Kirana

Kirana
Bab 33. Sebuah Rasa


__ADS_3

Kirana sedang membuat minuman untuk karyawan, dibantu oleh Tesa.


"Kir, kamu tahu nggak ada gosip katanya Puspa sudah tertangkap polisi," ucap Tesa.


"Masa, bagus deh."


Minuman pun sudah jadi, dia akan mengantarkan minuman ini. Namun, ada Agung di depan pintu.


"Biar aku yang antar, kamu sama Mas Agung aja." Tesa mengambil nampan yang di pegang Kirana.


"Ada apa, Mas?" tanya Kirana.


"Mungkin lebih baik Mas bicara sekarang, Kirana."


"Tapi, Mas. Ini belum waktunya istirahat." Kirana menolak secara halus.


"Sepuluh menit aja, Mas butuh waktu 10 menit. Kita bicara di rooftop."


"Baiklah." Kirana akhirnya setuju, dia mengikuti Agung ke rooftop. Sesampainya di sana Kirana berdiri agak jauh dari Agung.


"Mau bicara apa, Mas?"


"Kirana, Mas tahu mungkin ini akan mengejutkanmu, tapi Mas tidak bisa lagi menahan perasaan Mas lebih lama lagi. Mas mencintai kamu."


Wajah Kirana terlihat shock. Dia bukannya berdebar atau senang, melainkan dia bingung dan takut.


"Bagaimana perasaanmu pada Mas, Kirana. Mas mohon kamu dapat memberikan kesempatan untuk Mas lebih dekat dengan kamu. Mas butuh jawaban kamu sekarang."


"Aduh, gimana ya Mas, saya bingung. Saya nggak nyangka kalau jadi begini. Saya akan jawab sekarang, Mas. Sebelumnya saya minta maaf kalau jawaban saya ini mengecewakan."


"Jujur Mas, saya tidak ada niatan untuk menyakiti hati Mas, tapi saya harus jujur walau menyakitkan. Maaf Mas saya tidak bisa menerima Mas, atau membalas perasaan Mas." Kirana lalu menjulurkan tangannya, menunjukkan cincin nikah yang ada di jarinya.


"Maaf Mas, tapi saya sudah ada yang punya. Saya tidak ingin mengkhianatinya."


Agung terperanjat mendengar pengakuan Kirana, apalagi begitu melihat cincin nikah melingkar menghiasi jari manis Kirana. Hatinya langsung pecah berkeping-keping. Patah hati pertama sebelum kepergiannya ke Kalimantan.


Bukan bahagia tapi rasa sakit dan sedih karena patah hati yang akan mengiringi kepergiannya.


Kirana mengalihkan pandangannya dari Agung yang terdiam dan tepaku. Dia tahu rasanya pasti sakit bila, cinta tidak berbalas. Sebab dia pun sedang galau karena perasaan itu.


"Sa-saya tidak tahu, maaf jika saya lancang mengungkapkan perasaan saya padamu, Kirana."


Agung merasa sangat malu, telah mengatakan cinta pada wanita yang sudah menikah. Perasaannya campur aduk. Dia ingin segera pergi dari hadapan Kirana, saking malunya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Saya mengerti, nggak apa- apa. Semoga Mas cepat bertemu jodohnya, wanita yang lebih baik dari saya."


"Kalau begitu sa-saya permisi Kirana, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum saya meninggalkan kantor ini."


Agung segera pergi dari hadapan Kirana. Dia meninggalkan Kirana sendiri.


Tanpa mereka sadari seseorang mendengarkan percakapan mereka. Ada yang lebih dulu datang sebelum mereka.


"Jadi, akhirhya dia mengungkapkan perasaanya padamu. Bagaimana rasanya setelah seseorang menyatakan perasaanya padamu?"


Kirana menoleh ke samping "Pak Bintang! Sejak kapan Bapak ada di situ?" tanya Kirana terkejut.


"Aku ada di sini sebelum kalian datang. Kau belum jawab pertanyaanku, Bagaimana perasaanmu? Apakah kau merasa terbang?" tanya Bintang lagi dengan ketus dan wajah datar. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Biasa aja, Kirana nggak suka sama dia. Ketus amat, sih! Kayak orang cemburu aja."


Kirana membulatkan matanya, dia menyadari satu hal.


"Bapak benar cemburu?"


"Cih, mana mungkin saya cemburu. Agung itu bukan level saya. Cewek bodoh juga tahu mana yang harus di pilih antara dia sama saya." Bintang mengelak, bukan hanya pada Kirana tapi juga pada hatinya sendiri.


