


Karena rencana yang keduanya susun, Harada akhirnya berpatroli di dekat rel kereta yang akan dilalui oleh kereta Mugen nantinya. Setidaknya sudah tiga hari Harada berkemah di hutan ini, dan itu membuat indera pria bersurai malam tersebut meningkat cukup pesat. Sementara di sisi lain, Kyojuro masuk ke kereta karena keinginannya sendiri.


Kini di bawah semburat keperakan yang menerangi langit malam yang dingin, Harada terlihat sedang menguap dengan lebar di atas cabang dahan pohon yang menghadap ke sebuah rel kereta. Angin malam ini terasa cukup dingin, seolah menjadi tanda yang buruk dari segala keheningan hutan yang mencekik ini. Seperti membisikkan sebuah peringatan di telinga Harada.


Pria bersurai malam itu menengadahkan kepala, menatap langit yang bertabur bintang berkelip. Jika Harada memperhatikan langit dengan seksama, seharusnya kini kereta Mugen sudah meluncur dari stasiun, dan Kyojuro sudah naik.


Sore tadi Kasugai miliknya, Kara, mengabarkan jika Nezuko dan yang lainnya akan turut serta dalam misi ini. Antara senang ataupun bingung, Harada hanya menghela napas seperti biasa. Dirinya kini berharap jika Nezuko, Senjuro, Zenitsu dan Inosuke akan menjadi bala bantuan yang berarti untuknya saat ini.


Sehingga secara tidak langsung, mereka bisa mengurangi beban yang akan Kyojuro tanggung. Meski pria berambut api itu bisa dikatakan sangat kuat, namun ketahanan dan kesabaran yang Kyojuro miliki tidaklah sebaik Harada. Terutama ketika sedang bertarung dengan iblis yang kuat, Kyojuro cenderung melupakan apa yang telah direncanakan sebelumnya.


Netra hijau rumputnya sedikit membelalak ketika hidungnya mencium aroma busuk yang kentara. Jika Harada serius, pria bertubuh tinggi tegap itu bisa tahu jika ada dua aroma yang mendekatinya. Satu aroma yang sangat busuk, dan satu lagi seperti aroma pohon yang tersambar petir saat hujan.


Harada diam-diam menggenggam gagang nichirinnya. Pria berambut hitam itu menajamkan insting bertarungnya. Pria bermanik hijau rumput itu lalu berbalik, kemudian langsung menghunuskan nichirinnya ketika merasakan ada sesuatu yang akan datang. Hanya berjarak beberapa detik, dentang dua bilah nichirin terdengar dengan nyaring, mengisi keheningan hutan yang cukup mencekik. Suara nichirin yang terus beradu terdengar sangat liar dan nyaring.


Harada kini kembali masuk ke dalam hutan. Saat dirinya menyadari siapa yang tengah beradu nichirin dengannya, kedua netra hijau rumputnya langsung membola. Manik sewarna zamrudnya itu kini berhadapan dengan manik beriris biru langit dan sklera hitam, lengkap dengan tatapan mata yang buas seperti harimau kelaparan.


"Tidak salah Akaza-sama mengajakku kemari! Aku menemukan Hashira terkuat di sini!" seru iblis berambut hitam tersebut. Gigi belakang Harada langsung beradu.


"Sudah kuduga kau akan ikut, Kaigaku," tukas Harada. Kaigaku menyeringai dan menyerang dengan liar, meskipun serangan-serangan miliknya berhasil Harada patahkan.


"Heh, kau bertingkah seolah kau mengenalku, Hashira bodoh!"


"Kau adalah orang yang nyaris menghilangkan kepala Himejima Gyomei dan membuat Kuwajima Jigoro melakukan seppuku. Apa aku salah?"


"Keparat! Kubunuh kau!"


Serangan yang Kaigaku layangkan terlihat semakin brutal, tapi juga tampak berantakan di mata Harada. Sehingga pria dengan tinggi nyaris 2 meter itu bisa dengan mudah mematahkan serangan yang Kaigaku layangkan padanya.


Iblis dengan sklera hitam itu kini terlihat frustasi. Tapi ketika dirinya berniat untuk melayangkan salah satu teknik pernapasannya, Kaigaku secara tidak elok ditendang tepat di wajahnya oleh Harada. Sehingga iblis dengan usia fisik sekitar 20 tahun itu terpental beberapa meter karenanya, meski pada akhirnya, Kaigaku ditangkap oleh seseorang dengan aroma yang kelewat busuk.


Harada sempat menyeringai saat melihat bala bantuan yang datang untuk Kaigaku. Di atas dua bola matanya, tercetak kanji yang menandakan iblis di depannya ini adalah uppermoon ketiga. Iblis berambut pink pastel di depannya ini juga menyeringai, seolah terbawa oleh sebuah kenangan lama yang indah dan menantang.


"Ho, kau sangat mirip dengan Matsuda. Apa hubunganmu dengannya?" tanya iblis yang hanya memakai rompi dan celana balon di bawah lutut tersebut.


"Aku anaknya," balas Harada singkat. Pria berambut hitam itu kini berusaha untuk setenang mungkin dan mencoba menghilangkan hawa keberadaannya secara perlahan.


"Jadi kau adalah orang yang dicari-cari itu ya. Bagaimana jika kau menjadi iblis saja? Kau itu kuat, kawan."


"Heh, jangan berharap!"

__ADS_1


Harada melesat ke arah Akaza dan melayangkan tebasan beruntun. Iblis berambut pink itu dengan mudah menangkis serangan beruntun Harada dengan tangan kosong, dan semua itu membuat Harada menyeringai puas.


Pria berambut hitam itu sudah memperkirakan jika seluruh tubuh Akaza sekeras batu, dan hal ini menjadikan dirinya tidak ragu-ragu untuk melawan iblis berambut sedikit feminim di depannya. Bahkan karena terlalu fokus, Harada sampai tidak sadar jika kereta Mugen, yang sudah ditumbuhi daging-daging hidup, telah melewati area hutan yang menjadi tempat pertempurannya kini.


__ADS_2