Kirana

Kirana
Bab 41. Makan Siang Di Sawah


__ADS_3

Setelah sarapan, Kirana pergi dengan Ambu membeli oleh-oleh, sedangkan Bintang pergi bersama Abah untuk membantu Abah menggarap sawah, sang supir ikut dengan Bintang.


Bintang berjalan kaki bersama Abah dan supir ke sawah yang jaraknya kurang lebih 500 meter. Sesampainya di sana, Abah langsung turun ke sawah, supir Bintang ikut turun.


Beliau memeriksa apakah ada hama di tanaman padinya. "Nak Bintang, tidak usah turun. Duduk saja di saung sana, menikmati pemandangan sawah. Di kita kan nggak ada sawah, selagi Nak Bintang di sini nikmati pemandangannya." Abah menunjuk bangunan saung yang ada di pinggir sawah


"Tapi, saya ingin membantu Abah."


"Tidak, usah Abah sudah biasa. Ayo duduk sana."


Bintang pun melangkah menuju saung dan mengamati Abah dan supirnya bekerja.


Matahari mulai merangkak naik dan kini tepat berada di atas kepala. Perut Bintang sudah mulai keroncongan, tapi Abah sepertinya belum akan pulang.


Bintang melihat dari kejauhan dua orang wanita yang dia kenal yaitu Ambu dan Kirana. Mereka melangkah di pematang sawah menuju ke arahnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Abah! Sini makan dulu!" Ambu memanggil Abah.


Abah kemudian memanggil supirnya Bintang untuk ikut makan.


"Aa, pasti lapar, ya. Ini aku bawain makanan kita makan di sini, ya. Rasanya tuh tambah nikmat kalau makan dengan pemandangan sawah."


"Iya, pemandangannya indah."


"Kamu belum pernah kan makan dengan pemandangan seperti ini?" tanya Abah.


"Belum, Bah," jawab Bintang.


Kirana dan Ambu menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Mereka mulai makan dengan menu sederhana di iringi suara desir angin, dan kicauan burung, serta gemericik air.

__ADS_1


Pemandangan hijau sawah terhampar luas, padi-padi yang bergoyang tertiup angin. Daun kelapa yang melambai di pinggir sawah.


"Rasanya nikmat sekali, Alhamdulillah. Sebentar." Abah ambil cuci mulutnya. Abah memetik pisang yang sudah matang di belakang saung.


Lalu mengambil kelapa muda yang tadi sudah di petik. Abah lalu mengupas kelapa dengan golok. Airnya di cicikan dalam wadah. Dia lalu mengerok kelapanya dengan sendok.


"Nah ini dia air dawegan atau kelapa muda, juga pisang lumut."


"Wah, segar langsung petik dari pohonnya." Bintang sangat antusias.


Pengalaman yang sangat berkesan, seumur hidupnya dia belum pernah seperti ini. Sepertinya bahagia tinggal di sini. Menikmati masa tua nanti bersama Kirana di sini.


Bayangan indah bersama Kirana di desa, menari-nari di mata Bintang. Dia tersenyum membayangkannya.


"Aa, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Kirana.


"Hah, nggak apa-apa." Bintang merasa malu sendiri karena terciduk istrinya.


"Coba A, air kelapa muda." Kirana memberikan segelas air kelapa muda pada Bintang.


"Hm, segar ini kok ada manisnya." Bintang meminum air kelapa itu.


"Iya." Bintang menghabiskan air kelapanya.


"Ini, pisangnya." Kirana memberikan beberapa buah pisang di atas piring kada Bintang.


Bintang mengambilnya dan membuka kulit pusing, langsung di lahapnya pisang itu.


Dia sangat menikmati makan siang ini. Selain perut kenyang, lidah puas, jiwa pun tenang dan bahagia.


Setelah makan Abah kembali bekerja, di temani Ambu. Sedangkan Kirana dan Bintang juga supir Bintang kembali pulang ke rumah Abah. Cuaca sangat terik, untung Kirana membawa payung.


Mereka tersenyum jika ada yang menyapa atau berpapasan dengan, warga kampung.


Sesampainya di rumah Kirana segera ke kamar mandi untuk berwudhu, dia hendak melaksanakan sholat Dzuhur.

__ADS_1


Selagi menunggu, Bintang melihat notifikasi pada ponselnya. Ada satu yang menarik perhatiannya. yaitu dari Maya. Bintang membacanya lalu setelah itu bergegas membereskan semua bawaanya.


"A, sholat berjamaah, ya."


"Nggak, kamu sendiri aja dulu, biar cepat. Nanti setelah sholat langsung bereskan barangmu. Kita pulang sekarang." Bintang bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dia juga memberi tahu supirnya untuk bersiap-siap.


Kirana menuruti instruksi Bintang, walau dia bingung, kenapa pulang mendadak dan terburu-buru?


Bintang sudah selesai sholat, Kirana pun sudah rapi. "A, Ambu dan Abah belum pulang. Masa kita pergi begitu saja. Apa nggak lebih baik kita tunggu mereka pulang?"


"Kita pamit saja ke sawah. Kalau nunggu mereka pulang lama." Bintang bicara sambil bolak-balik membawa barang-barang dan oleh-oleh yang disiapkan Kirana.


"Apa ada keadaan darurat, A? Sampai Aa terlihat panik dan buru-buru."


"Tidak, tidak ada. Hanya masalah kerjaan aja."


"Pekerjaan kan bisa sama Billy. Lagian kalau sekarang berangkat pun, kantor pasti sudah jam pulang."


"Bukan begitu, Aa belum menyiapkan bahan untuk besok meeting dengan klien."


"Oh, tapi santai aja. A, takutnya ada apa-apa kalau Aa panik begitu. Semoga pekerjaan Aa lancar besok. Yuk kita pulang sekarang. Kita ke sawah dulu pamit sekalian kasih kunci rumah."


Mereka pun bergegas ke mobil. Walau Bintang bilang tidak ada apa-apa, wajah panik dan cemas masih terlihat jelas tergambar.


Mereka sampai di pinggir jalan raya menuju ke sawah. Kini mereka harus berjalan kaki ke sawah Abah.


Ambu yang melihat kedatangan Kiran dan Bintang dengan pakaian rapi, merasa heran. Sekarang Kiran dan Bintang ada di hadapannya, sedangkan sang supir menunggu di mobil.


"Ambu dan Bintang mau pamit pulang. Terima kasih banyak sudah menyambut kami dan maaf merepotkan Ambu dan Abah." Bintang berbicara dengan Ambu.


"Loh, Kok. buru-buru?" tanya Ambu.


"Iya, Bu. Kirana pamit ya. Ini kunci rumah." Kirana memberikan kunci rumah pada Ambu.


Mereka mencium tangan Ambu. Datanglah Abah. Mereka pun pamit dan mencium tangan Abah.

__ADS_1


Kirana dan Bintang lalu naik mobil, dan pergi dari kampung Kirana.


...----------------...


__ADS_2