Kirana

Kirana
Bab 32. Gara-gara Dia


__ADS_3

Pikiran Bintang tak menentu, hanya karena satu buah pesan dari masa lalunya.


Di mana dia sekarang? Bagaimana kabarnya? Pertanyaan itu yang kini terlintas di benak Bintang.


Bintang duduk di taman menenangkan hatinya.


Menatap jutaan bintang yang menghiasi langit, terlihat di sana kilasan memori tentang dia.


Bintang kemudian melihat Bulan yang bulat sempurna, tiba-tiba dia teringat pada Kirana. Rasa bersalahnya muncul menyeruak mengoyak kenangannya tentang dia.


"Cukup, dia hanya masa lalu, Kirana adalah masa kini. Wanita yang kupilih untuk mendampingiku selama sisa hidupku." Bintang bergumam mengingatkan dirinya sendiri.


Bintang lalu bangkit dan melangkah masuk menuju kamar. Di buka pintu kamar, cahaya remang-remang menyambutnya. Ternyata Kirana sudah tertidur. Ditutupnya perlahan pintu kamar.


Bintang kemudian melangkah pelan tidak ingin membangunkan istrinya. Dia duduk di atas tempat tidur, di sisi Kirana.


Bintang memperhatikan Kirana. "Maaf Kirana," gumamnya pelan.


Kirana sebenarnya belum tertidur pulas, dia mendengar perkataan Bintang.


"Aku sekejap teringat dan merindukannya, tapi tenanglah aku tetap setia padamu. Kau wanita pilihanku. Lambat laun, dia pasti kan pergi dari hati ini. Berganti dirimu, yang selalu di sampingku." Bintang kembali berujar.


Perlahan Bintang mendekatkan wajahnya pada wajah Kirana dan mengecup keningnya. Dia lalu beranjak bangun dan pindah ke sisi lain kemudian merebahkan dirinya di samping Kirana.


Bintang memiringkan tubuhnya, membelakangi Kirana. Matanya mulai terpejam. Sementara itu Kirana justru membuka matanya, dia menatap punggung Bintang.


"Siapa dia, A?" batin Kirana


"Haruskah ada dia, di saat aku mulai membuka hati untukmu?" tanya batinnya.


Kirana terus bergumam di dalam hati. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia pergi sebelum rasa ini semakin berakar kuat di hatinya, atau dia berjuang mempertahanan miliknya?


Bagaimana jika setelah berjuang, justru yang diperjuangkan memilih pergi? Pikiran Kirana terus berkelana memikirkan segala kemungkinan.


Tak terasa matanya mulai terpejam, hingga mimpi membuainya dalam tidur yang lelap.


***


Pagi ini Aurora merasakan sedikit aura yang sedikit berbeda di meja makan. Entah itu hanya perasaannya saja atau memang pasangan pengantin baru ini sedang melakukan aksi diam.


Meraka tidak saling menatap atau bicara. Rasanya aneh setelah semalam mereka terlihat romantis.


"Khem, Bintang. Bagaimana masakan Kirana apa kamu suka?" tanya Aurora mencoba untuk membuat mereka saling bicara.

__ADS_1


"Suka." Bintang menjawabnya dengan singkat. Aurora cemberut, anaknya ini benar-benar membuatnya kesal.


"Kirana, kamu cantik sekali hari ini. Aura kamu berbeda, benar 'kan Bintang?" Aurora masih mencoba mencairkan suasana.


"Iya." Bintang menjawabnya tanpa memandang Kirana ataupun Aurora.


Kirana hanya diam, dia juga tidak menatap ke arah Bintang. Kirana hanya tersenyum pada Aurora.


Aurora gagal membuat mereka saling bicara. Dia menatap Kirana, nanti dia akan bertanya pada Kirana.


Galaksi mengamati mereka, dia pun merasa sesuatu telah terjadi. Padahal dulu waktu dia menjadi pengantin baru, dia selalu mesra dan bermanja dengan istrinya, selalu ingin berduaan. Tidak seperti Bintang yang baru berapa hari sudah diam-diaman.


Biarlah, itu urusan mereka, nanti kalau besok masih berlanjut baru dia akan bicara pada Bintang.


Semua telah selesai sarapan. "Mah, Pah Kirana berangkat dulu." Kirana mencium tangan Aurora dan Galaksi.


