
"Ini nasi padangmu. Sekarang, sudah waktunya bekerja, aku harus pergi." Kirana memberikan nasi bungkus padang dan sendok tidak lupa air mineral.
Bintang menarik tangan Kirana yang hendak pergi. "Temani dulu suami kamu makan."
"Tapi nanti aku dimarahi, sama supervisor."
"Nanti aku yang akan bicara padanya." Kirana menghela nafas. Dia tahu akan percuma berdebat dengan Bintang, suaminya.
Kirana pun duduk di lantai lalu membuka nasi bungkus itu. "Silahkan di makan Tuan."
"Suapi suamimu!"
"Ih, kamu su ...." Kirana tidak meneruskan ucapannya, melihat tatapan Bintang yang tajam.
Dia segera menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut Bintang.
"Enak rasanya apalagi jika di suapi istri sendiri."
Kirana meniru ucapan Bintang tanpa suara, sambil memanyunkan bibirnya. Bintang gemas melihatnya dia lalu mengecup cepat bibir Kirana.
Kirana tertegun sesaat lalu setelah sadar dia segera memukul bahu Bintang dengan tangan kanannya.
"Aduh, sakit sayang."
"Makanya, Bapak jangan suka curi-curi kesempatan!"
"Aku hanya mengecup istriku, memangnya salah?"
"Salah, kita ini di kantor bagaimana kalau ada yang melihat?" Bintang memegang tangan Kirana.
"Berarti kalau di rumah boleh?" tanya Bintang sambil tersenyum. Kirana terdiam menatap mata Bintang.
"Tolong ya Pak jangan omes." Kirana menarik tangannya. Dia lalu kembali menyendokkan nasi dan meyuapkannya pada Bintang.
Bintang mengunyah makanannya sambil tersenyum. Rasanya dia sudah mulai jatuh cinta pada istrinya.
Dia lupa masalah tentang Clarita. Nanti malam dia akan bereskan semuanya.
"Sudah habis. Aku harus segera turun. Bapak jangan dulu keluar tunggu beberapa menit. Nanti mereka curiga bila kita keluar bersama."
"Jangan panggil aku Bapak Kirana."
"Ini masih di kantor. Jangan banyak protes, aku harus pergi." Kirana segera membereskan bekas makan dan berlalu meninggalkan Bintang.
"Dah, Pak," ucap Kirana, sebelum dia melewati pintu keluar.
***
Saat ini sudah waktunya pulang kerja. Karyawan berangsur pulang. Kirana masih membereskan ruang pantry. Ponselnya berdering,
Kirana segera mengambil tas dan mencari ponsel jadulnya.
Dia mengangkat teleponnya. "Halo, aku tunggu di parkiran."
Sambungan teleponnya langsung terputus. Kirana tahu siapa yang meneleponnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya, Bintang Orion.
Kirana segera membereskan pekerjaannya dan bergegas mengambil tas lalu pergi ke parkiran secepatnya, sebelum suaminya protes karena menunggu lama.
"Maaf, lama aku harus membereskan dulu pekerjaanku." Kirana langsung masuk dan segera duduk di depan.
Bintang memakaikan sabuk pengaman pada Kirana. Dia kemudian memasang sabuk pengamannya sendiri.
Bintang lalu melajukan mobilnya. Kirana merasa Bintang sedang bad mood semenjak tadi Bintang hanya diam Saja.
"Malam ini aku akan pergi dengan Clarita dan Nathan. Aku akan menyelesaikan semua sandiwara ini."
"Iya, itu lebih baik."
__ADS_1
"Aku akan langsung ke apartemen, setelah menurunkan kamu."
"Iya, nanti aku yang akan beri tahu Mamah dan Papah. Aku juga akan menjelaskan hal yang sebenarnya agar mereka tidak berpikir negatif tentangmu."
"Kirana, ini hanyalah salah satu masalah kecil yang akan sering kau hadapi. Masih banyak masalah lain yang mungkin lebih besar dari ini."
"Apa? Jadi kau akan sering bermasalah dengan wanita?" tanya Kirana.
"Bukan seperti itu juga, maksudku masalah kecil di mana nanti pasti akan ada yang memfitnahku, yang berusaha melukaimu atau aku. Kau harus kuat Kirana."
"Apa kau pikir melihat kau selingkuh di depanku tidak butuh kekuatan?"
"Jadi, apa itu berarti kau cemburu?"
"Istri mana yang suka suaminya selingkuh? Bukannya cemburu tapi tepatnya kecewa merasa di bohongi."
"Padahal aku berharap kau cemburu, itu tandanya kau mencintaiku."
"Oh, jadi Tuan ketus dan dingin ini sudah jatuh cinta padaku dan berharap aku merasakan hal yang sama, begitu?"
"Bukan begitu, maksudnya 'kan bagus kalau sudah mulai ada tanda-tanda cinta. Berarti rumah tangga kita akan berjalan sempurna."
"Bagiku sempurna jika kau selalu jujur padaku dan setia, saling menghormati, dan menyayangi. Tahu hak dan kewajiban masing-masing," ucap Kirana.
"Bicara tentang hak dan kewajiban suami istri. Apakah boleh aku mendapatkan ... hakku malam ini?" Bintang sedikit berbisik di akhir kalimat.
Wajah Kirana memerah. "Tidak sampai urusanmu benar-benar selesai dan aku yakin diantara kalian memang tidak ada apa-apa, serta anak yang di kandung Clarita bukanlah anakmu!"
"Demi Allah, itu bukan anakku tapi anak Nathan."
"Ya, semoga kejujuran yang kau ucapkan."
