
Kirana kembali ke ruangannya. Jantungnya berdegup kencang, masih terasa ciuman Bintang di bibirnya.
Kirana tersenyum-senyum sendiri mengingat hal itu. "Kirana!"
Surat itu membuyarkan lamunan Kirana. "Kak Ratna, ada apa?"
"Bagaimana, sudah kamu kasih?"
"Sudah, Kak." Kirana tersenyum tipis pada Ratna.
"Terus bagaimana reaksinya, apa dia membaca suratku?"
"Aku tidak tahu, Kak. aku 'kan langsung pergi. Masa aku tungguin dia makan."
"Iya, juga sih. Yang ada dia risih kalau diliatin kamu."
"Risih dari mana, dia malah kesenangan," batin Kirana, seraya tersenyum.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Ratna.
"Ya, masa aku cemberut sama Kakak."
"Ya udah, deh. Semoga aja dia baca suratnya. Aku mau dandan yang cantik buat ketemuan sama dia."
Mata Kirana membulat, jadi surga itu ajakan pertemuan mereka berdua. Nanti kalau Bintang tidak datang, bagaimana? Kirana takut Ratna akan menunggu lama.
Kirana merasa iba. "Kak, maaf tapi Pak Bintang kan udah nikah." Kirana bersuara pelan.
"Aku tidak perduli! Aku akan tetap mendekatinya. Jadi yang kedua juga aku rela."
"Aku yang tidak rela, enak aja." Kirana membatin.
"Makasih ya Kirana, aku mau kerja lagi biar cepat selesai."
"Iya, Kak."
__ADS_1
Ratna sudah menghilang dari hadapannya.
"Tungguin aja sono sampai lumutan, dia nggak bakal datang!" Kirana menggerutu sendiri.
"Kenapa kamu Kirana?" tanya Tesa.
"Eh, nggak apa-apa."
"Kita makan siang yuk."
"Udah telat, Tes. Udah jam masuk."
"Nggak apa-apa, kita kan sibuk melayani mereka jadi nggak sempat makan. Sekarang kita yang makan. Pasti di maklum Kok."
"Ya udah, yuk perut ku juga perih banget takut nanti magnya tambah parah."
"Kita ke tempat yang dekat aja, ya?"
"Iya."
Kirana dan Tesa pergi keluar. Tesa sudah ijin pada supervisor.
"Kelihatannya, hubunganmu dengan istrimu semakin baik."
"Iya, aku bersyukur. Kasus Maya tidak merusak hubungan kami."
"Bagaimana dengan Clarita?"
"Perduli apa aku dengannya? Itu bukan anakku. Biar si Alvaro itu yang bertanggung jawab."
"Tapi dia kan di bui."
"Lalu?"
"Apa kau tidak kasihan pada Clarita?"
__ADS_1
"Aku berhubungan dengannya tanpa perasaan."
"Terserah kau saja. Mau apa kau ke sini?"
"Aku hanya bosan saja."
Ponsel Bintang berbunyi ada notifikasi yang masuk. Bintang membukanya dan membaca pesan chat yang masuk dari Kirana.
Ratna mengajak kau bertemu dalam suratnya. Dia bilang dia rela menjadi yang kedua. Apa kamu mau?
Itu isi pesan yang di baca oleh Bintang. Dia lalu terkekeh, ada-ada saja istrinya ini. Mana mau dia menduakan Kirana dengan wanita seperti itu.
Bintang melihat Nathan dia ada ide.
"Nat, kalau kau bosan aku punya mainan baru untukmu."
"Mainan apa?"
Bintang pergi ke tempat sampah lalu mengambil surat yang dia buang.
"Baca ini, dan temui dia."
Nathan membuka surat itu dan membacanya. "Ehm, menarik, aku akan temui dia. Masih saja ada wanita seperti ini."
"Hm, aku kadang suka bingung. Di mana harga diri mereka, kasihan orang tua yang sudah membesarkan mereka dengan harian anaknya menjadi anak yang Soleh dan Solehah."
"Bila sudah terobsesi, apapun akan di tempuh yang penting obsesinya tercapai."
"Kau urus saja dia."
"Dengan senang hati. Aku tahu pasti ada hal yang menarik bila aku ke sini." Nathan terkekeh.
"Ayo kita makan siang. Aku lapar?"
"Ku pikir kau sudah kenyang makan Kirana." Nathan tergelak.
__ADS_1
Bintang beranjak bangun dan pergi keluar meninggalkan Nathan.
...----------------...