
Bintang memegang perutnya yang terasa sakit. Tonjokan papahnya sangat kencang, biar sudah tua papah masih bertenaga kuda, karena dia suka fitness. Perutnya saja kotak-kotak.
"Kamu menemui siapa? Papah tidak perduli, asal jangan sampai menyakiti Kirana! Jika kamu selingkuh, Papah yang akan buat kalian berpisah!" Galaksi pergi dari hadapan Bintang.
"Jangan kau cari Kirana, sebelum kau pastikan hatimu tidak akan menyakitinya lagi," ucap Galaksi sebelum dia menaiki anak tangga satu per satu.
Bintang mencerna ucapan Galaksi. Dia lantas pergi ke kamarnya dengan tergesa sambil menahan nyeri di perutnya.
Di bukanya pintu kamar, dia menyalakan lampu kamar. Nampak kamar yang kosong dan sunyi. Tempat tidurnya masih rapi seperti tidak ditiduri. Bintang menuju lemaribl lalu membuka pintunya, dan melihat pakaian Kirana, pakaian Kirana sudah berkurang.
Dia melihat ke atas lemari, tas yang di atas lemari sudah tidak ada. Benar Kirananya pergi. Ke mana dia?
Bintang keluar kamar ingin menanyakan pada Papahnya ke mana Kirana pergi? Namun, Bintang berhenti ketika baru beberapa langkah menuju kamar Galaksi.
Dia teringat perkataan, Galaksi untuk memastikan dirinya bahwa dia tidak akan? menyakiti Kirana. Apa dia telah menyakitinya?
Bintang kembali ke kamarnya. Dia merenungkan apa yang terjadi. Kenapa Kirana pergi? Apa salahnya? Apa Kirana tahu tentang Maya?
"Maaf, Kirana. Aku tidak bisa mengacuhkannya, aku ingin memenuhi segala keinginannya sebelum dia pergi dan berada di sisinya pada saat hari terakhir hidupnya. Hanya sebentar Kirana, bersabarlah."
Bintang berharap Kirana mengerti, dan bersabar menunggunya.
***
Kirana sedang menikmati perjalanannya di dalam kereta api. Dia memandang keluar jendela yang gelap, tidak banyak pemandangan yang bisa dia lihat hanya langit malam dan bintang, juga lampu yang menerangi halaman rumah.
Apakah Bintang sudah pulang? Bagaimana reaksinya saat dia tahu kalau dirinya telah pergi?
"Ish, kenapa mikirin dia, sih?" Kirana benci hatinya yang selalu rindu pandanya, dia benci pikirannya yang tak berhenti memikirkan dia.
"Jangan dipikirin kalau gitu. Repot amat!"
Kirana tersentak mendengar sahutan seseorang. Dia melirik seseorang di hadapannya, wajahnya tertutupi topi.
Kirana tidak membalas ucapan orang itu. Dia kembali melihat ke arah jendela.
Orang itu lalu membuka topinya. Dia melihat wajah wanita di hadapannya. "Manis," gumamnya pelan. Dia lalu kembali menutupi wajahnya dengan topi.
Dia tidak ingin menganggu waktu wanita itu yang sepertinya butuh waktu untuk sendiri.
Kirana perlahan tertidur, matanya terpejam, kepalanya bersandar pada kaca jendela. Pria itu kembali membuka topinya, dia melihat Kirana tidur dengan kepala bersandar pada kaca jendela.
Pria itu kemudian pindah posisi menjadi duduk di sebelah wanita tadi. Kepala wanita itu perlahan dia pindahkan bersandar pada bahunya. Dia hanya merasa kasihan pada wanita ini karena kepalanya terantuk-antuk kaca.
Lagipula bahunya dia beri jaket untuk alas tempat bersandar wanita itu.
Setelah sekitar beberapa jam, kelopak mata cantik Kirana terbuka, dia merasa tidur dengan lelap. Dia lalu menyadari posisinya. Kirana duduk dengan tegak.
