Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
Yoshiwara(Fin):Intro of Date Clan


__ADS_3

(Halo, makasih banyak untuk dukungannya selama ini, maaf aku terpaksa skip part epic battle di Red Light District alias Yoshiwara, hal ini murni karena keterbatasan author buat menggambarkan fight extra epic itu, sebab banyak banget yang ikutan juga kan ** but kedepannya aku bakal usaha lebih banyak supaya final fight battle bisa terjabarkan dengan wow...)


Time Skip 1 Bulan Kemudian


Meskipun sudah terbiasa dengan udara dingin, tetapi bertarung dengan dua orang pengguna unsur es secara langsung benar-benar membuat Harada kerepotan. Terutama saat dirinya tidak sadarkan diri, sehingga pernapasan penuhnya juga berhenti.


Jika pria berambut hitam itu mengibaratkan dirinya seperti tertimbun salju tanpa memakai sehelaipun kain, itu sebenarnya tidaklah berlebihan. Bahkan dalam kondisi tidak sadarkan diri, sekujur tubuhnya, yang terbaring di ranjang dekat jendela dan diselimuti oleh banyak selimut, masih menggigil di bawah selimut yang tebal.


Harada sudah kehilangan orientasi waktunya saat ini. Otaknya hanya diisi oleh cara agar dirinya tetap hangat sekarang, sehingga pria bermanik hijau rumput itu sudah tidak terlalu peduli dengan situasi. Entah itu orang-orang yang silih berganti datang ke samping ranjangnya, ataupun saat sinar matahari menembus jendela. Tapi sepertinya, saat perlahan orientasi waktunya telah kembali, otaknya juga mulai kembali bekerja dengan benar.


Pikirannya tahu kalau dirinya kini batuk-batuk, dan durasinya juga cukup lama. Satu menit mungkin? Entahlah. Tapi sejauh yang kedua telinganya tangkap, situasi saat ini sedang kurang baik, dan juga cukup berisik. Ketika kedua kelopak matanya bergetar dan perlahan menggulung ke atas, pemandangan yang Harada tangkap sungguh di luar nalarnya. Terutama untuk otaknya yang belum sepenuhnya terhubung karena kehilangan kesadaran.


Kedua iris hijau rumputnya sekilas menangkap warna lavender dan merah marun, namun kedua warna itu malah meninggalkannya, seolah tidak siap untuk saling berhadapan dengannya. Kini yang dilihatnya adalah warna ungu tua dan cokelat madu, lengkap dengan surai layaknya api yang membara. Harada mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, berusaha keras untuk segera menghubungkan seluruh inderanya.


"Yokatta na aniki!"


"Ara, Harada-san. Kau benar-benar membuat semuanya khawatir."


Tangan kiri Harada refleks memegang pelipis kirinya, mencoba untuk mengurangi rasa sakitnya walau untuk sesaat. Ketika kedua manik hijau rumputnya kembali fokus pada dua sosok itu, hanya sebuah senyuman setipis kertas yang bisa diberikannya sekarang.


"Shinobu, Kyojuro," gumam Harada dengan suara parau. Kyojuro balas tersenyum dengan cerah, sementara Shinobu kini tengah memeriksa kondisi Harada.


"Akhirnya kau siuman juga ya, aniki!" tukas Kyojuro dengan penuh semangat.


"Berapa lama aku-?"


"Satu bulan, Harada-san. Tapi tidak masalah, semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya Yoshiwara dan sekitarnya kini aman tanpa harus mengambil resiko sama sekali."


Harada perlahan mengangguk. Pikirannya kembali mengingat jika misi ini juga berdampingan dengan Tengen dan Hikari, meski tentunya lokasinya berbeda. Tapi dari ucapan Shinobu, setidaknya Harada bisa tahu jika semuanya baik-baik saja. Atau setidaknya, itulah yang ada di pikiran dan kantung harapan Harada sekarang.


