
"Kirana bukalah, aku ingin menjelaskan semuanya padamu."
Bintang terus membujuk Kirana untuk membuka pintu, namun, tidak di gubris oleh Kirana.
Tidak ada jalan lain, Bintang pergi mencari kunci cadangan. Kirana bangkit dari duduknya dan pindah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ceklek
Pintu terbuka, Bintang berhasil mendapatkan kunci cadangan.
Nampak Kirana sedang berbaring. Dia menghampirinya dan duduk di samping Kirana.
Kirana yang tahu pintu sudah terbuka tidak terkejut, dia sudah menduga kalau Bintang pasti punya kunci cadangan.
"Kiran, dengarkan aku." Bintang berkata dengan lembut.
Kirana tidak terusik, dia tetap diam membelakangi Bintang.
"Aku ingin jujur padamu mengenai Maya."
Kirana tetap tidak mau berbalik badan.
"Oke, aku akan tetap cerita walau kau tidak mau berbalik."
"Maya adalah sahabatku, dia satu-satunya wanita yang bisa dekat denganku. Maya mencintaiku tapi aku tidak. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, bahkan sampai detik ini pun begitu."
"Mana ada menganggapnya sahabat tapi menikah!" ucap Kirana tanpa Berbalik pada Bintang.
"Ada, aku. Terpaksa aku menikahinya karena itu adalah permintaan terakhirnya."
"Jadi kalau permintaan terakhirku adalah kau menceraikanku apa kau akan melakukannya?" Kirana bangkit dan duduk menghadap Bintang.
"Tidak mungkin aku akan melakukannya, itu permintaan gila!" jawab Bintang tegas.
"Sama dengan Maya, itu permintaan gila memintamu menikahinya." Kirana tidak mau kalah.
"Tapi Maya sekarat." Bintang kembali berdalih.
"Aku juga sekarat!" teriak Kirana.
"Maya benar-benar sekarat dia sudah tidak ada sekarang, dia sudah pergi untuk selama-lamanya!" Bintang juga berteriak pada Kirana.
Kirana tertegun, apa dia tidak salah dengar. Maya sudah tiada. Dia pikir itu hanya akal-akalan Maya untuk bisa menikah dengan Bintang.
"Maya sudah tiada?" tanya Kirana menegaskan.
"Iya. Dia sudah tidak ada. Setelah kami ijab Qabul dia langsung menghembuskan nafas terakhirnya."
"Bagaimana perasaanmu? Istri yang kau nikahi langsung pergi meninggalkanmu?"
"Sedih tapi aku lega. Dia sudah tidak merasakan sakit. Aku berhasil mewujudkan mimpinya. Rasa bersalahku berjuang, karena tidak bisa membalas perasaan cintanya, juga tidak bisa membahagiakan dia."
"Bagus, aku lega jika sekarang kau tidak merasakan sedih lagi. Sekarang aku minta kau ceraikan aku." Perkataan Kirana bak petir bagi Bintang.
"Cerai, kenapa? Aku tidak mau menceraikanmu"
__ADS_1
"Karena Kau telah berpoligami walau hanya sesaat, aku tidak mau lagi ada Maya-maya lain dalam hidupku."
"Tidak, aku melakukannya terpaksa."
"Kau pun menikahiku terpaksa, nanti bila ada lagi wanita yang karena suatu keadaan terpaksa kau nikahi kau akan melakukannya."
"Tidak Kirana, aku bukan lelaki seperti itu. Aku menikahimu karena aku yakin kau wanita terbaik untukku. Sementara aku menikahinya karena itu permintaan terakhir orang yang akan meninggal"
"Entahlah, A. Untuk sementara aku butuh menenangkan hatiku."
"Baiklah, aku beri kamu waktu. Tapi jangan lama-lama."
"Jika Aa, tidak keberatan aku ingin kita pisah kamar untuk sementara waktu tidak lama hanya tiga hari."
"Aku tidak mau kalau itu. Aku lebih baik tidur di sofa dari pada harus pisah kamar."
"Terserah Aa, asal jangan satu Kasur dulu."
"Oke jadi kita pisah ranjang."
"Sekarang, Aa turunkan oleh-oleh buat Mamah dan Papah."
"Oh, iya. Aa sampai lupa."
Bintang pasrah, asal Kirana jangan minta cerai. Bintang keluar dari kamar hendak mengeluarkan oleh-oleh di mobil.
Setelah berganti baju Kirana turun hendak memberikan oleh-oleh itu.