Dia melihat ke sampingnya, bagaimana bisa pria ini tidur di sini? Dia mengamati pakaian yang dikenakannya, semua masih aman.
"Aku bukan lelaki mesum. Aku hanya iba melihatmu, yang kepalanya pasti sakit terbentur kaca ini."
Kirana lalu mengamati pria itu yang masih saja menutupi wajahnya dengan topi. Dia malu telah berpikiran negatif tentang pria ini.
"Maaf, aku telah berpikiran negatif tentangmu." Kirana meminta maaf padanya.
Pria itu, lalu membuka topinya. Wajahnya sangat tampan, dengan bibir merah dan tipis, hidung mancung. mata yang tajam, alis tebal dan hitam, rambutnya sedikit diikat ke belakang tapi cepak bagian sisi.
Sungguh Pahatan yang sempurna. "Khem." Pria itu berdehem, melihat wanita ini menatapnya tanpa berkedip.
Kirana tersadar, dia merasa malu karena terpesona oleh wajah pria ini, lalu Kirana memalingkan wajahnya pada jendela.
"Adipati." Pria itu menyodorkan tangannya di depan Kirana.
Kirana melihat tangan Adipati, dia lalu dengan malu- malu menjabat tangan Adipati.
"Kirana."
Hanya sebentar Kirana menjabat tangannya. Dia langsung melepaskannya.
"Nama yang cantik, seperti orangnya." Adipati memuji Kirana.
"Terima kasih, tapi apa lelaki selalu seperti itu? Gampang memuji walau mereka baru kenal."
Adi tersenyum, "Tergantung, dia pantas di puji atau tidak. Aku hanya mengatakan yang aku lihat, bukan berbohong untuk cari perhatian."
"Bintang tidak seperti itu," batin Kirana.
"Apa kau selalu seperti ini? Ketus tapi menggemaskan."
"Sepertinya, kau penggombal ulung." Kirana tersenyum miring.
"Aku bukan penggombal ulung, buktinya kau tidak baper dan justru ketus padaku. Disaat wanita lain mungkin sudah tersenyum malu-malu dengan wajah merona," ucap Adi.
"Sudahlah jangan gombal terus," ketus Kirana.
Kereta berhenti di stasiun. Kirana melihat ini stasiun apa? Ternyata tujuan Kirana sudah dekat. Habis stasiun ini dia akan turun.
__ADS_1
Kirana bersiap- siap. Dia membereskan dan mengecek barang bawaannya. Pria itu melihat Kirana dan memperhatikan sekitar. Dia lalu ikut memberikan barangnya.
"Kau akan turun juga di depan nanti?" tanya Kirana.
"Iya."
"Oh."
Mereka lalu berjalan ke pintu kereta, karena stasiun berikutnya sudah dekat. Bukan cuma Kirana dan Adipati, tapi juga ada beberapa orang yang ikut turun.
Mereka harus bersiap-siap agar ketika kereta berhenti mereka bisa segera turun. Kereta ini tidak akan lama berhenti di stasiun itu. Jika telat, penumpang terpaksa harus berhenti di stasiun berikutnya dan jaraknya cukup jauh.
Kereta mulai berjalan perlahan, dan berhenti. Pintu kereta terbuka, Kirana turun dengan hati-hati.
Dia lalu berjalan menuju gerbang stasiun. Abah dan Ambu tidak tahu mengenai kepulangannya, jadi tidak ada yang menjemputnya.
"Kau tidak di jemput?" tanya Adi tiba-tiba.
Kirana terkejut dan menoleh pada Adipati. "Tidak, Abah dan Ambu tidak tahu aku pulang. Kau kenapa membuntutiku?"
"Aku sudah duga, dengar ya. Aku sebenarnya tidak turun di sini. Bukan ini tujuanku, tapi aku tidak tega melihat seorang wanita malam-malam pergi sendirian. Kau nekat sekali pulang malam-malam." Kirana menatap Adipati bingung.