Namun dari sekian banyak harapan tentang misi terakhir, masih ada satu hal yang bercokol dalam ceruk gelap benaknya. Tentang siluet sewarna lavender dan merah marun yang dilihatnya saat pertama kali siuman. Harada memejamkan mata, mencoba untuk mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Tapi belum sempat Harada berucap barang sepatah katapun, iris hijau rumputnya sudah membelalak karena pemandangan yang ditangkap oleh kedua mata dan telinganya.


Di ambang pintu, di belakang Kyojuro dan Shinobu, Kagaya masuk ke ruangan seorang diri. Iris matanya yang telah memudar kini kembali menjadi berwarna lavender, dan bekas luka pada hampir seluruh wajahnya juga menghilang tanpa bekas.


Ketika sepasang manik lavendernya bertatapan dengan iris hijau rumput Harada, pria bertubuh tinggi itu malah semakin melebarkan matanya. Sementara di sisi lain, Kagaya mendekati ranjang Harada yang masih shock. Kyojuro dan Shinobu langsung keluar ruangan, seolah sudah tahu jika pria bertubuh kurus itu bisa melihat dengan baik, dan juga untuk memastikan privasi pemimpin mereka.


"Harada, yokatta na," ujar Kagaya. Harada langsung mengalihkan tatapannya, mencoba untuk menenangkan diri. Sementara Kagaya kini malah kembali tersenyum.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa, Anda?" Harada tergagap, namun Kagaya tetap menatap lembut Harada yang kebingungan.


"Hikari nyaris mengorbankan nyawanya demiku, namun Tamayo berhasil mencegah semua itu."


Harada masih memasang ekspresi terkejut. Namun hanya butuh beberapa saat hingga dirinya mengingat tentang mimpinya bersama Matsuda. Tentang Sora no Kibo, dan segala kemungkinan yang akan adik kecilnya ambil. Harada menggigit bibir bawahnya sambil meremas seragam pasien di bagian tengah dadanya.


Meskipun sedikit terasa sesak, namun itulah kenyataan sesungguhnya. Dalam kutukan yang menimpa klan Ubuyashiki, dan tingkat kematangan kutukannya, kemungkinan Hikari tewas di tempat karena menggunakan Gyakuroi nyaris 100 persen.


Harada kembali menatap Kagaya. Pria berambut hitam lurus itu kini mempertanyakan alasan Hikari ingin memakai teknik itu untuknya. Harada sedikit mengalihkan pandangannya, merasa ragu untuk menjelaskan semua ini. Karena baginya, kini Kagaya menginginkan penjelasan secara langsung darinya sebagai kakak dari Hikari.


"Klan Ubuyashiki, tidak layak untuk kutukan itu. Itulah yang kami pikirkan," ucap Harada. Kagaya sedikit terperangah.


"Lalu kenapa kalian berpikir seperti itu?" tanya Kagaya.


"Karena kutukan itu, kutukan yang sama sekali tidak diinginkan dan turun temurun, adalah pancaran dari neraka. Tugas seorang Sora no Kibo adalah melepasnya, tanpa mempedulikan nyawa sendiri."


"Itukah alasan kenapa beberapa generasi ke belakang benar-benar mencarinya?"


"Ya. Tapi yang lebih penting, syukurlah. Karena dengan terlepasnya Anda, maka kutukan itu, sudah selesai. Kiriya-kun tidak perlu mengalami hal yang sama."


Kagaya terkesiap. Kedua manik lavender ya sedikit membola untuk sesaat, sebelum pria yang penuh wibawa itu sadar dengan reaksinya. Harada tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit, dan tanpa sadar air mata mengalir dari sana. Kagaya yang melihat itu sempat sedikit panik, hingga pria bertubuh kurus itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari laci nakas di samping ranjang dan menyentuhkannya pada pelipis Harada. Hashira Badai tersebut sempat sedikit tersentak dan membelalak, namun akhirnya kembali tersenyum dan mengambil sapu tangan yang Kagaya pegang.


.


Sekalipun pertarungannya dengan Douma sempat membuatnya tidak sadarkan diri, namun luka yang Hideki alami bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Harada. Karena iblis berambut pirang pudar itu jauh lebih mengincar sobatnya daripada dirinya. Sehingga pria bersurai salju itu hanya butuh waktu 2 minggu untuk kembali bekerja.


