Kirana

Kirana
Bimbang


__ADS_3

Selama beberapa hari pikiran Kirana terbagi. Pekerjaannya tidak fokus, hingga sering melakukan kesalahan.


Kirana menghela napas berat, dan memijit pelipisnya. Semua ini karena Alex.


Pria itu terus saja mengganggunya, dengan mengirimi berbagai pesan singkat, lalu bucket bunga ke butik. Sampai semua pegawai di sana heboh. Kirana sangat malu, terlebih hubungannya dengan Vano sudah di ketahui oleh mereka. Dia merasa seperti wanita jahat yang selingkuh.


Padahal Kirana sama sekali tidak merespon semua pesan dari Alex.


"Ekhem."


Suara seseorang membuyarkan lamunan Kirana. Wanita berumur dua puluh enam tahun itu mendongak, tersenyum begitu melihat Vano berdiri di ambang pintu.


"Mau makan siang bareng?" tanya Vano.


Pria berlesung pipi itu, bersandar di pintu menatap Kirana dengan penuh cinta.


"Baik, aku bereskan ini sebentar ya." Kirana bangkit, mulai merapikan beberapa kertas yang bertebaran di atas mejanya.


Terdengar langkah kaki Vano, dia masuk ke dalam, berniat untuk membantu kekasihnya itu.


"Pak, gak usah bantu."


"Vano, aku kan udah bilang, kalau kita lagi berdua panggil Vano aja."


Kirana terkekeh, dia selalu lupa untuk hal itu.


Tanpa sengaja, Vano melihat bucket bunga mawar putih, di pojok ruangan itu. Kedua matanya saling bertautan, penasaran dengan pemilik bunga itu.


"Kir, itu punya siapa?" tanya Vano.


Kirana melirik sekilas, "Oh itu, ada yang kirim tadi." jawabnya santai. Mencoba menutupi kegugupannya.


"Dari?"


Hal yang di takutkan Kirana terjadi, ia menyesal. Seharusnya tidak menunda, untuk membuang bunga itu.


"Kirana?"


"Ah iya. Itu... dari Alex."


"Apa? kenapa dia kirim itu ke kamu?" seru Vano. Nada suaranya meninggi, dia tidak terima jika Alex masih mengganggu Kirana, yang sudah menjadi calon istrinya.


"Aku gak tahu. Udah yuk kita makan aja."


Tidak ingin memperlebar masalah, Kirana menarik tangan Vano, agar segera keluar meninggalkan ruangan itu.


Tapi sepertinya Vano belum merasa puas, berkali-kali ia menghela napas. Berusaha untuk meredam emosinya saat ini.


Alex? Apa mau dia sebenarnya? batin Vano.


Dia merasa perlu bicara dengan pria itu, untuk menyelesaikan masalah ini.


Sepanjang perjalanan, Vano diam saja, fokus menyetir mobil tanpa banyak bicara.


Kirana tahu kalau Vano sedang marah sekarang. Dia merasa bersalah, pria baik seperti Vano tidak pantas untuk di sakiti.


Mereka sampai di sebuah cafe. Menu di sana sangat beragam. Dari mulai makanan berat sampai makanan ringan sudah tersedia. Kirana memesan segelas jus alpukat dan satu porsi kentang goreng, juga burger big meal. Lain halnya dengan Vano, pria itu memesan segelas orange juice, dan satu porsi chicken steak.


"Van.. kamu marah?" Tanya Kirana.


Vano menghela napas, ia menatap Kirana dalam.


"Apa kamu masih mencintai Alex?"

__ADS_1


Deg.


Cinta? Kirana melengos, mengalihkan pandangan ke arah lain. Untuk sesaat hatinya merasa ragu tadi.


"Tidak." sahut Kirana.


"Baiklah. Jika begitu aku akan lanjut, dan gak akan melepaskanmu."


"Maksudnya?"


Vano tersenyum kecil, "Kir, aku mencintai kamu. Dan gak agak melepaskan kamu, kecuali kamu yang melepaskan aku. Apa Alex terus ganggu kamu?"


Kirana menunduk, dia ingin berkata jujur tentang ancaman Alex, tapi bibirnya terasa kelu. Seperti ada yang menyumbat tenggorokannya, sehingga suara itu tidak bisa keluar.


"Dia... cuma mengirimkan bunga itu aja."


Tangan Vano terulur, menggenggam tangan Kirana di atas meja, lalu mengecupnya dengan penuh kelembutan.


"Setelah bertemu ibuku, kita pulang ke kampung kamu. Aku akan meminta ijin langsung pada ibu Halimah untuk melamar kamu."


Kirana tersenyum tipis. Vano sangat baik. Dan Kirana sangat tidak tega menghapus harapan pria itu.


"Loh, Kirana?"


Seseorang berdiri tepat di samping Vano, menatap Kirana dengan ekspresi syok.


Kirana mengalihkan pandangannya, matanya melebar begitu melihat siapa orang yang menyapanya, "Putri..."


