Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat

Kimetsu No Yaiba:Badai Di Neraka, Kisah Marechi Terkuat
The Cursed Successor (2):Khawatir


__ADS_3

Kumamoto Castle, Kumamoto


Sebenarnya Hideki sama sekali tidak memperkirakan hal ini. Bahkan pemandangan yang kini ada di depan mata biru mudanya sama sekali tidak terbayangkan oleh benaknya sedikitpun. Namun ketika otaknya kembali mengingat apa yang Kara sampaikan saat memandu mereka kemari, maka segala ocehan Gagak Kasugai milik sahabatnya itu kini menjadi sangat masuk akal.


Sepanjang perjalanannya dan Kyojuro menyusuri kastil bersama, hal yang menusuk hidung dan mata kedua Hashira itu sama saja sejak tadi. Pakaian yang berceceran di sepanjang jalan, cairan merah yang menggenang di lantai serta terciprat di dinding, beberapa genangan cairan hitam yang kental, serta aroma abstrak yang menggantung di seluruh kastil. Bahkan ini adalah kali pertama Kyojuro sampai empat kali muntah karena aroma abstrak yang memenuhi kastil, padahal sebelumnya Hashira Api tersebut tidak pernah sampai seperti ini.


"Oi, Kyojuro. Kalau kau mau menyerah segeralah keluar dari sini," ujar Hideki sambil menunjuk sebuah jendela kayu di sampingnya. Kyojuro menggeleng dengan mantap.


"Tidak mungkin! Aku tidak akan menyerah! Oyakata-sama mempercayaiku untuk mendampingimu sebagai ganti dari Aniki, Date-san!" tukas Kyojuro. Hideki tersenyum, lalu memberikan sebuah botol kecil pada Kyojuro.


"Oleskan ini di sekitar hidungmu. Ini akan sedikit membantumu."


"Arigatou, Date-san!"


Kyojuro menuruti perkataan Hideki. Di saat yang sama juga aroma mint menguar di antara kedua Hashira tersebut, menciptakan sensasi menyegarkan yang sedikit mengobati bau abstrak di kastil. Pria berambut layaknya api itu tersenyum dan mengembalikan botol tersebut pada Hideki. Di sisi lain, Hashira Es itu tersenyum puas dengan perubahan aura yang mengelilingi Kyojuro.


Dengan langkah mantap kedua lelaki tersebut kembali melanjutkan pencarian. Hingga pada suatu detik terdengar jeritan dari luar kastil. Hideki yang sebelumnya pernah bertugas disini menarik tangan Kyojuro keluar dari jendela kastil. Sehingga kini di atas atap, keduanya bisa merasakan aura mengerikan yang keluar dari suatu tempat.


"Honmaru, ya," gumam Hideki.


"Tidak terlalu jauh, kan?" ucap Kyojuro memastikan. Hideki mengangguk.


"Ikuti aku. Kita akan bergerak lewat atap."


Kyojuro sedikit terperanjat, tapi pada akhirnya tetap saja mengikuti Hideki, mengingat ide dari pria berambut putih itu adalah yang paling masuk akal dalam sebuah penyergapan iblis. Walaupun tentunya kini dirinya lebih merasa sedang mengikuti Tengen yang merupakan mantan shinobi. Namun pria sekaliber Hideki Date mustahil menjerumuskannya ke tempat yang tidak-tidak.


Suara jeritan kembali terdengar. Kini dari bagian bawah. Hideki dan Kyojuro bergegas turun dan masuk ke sebuah terowongan gelap yang hanya diterangi oleh beberapa obor. Keduanya menemukan sesosok iblis berambut cokelat tua yang sedang mencekik seorang pria tua dengan keras. Hideki bergerak cepat dan menebas pergelangan tangan iblis itu tanpa teknik pernapasan.


Pria tua yang tadi dicekik itu langsung batuk-batuk dan memegangi lehernya dengan tubuh yang gemetar dan tatapan shock. Kyojuro menghampiri orang itu sambil mengecek kondisinya. Sementara Hideki berdiri di depan mereka sambil memegang nichirinnya, siap bertempur dengan segala kemungkinan yang menghantuinya.


Iblis itu menoleh ke samping kirinya, tempat di mana Kyojuro dan Hideki melindungi pria tua di dekatnya. Hideki mendecih saat manik biru mudanya bertatapan dengan sepasang mata yang memiliki sclera merah darah dan iris kuning elektrik. Di atas kedua bola matanya tercetak tanda jika iblis ini adalah Iblis Bulan Atas Enam atau Jogen no Roku.


