
Musim panas dan gugur terlewati di gunung Aino dengan cukup lancar. Dalam misi ini, mereka berlima menempati sebuah rumah sederhana di ujung perkotaan, sangat dekat dengan kaki gunung. Rumah ini diketahui milik Hideki sejak kehilangan keluarganya. Pemuda berambut putih itu bercerita jika tempat ini adalah pemberian dari Yoshinori, yang juga sering mendinginkan pikirannya di sini. Hideki juga mengatakan jika dirinya sebenarnya cukup dekat dengan keluarga Kamado, yang notabenenya adalah keluarga yang mewarisi Pernapasan Matahari secara turun-temurun.
Sepanjang misi ini, mereka berlima akan bergiliran untuk patroli di malam hari. Mereka berlima juga tidak lupa untuk bersosialisasi dengan warga sekitar, sehingga semuanya kini telah semakin menyatu. Bahkan secara tidak sengaja, beberapa orang telah mengetahui pekerjaan macam apa yang dilakoni oleh kelima pendatang baru di desa mereka tersebut.
Kini di tengah musim dingin yang sedang berada di puncaknya, sinar matahari nyaris selalu terlambat untuk muncul. Salju juga mulai turun, menimbulkan penurunan suhu yang cukup drastis di luar sana. Sekalipun di luar terasa dingin, namun di dalam rumah yang mereka tinggali, suasananya selalu hangat dan nyaman karena insting Hideki dalam mengelola rumah.
Akechi bersaudara selalu bergantian untuk memasak, sementara Ryunato dan Hideki berfokus pada pekerjaan yang jauh lebih kasar. Karena keduanya lebih ahli dalam pekerjaan seperti itu, belum lagi dengan perangai mereka berdua yang sama-sama tidak menyukai hal-hal detail.
Kini di tengah hujan salju yang telah turun sejak semalaman, Harada sedang sibuk memasak. Sementara Hikaru merapikan meja, dan Hikari kini tengah beres-beres beberapa bagian rumah. Setelah berbulan-bulan lamanya, Hikari merasa kalau tempat ini harus lebih sering untuk ditinggali. Entah itu untuk liburan, ataupun untuk benar-benar ditinggali.
Setelah beberapa menit berlalu, makanan untuk sarapan telah tertata di atas meja tatami. Hikari sedang sibuk untuk menyeduh teh hijau, sementara Harada dan Hikaru kini sedang menunggu Hideki dan Ryunato kembali dari giliran patroli harian mereka sambil menatap salju dari fusuma yang terbuka. Hanya butuh beberapa menit lagi, Hideki dan Ryunato telah kembali dari patroli malam mereka dengan wajah lelah.
"Tadaima~" seru Hideki. Pria berambut putih itu langsung berbaring di engawa bersama dengan Ryunato.
"Okaeri, Hideki nii-san," balas Hikaru.
"Oi, kalian berdua. Masuk dan mandilah baru sarapan," tukas Harada.
Hideki mengangguk dengan enggan. Ryunato sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, sementara Hideki hanya bangun untuk duduk bersila. Harada yang melihat itu mengatakan jika dirinya dan pria berambut putih itu akan berjalan-jalan sebentar ke kota. Hikaru terlihat tidak bisa mengatakan apapun. Sementara Hikaru protes karena ajakan Hideki, namun hal itu sepenuhnya diabaikan oleh Harada yang paham dengan gerak-gerik Hideki.
Kedua pria dengan warna rambut yang kontras itu berjalan menuruni gunung, sambil sesekali berbincang. Harada menanyakan tentang hasil patroli yang Hideki dan Ryunato lakukan. Pria beriris biru muda itu hanya bisa menghela napas panjang, seolah telah menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Keduanya hanya bisa terdiam hingga tanpa sadar, mereka berdua kini telah sampai di kota. Harada menatap Hideki, seolah menagih apa yang ingin dikatakan pria berambut putih itu. Namun di sisi lain, Hideki tetap bungkam.
Harada yang untungnya sudah memakai kimono putih beserta celana panjang biru tua, kini semakin membungkus tubuhnya yang tegap dengan haori. Kedua pria itu terus berjalan, hingga Harada tanpa sengaja menabrak seorang gadis. Gadis itu jatuh terduduk, dan secara refleks Harada segera membantu gadis itu untuk berdiri sambil minta maaf.
"Ah, maafkan aku!"
"Ti-tidak masalah kok ji-san, sungguh!"
"Eh, tidak biasanya kau yang ke kota, Nezuko. Dimana kakakmu itu?"
Gadis yang tadi Harada tabrak secara tidak sengaja itu mengatakan jika kakaknya kini sedang mengalami cedera kaki. Hideki hanya mengangguk-angguk sambil mendo'akan untuk kesembuhannya. Sementara di sisi lain, Harada masih sedikit terkejut dengan gadis berambut hitam tersebut yang memanggilnya paman. Apa wajahnya terlihat sangat tua?