Atau dalam kata lain, menyelidiki sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh 9 regu yang telah sampai sebelumnya di sini, namun akhirnya semua regu itu hilang kontak. Informasi terakhir yang didapatkannya dari sini adalah, tentang keberadaan iblis tingkat tinggi di pedesaan dekat danau dan di tepian danau.


Jujur saat mendengarnya, pria bermanik biru muda itu sudah merinding. Namun karena situasi yang tidak begitu mendukung untuk sebuah misi khusus, serta keadaan para Hashira yang bervariasi, akhirnya Hideki pergi ke desa ini bersama Gyomei, Ryunato dan Akira, seorang pemuda bertubuh mini dan berambut klimis. NamunĀ  di balik penampilannya yang sedikit necis, Akira bisa dikatakan sangat kuat sebagai pemburu iblis berpangkat kinoe. Saat ini mereka berempat terbagi menjadi dua tim. Gyomei dan Akira berjaga di tepian danau, selagi Hideki dan Ryunato berjaga di pedesaan.


Kini sambil berdiri di atas atap salah satu rumah, Hideki menghela napas lalu menutup mata. Mencoba untuk melacak keberadaan iblis yang dimaksud. Karena instingnya dalam merasakan aura jahat juga sangatlah tajam, sehingga biasanya pria bersurai salju itu sama sekali tidak kesulitan.


Namun kini adalah kali pertama Hideki kesulitan dalam melacak musuh. Kedua iris biru mudanya itu baru terlihat lagi ketika tangan kanannya dijatuhi oleh sekeping salju yang langsung mencair. Dengan wajah seolah terkesiap Hideki membuka matanya, lalu menajamkan indra pengelihatan dan pendengarannya.


Karena Hashira Es itu sangat yakin jika salju tadi bukanlah salju biasa. Sekalipun wilayah ini berdekatan dengan Pulau Hokkaido, namun salju di bulan Maret bukanlah sesuatu yang awam. Belum lagi dengan fakta jika dirinya bisa merasakan aura jahat dari kepingan salju tadi. Hideki sedikit celingukan untuk mencari Ryunato, namun pemuda itu malah menghampirinya dari belakang.


"Hideki-san, apa kau merasakannya juga?" tanya Ryunato. Hideki hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tapi entah mengapa aku sangat familiar dengan hawa ini," balas Hideki seadanya. Ryunato mengerutkan dahi.


"Maaf, Hideki-san, tapi-"


Sambil melirik ke belakang dan mendorong Ryunato bersamanya, dua pasang manik yang berbeda warna itu kini sedang membulat dengan kemunculan tiba-tiba sosok iblis berkulit pucat dengan telinga kucing dan rambut berwarna putih. Belum sempat keduanya mendarat, iblis bertelinga kucing itu melesat menuju Hideki, membuat pria bersurai salju itu mendorong Ryunato ke belakangnya sambil menghunuskan nichirin.


Dentingan nichirin dan sebuah tongkat putih langsung menggema di udara. Iblis kucing itu mencoba menyodok perut Hideki dengan tongkatnya. Namun pria bermanik biru muda tersebut menjadikan tongkat iblis itu sebagai pijakan untuk mengubah tempat dan arah mendaratnya.


Ketika kedua pemilik rambut putih itu berhadapan, di sisi lain, Ryunato yang terjerembab ke sebuah ladang karena didorong Hideki dengan cukup keras hanya bisa mengusap-usap kepalanya yang penuh tanah lempung. Ketika sadar jika gurunya itu bertarung tidak jauh dari sini, Ryunato segera bangkit dan berlari walaupun sedikit tergopoh-gopoh. Namun ketika berada sekitar tiga meter di belakang guru berambut putihnya itu, Hideki membentangkan tangan kirinya, tanda agar Ryunato tidak mengintervensi pertarungannya.


"Demo Hideki-san, doushite? Aku bisa merasakan jika iblis ini adalah yang paling kuat dari dua iblis di sini!" tutur Ryunato. Hideki tersenyum tipis sambil tetap menatap lawannya.