Tetapi yang membuat Kyojuro tercekat adalah fakta jika iblis ini membawa dua pedang di pinggang kirinya. Selain itu, iblis ini juga memakai atasan seragam Kisatsutai biru tua tanpa lengan yang dibuka hingga perut, meskipun bagian bawahnya malah memakai celana Samue polos berwarna putih.


"Ho, lama tidak berjumpa, Hideki. Kau tumbuh dengan baik ya," ucap iblis tersebut. Kyojuro terkejut dan menoleh ke arah Hideki tanpa banyak berbicara.


"Date-san, siapa dia? Dan kenapa dia memakai atasan seragam kita?" tanya Kyojuro. Hideki mencebik.


"Kyojuro, bisakah kau mengamankan kakek itu dulu, setidaknya keluar wilayah kastil? Aku akan menjelaskan siapa dia padamu setelah kita menghajarnya," tutur Hideki.


Seketika itu juga bulu kuduk Hashira Api itu berdiri tegak, sementara kepalanya mengangguk pelan. Karena aura di bagian bawah kastil ini sudah tidak enak, Kyojuro secepat mungkin menggendong kakek tadi dan berlari kencang meninggalkan Hideki yang siaga penuh. Bahkan kakek itu sampai bertanya jika semuanya akan baik-baik saja atau tidak.


Lengkap dengan senyuman bak mentarinya, Hashira Api tersebut meyakinkan kakek itu jika semuanya akan baik-baik saja. Bahkan Kyojuro sampai mengatakan jika dirinya akan kembali lagi ke samping Hideki setelah mengantar sang kakek keluar kastil.


Gunung Sagiri


Setelah semua anggota Kisatsutai berlarian menuruni gunung sambil melewati jebakan, hujan kunai serta senbon, dan juga serangan acak yang Tengen dan Harada lancarkan, kini semuanya tampak sedang berkumpul di sekitar rumah Sakonji. Banyak dari mereka yang membentuk kelompok kecil untuk sekedar tidur, makan dan bercerita.


Hal ini juga berlaku untuk Nezuko dan kelompoknya, beserta Hikaru, Senjuro, Kanao dan Hikari yang berbaur di dalam kelompok Nezuko. Sementara itu Harada, Tengen beserta ketiga istrinya yaitu Makio, Suma dan Hinatsuru, diundang masuk ke dalam rumah Sakonji untuk beristirahat dan berdiskusi. Karena selain melatih para anggota Kisatsutai, Harada juga bertanggung jawab untuk memantau Kara yang sedang berkeliling untuk mencari jejak para Jogen dan menyampaikan hal yang telah didiskusikan pada dua mantan Hashira di dekatnya.


Semua yang ada di dalam rumah kini duduk melingkar mengelilingi panci berisi sup sayur dan ikan yang mendidih. Saat ini mereka semua hendak makan malam bersama, dan suasana di dalam hanya dicairkan oleh ketiga istri Tengen yang terpesona dengan hasil masakan Harada. Pria berambut hitam itu tersenyum tipis saat menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian, meskipun sebenarnya Hashira Badai itu berusaha mati-matian untuk mengabaikan Tengen yang dahinya terus berkedut karena sebal. Sementara Sakonji yang melihat keriuhan di rumahnya dari dapur utama hanya tersenyum dari balik topeng.

__ADS_1


"Harada-sama, bisakah kau memberitahukan resepnya?" tanya Hinatsuru.


"Naaaa, Harada-sama, tolong ajari aku juga dong, ya?" Suma berujar dengan mata yang berkaca-kaca setengah berbinar.


"Hei kalian! Memangnya siapa yang paling sering masak, hm? Seharusnya Harada-sama mengajari orang yang paling sering masak di rumah!" Makio menyahut tidak sabaran.


"Baiklah, nanti aku ajari kalian masing-masing satu resep. Sekarang tolong berhentilah terlihat antusias padaku, suami kalian cemburu tuh!"


Harada menunjuk Tengen dengan sendok sayur. Pria berambut putih itu kini sedang menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa cemburunya yang meletup-letup. Kini giliran ketiga kunoichi itu yang gelagapan. Tengen menghela napas, berusaha untuk mengatur emosinya.


