
Abah menyuruh Kirana untuk mengajak Bintang ke kamarnya, agar Bintang bisa berisitirahat. Sebelum tidur Bintang ingin membersihkan badan terlebih dahulu Kirana mengantarnya ke kamar mandi.
Saat Bintang ke kamar mandi, telepon Kirana berbunyi. Dia mengangangkatnya.
"Halo, Assalamualikum," ucap Kirana menyapa seseorang diseberang telepon.
"Waalaikumsalam, Nak apa kabar? Mamah kangen loh sama kamu, kapan pulang?"
"Kabar baik, Mah. Kirana juga kangen Mamah. Kirana mungkin pulang besok sore ya."
"Bintang sudah sampai, sayang?" tanya Aurora.
"Sudah Mah, Alhamdulillah baru sampai."
"Baru sampai?" Aurora terkejut karena Bintang berangkat pagi dari rumah.
"Iya,"
"Memang kalau perjalanan ke kampung kamu dari rumah Mamah berapa jam?"
"Sekitar 4-5 jam."
"Oh, ya sudah Mamah tutup dulu ya. Salam buat Abah dan Ambu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kirana menutup teleponnya, kini berganti ponsel Bintang yang berbunyi ada notifikasi masuk.
Kirana mengintip ternyata ada pesan chat dari Maya.
Kamu sudah sampai, Star? Nanti kabari aku ya, biar aku tenang. Semoga bisnis mu lancar, amiin.
Kirana tersenyum miring, pantas saja mertuanya terdengar kaget begitu dia bilang Bintang baru sampai, rupanya Bintang menemui Maya dulu tanpa mereka tahu.
Kirana lalu merebahkan dirinya di atas peraduan, dia berusaha menata hatinya yang baru saja patah.
Impiannya untuk bahagia dalam pernikahannya sepertinya akan kandas. Namun, Kirana tidak akan bertanya atau menegur Bintang. Dia akan pura-pura tidak tahu, dia ingin tahu sampai di mana Bintang tega berbohong padanya.
Bintang datang dan masuk ke dalam, dia melihat Kirana sudah terbaring di atas tempat tidur. Bintang kemudian sholat Isya.
Setelah itu dia berbaring di samping Kirana. Bintang menatap Kirana yang membelakanginya. Kemudian dia melihat ke sekeliling kamar Kirana. Sangat sederhana tapi terasa nyaman.
Bintang merenung dia merasa bersalah pada Kirana. Dia sebenarnya ingin jujur tentang pertemuannya dengan Maya agar tidak ada salah paham. Namun, rasanya berat. Bagaimana jika Kirana sakit hati dan cemburu lalu melarang dia bertemu dengan Maya lagi.
Padahal dia hanya bermaksud untuk menghibur Maya dan membesarkan hatinya, agar tetap semangat menjalani pengobatan. Kalau pun Maya tidak sembuh dan akhirnya di panggil Ilahi, Bintang tidak akan merasa bersalah karena tak dapat membalas cinta Maya.
__ADS_1
Seharusnya Bintang berpikir tidak akan ada yang paham bila tidak di beri tahu. Bintang tidak sadar, ketidak kejujurannya pada Kirana telah membuat prasangka buruk di hati Kirana.
Kepercayaan Kirana pada Bintang terkikis sudah. Dia tidak akan berharap lagi pada suaminya. Dia menutup pintu hatinya untuk cinta, agar hatinya tidak semakin terluka.
Tak terasa mereka pun tertidur. Saat kumandang adzan terdengar, Kirana terbangun. Dia membangunkan Bintang, karena Kirana tidak bisa lewat.
Tempat tidurnya mepet dengan dinding, tak ada jalan bagi Kirana selain melewati Bintang. Jadi mau tidak mau dia harus membangunkan Bintang.
"A, bangun Kirana mau ke kamar mandi mau wudhu."
"Hm." Bintang hanya bergumam tapi tidak berubah posisi.
"Ish, ya udah jangan salahin Kiran kalau Kiran lewatin Aa!" Kirana melewati Bintang, dengan melangkahi badan Bintang.
Tepat pada saat Kiran melewati badan Bintang, tiba-tiba Bintang memeluk Badan Kiran membuat Kiran jatuh telungkup di atas tubuh Bintang.
"Aku jadi ingat saat seseorang jatuh di atas tubuhku saat aku tertusuk. Apa itu kamu?"
Wajah Kirana jadi merah. Dia langsung teringat pada saat dia tidak sengaja terjatuh dan mencium bibir Bintang. Kirana berusaha bangun dari dekapan Bintang.
