Kirana

Kirana
Bab 39. Bintang Sampai Di Rumah Kirana


__ADS_3

"Nak Adi, kenapa pulang buru-buru?" tanya Abah.


"Iya, Bah, biar saya cepat sampai. Soalnya saya juga harus kembali ke Jakarta."


"Oh, begitu. Ya sudah hati-hati di jalan. Ini sedikit bekal untuk di jalan, tidak seberapa tapi cukup untuk mengganjal perut."


"Waduh, repot-repot Abah, Ambu, jadi senang saya."


"Terima kasih, Kak Adi. Sudah menolong saya semalam," ucap Kirana.


"Bekal ini Kirana yang menyiapkan," ucap Ambu.


"Saya merasa senang di masakin Kirana. Kalau begitu saya pamit Bah, Bu, Kiran. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kompak mereka menjawab salam Adipati.


Adipati berjalan, menuju jalan raya. Tadi sewaktu ke rumah Pak RT, Abah memberi tahu rute jalan menuju terminal.


Abah akan mengantarkan Adi tapi dia menolak.


Selepas kepergian Adipati, Kirana di interogasi oleh Ambu.


"Kamu kenapa nekat pulang malam-malam? Ambu tidak percaya kalau kamu bilang kangen Ambu." Mata Ambu menatap tajam Kirana agar Kirana berbicara jujur.


"Serius Ambu, Kirana jujur makanya Kirana nekat pulang karena tidak kuat kangen Ambu."


"Suamimu mana, kenapa tidak diantar? Dia tega membiarkan istrinya pulang sendiri? Benar- benar tidak bertanggung jawab!"


"A, Bintang sibuk dia tidak bisa mengantar."


"Malam Minggu sibuk?"


"Justru karena malam Minggu, besoknya 'kan libur jadi banyak yang harus dia kerjakan."


"Ambu tidak terima penjelasan kamu. Apa mertuamu tahu kau pergi?" tanya Ambu.


"Tahu Ambu."


"Apa kamu ada masalah Kiran?" tanya Abah.


"Astagfirullah, tidak ada Abah, Ambu, semua baik-baik saja. Beneran!" Kirana berusaha meyakinkan orang tuanya.


"Maaf, Ambu, Abah. Kirana tidak ingin kalian sedih. Biar Kiran atasi sendiri masalah rumah tangga Kiran," batin Kirana.


"Ya, sudah terserah kamu kalau tidak mau cerita sama Ambu dan Abah. Tapi Abah minta kamu pikirkan semua masalah dengan kepala dingin. Bicarakan baik-baik dengan suami kamu. Abah berangkat dulu ke sawah."


"Iya, Bah," sahut Kirana.


"Ambu mau ke pengajian dulu."


Ambu beranjak ke kamarnya untuk berganti baju. Kirana pergi ke bekakang, dia akan mencuci baju.


***

__ADS_1


Sementara itu, di rumah kediaman Orion. Mereka sedang sarapan bersama.


"Nggak ada Kirana rumah ini sepi, padahal dia baru pergi semalam." Aurora terlihat sendu.


"Papah, kenapa tidak mau bangunin Mamah, sih?"


"Kirana yang minta, dia tidak enak membangunkan kamu. Lagipula kamu pasti lelah sehabis olahraga." Wajah Aurora tersipu malu mendengar Galaksi.


"Bintang, kenapa kamu tidak antar Kirana?" tanya Aurora.


"Bintang ada pertemuan penting," jawab Bintang.


"Pertemuan apa malam-malam?" sindir Galaksi.


"Kamu jemput dia sekarang, orang tuanya pasti bertanya-tanya, kenapa Kirana pergi sendiri tanpa suaminya. Mereka pasti berpikir negatif tentang kamu, karena tega membiarkan istrinya pulang sendiri."


"Iya, Pah nanti sore Bintang akan jemput."