"Loh, Kirana, sayang akhirnya kamu pulang. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Aurora begitu dia melihat Kirana menuruni tangga. Aurora baru saja mengambil cemilan di dapur untuk teman nonton.
"Maafkan, Bintang ya Kirana. Mamah sudah marahi dia. Kamu masih mau bertahan atau tidak, Mamah serahkan sepenuhnya sama kamu."
"Kirana sudah maafkan, Mah. Namun, Kirana tidak bisa melupakannya begitu saja. Jadi Mamah tidak keberatan kalau aku beri A Bintang sedikit pelajaran?"
"Kamu beri banyak pelajaran juga Mamah tidak masalah."
"Kirana ini oleh-olehnya." Datang Bintang menenteng banyak makanan dan juga barang-barang lain.
"Mah, maaf ini harusnya kemarin aku kasih. berhubung ada sesuatu hal, aku baru bisa kasih ke Mamah. Ini oleh-oleh dari Ambu."
"Wah, ada peyeum, wajik, Rengginang. Banyak sekali Kirana."
"Iya, semoga Mamah suka makanan kampung. Oh iya Mah. Aku mau bikin bolu tape boleh?"
"Kamu bisa? Boleh, ayo Mamah sudah tidak sabar mau nyobain seperti apa bolu tape, tapi Mamah mau bereskan dulu oleh-oleh dari Ambu. Terima kasih ya Kiran."
"Iya, Mah."
Kirana membawa makanan ke dapur, lalu dia menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat bolu tape.
Suara ponsel berdering, Bintang melihat ponselnya ada notifikasi masuk. Ternyata itu dari mantan mertuanya. Dia mengundang Bintang untuk acara tahlilan Maya.
Bintang akan memenuhi undangan itu, tapi kali ini dia akan mengajak Kirana. Dia tidak ingin ada rahasia lagi di antara mereka.
Bintang mendekati Kirana yang sedang mengolah tape di dapur.
__ADS_1
"Sayang, aku dapat undangan tahlilan dari Ayahnya Maya. Apa kamu mau ke sana?"
"Maaf, tapi aku tidak mau ke rumah maduku. Kau saja yang pergi, dia kan istrimu!"
"Aku juga tidak akan pergi, kalau kau tidak pergi. Aku ingin mengenalkan mu pada Ayahnya Maya."
Kirana merasa jengah dengan pembahasan mengenai Maya.
"Tidak bisakah kau tidak membahas Maya? Bukan aku benci padanya, tapi aku tidak suka kita membahas wanita lain." Kirana menggebrak meja pelan.
"Oke, maaf."
Datang Aurora, "Bintang lebih baik kamu nonton saja. Biar Mamah dan Kirana bisa bekerja dengan tenang."
"Baiklah."
Aurora membantu Kirana, dia mengobrol random. Mengalihkan Kirana agar tidak teringat tentang Maya.
***
"Tuan, Nona Kirana sudah pergi dari hotel," ucap sang sekretaris.
"Oke, terima kasih." Adipati tersenyum.
"Kapan kita bisa bertemu lagi Kirana?" tanyanya dalam hati.
Adipati Caraka adalah pemilik dari hotel Caraka. Dia mengagumi sosok Kirana yang cantik, sederhana, dan apa adanya.
Adipati adalah sosok yang hangat, suka mengembara seperti namanya Caraka yang berarti pengembara.
Namun saat ayahnya wafat otomatis dia mau tidak mau harus menjalankan hotel warisan ayahnya. Hanya sesekali dia bepergian.
***
Di rumah Orion, Bintang dan Aurora sedang menikmati kue tape buatan Kirana.
"Hm, Kirana kuenya enak sekali. Kalau nanti ada acara arisan, Mamah boleh ya minta di buatkan kue seperti ini?"
"Tentu, Mah. Dengan senang hati Kiran akan buatkan, cuma masalahnya tapenya susah."
"Oh, itu gampang kita suruh saja. Bintang ke Bogor."
"Ah, iya Mamah benar."
"Ya ampun Bintang jangan di habiskan buat Papah belum?"
"Tanggung Mah," ucap Bintang.
"Udah, Mah nggak apa-apa nanti Kirana bikin lagi."
"Untung Kirana baik mau membuatkan Papah kue lagi. Kalau nggak, kamu Mamah suruh cari kue seperti ini di jakarta!"
Kirana tersenyum, tetapi dia sebenarnya sedang berpikir apakah dia harus ikut menghadiri acara tahlilan Maya.
...----------------...
__ADS_1