Gadis berambut hitam itu lalu menawarkan arang yang dibawanya. Hideki dengan senang hati membeli empat kantung arang, lalu membiarkan gadis yang juga beriris pink tua itu berlalu setelah berterima kasih. Kini giliran Hideki yang merasa bingung, karena Harada sama sekali tidak mengatakan apapun sejak pertemuannya tadi dengan Nezuko. Karena perut mereka yang sudah keroncongan, kedua pria itu lalu memutuskan untuk berjalan pulang.
"Apa kau bisa merasakannya, Harada?" tanya Hideki secara tiba-tiba. Harada mengangguk.
"Hideki, apa kau kuat jika ikut patroli lagi denganku malam ini?" Harada malah bertanya balik. Hideki akhirnya hanya menganggukkan kepalanya.
"Tapi ada yang membuatku terkejut sebenarnya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak menduga jika Muzan bisa menandai seseorang serapi itu."
__ADS_1
Hideki mengerutkan dahi. Logika dan pemikiran tajamnya kini benar-benar tidak berfungsi, karena pria berambut putih itu mencoba untuk mencerna perkataan Harada. Pria berambut hitam itu mengatakan jika sang kakak, entah dengan cara apa, saat ini sudah ditandai oleh Muzan. Sementara seluruh keluarganya sama sekali tidak tahu apapun. Harada mengepal dengan sangat kuat, lalu meninju angin untuk melampiaskan kekesalannya.
Skiiiip
Malam ini hujan salju yang cukup lebat kembali turun seperti kemarin. Meskipun tadi pagi Harada hanya meminta Hideki untuk ikut, namun kedua adiknya dan Ryunato langsung protes dan minta untuk ikut. Hikari sudah tahu jika kakaknya itu bersikap aneh. Sementara Hikaru dan Ryunato merasa jika dua Hashira tersebut telah mengetahui dan menduga-duga jika sesuatu akan terjadi.
Walhasil saat ini, kelima pemburu iblis itu tengah melakukan patroli bersama. Hikaru, Hikari dan Ryunato memutuskan untuk berpencar di sekitar gunung. Sementara Harada dan Hideki saat ini mengawasi kediaman Kamado dari kejauhan. Karena kini, Hideki bercerita jika keluarga ini telah diintai oleh salah satu uppermoon sejak dua tahun lalu.
Saat ini di atas pohon cemara, Harada sedang memasang wajah berpikirnya yang setengah terkejut. Kasugai milik Harada, Kara, sedang bertengger di atas kepalanya. Pria berambut hitam itu sedang berusaha untuk mencerna informasi mengejutkan yang baru didapatnya.
Namun belum sempat dirinya mengambil kesimpulan, kedua pria itu dikejutkan oleh dua hawa mengerikan yang sangat familiar bagi mereka. Muzan dan Kokushibou. Harada menyuruh Kara untuk memberitahu yang lain. Kedua pria itu saling bertukar pandangan, lalu mengangguk sebelum melesat menuju rumah keluarga Kamado dari arah yang berbeda.
Kedua pria itu menuju kediaman keluarga Kamado dengan amarah dan urat-urat yang tercetak jelas di wajah mereka. Dengan bayang-bayang mengenai masa lalu masing-masing, keduanya berlari secepat mungkin, hingga dentang logam yang beradu terdengar dengan sangat keras. Sekalipun Harada dan Hideki mengincar orang yang berbeda, namun Kokushibou dengan sigap berdiri di depan Muzan untuk melindungi iblis berambut keriting itu.
Harada refleks menendang wajah Kokushibou ke samping kiri sekuat tenaga, sehingga membuat iblis bermata enam itu terpental beberapa meter. Meskipun terhalang oleh akar-akar berduri milik Muzan, namun Hideki juga mencoba untuk menyerang Muzan sekuat tenaga.
Kokushibou kembali melindungi Muzan dari serangan Hideki, sementara Harada melindungi punggung sahabat baiknya dari akar berdiri milik Muzan dengan sebuah tebasan yang sangat cepat. Kedua pria berambut kontras itu menyerang sambil saling melindungi. Begitu juga dengan Muzan dan Kokushibou, yang selalu mencari celah untuk segera mencapai tujuan mereka, yang tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga Kamado.
Harada yang lebih dulu menyadari keberadaan Hikari, Hikaru dan Ryunato meminta ketiganya untuk mengevakuasi para penghuni rumah dengan taruhan nyawa. Selagi Hideki berurusan dengan Kokushibou, kini Harada harus menghadapi seringaian Muzan yang terlampau lebar dan terkesan terlalu percaya diri.