"Aku turun karena aku melihat beberapa pria yang sejak tadi melihatmu dengan aneh, mereka ikut turun ketika kau pun akan turun. Oleh karena itu aku putuskan ikut turun. Aku akan mengantar kau sampai rumah, lalu aku akan melanjutkan perjalanan dengan bus." Adipati berbisik pada Kirana.
Memang, di sekitar mereka ada sekitar empat pria memperhatikan Kirana.
"Kalau kau tidak percaya lihat ini," bisik Adipati.
"Ayo, kita foto dulu buat kenang- kenangan." Adipati mengajak Kirana foto berdua.
Dia lalu menunjukkan hasilnya pada Kirana. Terlihat di belakang mereka, empat pria yang sedang menatap Kirana.
"Bagus kan gambarnya," ucap Adipati.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Kirana. Dia merasa takut. Kirana teringat Bintang yang di tusuk di jalan ke arah rumah Kirana.
"Aku akan mengantarmu. Ayo kita ke mana sekarang dan naik apa?" tanya Adipati.
"Kita jalan kaki, ke terminal. Karena dari sini kalau malam tidak ada angkutan umum."
"Kau tahu itu, dan tidak minta jemput kau nekat pulang sendiri. Kau memang wanita bodoh!"
"Kau itu cerewet sekali, pantas bibirmu tipis seperti wanita, kau memang cerewet."
"Apa aku cantik?"
"Terima kasih pujiannya. Akhirnya kau bilang aku tampan juga."
Kirana memutar kedua bola matanya. Terserahlah, dia sudah pusing dengan pria ini. Namun, dia sangat bersyukur dan berterimakasih dalam hati, karena pria ini sangat baik. Mau mengantarnya pulang sampai rela turun sebelum waktunya.
Kirana dan Adi berjalan kaki. Malam sangat gelap dan dingin. Adi mengambil senter dalam tasnya. Dia menyalakannya.
"Nah, kelihatan jalannya. Takutnya aku menginjak ular."
"Di sini memang belum ada lampu, rumah penduduk juga tidak ada, jadi gelap. Aduh."
Adipati menyentil dahi Kirana. Dia gemas sekali dengan Kirana. Sudah tahu situasi di kampungnya seperti apa, tapi masih saja nekat pulang malam dan sendirian.
Adipati mengarahkan senternya pada wajah Kirana.
"Kamu itu memang bodoh, sinting dan nekat. Sudah tahu situasi kampungmu seperti apa, masih saja pulang sendiri. Apa kau ada masalah, hingga tanpa pikir panjang langsung pulang begitu saja?"
Kirana mengusap-usap dahinya. Dia lalu menutupi matanya yang silau terkena cahaya senter.
"Aku tidak masalah apa pun. Aku hanya tidak tahan menahan rindu pada orang tuaku."
Adipati mengedarkan cahaya senternya ke sekeliling mereka untuk melihat apakah empat pria tadi masih mengikuti mereka. Ternyata masih. Dia kemudian berhenti.
"Kiran, bisa tolong pegang senternya sebentar?"
Kirana memegang senter. Adi menaruh tas punggungnya di tanah, Kirana mengarahkan senter itu pada tas Adi. Adi mengeluarkan barang dari dalam tas. Dia mengeluarkan pistol, dan belati.
"Kau bawa pistol buat apa?" tanya Kirana. Dia shock melihat pistol Adipati.
Adipati menyelipkan pistol itu di belakang celananya. Adi tersenyum tipis mendengar Kirana berteriak pistol.
"Kau juga bawa belati, kau ini apa sebenarnya, apa kau tentara?" tanya Kirana.
Adi tidak menjawab dia menyelipkan belatinya di celana depan. Adipati kemudian membereskan kembali tasnya dan kembali menaruhnya di punggung.
Dia mengambil senter di tangan Kirana.
"Untuk berjaga-jaga saja aku selalu bawa pistol. Aku ini adalah pasukan khusus tentara tapi kau jangan bilang siapa-siapa ini rahasia."