"Ini bukan hanya pertarungan untuk melindungi nyawa. Tapi juga pertarungan untuk melindungi harga diriku," balas Hideki.


Ryunato terkejut. Pemuda berambut spiky itu kini membelalakkan kedua matanya. Benaknya juga telah terisi dengan berbagai macam alasan di balik semua ini. Hideki mengatakan agar Ryunato segera melakukan evakuasi. Pria itu juga mengatakan jika dirinya akan menjelaskan segalanya setelah misi ini selesai.


Hideki tanpa ragu menahan terjangan tongkat dan sabetan empat buah cakar yang panjang dan tajam, lalu mencoba mencari celah untuk menyerang balik dengan cara apapun. Ryunato yang melihat pertarungan dengan tempo cepat itu hanya bisa gemetaran, sebelum akhirnya melaksanakan apa yang Hideki minta.


.


Di bawah sinar rembulan, terhimpit antara hutan dan danau yang dalam, gema tawa dua anak lelaki terdengar sangat membahana. Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, Gyomei dan Akira sedang mencoba untuk menganalisa kekuatan iblis kembar di belakang mereka sambil terus berlari.


Karena saat ini, kedua iblis dengan tubuh anak-anak itu terus mengejar mereka berdua. Sesekali iblis kembar itu melayangkan serangan petir dari kipas yang mereka pegang sambil tertawa riang. Sambil berusaha untuk menghindar, Akira sesekali melirik ke arah Gyomei. Pemuda berambut klimis itu sedikit meragukan kesanggupan Hashira Batu itu untuk membunuh iblis ini. Semua itu terpampang jelas dari derai air mata pria bertubuh besar itu yang lebih deras dari biasanya.


"Kuharap kau punya rencana, Himejima-san! Bagaimanapun juga kita harus membasmi iblis ini!" seru Akira. Gyomei sedikit berkerut.


"Kita akan saling menjaga punggung masing-masing. Pakai kecepatanmu begitu aku melempar bola besiku," tutur Gyomei. Akira hanya bisa mengangguk.


Sekalipun sudah merencanakan sesuatu, namun pria berambut hitam spiky itu menunggu momen yang tepat. Atau lebih tepatnya, pria dengan bekas luka di dahi itu menunggu jeda dari rentetan serangan petir dan angin dari sepasang iblis kembar yang mengejar mereka berdua.


Sambil memperhitungkan jedanya, mungkin jarak sekitar lima menit kemudian, Gyomei sontak menghentikan langkah kakinya dan melemparkan bola besinya pada sepasang iblis berambut kelabu yang mengejar mereka. Setelah tanda yang sangat jelas itu, Akira berbalik dan menerjang iblis tersebut.


Sekalipun telah memakai kecepatannya, iblis kembar itu ternyata memiliki refleks yang cukup bagus dan berhasil menghindari serangan Akira. Tetapi pemuda berambut klimis itu tersenyum tipis, lalu kembali melompat dalam sudut 90 derajat. Selain untuk menghindari hantaman bola besi Gyomei, Akira jugalah yang kini bertugas untuk membersihkan iblis kembar tersebut.


"Kekkijutsu: Hageshi Takashio!"


"Kaze no Kokyu, Kyu no Kata: Idaten Taifu!"

__ADS_1


Gelombang kejut yang dingin keluar dari kedua kipas iblis kembar tersebut. Akira juga berhasil menciptakan angin ribut yang bisa memotong apapun dari atas sana, membuat kedua teknik itu bertabrakan. Gyomei refleks sedikit melindungi wajahnya dengan kedua tangan besarnya, selagi kakinya berada dalam posisi bertahan.


Karena angin yang tercipta dari teknik kesembilan dari Pernapasan Angin bukanlah angin yang bisa dianggap remeh. Telinganya bisa merasakan jika setelah pemuda berambut biru tua itu mendarat, Akira lanjut melesat melewati iblis kembar tersebut, sehingga pada akhirnya, pria dengan haori hijau muda itu bisa mendengar suara dua kepala yang menggelinding di tanah secara sekaligus.


__ADS_2