Dari arah dapur Sakonji datang sambil membawa sebuah nampan yang di atasnya ada enam mangkuk, enam pasang sumpit, dan panci berisi nasi panas. Hinatsuru dan Makio segera mengambil nampan di tangan Sakonji, lalu menyajikan nasi di dekat panci. Sakonji pada akhirnya kembali lagi ke dapur untuk mengambil gelas dan teko berisi teh, lalu cepat-cepat menyajikannya.


Di antara suara panci dan sendok sayur yang beradu, Kara masuk dari jendela lalu bertengger di bahu kanan Harada. Pria bertubuh tinggi tegap itu melirik Kara sekali, lalu menyimpan sendok sayur di atas sebuah piring dekat panci. Setelah dua menit berlalu Harada sempat membulatkan kedua matanya, lalu mengangguk. Hanya dengan anggukan itu saja Gagak Kasugainya langsung keluar dari jendela.


"Wajahmu mengeras. Ada apa?" tanya Tengen. Harada menghela napas panjang, merasa sedikit frustasi.


"Posisi Jogen Kizuki yang kosong sudah terisi lagi. Nomor enam, tiga, lalu empat dan lima," tutur Harada. Tengen medelik ke arah Harada.


"Tunggu, serius?"


"Ya. Lalu Hideki dan Kyojuro sekarang sedang berhadapan dengan nomor enam."


Suma gemetaran, sementara Hinatsuru dan Makio tidak bisa banyak berkomentar saat menyajikan sup dan nasi. Karena jika saat itu saja mereka sudah kerepotan sampai hampir mampus menghadapi Gyutaro dan Daki, bagaimana dengan Jogen no Roku yang sekarang? Ketiga istri Tengen setuju jika Jogen yang baru ini bisa jauh lebih kuat dari Gyutaro dan Daki. Karena dari pengamatan ketiganya, mereka semua tahu Sakonji juga ikut-ikutan terkejut sekarang.


Alih-alih mengalihkan topik pembicaraan, Sakonji bertanya pada Harada tentang iblis yang Hideki dan Kyojuro hadapi. Setelah menghela napas Harada mengatakan semua bisikan Kara padanya beberapa saat yang lalu. Jika Jogen no Roku yang baru adalah seorang pengguna pernapasan. Tengen yang sedang mengunyah nasinya langsung tersedak, sementara Sakonji, yang makan sambil memunggungi semuanya karena sedang membuka topeng Tengunya, menoleh ke belakang dengan mata yang membulat.


"Apa dia mengatakan hal lain, Harada?" tanya Sakonji. Harada menelan ludah dan mengangguk.


"Tunggu dulu, bagaimana nama itu bisa sampai pada Kara?"


"Kara bilang dia tahu nama itu dari Kanzaburo. Nama yang dia dengar di Kumamoto sendiri adalah Soryu."


"Begitu rupanya. Seandainya tubuhku masih seperti dulu, maka akulah yang akan membasminya."


"Tunggu, membasmi?"


"Dia dulu adalah Tsuguko Shinjuro. Aku sedikit lupa kemampuannya, tapi sejak awal Pernapasan Api miliknya sama seperti teknik Yudeta Tsumi milikmu."


Tengen batuk-batuk karena terkejut. Harada melotot, merasa tidak percaya ada pengkhianat lain di Kisatsutai selain Kaigaku. Sementara ketiga istri Tengen kini bisa memastikan jika standar kekuatan para Jogen kini meroket dengan sangat jauh. Lalu jika memang begini kasusnya, maka seharusnya orang itulah yang memang menginginkan statusnya berubah menjadi iblis. Harada menghela napas pelan, sebelum akhirnya Sakonji meminta Harada untuk segera pergi ke Kumamoto.


"Hora Ossan, kau tidak bisa seenaknya mengatakan itu!" tukas Tengen.


"Tapi tetap saja, untuk berjaga-jaga-" ucapan Sakonji langsung dipotong oleh Harada.


"Hideki dan Kyojuro akan menang. Aku percaya pada mereka berdua. Mereka yang sekarang pasti bisa memukul mundur pengkhianat itu."


Tengen terkekeh dan mengatakan agar semuanya kembali menikmati makan malam masing-masing. Harada mengangguk pelan sambil menepuk-nepuk punggung Sakonji, mencoba untuk meyakinkan mantan Hashira Air itu jika semuanya akan berjalan sesuai rencana.


