Kirana

Kirana
Bab 38. Istirahat


__ADS_3

"Kirana, kamu dengan siapa ke sini?" tanya Abah.


"Oh iya. Kirana lupa kenalin ke Abah, ini Adipati, dia tadi yang nolongin Kirana. Kalau nggak ada Adipati, Kirana pasti udah di jahatin empat orang lelaki di jalan."


"Astagfirullah, Alhamdulillah ada Nak Adi. Terima kasih." Abah terkejut, dia bersyukur ada yang mau menolong anaknya.


"Makasih, nak. Alhamdulillah ada kamu. Ayo masuk, kenapa semua berdiri di luar?" Ambu mengajak mereka masuk.


"Silahkan duduk, maaf keadaan rumahnya sederhana."


"Tidak apa-apa Bu, Pak. Terima kasih, saya sudah di sambut baik."


"Kamu adalah tamu kami, dan juga sudah menolong anak kami. Apa yang kami lakukan, tidak akan dapat membalas kebaikan nak Adipati, terima kasih banyak." Abah sebagai kepala keluarga mengucapkan terima kasih


"Kirana, bagaimana kejadiannya? Ceritakan pada kami."


"Kirana menceritakan kejadian tadi pada Ambu dan Abah."


"Kamu itu, kenapa pulang malam-malam? Tidak minta jemput lagi. Bahaya Kirana!"


"Sudah, Bu. Ini sudah malam, mereka pasti lelah. Apalagi mereka sudah berjalan kaki dengan jarak jauh. Biarkan mereka beristirahat."


"Iya, Bah. Kirana kamu segera tidur sana. Nak Adi maaf Kamar kami cuma ada dua. Jadi nak Adi tidur di bale-bale itu nggak apa-apa? Nanti Ambu siapkan."


"Tidak apa-apa Ambu. Terima kasih banyak."


"Adi, aku istirahat dulu ya. Sampai bertemu besok pagi."


"Iya, Kiran istirahatlah. Sampai. bertemu besok pagi."

__ADS_1


Kirana lalu masuk ke kamarnya. Dia benar-benar lelah.


Ambu juga masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kasur, sprei dan selimut.


Abah membantu Ambu membawa kasur dan memasang sprei. Adipati melarang memakai kasur baginya tidak masalah tidur hanya beralas kayu.


Ambu tetap memaksa untuk memakai kasur. Adi menyerah dan membiarkan kasur itu terpasang. Dia hanya tidak ingin merepotkan.


"Nak Adi, sekarang sudah bisa tidur. Biar nak Adi bisa istirahat kami tinggal dulu, ya. Silahkan istirahat," ucap Abah.


""Terima kasih banyak Abah, Ambu."


"Iya, sama-sama."


Abah dan Ambu lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Adipati seorang diri di ruang tengah.


Suara burung dan ayam tedengar, Adipati membuka matanya. Di lihat jam tangan sudah pukul lima lewat, dia belum sholat subuh.


"Adi kemudian beranjak bangun dan pergi mencari kamar mandi. Terdengar suara orang sedang berbicara dan memasak. Adi mendekati arah suara.


"Kiran, sudah matang belum nasinya, Nak."


"Sudah, Bu. Kirana mau kipasin sebentar."


"Khem ... maaf Kirana, Ambu. Saya mau ke toilet di mana, ya?"


"Oh toilet, itu." Kirana menunjuk kamar mandi di pojok dapur.


"Makasih, permisi." Adipati segera ke masuk ke toilet.

__ADS_1


"Kiran, Adi itu ganteng ya. Udah gitu orangnya sopan."


"Iya, Bu. Ambu puji-puji cowok lain, bilangin Abah, loh!"


"Ih, pengaduan. Ambu kan ngomong apa adanya. Abah nggak mungkin marah."


"Kata siapa? Abah nggak suka kalau Ambu muji lelaki lain selain Abah. Ambu harus di hukum." Abah datang, langsung menegur Ambu.


"Ih, Abah kejam kalau lagi cemburu." Ambu menotong sayur sawi putih dengan kencang.


"Maaf, kiblatnya ke mana ya?" tanya Adipati tiba-tiba menghentikan perdebatan antara Abah dan Ambu.


"Oh, Nak Adi. Ayo saya tunjukkan." Abah mengajak Adi ke dalam.


Adi sudah selesai sholat, Kirana membereskan kasur bekas tidur Adi dan menyimpan kembali kasur itu ke kamar Ambu.


Abah mengajak Adi ke rumah RT setempat untuk laporan. Sekarang Ambu dan Kirana menyiapkan sarapan untuk semuanya.


"Kirana bagaimana kabar suamimu juga orang tuanya?"


"Mereka Alhamdulillah baik, Bu."


"Syukurlah."


Abah kemudian datang bersama Adipati. Mereka pun sarapan bersama. Adipati berniat pulang setelah ini.Dia akan berkunjung ke tempat orang yang dirindukannya.


...---------...


Maaf up sedikit lagi pusing soalnya. Terima kasih ya sudah baca ceritaku ..

__ADS_1


__ADS_2