Kirana

Kirana
Bab 42. Pernikahan Yang Menghancurkan Hati Kirana


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju Jakarta tidak ada yang mengeluarkan suara. Semua hening sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sang supir berkonsentrasi menatap jalan raya. Suara dering ponsel memecah kesunyian, sang supir sangat senang karena ada suara.


Bintang mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Maya, nama yang tertera di layar ponsel.


Bintang melirik Kirana yang sedang menatap pemandangan dari jendela mobil.


Kirana sempat melirik sekilas dia melihat nama Maya, Kirana kemudian membuang pandangannya pada jendela mobil melihat pemandangan untuk memenangkan hatinya.


"Halo, Assalamualaikum." Terdengar Bintang menjawab telepon.


" ...."


"Baik, saya sedang dalam perjalanan mungkin sampai sore."


" ...."


"Iya, terima kasih. Wa'alaikumsalam."


Terdengar oleh Kirana semua pembicaraan Bintang. Entah dia membicarakan apa? tetapi kenapa terdengar formal sekali, bukankah itu Maya? Apa karena ada dirinya, Bintang merubah gaya bicaranya seolah sedang bicara dengan klien kerjanya.


"Pak, bisakah lebih cepat jalannya. Usahakan kita sampai di rumah lebih cepat. Saya ada pertemuan penting." Bintang memberi instruksi pada supirnya.


"Siap, Tuan."


Kirana mencibir dalam hati. "Cih, pertemuan penting. Bilang aja mau ketemu Maya."


Bintang melirik Kirana yang hanya diam. Perjalanan sedikit membosankan dan jenuh karena tidak ada pembicaraan di antara mereka. Bintang enggan mengajak Kirana bicara, sebab wajah Kirana terlihat sedang kesal. Mungkin dia masih ingin tinggal di kampung, dan kesal buru-buru pulang.


Langit yang orange menyambut mereka di kota Jakarta. Kirana melihat jam tangannya pukul Setengah enam sore.


Perjalanan yang sangat membosankan bagi Kirana. Mereka tadi berhenti hanya untuk sholat ashar. Langsung kembali melanjutkan perjalanan.


"Stop Pak!" Bintang menyetop mobil di depan kompleks.


Mobil pun menepi, di pinggir jalan.


"Kirana, maaf kau turun di sini, ya. Aku buru-buru harus pergi lagi."


Kirana tertegun, apa maksudnya? Apa dia tidak salah dengar? Suaminya menyuruhnya turun di sini. Rumahnya dari depan kompleks lumayan jauh.


"Oh, oke. Nggak apa-apa aku sudah biasa jalan kaki jarak jauh." Kirana menyindir Bintang, dia lalu turun dari mobil.

__ADS_1


Bukan hanya Kirana yang tertegun tapi juga Pak supir. Kenapa tidak diantar saja ke rumah sekalian, tega sekali Tuan Bintang pada istrinya. Begitulah pikirannya.


"Terima kasih Kirana, maaf kamu pakai ojek saja, ya. Jalan Pak."


"Cih, lihat saja nanti aku balas."


Kirana memanggil ojek tapi bukan untuk ke kompleks melainkan untuk mengikuti Bintang. Kirana penasaran apa yang membuat Bintang seperti itu, apakah karena Maya?


Ojek mengikuti mobil Bintang tanpa disadari oleh Bintang atau pun supir. Mobil mengarah ke rumah sakit dan berhenti di depan lobi rumah sakit. Bintang turun, sedangkan mobil kembali berjalan mencari tempat parkir.


Kirana segera turun, dan membayar ojek sebesar lima puluh ribu rupiah. Dia lalu berjalan cepat menyusul Bintang.


Ada apa dia ke rumah sakit, pertemuan apa di rumah sakit?


Kirana kehilangan jejak Bintang. Dia tengok kanan dan kiri mencari Bintang. Tepat saat matanya melihat ke arah lift, terlihat Bintang sebelum pintu lift tertutup.


"Dia, mau ke mana?" gumam Kirana heran. Dia lalu, lekas ke lift untuk tahu ke lantai berapa tujuan lift itu.


Ternyata ke lantai tiga, Kirana lalu berlari ke arah tangga darurat ke lantai tiga. Dengan nafas yang tersengal-sengal, akhirnya dia sampai.


"Ke mana dia, huh?" Kirana tengok kanan dan kiri.