"Kenapa nunggu sore? sekarang aja, minta maaf pada mereka karena kamu tidak bisa mengantar Kirana semalam."


Bintang menghela napas. "Iya, Pah aku berangkat setelah sarapan."


"Biar kamu diantar supir soalnya perjalanannya jauh kali ini."


"Terserah Papah."


Bintang meneruskan makannya. Setelah selesai, Bintang langsung ke kamar, berganti baju dan menyiapkan baju untuk salin.


Tak lama Bintang turun kembali dan pamit pada Aurora, juga Galaksi.


"Iya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


Bintang berangkat di antara oleh supir. Di tengah perjalanan, ponselnya berbunyi di lihat ada nama Maya melakukan panggilan.


Bintang mengangkatnya "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kamu di mana? Sibuk nggak?"


"Ada apa? Aku nggak sibuk, kok."


"Kamu bisa datang ke tempatku sebentar, aku bikin kue, kamu cobain ya."


"Oke, aku ke sana sekarang."


Bintang menutup teleponnya.


"Pak putar ke arah kanan ada yang harus aku ambil di rumah teman."


"Iya, Tuan." Sang supir mengikuti perintah Tuannya.


Tibalah mereka di perumahan. Mobil berhenti di depan sebuah rumah "Tunggu di sini ya Pak. Saya nggak akan lama."

__ADS_1


"Iya, Tuan."


Bintang turun dari mobil dan beranjak pergi ke rumah itu.


***


Adzan magrib berkumandang saat Bintang sampai di kampung halaman Kirana.


Abah membuka pintu saat mendengar suara ketukan. Dia terkejut melihat Bintang di depan pintu.


"Bintang, ayo masuk Nak."


"Iya, Bah terima kasih."


"Mas, ayo masuk. Di dalam saja, Mas." Abah mengajak supir untuk masuk ke dalam.


"Iya, Pak terima kasih." Supir pun masuk ke dalam.


"Maaf, Pak saya mau ikut ke kamar mandi."


"Boleh. Kirana antar Bapak ini ke kamar mandi."


"Iya Bah."


Kirana mengantar Pak supir ke kamar mandi. Kirana lalu masuk ke dalam bergabung dengan orang tua dan suaminya.


Dia duduk di samping suaminya. "Aa, kenapa ke sini?"


Plak


"Aduh, Ambu kenapa Kiran di pukul?" tanya Kirana.


" Kamu suami datang malah nanya kenapa ke sini? Ya jelas, buat jemput kamu pulang lah, Kirana!" Ambu gemas dengan Kirana.


"Bukan begitu, Ambu. Kiran bisa pulang sendiri, nggak usah di jemput."


"Suami kamu itu perduli sama kamu. Ambu nggak akan ijinkan kamu pulang sendiri, nanti kejadian kemarin terulang lagi. Untung ada Adipati. Lain kali belum tentu ada Adipati lagi!"


"Cih, perduli apanya. Kalau perduli nggak akan dia bikin aku sakit hati," gumam Kirana pelan.


"Apa, Kir?" tanya Ambu.


"Tidak apa-apa Bu."


"Maaf Abah, Ambu. Bintang baru datang. Baru selesai urusan pekerjaan."


"Tidak apa-apa Nak. Pekerjaan memang penting. Lebih penting dari anak kami." Abah menyindir halus Bintang.


"Maaf, juga saya tidak bisa mengantar Kirana, karena saya tidak tahu kalau Kirana akan pulang. Kalau saya tahu pasti saya akan luangkan waktu untuk mengantarnya."


"Kamu pergi nggak bilang sama suami?"


"Gimana Kiran mau bilang? Orang Aa nya aja nggak ada di rumah."

__ADS_1


"Maaf, saya terlalu sibuk."


Bintang menjadi kikuk di hadapan orang tua Kirana. Dia berusaha bersikap tenang dengan tidak membantah apa yang mereka ucapkan.


__ADS_2