"Iya, sayang hati-hati dan ingat jangan terlalu capek juga jangan angkat yang berat-berat. Biar cucu Mamah jadi."


Perkataan Aurora membuat gerakan Bintang terhenti sejenak. Dia lalu beranjak bangun dan mencium tangan Galaksi dan Aurora.


Bintang melangkah mendahului Kirana menuju mobilnya, dia membuat pintu untuk Kirana dan berlari ke sisi lain, kemudian Bintang masuk ke dalam mobil.


Kirana menutup pintu mobilnya lalu memakai sabuk pengaman. Bintang mulai melajukan mobilnya meninggalakan rumah Orion.


Bintang berhenti di tempat Kirana kemarin minta diturunkan. Kirana mengerti dia pun turun di tempat itu. "Terima kasih." Kata pertama yang terucap dari bibir Kirana pagi ini.


Dia lalu menutup pintu. Bintang menoleh menatap pintu yang sudah tertutup dan Kirana yang sedang berjalan.


Dia lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Kirana sendiri menyusuri jalan raya menuju kantor.


Seperti kemarin, dia bertemu kembali dengan Agung yang berhenti di sisinya. Tanpa banyak kata Kirana langsung naik ke motor Agung, sebelum Agung mengatakan sepatah kata pun.


Walau bingung, Agung menjalankan motornya menuju kantor tempat mereka bekerja.


Bintang melihat mereka turun dari motor dan berjalan beriringan masuk ke dalam kantor. Namun, dia diam dan terkesan tidak perduli. Bintang melewati mereka.


Agung melihat atasannya lewat langsung sedikit membungkuk dan tersenyum tanda hormat pada Bintang. Kirana reflek mengikuti Agung. "Selamat pagi, Pak."


Bintang hanya menganggukkan kepala dan terus berjalan. Wajahnya datar tidak tersenyum.


"Kirana, nanti kita makan siang bareng. Bisa kan ya? Please sekali saja, ini mungkin akan jadi makan siang terakhir kita bersama." Agung berharap Kirana mau makan siang dengannya.


Kirana tidak enak selalu menolak Agung. Dia pun mengangguk. Agung sangat senang, dia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Terima kasih Kirana, saya senang sekali. Baiklah saya ke ruangan dulu. Selamat bekerja, sampai ketemu nanti, ya." Agung berpisah dengan Kirana di lobi.


"Kenapa hidupku rumit sekali?" gumam Kirana. Dia pun segera ke pergi ke ruangan OG.


***


Bintang berada di ruangannya. Hatinya kembali galau setelah padi tadi saat Kirana sedang mandi, dia kembali mendapat pesan.


Bintang mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia membaca kembali pesan yang diterimanya.


Maafkan aku, Star.


Hanya itu, sesingkat itu pesan yang diterimanya. Namun, efeknya sungguh dalam.


Tekadnya melupakan dia, luluh Karena wanita itu masih ada di hatinya. Pikirannya kacau, hatinya tidak karuan. Mana yang harus dia pilih? Tidak mungkin keduanya.


Bintang meletakkan ponselnya di atas meja, singkirkan dulu masalah pribadi, kini dia harus bekerja.


"Pak, ini berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani." Billy meletakkan setumpuk berkas di atas meja.


"ya."


Billy kemudian hendak melangkah keluar. "Billy!" Bintang memanggilnya.


"Iya, Pak."


"Kamu, jika harus memilih masa lalu atau masa depan mana yang akan kamu pilih?"


"Saya, akan pilih masa depan. Sebab masa lalu jelas bukan masa depan saya. Dia sudah berlalu." Walau bingung dengan pertanyaan Bintang, Billy tetap menjawabnya.


"Begitu, ya."


"Iya, Pak. saya tidak akan biarkan masa lalu merusak masa depan saya. Cukup di masa lalu dia membuat kacau hidup saya. Jika saya biarkan, maka selamanya saya tidak akan punya masa depan."


"Oke, terima kasih Billy."


"Iya, Pak. Permisi." Billy keluar dari ruangan.


Kata-kata Billy menyentil hatinya. Billy benar, tapi sulit untuknya melupakan masa lalu.


Semoga saja dia tidak bertemu dengannya, dan membuat hatinya bimbang.


Bintang teringat pada Kirana, dia belum memberi hukuman pada istrinya karena naik motor berdua dengan lelaki lain.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2