"Aku jadi menyesal karena menyisakan bocah itu," ujar Muzan. Harada tergelak, karena dirinya paham apa yang Muzan maksudkan tadi.
"Namun aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya, Muzan," tukas Harada, yang sebenarnya berusaha keras untuk tenang. Muzan menyeringai.
"Begitukah menurutmu, Harada? Tapi sayang ya, Kokushibou!"
Namun entah karena merasa jengah atau apa, iblis berpenampilan necis itu melesat ke hadapan keluarga Kamado, dan dengan cepat akar-akar itu menusuk mereka semua secara acak, meskipun kebanyakan dari mereka menerima tusukan dan tebasan di bagian perut. Ryunato yang melihat itu sempat terdiam dengan mata melotot untuk beberapa detik. Namun suara percikan api menyadarkan pemuda berambut spiky itu, dan membuatnya kembali sadar untuk menyerang akar-akar tersebut dengan sekuat tenaga.
Setelah beberapa saat Kokushibou sibuk dengan Hideki, mantan samurai itu lanjut melindungi Muzan dari Harada. Tuannya itu secara perlahan mulai terdesak dengan teknik ketiga dari Pernapasan Neraka milik Harada. Suara dua nichirin yang berdentang kini memenuhi telinga Harada, dan membuat pria beriris hijau rumput itu mundur beberapa langkah.
Hideki segera pindah ke depan Harada. Serangan akar yang mengelilingi Hikaru, Hikari dan Ryunato telah berhenti. Ketiga pemburu iblis tersebut kini sedang berusaha untuk menyelamatkan anggota keluarga Kamado yang tergeletak bersimbah darah. Salju yang tadinya putih, kini telah memerah karena darah dari semuanya.
"Ada satu hal yang ingin kukatakan, Harada," ujar Muzan. Hideki mencebik.
"Diam kau Muzan!" balas Hideki, yang masih mencoba untuk mengatur napasnya yang menderu.
"Chotto matte yo Hideki."
Harada melangkah ke depan. Pria berambut hitam itu, yang sebenarnya belum sedikitpun terluka, menatap nyalang ke arah Muzan. Namun iblis necis itu berkata jika dirinya tiba-tiba lupa dengan kalimatnya. Pelipis kiri Harada dan Hideki langsung berkedut kencang. Tetapi kini, Kokushibou melesat ke arah Harada dan menyerangnya dengan membabi buta.
Harada meminta agar Hideki melindungi yang lain selagi dirinya berhadapan dengan Kokushibou. Dengan kedua mata yang membulat dan urat-urat yang tercetak dengan jelas di wajah, Hideki kembali muncul di hadapan Muzan. Iblis berambut keriting itu terlihat hampir memunculkan akar-akarnya kembali untuk menyerang Ryunato dan Akechi kembar di belakangnya.
Muzan menyeringai. Hideki meminta semuanya waspada. Sementara Harada, yang sadar jika Muzan berniat untuk menusuk sahabatnya dari belakang, melesat untuk melindungi punggung Hideki dari akar beracun milik Muzan. Ryunato, Hikari dan Hikaru akhirnya memutuskan untuk mundur sambil membawa salah satu dari keluarga Kamado, yaitu seorang pemuda berambut merah anggur, Kamado Tanjiro.
"Arashi no Kokyu, Roku no Kata: Yuki Gekko!"
__ADS_1
Sambil menempelkan punggungnya pada Hideki, Harada membuat banyak tebasan acak untuk menghilangkan akar-akar milik Muzan. Lagi-lagi Kokushibou berdiri di hadapan Muzan. Iblis beriris merah darah itu kini melesat ke arah Ryunato, Hikaru dan Hikari, lalu menendang ketiga pemburu iblis itu, sehingga ketiganya terlempar sejauh beberapa meter dan menambrak pohon hingga tumbang. Harada semakin naik pitam. Pria bertubuh tinggi tegap itu langsung berlari ke arah Muzan.
"Berhenti di sana!"
"Ups, maaf."
Muzan terlanjur menyayat pergelangan tangan kanannya sendiri, sehingga darah iblisnya kini mengucur dengan deras pada luka di perut Tanjiro. Harada kembali melancarkan serangan untuk menebas tangan kanan Muzan lalu menendang iblis necis itu hingga terpental sejauh 5 meter. Dengan mata yang membulat dan iris yang mengecil, Harada mengacungkan nichirin miliknya pada Muzan.
"Aku tidak akan membiarkan para Kusahanada beristirahat sebelum kau kehilangan instingmu itu!" Harada kini benar-benar murka. Sementara Muzan menyeringai kesenangan.
"Cobalah kalau kau sanggup, Akechi Harada!"
Harada melesat ke arah Muzan. Nichirin hitamnya sudah mengeluarkan percikan api berwarna hitam. Secepat kilat Kokushibou lagi-lagi muncul di depan Muzan dan menghalau serangan Harada, hingga api hitam tersebut menjalar dan membakar tangan kanan iblis mata enam itu.
