Kirana

Kirana
Bab 24. First Kiss


__ADS_3

Kirana terpaku, apakah dia telah salah dengar? Maksudnya apa kalau hubungan mereka sudah seperti suami istri?


Apakah itu berarti mereka sudah berhubungan intim? Wah, berarti Bintang telah berbohong. Dia bilang tidak ada kontak fisik selain pegangan tangan.


Dasar buaya, ucapannya tidak dapat dipercaya. Kirana tidak memperdulikan sindiran tajam wanita itu. Dia langsung berjalan keluar. Kirana tidak tahan satu ruangan dengan buaya darat.


Bintang memijit pelipisnya. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Kirana? Dia pasti salah paham.


"Clarita sudahlah, duduk Clarita!"


"Kau tidak lihat dia Bintang, dia sudah kurang ajar, kau harusnya menegurnya. Jika kau biarkan, dia akan semakin kurang ajar!"


"Diamlah!" teriak Bintang.


Clarita sedikit terkejut, tapi dia segera merubah mimik mukanya menjadi tersenyum dan menghampiri Bintang.


"Oke, kita jangan bahas dia, tidak penting. Lebih baik kita bahas masalah kita."


Bintang sebenarnya sudah merasa jengah, kapan ada kabar baik?


"Bintang, orang tuaku menunggu kedatangan orang tuamu."


"Orang tuaku masih diluar negri. Mereka belum bisa ke Indonesia." Bintang memberi alasan pada Clarita.


"Aku mengerti mereka orang sibuk. Namun, apakah mereka tidak mau meluangkan waktu untuk masa depan anaknya."


"Tentu saja mereka akan meluangkan waktu jika itu untuk masa depan anaknya."


"Terus, kenapa mereka tidak mau pulang untukmu. Kita harus segera membicarakan masalah pernikahan."


"Clarita, please! Berhenti membahas masalah pernikahan. Sekarang aku sedang sangat sibuk. Bisakah kau keluar?"


"Kau selalu menghindar, sebenarnya kau mencintaiku atau tidak? Aku merasa kau lari dari tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa?"


"Kau sudah menodaiku, kita sudah sering melakukannya. Bagaimana jika aku hami? Kita harus menikah secepatnya, Bintang?"


"Ya Tuhan! Diam Clarita. Keluarlah, akan aku pikirkan nanti."


Clarita menatap Bintang nyalang. Di saat seperti ini Bintang malah mengusirnya. Clarita sudah mengalami telat menstruasi dia takut jika dia hamil, tapi orang yang telah menodainya justru bersikap acuh padanya.


Clarita keluar dengan marah, suara sepatunya yang menghentak lantai, mengiringi setiap langkah Clarita yang emosi. Dia menutup pintu dengan kencang.


Bintang kemudian menelepon seseorang.


"Halo, dia sepertinya hamil. Kamu harus tanggung jawab."


"Tidak mungkin, aku tidak mencintainya."


"Kalau begitu kenapa tidak pakai pengaman, bodoh!"


"Aku suka lupa kalau sedang tanggung. Hahaha ... sudahlah Jika dia hamil aku akan merawat anaknya tapi tidak mau menikahi ibunya."


"Dia berpikir aku yang menghamilinya. Kita harus secepatnya menyelesaikan ini. Aku tidak mau Kirana benci padaku dan berpikir kalau aku adalah pembohong."


"Kau, beruntung Man, dapat Kirana. Bagaimana kalau kita barter kau dengan Clarita dan aku dengan Kirana?"


"Kau, mau mati!"


"Hahaha ... just kidding. Aku tidak akan menikung teman sendiri. Kau beri tahu saja yang sebenarnya pada Kirana. Kita sudah dapat buktinya. Kau juga bisa melepaskan Clarita sekarang. Biar dia jadi urusanku."

__ADS_1


"Syukurlah, aku sudah tidak tahan lagi. Ya sudah aku tutup teleponnya." Bintang menutup teleponnya.


Dia bisa bernafas dengan lega sekarang. Dia tinggal menjelaskan pada Kirana.


Namun, sekarang banyak yang harus dia kerjakan. penjelasannya pada Kirana harus dia tunda dulu. Bintang fokus membaca berkas yang ada di atas mejanya.