Putri, sahabat Kirana dulu. Juga... Mantan istri dari Alex, kini berdiri canggung di antara mereka. Menatap Kirana dan Vano secara bergantian.


🌸🌸🌸


Malamnya... Alex kembali datang menyambangi rumah Kirana.


Kirana hanya bisa melongo di ambang pintu melihat tingkah pria itu.


"Wah Om kaya raya datang!" sapa Danish riang.


Alex tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.


"Hem, sepertinya kamu harus rubah panggilan itu, Boy." ucap Alex.


"Jadi aku panggil apa dong?"


"Papa."


Mata Kirana melebar sempurna, dia bergegas menghampiri Alex.


"Pak Alex kenapa anda bicara begitu?" ucap Kirana sewot.


"Kenapa? Toh aku juga nanti akan menikah sama kamu." Alex menyeringai, menjawab dengan santai. Tidak peduli dengan tatapan Kirana, yang saat ini berkilat marah padanya.


"Jadi Om akan menikah sama mama aku?" sambung Danish.


"Tepat sekali! Om akan jadi papa kamu."


"Tapi aku sudah punya papa tuh. Papa Vano. Wleekk." Danish menolak, ia bahkan menjulurkan lidah, meledek Alex.


Pria berambut pirang coklat itu tergelak melihat reaksi Danish, baginya itu sangat lucu. Alex mengusap rambut Danish, hingga berantakan.


"Jangan sentuh, Om. Nanti rambutku gak keren lagi." omel Danish, dengan mata yang melotot lucu.


Melihat interaksi mereka berdua, Kirana sedikit tersentuh. Alex bahkan bisa tertawa lebar, tanpa beban dengan Danish.

__ADS_1


Apa ini rasanya jika aku menikah dengan Alex nanti?


Kirana menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran itu dari dalam otaknya.


"Danish, kamu main di kamar dulu ya sayang... Mama mau bicara sama Om ini."


"Baik, Ma." Danish menurut, ia meraih beberapa mainan robot, lalu membawanya ke kamar.


Selepas kepergian Danish, Kirana bergeming menatap Alex dengan tajam.


"Jelaskan! Apa maksud kamu bicara begitu sama Danish. Dia masih kecil."


Alex beranjak, berdiri menjulang di hadapan Kirana.


"Dia berhak tahu siapa papa dia yang sebenarnya. Bukan papa bohongan seperti Vano."


Kirana berdecak, wajah cantiknya merah padam karena amarah. Dia benar-benar kesal dengan pria di hadapannya ini.


Pria brengsek yang pernah menghancurkan hidupnya sekali.


"Astaga Alex! Kamu bertingkah seperti anak kecil." Kirana sudah tidak bicara formal lagi padanya.


Alex terkekeh, dia maju selangkah hingga membuat Kirana mundur. Kembali seperti itu. Jika Alex maju lagi, maka Kirana juga akan mundur. Sampai dia terjebak di tembok, tidak bisa menghindar lagi.


"Kamu sudah batalkan pernikahan dengan Vano kan? Ayo kita menikah."


Kirana menggeleng. Baginya Alex sangat egois. Pria paling egois yang dia kenal.


"Kenapa kamu gak lepaskan aku aja? Masih banyak wanita cantik di sana. Please... Tinggalin aku."


"No, Liebe..."


Kirana tersentak. Liebe. Dulu Alex selalu memanggilnya dengan ucapan itu. Dan saat mendengar itu sekarang... Ada rasa yang aneh di hati Kirana.


"Aku gak mencintai kamu, aku cinta Vano." jawab Kirana tegas.


Alex seketika menjauh, rahangnya mengeras menahan marah. Dia tahu kalau Kirana sedang berbohong sekarang. Harga dirinya terluka. Jadi ini rasanya di tolak.


Penolakan!


Satu hal yang tidak bisa di terima oleh Alex. Tidak ada dalam kamusnya, jika ia harus di tolak oleh seorang wanita.


Lihat saja. Sampai sejauh mana kamu akan menghindar, Manis. Aku akan membuatmu datang sendiri padaku nanti.


"Aku tidak terima penolakan, Liebe. Satu minggu, selesaikan dengan Vano dalam satu minggu, maka aku tidak akan membawa Danish."


Cup.


Bibir Alex menempel di kening Kirana, cukup lama hingga membuat Kirana mematung kaku.


Seharusnya dia menghindar, atau mendorong Alex menjauh. Tapi reaksi tubuhnya sangat tidak sinkron dengan pikirannya saat ini.


"Aku pulang, salam untuk Danish. Anak kita."


Tubuh Kirana meremang, dia merasa kesal sendiri, karena terbawa perasaan oleh sikap Alex tadi.


Selepas kepergian Alex, Kirana menggosok keningnya untuk menghapus jejak bibir Alex tadi.


Dasar pria brengsek, mesum. Selalu berbuat seenaknya.


Ah, aku harus bagaimana?


Minggu ini ibunya Vano akan datang.

__ADS_1


Kirana kembali termenung, memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan sekarang.


__ADS_2