Tengen lalu menambahkan, meskipun Hideki dan Kyojuro bukanlah kombinasi terbaik, namun keduanya adalah pribadi yang cukup peka akan setiap detail kecil dari pergerakan lawan dan kawan. Sakonji akhirnya mengangguk pelan dan kembali makan, meskipun sebenarnya Harada masih melihat kekhawatiran yang terpampang jelas pada wajah lembut Sakonji, dan hal ini membuat Harada bersegera untuk menghabiskan makan malamnya. Setidaknya hanya untuk keluar dan menemui kedua adiknya.


__ADS_1


Senjuro yang sudah biasa memasak sejak ibunya meninggal kini menjadi koki di kelompoknya bersama Nezuko. Sementara yang lain ditugaskan untuk mencari bahan makanan di dalam hutan, dan Hikari yang terbiasa dengan daerah ini dipercayai untuk menjadi navigator.



Sehingga setelah kerja keras semuanya ketika mengumpulkan bahan makanan, kini semuanya sedang mengelilingi api unggun yang di atasnya telah dipasangi penyangga untuk menggantung panci dan tempat pembakaran daging.



"Woah, baunya benar-benar enak! Aku tidak sabar!" sahut Inosuke dengan penuh semangat. Senjuro dan Nezuko terkekeh kaku.


"Sup buatan Nezuko-chan pasti lezat sekali!" sahut Zenitsu yang tidak kalah bersemangat.


"Setelah masakannya matang makanlah dengan baik. Kita pasti akan dikejar-kejar lagi besok, jadi persiapkanlah diri kalian dengan baik," tutur Nezuko.



Zenitsu dan Inosuke tampak sangat antusias. Sementara Hikari dan Hikaru hanya bisa tersenyum ketika melihat kedekatan empat junior mereka yang sudah seperti saudara. Ketika sup dan daging panggang sudah matang, Senjuro bersorak dan mengajak semuanya untuk segera makan. Nezuko dan yang lainnya turut mengambil mangkuk kayu yang sebelumnya telah Hikari siapkan, lalu mengisinya dengan sup dan daging rusa panggang hasil buruan Hikaru.



Semua makan dengan begitu lahap. Bahkan Akechi bersaudara terlihat lebih lahap dari biasanya. Nezuko dan Senjuro yang melihat reaksi senior mereka tersenyum simpul, merasa puas dan senang karena masakan mereka dihargai sampai seperti itu oleh sosok yang terkenal pemilih. Sementara di sisi lain, Zenitsu dan Inosuke sudah kalap dan makan tiga mangkuk sup dan daging panggang.



Ketika semuanya sedang asyik makan malam, Zenitsu yang memang duduk menghadap rumah Sakonji dan berniat untuk melahap porsi keempat dari supnya tampak melambaikan tangan, seolah ada orang yang menuju ke sini. Hikaru yang sadar gerakan Zenitsu dan duduk di depannya menoleh ke belakang, mendapati Harada yang menghampiri lingkaran kelompok ini.



"Minna-san konbanwa," sahut Harada. Senjuro refleks berdiri, dan hal itu membuat Harada terkekeh kaku dan mengatakan supaya Senjuro bersikap santai saja. Harada lalu duduk di dekat Senjuro.


"Harada-san, ada apa? Wajahmu tertekuk begitu," tutur Nezuko.


"Apa kalian lihat Ryunato? Aku benar-benar tidak bisa menemukannya."


"Juutaro sebelumnya bergabung dengan kami, tapi dia tiba-tiba pergi dengan wajah khawatir saat matahari terbenam."



Harada menoleh ke Inosuke dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa disembunyikan. Bahkan Zenitsu sampai bertanya tentang sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang di dalam rumah. Harada menghela napas dan berdiri, kemudian berterima kasih pada Inosuke sebelum pria berambut hitam itu kembali beranjak untuk masuk ke dalam. Zenitsu dan kembar Akechi yang melihat reaksi kakaknya seperti itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Hashira Badai tersebut.



"Kurasa badai akan datang lebih cepat," gumam Hikaru. Hikari dan Zenitsu mengangguk.


"Hikaru-san, apa maksudmu badai datang lebih cepat?" tanya Nezuko.


"Firasat Ryunato bisa dikatakan sangat tajam. Nii-chan jelas sangat khawatir dengan Hideki-nii."


"Eh tapi sama saja aku makin tidak mengerti."


"Kau akan paham pada waktunya, Nezuko-chan. Karena seharusnya dengan kepergian Ryunato yang tiba-tiba, dia pasti diikuti oleh Kara."

__ADS_1


__ADS_2