"Tentara apa? Mana ada tentara khusus bilang-bilang," batin Adipati.
"Oh, oke."
__ADS_1
"Masih lama kah terminalnya?"
"Iya, kita sekalian saja sampai rumah."
"Di sini sepi, apa kalau ada suara tembakan akan terdengar?" tanya Adipati seraya mengedarkan senter pada sekitar.
Empat orang itu sudah tak terlihat. Dia tersenyum lalu terkekeh.
"Tidak tahu. kenapa kau tertawa?"
"Tidak apa-apa."
Mereka terus berjalan, lumayan jauh. Adipati melihat jam tangannya, sudah pukul dua malam. Berarti mereka sudah berjalan hampir satu jam.
"Kita sebentar lagi sampai."
"Oke."
"Terima kasih, Adi. Kau mau mengantarku, bahkan sampai turun sebelum waktunya. Jarang ada orang sepertimu."
"Terima kasih kembali."
"Kau lihat rumah yang itu?" tanya Kirana.
Adipati menyenteri rumah itu. "Tidak perlu disenter rumahnya terang benderang," ucap Kirana
"Itu rumahmu?" tanya Adipati.
"Bukan."
"Terus kenapa suruh aku lihat?"
"Cuma kasih tahu, rumahnya terang. itu aja. Dari situ rumahku masih sekitar setengah kilo lagi."
"Apa?Jauh sekali. Apa kau tidak lelah?"
"Lelah, sih. Tapi, semakin dekat dengan rumah semakin aku bersemangat. Aneh 'kan?"
"Itu kekuatan rindu."
Mereka tertawa bersama. Tanpa sadar pertemuan singkat mereka membuat mereka dekat begitu saja.
"Kalau boleh tahu, kau sebenarnya mau ke man?" tanya Kirana.
"Sama sepertimu ke tempat orang yang kurindukan."
"Seharusnya mungkin saat ini kau sudah sampai, tapi kareja aku kau jadi tertunda bertemu orang yang kau rindukan, maaf dan terima kasih."
"Tenanglah, dia sabar menunggu dan dia juga pasti senang jika aku menceritakan pertemanku denganmu."
"Sampaikan salamku padanya."
"Tentu." Adipati lalu memandang langit penuh bintang. Dia tersenyum
"Kau mendengarnya, dia lucu bukan?"
"Adi, itu rumahku." tunjuk Kirana. Dia lalu berlari, menuju rumahnya. Lelah perjalannya terbayar.
Kirana mengetuk pintu, dia menyuruh Adi untuk diam, jangan bersuara.
Tidak ada yang membuka pintu, mungkin mereka sedang tidur lelap. Kirana jadi merasa tidak enak menggangu tidur mereka.
Pintu lalu terbuka, Abah keluar untuk melihat siapa yang datang tengah malam.
"Kirana? Kirana!" Awalnya Abah tidak yakin wanita itu adalah Kirana, ternyata benar dia Kirana.
"Abah, Kiran kangen." Kirana langsung memeluk Abah.
"Bu, Kirana pulang!" Abah memeluk Kirana, lalu berteriak memanggil Ambu, yang di panggil pun berjalan cepat keluar.
"Kirana! Alhamdulillah, kamu pulang nak. Ambu kangen." Ambu menarik tubuh Abah dari pelukan Kirana. Ambu kemudian memeluk Kirana erat.
Adipati menatap mereka dengan tersenyum, keluarga yang hangat. Sungguh Kirana beruntung.
Abah baru menyadari kalau Kirana tidak pulang sendiri, dia pulang bersama lelaki, tapi bukan suaminya.
...---------...
Terimakasih masih membaca ceritaku. Jangan lupa dukung author terus ya ... maaf masih banyak typo.
Terima kasih like, komen, bunga juga favoritnya.
Semoga ada yang kasih author vote dan kopi. Amin 🤲😁 Terima kasih sebelum dan
sesudahnya.
Love you All ❤️❤️❤️😘😘
__ADS_1