"Dih, sombong. Narsisnya kurangin Pak."


"Terserah, aku mau ke bawah dulu, Pak." Kirana melangkah ke arah pintu rooftop.


Bintang menarik tangan Kirana begitu Kirana melewatinya. Dia lantas mencium Kirana berusaha mencari kepastian dari hatinya, meneguhkan kembali perasaannya pada Kirana, dan mengikis memori tentang masa lalunya.


Kirana sudah terbiasa dengan Bintang yang tiba-tiba akan menciumnya. Namun, dia masih saja merasa terkejut dan berdebar.


Kirana terlarut dalam ciuman Bintang, perlahan Kirana mulai berani membalas. Kirana belajar dari Bintang yang beberapa kali menciumnya.


Bintang semakin merapatkan tubuh mereka, mendekap Kirana erat, memperdalam hisapannya.


Kruk


Suara perut Kirana menyadarkan Bintang. Dia kemudian melepaskan bibir Kiran, lalu menjauhkan wajahnya.


Mata Kirana masih terpejam, bibirnya bengkak dan merah. Bintang mengambil sapu tangannya lalu mengelap bibir Kirana, lipstiknya sedikit belepotan. Kemudian dia mengelap bibirnya sendiri.


"Lain kali pakai lipstik yang mahal, jangan murahan seperti ini. Jadi tidak gampang luntur dan belepotan," sindir Bintang.


"Sayang uangnya, nanti juga di hapus lagi."

__ADS_1


"Kamu itu, perempuan bukan sih. Kamu tidak seperti Maya yang ...." Bintang tidak meneruskan kata-katanya. Dia telah kelepasan menyebutkan namanya.


"Maya, siapa?" tanya Kirana.


"Maya Estianti, yang pintar dandan."


Kirana menatap mata Bintang, walau Bintang mencoba menghindar dia terus mengejar menatap matanya.


"Kau bohong. Maya siapa?"


"Maya Estianti."


"Udah cepat makan sebelum jam istirahat berakhir." Bintang mengingatkan dan beranjak pergi dari sana.


"Jika ada lelaki yang menyukaiku atau ada seorang di masa laluku kau tidak merasa cemburu dan tenang-tenang saja, karena kau punya kelebihan yang bisa kau banggakan." Bintang berhenti melangkah mendengar perkataan Kirana.


"Tapi, aku. Jika ada yang menyukaimu atau seseorang di masa lalumu, aku merasa tidak aman dan tidak percaya diri. Cemburu pun rasanya aku tidak pantas. Aku tidak punya kelebihan apa-apa. Harta, tahta, ilmu, karir, fisik. Semua di bawah rata-rata," lanjut Kirana.


"Aku mohon padamu, jika kau mencintai seseorang dan ingin bersamanya katakan secepatnya padaku, sebelum perasaan ini mengakar di dalam hatiku. Sakit rasanya jika memiliki cinta namun tidak bisa memiliki." Kirana pun beranjak pergi.


Dia melewati Bintang yang tertegun di depan pintu. Lebih baik Kirana mengatakan isi hatinya, agar Bintang tahu apa yang dia rasakan. Kirana sudah siap jika Bintang akan menceraikannya.


Sementara itu Bintang, merasa tak dapat berpikir. Dia bingung dengan hatinya sendiri.


***


Bintang tidak kembali ke ruangannya. Dia justru ke parkiran dan pergi menggunakan mobilnya menuju suatu tempat.


Bintang sudah sampai dan dia segera masuk ke dalam gedung itu tanpa memarkirkan mobilnya. Dia melempar kuncinya pada Security yang berjaga di depan pintu.


Bintang melangkah menuju lift khusus. "Aku harus apa?" tanyanya pada diri sendiri setelah pintu lift tertutup.


Sampailah dia di lantai yang dituju. Bintang kemudian keluar dan berjalan di lorong. Dia berhenti di sebuah pintu.


Bintang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia kemudian masuk dan duduk di sofa.


Dua orang yang berada di dalam sangat terkejut, si pria ingin marah begitu pintu terbuka. Namun, urung begitu melihat Bintang yang masuk dengan wajah kusut.


"Keluarlah, nanti kita lanjutkan lagi, hm." pria itu lalu mengecup kilat bibir si wanita.


"Oke." Wanita itu merapikan pakaiannya dan beranjak keluar, dia melirik Bintang dan tersenyum miring sebelum hilang di balik pintu.


...------------...

__ADS_1


__ADS_2