Namun dengan mudah, tentu mantan samurai itu memotong tangannya yang hanya butuh beberapa detik untuk beregenerasi. Namun yang membuat Hideki dan Harada sama-sama terkejut adalah, kemunculan Hikari, Hikaru, serta Ryunato dari samping dan atas Kokushibou secara tiba-tiba.
"Hono no Kokyu, Go no Kata:Enko!"
"Mizu no Kokyu, Shi no Kata: Uchishio!"
"Kori no Kokyu, Nii no Kata: Reito Dangan!"
"Naif! Tsuki no Kokyu, Nii no Kata: Tsuka no Rogetsu."
Kokushibou menutupi dirinya dan Muzan dengan tebasan bulan sabit yang berhasil menghempaskan tiga pemburu iblis tersebut dan menambrak pohon hingga pingsan. Hideki mencebik kesal, sementara Harada terlihat sangat emosi sekarang, bahkan pernapasannya kini bisa dikatakan sangatlah menderu.
Muzan kembali menatap Harada. Pria beriris hijau rumput itu kembali merasakan jika akar-akar milik Muzan akan kembali muncul, sehingga Hashira Badai itu memilih untuk meloncat ke udara dan kembali menyerang Muzan. Namun tebasan nichirin Harada dihalangi oleh akar berwarna merah. Iris Harada kian mengecil, dan muncul api hitam dari bilah nichirin Harada yang lalu membakar akar merah tersebut.
"Jigoku no Kokyu, Go no Kata: Kugyo no Hidane!"
Muzan sedikit terkejut dan langsung mundur, terutama saat melihat api hitam itu kian menjalar di seluruh akar miliknya. Kokushibou yang merasa tuannya kian terpojok, memutuskan untuk menebas kedua bahu, punggung dan dada Harada. Hideki, Hikaru dan Hikari yang melihat ulah Kokushibou beringsut untuk menjauhkan Kokushibou dan Muzan dari Harada sekuat tenaga.
Setidaknya mereka bertiga menggiring dua iblis terkuat itu menjauh hingga 300 meter. Tanpa peduli dengan luka yang telah mereka alami, ketiganya membombardir Muzan dan Kokushibou. Meskipun Kokushibou berhasil membatalkan semua teknik mereka, namun ketika setiap indranya merasakan jika sinar matahari akan segera muncul langsung melarikan diri.
Kedua iblis itu melompat ke dalam sebuah portal, yang kemudian menghilang tanpa bekas. Hideki dan Hikaru yang melihat itu semakin frustasi. Keduanya menjerit, sementara Hikari jatuh terduduk dengan napas dan detak jantung yang menderu.
"Kembali kau mahluk jelek! hadapilah amarah keluarga Date yang kau ubah menjadi iblis!"
Hideki benar-benar frustasi. Pria berambut putih itu nyaris tidak sadar dengan Gyomei yang memeluknya dari belakang untuk menenangkannya. Pria bermanik biru muda itu kembali menjerit frustasi, selagi para kakushi menanyakan tentang keadaan Hikaru dan Hikari. Namun kedua orang yang telah menolak posisi Hashira Api dan Air itu mengatakan jika mereka berdua tidak apa-apa, dan kembali menuju tempat Harada tadi ditebas oleh Kokushibou.
.
Sementara di sisi lain, Harada yang masih bisa merasakan aroma sinar matahari dari balik awan yang sangat tebal jatuh berlutut, dan nyaris terkapar jika tubuhnya tidak ditahan oleh Ryunato yang baru saja siuman. Pemuda berambut cokelat muda itu membaringkan Harada di atas salju, sehingga membuat salju di sekitar tubuh Harada memerah karenanya.
Pria bermanik layaknya zamrud itu mengerutkan dahi sambil mencoba untuk mengatur pernapasannya, sehingga luka yang dia terima dari Kokushibou bisa mulai berhenti. Meskipun hidungnya mulai terasa sakit karena hawa dingin yang menusuk, namun Harada masih bisa mencium aroma Gyomei yang telah mendekati Hideki dan kedua adik kembarnya.
__ADS_1
Di sini, Ryunato membuka haori biru muda polos yang dikenakannya, lalu membaginya menjadi dua untuk menghentikan pendarahan pada bahu Harada. Sebuah senyuman merekah di wajah lelah Harada yang kian pucat. Pria berambut hitam itu bisa tahu jika Ryunato mati-matian untuk mengendalikan emosinya, sebelum akhirnya kesadarannya menghilang dan pandangannya gelap total. Hal terakhir yang Harada ingat adalah aroma Gyomei, kedua adiknya, dan Hideki yang sangat khawatir tengah mendekat padanya.