"Jangan bergerak Kirana, atau kau akan membangunkan aku!"
"Justru Kirana ingin Aa bangun, Kirana nggak bisa lewat, Kirana mau ke kamar mandi," ujarnya terus berontak dari pelukan Bintang.
"Kau sudah membangunkan Aa, apa kau tidak merasakannya?"
Kirana tidak melanjutkan ucapannya, dia merasakan sesuatu yang keras di perut bawahnya. Kirana paham sekarang apa maksud Bintang.
Dia kemudian menggigit tangan kanan Bintang dan cepat-capat bangun. Kirana bergegas hendak keluar kamar.
"Cih, sudah selingkuh masih saja mau jatah, tidak sudi." Kirana membatin.
"Kirana kamu kejam sekali membiarkan Aa menggantung seperti ini," ucap Bintang pada Kirana yang bergegas keluar.
"Dari dulu juga punya Aa sudah menggantung!" ketus Kirana sebelum akhirnya dia keluar.
"Iya, juga sih. Tapi kan sekarang hasrat Aa juga jangan di gantungkan." Bintang bergumam.
Dia kadang gemas dengan istrinya, andai tidak ada Maya di antara mereka, saat ini mereka pasti sedang bahagia.
Padahal justru Bintang sendiri yang menghadirkan Maya diantara mereka.
Bintang segera keluar kamar, waktu subuh sangat singkat dia akan menunggu Kirana di depan kamar mandi.
"Eh nak Bintang sudah bangun, sebentar ya ada Kirana di dalam atau masuk aja biar cepat, mandi berdua." Ambu menggoda Bintang. Dia sedang masak saat ini. Letak kamar mandi ada di dapur melewati Ambu yang masuk.
__ADS_1
Kirana hanya tersenyum canggung menanggapi godaan Ambu.
"Iya, Ambu saya tunggu Kirana selesai saja, takutnya kalau berdua justru lama," jawabnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, iya. Hehehe." Ambu justru jadi malu sendiri mendapat balasan seperti itu dari Bintang.
"Kiran! Cepat! Ini suamimu kau ke kamar mandi!" Ambu berteriak pada Kirana.
"Iya, Ambu." Kirana menyahut dari dalam kamar mandi. Ambu tersenyum malu pada Bintang.
"Ambu permisi dulu ya. Mau keluar dulu." Lebih baik dia pergi dari pada merasa canggung seperti ini.
"Iya Ambu," jawab Bintang.
Tak lama pintu kamar terbuka, Kirana keluar sudah memakai baju yang berbeda. "Silahkan A. Kirana mau ke kamar," ucap Kirana.
Dia melewati Bintang, kemudian Bintang masuk ke kamar mandi. Di kamar Kirana memakai mukena dan dia menyiapkan sajadah juga sarung untuk suaminya
beberapa menit kemudian suaminya masuk ke dalam kamar. Segera Bintang memakai sarung dan berganti baju.
Mereka berdua kemudian sholat subuh berjamaah. Setelah dua kali salam, Bintang kemudian berdzikir dan memanjatkan doa untuk kebahagian pernikahannya. Juga untuk kesembuhan Maya, tentu saja yang ini dia berdoa dalam hati.
Kirana mencium tangan Bintang, lalu Bintang mencium dahi Kirana secara tiba-tiba. Kirana sangat terkejut ketika ada yang dingin menyentuh dahinya.
"Kirana kapan kita akan pulang?" tanya Bintang seraya dia bangun dan membuka sarungnya menggantinya dengan calana panjang.
"Nanti sore saja, bagaimana?" jawab Kirana.
"Terserah kamu."
"Oke, kita pulang sore. Aku mau pesan kue dulu buat oleh-oleh. Aa di sini saja dulu, atau barangkali Aa mau ikut Abah ke sawah, lihat-lihat Abah menggarap sawah."
"Boleh, dari pada Aa bosan di sini bengong sendirian."
"Ya udah ayo sekarang kita sarapan. Abah biasanya ke sawah pagi-pagi, sambil ngontrol air."
Kirana melangkah lebih dulu keluar kamar, dia menyuruh Bintang menemani Abah duduk di ruang keluarga.
Sedangkan Kirana ke dapur untuk membantu Ambu memasak.
...----------------...
Maaf ya baru up lagi, Alhamdulillah baru enakan badannya.
Semoga kalian suka dan terhibur dengan bab ini. Jangan lupa like komen dan hadiahnya.
__ADS_1
maaf kalau masih banyak typo. Terima kasih komentarnya jadi penyemangat saya menulis. Makasih juga yang sudah memberi saya dukungan lewat hadiah dan Vote nya. Love You All.