"ICU, siapa yang dirawat di ICU?" rupanya lantai ini khusus untuk ICU.


Dia lalu berjalan, menyusuri lorong. Jendela kaca ICU sangat besar ada yang terbuka dan ada yang tertutup tirai. Tujuannya agar keluarga dapat melihat pasien, saat pasien tidak bisa dikunjungi.


Kirana melihat nama pada papan yang menggantung di tempat tidur. Maya, yang tertulis di papan itu.


Mata Maya sedang terpejam. "Apakah dia koma?" batin Kirana.


Kirana lalu memandang Bintang dan tangan yang sedang menggenggam tangan Maya.


Bintang mengusap mata Maya, lalu nampak akan keluar. Kirana segera bersembunyi. Di luar ruangan, Kirana melihat seorang paruh baya menghampiri Bintang dan bicara dengan serius.


Mereka terlihat berargumen, Bintang nampak bingung, dan terdiam lalu dia mengangguk.


Bapak itu kemudian pergi. Bintang melihat Maya dari jendela kaca. Kirana bersembunyi di balik dinding mengintip Bintang.


Lima belas menit kemudian, datang dua orang paruh baya bersama Bapak tadi. Mereka besalaman dan berbicara. Lalu ada dokter dan suster keluar mereka berbicara serius.


Kirana melihat mereka semua masuk. Dahinya berkerut, bukankah tidak boleh banyak orang yang masuk ke ruang ICU.


Kirana mendekati jendela. Dia melihat mereka mengelilingi brankar Maya.

__ADS_1


Bintang berdiri di hadapan Bapak yang pertama dilihatnya bersama Bintang. Mereka bersalaman.


Mata Kirana terbelalak, air matanya jatuh menetes. Dia kini mengerti apa yang terjadi? Di sana, di dalam ruang ICU, telah terjadi sebuah akad nikah.


Dokter dan suster menjadi saksi. Hatinya sekarang hancur. Kenapa Bintang sangat jahat padanya? Bukankah dia sudah katakan jika Bintang mencintai wanita lain, dia tidak masalah.


Namun, bukan begini caranya. Selesaikan dulu urusan dengan Kirana baru dia berhubungan dengan yang lain. Bukan menikah di belakangnya.


Sambil menahan isakannnya, Kirana melihat suaminya kini sedang mencium kening Maya.


Kirana tak sanggup lagi, lalu pergi. Dia berlari tanpa henti menuju tangga darurat, sampai ke lobi. Kirana terus berlari hingga keluar dan berhenti di sebuah pohon besar.


Dia berjongkok dan menangis. "Abah, Ambu." Kirana terisak sambil memanggil kedua orang tuanya.


Hatinya begitu sesak. Harus bagaimana dia sekarang?


Kirana lalu beranjak bangun dan melangkah pergi, pikirannya kalut pandangannya kosong. Dia berjalan kaki tak tentu arah.


Kirana tidak sadar langkahnya semakin ke tengah jalan. Mobil di belakang Kirana berhenti. Sang pengemudi lalu turun, dan menghampiri Kirana.


"Mba, mba, bisa jalannya ke pinggir." tegur pria itu.


Kirana menoleh dengan pandangannya yang kosong. Pria itu terkejut melihat wajah Kirana yang terlihat kacau.


Dia lebih terkejut lagi ternyata wanita ini adalah wanita yang tolongnya waktu itu saat naik kereta.


"Kirana?"


"Maaf, permisi." Kirana lalu menepi dan kembali berjalan.


Suara klakson mobil bersahutan karena mobil pria itu yang menghalangi jalan.


Dia lalu berlari menghampiri Kirana, dan menarik tangannya, menuju mobilnya. Di buka pintu depan samping kemudi, Kirana dipaksa masuk dan duduk lalu pintu ditutup kembali.


Pria itu pun berlari ke pintu yang lain membuatnya lalu masuk.


Mobil itu lalu melaju, Kirana hanya termenung menatap jalan raya di hadapannya.


Kirana baru tersadar, dia lalu melihat ke samping. "Saya mau di bawa ke mana? Siapa kamu? Turunkan saya!"


"Kirana tenanglah, kamu lupa saya?"


"Kamu mengenal saya? Siapa kamu?" Kirana menatap dalam pria di sampingnya. Dia mencoba menggali memorinya.

__ADS_1


Dia teringat satu wajah yang sudah mengantarnya pulang saat di stasiun kereta api.


...----------------...


__ADS_2