"Tunggu saja jika semua sudah selesai aku tidak akan minta izinmu, tapi langsung menyerangmu!"
"Dih, kesel ni ye!"
"Iya, aku paham A."
"Rasanya senang jika kau panggil aku Aa." Bintang tersenyum sambil tersenyum.
"Iya, untung bukan Ee," gurau Kirana. Dia lalu tepingkal sampai memegang perutnya. Bintang hanya tersenyum.
Mereka akhirnya sampai di rumah depan rumah. "Aku turun ya, kamu hati-hati. Semoga sukses." Kirana akan coba mempercayai Bintang serta mendukungnya. Semoga hatinya tidak salah.
"Amin, terima kasih. Doa istri akan memudahkan jalan suaminya." Bintang sangat bersyukur mempunyai istri yang percaya padanya. Dia tidak akan merusak kepercayaan itu.
Kirana mencium tangan Bintang dan turun dari mobil. Bintang tidak memberikan mesin mobil karena dia akan pergi lagi. Begitu Kirana sudah turun dan menutup pintu, Bintang langsung melajukan mobilnya.
Pintu pagar terbuka, masuklah Kirana. Dia melangkah menuju pintu utama, Kirana membuka pintu dan melihat Aurora sedang berdiri, di rumah tamu memandangi sebuah foto.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kirana pulang sama siapa?"
"Sama A bintang Mah, tapi A Bintangnya langsung pergi lagi ada urusan katanya."
"Anak itu, Mamah sedih melihatnya kenapa dia jadi begitu?"
Kirana menarik tangan mertuanya pelan dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu. Kirana menjelaskan semua yang Bintang ceritakan padanya.
Kirana juga meminta pada mamah mertuanya agar memberi Bintang kepercayaan, serta dukungan.
***
Bintang sudah sampai di apartemen tempat biasa dia bertemu dengan Clarita. Di sana juga sudah ada Nathan, dia sedang asik merokok di balkon.
Bel pintu berbunyi, Bintang yakin itu adalah Kirana. Dia melangkah santai menuju pintu. Di bukanya pintu itu.
__ADS_1
"Hai, sayang aku senang sekali begitu kamu telepon aku." Clarita ingin mencium Bintang namun, Bintang menghindar dengan menoleh ke samping.
Clarita tertegun sesaat lalu masuk ke dalam. Bintang memang selalu seperti itu tidak mau dicium, tapi berbeda ketika di ranjang sangat liar. Clarita sangat puas dan ketagihan permainan Bintang, tidak seperti pria lainnya.
Clarita langsung duduk di sofa. "Kau pasti merindukan aku, karena tidak biasanya kau menelepon meminta aku datang."
"Aku sengaja menelepon karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan!"
"Oh, pasti mengenai hubungan kita. Kapan kau akan menjadikan aku istrimu? Oh ya, aku juga ada kejutan untukmu!" Clarita mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini, hadiah untukmu. Ambillah!" Clarita menyodorkan kotak kecil persegi panjang yang diikat dengan pita.
"Apa ini?" tanya Bintang melihat kotak itu tanpa mengambilnya.
"Ambil dan bukalah, aku yakin kau akan senang." Clarita tersenyum lebar. Bisa dia bayangkan betapa bahagianya Bintang mendapat kejutan itu.
Bintang mengambil kotak itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah benda lonjong.
"Ini apa?" tanya Bintang.
"Kau tidak tahu?" tanya Clarita.
"Aku baru lihat benda seperti ini," jawab Bintang.
"Baguslah, itu berarti hanya aku yang hamil anakmu." Clarita tersenyum ceria. Nampak raut bahagia di wajahnya. Dia membayangkan kalau hidupnya akan berubah menjadi Nyonya Orion.
"Hamil?"
"Iya, ini adalah test urine untuk mengecek urine apakah seorang wanita itu hamil atau tidak. Nah ini di sini ada tanda garis dua, berarti aku hamil."
"Kau pikir anak itu adalah anakku? Bukan anak pria lain?"
"Ini jelas anakmu, aku hanya melakukannya denganmu!" Sebenarnya Clarita juga tidak yakin ini anak siapa, karena dia juga bermain dengan yang lain.
"aku tidak akan menikahimu, atau mengakui dia anakku karena aku tidak pernah menyentuhmu."
"Tidak pernah menyentuhku kau bilang? Lalu apakah makam panas itu hanya mimpi bagimu?"
"Bermimpi pun aku tidak pernah apalagi denganmu!"
"Kau! ... Pokoknya kau harus bertanggung jawab. Dia anakmu, kau sangat jahat jika tidak mau mengakui anakmu sendiri!"
"Aku tidak pernah menyentuhmu." Bintang berjalan ke arah balkon dan membuka pintu nampak punggung seseorang.
"Selama ini yang menyentuhmu adalah dia!" Orang itu kemudian berbalik.
"Nathan!"
"Halo, Clari. Apa kabar?"
"Kau pasti bohong Bintang! Tidak mungkin dia? Bagaimana kau mengenalnya?"
"Pertanyaan yang sama untukmu Nat, bagaimana kau mengenal Clarita?"
"Kalian berdua nampaknya terkejut." Nathan tersenyum dan duduk di sofa.
"Duduklah, dulu!"
"Tidak, aku tidak ingin bicara padamu! Aku hanya ingin minta pertanggung jawaban dari Bintang karena dia telah menghamiliku."
"Bukan Bintang tapi Aku!"
Clarita seketika menjadi lumbung dia lalu duduk. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana bisa, masa lalunya kembali datang?
"
"
__ADS_1