***


Kirana merasa seperti kosong, tidak ada yang dia bisa harapkan. Bintang telah membohonginya.


Kirana tidak bisa fokus bekerja. Dia selalu melakukan kesalahan sehingga ditegur oleh karyawan lain.


Sekarang saatnya makan siang. Kirana pergi ke rooftop untuk makan. Dia membeli nasi padang untuk makannya.


Bintang menelepon Kirana untuk mengajaknya makan siang, tapi tidak pernah diangkat. Bintang akhirnya pergi ke rooftop untuk menenangkan diri. Dia bertemu dengan Kirana di sana.


"Kirana!" Bintang memanggil Kurang.


"Pak Bintang!" Kirana tidak menyangka akan bertemu dengan Bintang di sini.


"Bapak, ngapain di sini?"


"Memang kenapa? Tidak boleh saya di sini?" tanya Bintang.


"Terserahlah!" Kirana Malas berdebat, dia kembali melanjutkan makannya. Rooftop di sini tidak terdapat meja atau kursi. Kirana makan dengan duduk di lantai atau dengan kata lain lesehan.


Bintang mendekati Kirana dan ikut duduk di sampingnya. "Kirana, saya ingin menjelaskan masalah yang tadi Clarita ucapkan." Bintang duduk bersila.


"Clarita?" tanya Kirana, dia memang tidak tahu mana wanita itu.


"Wanita yang mengaku kekasihku." Bintang menjelaskan. Kirana mendengarkan Bintang sambil menikmati makannya.


"Dia memang kekasihmu, bahkan hubungan kalian sudah seperti suami istri, hanya bedanya kalian belum ke KUA saja," sarkas Kirana, sebelum dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sudahlah Bintang, aku sedang malas membahas masalah itu. Aku hanya ingin makan dan bekerja lagi. Lebih baik kita bahas ini di rumah!" Kirana menaruh sendoknya.


"Tidak bisa! Kita harus bahas ini sekarang. Aku tidak mau kau terus kepikiran dan tidak bisa bekerja dengan baik."


"Apa kata-katamu bisa di percaya?" tanya Kirana.


"Menurutmu?" tanya balik Bintang.


"Aku serius tidak pernah berhubungan intim dengannya. Melainkan seseorang yang memiliki perawakannya sama denganku." Bintang kembali menjelaskan, sedangkan Kirana kembali makan.


"Aku tidak mengerti," Kirana bertambah bingung dengan penjelasan Bintang.


"Jadi begini, Clarita adalah sekretaris dari Tuan Alvaro, orang yang ingin membunuhku," ucap Bintang.


"Aku mendekatinya untuk mengoreksi informasi tentang Alvaro. Tetapi Clarita meminta agar aku menjadi kekasihnya jika ingin tahu semua tentang Alvaro." Kirana mendengarkan Bintang tanpa menyela dia makan sambil mendengarkan.


"Mau tidak mau aku menyanggupinya dan jadilah kami sepasang kekasih. Clarita mulai banyak tingkah seolah kami benar- benar saling mencintai. Dia bahkan mulai berani menggodaku dengan janji akan selalu melaporkan kegiatan Alvaro dan memberikan informasi penting tentangnya." Bintang sesekali melirik nasi Padang yang dimakan Kirana.


"Temanku bilang, agar aku ikuti saja permainan Clarita, dia punya rencana."


"Jika aku ada janji dengan Clarita di apartemen dia akan datang lebih dulu, dan bersembunyi di kamar."


"Bila Clarita datang dan mulai menggodaku, aku ajak ke kamar dan aku buka kancing kemeja, dia aku suruh untuk ke kamar mandi. Saat itulah aku keluar, berganti temanku yang masuk."


"Lampu kamar di matikan. Perawakan temanku sama denganku jika dilihat dari belakang, karena itulah Clarita tidak curiga saat dia keluar dari kamar mandi dan menemukan dia duduk membelakangi di tempat tidur tanpa baju."


"Dalam keadaan suasana kamar yang gelap dia menyuruh Clarita untuk menutup mata dengan kain."

__ADS_1


"Saat itulah mereka bermain. Apabila sudah selesai, dan kau tahu itu bisa berjam-jam. Temanku langsung keluar meninggalkan Clarita yang tertidur."


"Aku akan masuk dengan memakai kaos santai dan celana training, duduk di sofa menunggu Clarita terbangun."


"Kau melihat dia tidur dalam keadaan telanjang?" Kirana akhirnya membuka suara.


"Tidak, aku selalu bilang pada Nathan untuk memakaikan Clarita baju."


"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Kirana sangsi. Seorang lelaki mana mungkin melewatkan hal seperti itu.


"Aku berkata yang sesungguhnya, sampai Nathan bilang aku bodoh. Sudah melewatkan sesuatu yang indah seperti Clarita. Namun, aku benar-benar tidak mau melakukan hubungan intim sebelum aku menikah."


"Pikiran Nathan sama denganku." batin Kirana.


"Aku hanya ingin melakukan hubungan yang halal karena itulah Nathan menggantikan aku."


"Aku tidak percaya masih ada lelaki sepertimu," batin Kirana lagi.


"Rumit sekali, yang kau dan temanmu lakukan. Jadi Clarita selama ini tidak tahu kalau dia sudah berhubungan dengan Nathan?" tanya Kirana. Dia lalu merapikan bekas makannya.


"Dia tidak tahu dan sekarang dia menuntut tanggung jawabku untuk menikahinya."


"Bintang, sungguh apa yang kamu lakukan padanya itu jahat! Kau mengorek informasi juga menipunya dan Nathan mengambil kesempatan dengan menodai Clarita."


"Dia bukan wanita baik-baik, Kirana. Percayalah bukan hanya Nathan yang sudah menyentuhnya tapi banyak pria kakap yang melakukannya. Bahkan Tuan Alvaro. Justru Clarita memanfaatkan tubuhnya untuk menjerat lelaki kaya raya."


"Astagfirullah, benarkah dia seperti itu?" tanya Kirana. Dia lalu minum dari botol Aqua.


Bintang menyentuh ujung bibir Kirana dan mengambil sebutir nasi yang ada di sana. Wajah Kirana menjadi hangat dan berubah merah.


"Ya, dia memang seperti itu," jawab Bintang.


"Kirana, aku sangat lapar." Setelah mengatakan itu dia mendekatkan wajahnya dan menc*um bibir istrinya.


Kirana diam terpaku. Dia tidak


harus bagaimana? Kirana melihat Bintang menutup matanya, lama-lama permainan Bintang menghanyutkan Kirana. Dia ikut memejamkan mata.


"Ikuti apa yang ku lakukan Kirana." bisik Bintang lalu dia kembali menc*um Kirana.


Satu tangan Bintang memegang belakang leher Kirana, dan satu tangan lagi memeluk pinggang Kirana.


Kirana tidak bisa memeluk Bintang karena tangannya masih kotor. C*uman Bintang semakin dalam.


Kirana mulai membalas apa yang dilakukan Bintang, dia mengikuti apa yang Bintang lakukan. Mereka semakin liar. Saat Bintang merasa nafas Kirana menipis, dia melepaskan c*umannya.


Kirana segera menghirup nafas, lalu membuka matanya. Dia melihat Bintang yang tersenyum.


"Apakah ini c*uman pertamamu?" tanya Bintang.


"Iya, kenapa kau mau meledekku?"


"Tidak, aku justru senang, terima kasih kau menjaganya untuk suamimu. Aku juga sama, ini pertama untukku."


"Mana mungkin pertama sudah lihai seperti itu?"


"Naluri lelaki, lagipula banyak film yang memperlihatkan adegan c*uman."


"By the way, bibirmu rasa rendang. Membuatku semakin lapar," tambah Bintang dia menjilat bibirnya sendiri, dan menatap Kirana lekat.


"Aku akan belikan kau nasi Padang, sekarang!" Kirana segera berlari pergi.

__ADS_1


Bintang tersenyum dan menggelengkan kepala sambil bertolak pinggang. Syukurlah semua masalah sudah selesai dan berakhir dengan c*uman pertama mereka.


__ADS_2